Aku Perempuan, Aku Tidak Merasa Perlu Bicara 25.000 Kata Per Hari



Kamu pernah dengar teori kalau perempuan harus mengeluarkan 25.000 kata per hari?

Jaman aku masih single, teori ini sering banget aku dengar. Dari buku, dari khotbah di gereja, dari obrolan sehari-hari.

Aku tidak pernah cek faktanya. Tapi beberapa tahun terakhir ini aku mulai mempertanyakan teori tersebut.

Aku pernah berhari-hari tidak banyak bicara dan merasa nyaman-nyaman saja. Apalagi saat sibuk mengerjakan pesanan lukisan selama beberapa hari.

Yang aku lihat justru perempuan banyak mengeluarkan kata karena tuntutan situasi. Misalnya mengajari anak, membangunkan mereka tidur, menasehati ini itu, mengajak ngobrol dan lain-lain. Tapi setelah itu aku malah merasa kelelahan. Karena buat orang sepertiku yang tidak terlalu banyak bicara, tuntutan untuk terus bicara itu melelahkan.

Kalau sampai aku cerewet, itu bukan berarti aku suka bicara. Tapi karena aku keluar dari zona nyaman dan memberikan energi supaya situasi tetap terkendali dan tujuan bisa tercapai.

Semakin aku memikirkan hal ini, aku semakin merasa kesal. Selama ini perempuan diberi label tanpa dasar. Padahal ada laki-laki juga yang tidak bisa berhenti bicara.

Baru-baru ini aku baru tahu kalau teori itu adalah mitos. Orang yang menyatakan teori tersebut tidak memberikan bukti empiris. Bahkan penelitian-penelitian yang lebih terukur menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti jumlah kata yang diucapkan antara pria dan wanita. Yang terlihat jelas berbeda justru dari segi cara berbicara. Laki-laki berbicara dengan lebih asertif, sedangkan perempuan berbicara dengan cara lebih afirmatif.

***

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada tahun 2007, Pennebaker mengumpulkan data tentang pola obrolan dari 396 mahasiswa (210 perempuan dan 186 laki-laki) di perguruan tinggi di Texas, Arizona, dan Meksiko.
Ia menemukan bahwa dalam 17 jam terjaga, wanita yang mereka uji di AS dan Meksiko mengucapkan rata-rata 16.215 kata sementara pria berbicara 15.669 kata.

Namun, Pennebaker mengatakan perbedaan ini juga dapat diabaikan. Selain itu, ada beberapa hal yang membuat perempuan atau laki-laki bisa berbicara lebih banyak. (Zulfikar, Fahri; Detik.com, Mei 2019)


Hal menarik lainnya berdasarkan laporan Leaper adalah laki-laki dewasa lebih banyak menggunakan kata-kata atau berbicara secara asertif, sedangkan perempuan dewasa lebih banyak berbicara secara afirmatif. (Kumparan, Januari 2019)

***

Aku agak menyesalkan hal seperti ini bisa populer dan dilabelkan pada perempuan bertahun-tahun lamanya. Sering kali malah dijadikan olok-olok laki-laki untuk menghindari pembicaraan serius dalam rumah tangga.

Tiap memikirkan ini hatiku sedih. Perempuan sudah sering bergumul dengan gambaran dirinya karena label-label tidak berdasar seperti ini.

Yang paling mengecewakanku adalah mitos-mitos ini dibawa dalam khotbah-khotbah keagamaan. Dilabelkan pada perempuan dan jadi bahan tertawaan. Bukannya diajarkan bagaimana komunikasi yang baik saat menghadapi perempuan yang mengomel, malah disuruh diterima saja. Sudah dari sononya begitu.

Makanya banyak perempuan merasa tidak didengar. Perempuan selalu dituntut untuk komunikasi yang benar, jangan memakai kode, tapi saat perempuan menyampaikan apa yang dia inginkan malah lebih sering diabaikan, tidak dianggap, dan dianggap remeh.

Mengapa hal ini aku bicarakan? Karena hal ini juga yang sering membuat komunikasi dalam rumah tangga buruk. Perempuan mengomel karena frustasi, laki-laki tutup mulut, mengabaikan dan menganggap itu hanya 25.000 kata yang harus dikeluarkan.

Mengerikan saat informasi yang tidak berdasar dijadikan keyakinan berpuluh tahun dan melumpuhkan hubungan antara pria dan wanita. Yang harusnya komunikasi tanpa perlu ada dasar prasangka, menjadi mandeg karena sudah ada judgement di dalam pikiran kita.

Aku tidak mengalami kesulitan komunikasi dengan suami dan anakku. Aku mengomel tapi tidak tiap hari. Komunikasi kami layaknya sesama manusia. Aku bicara, anak dan suamiku mendengarkan. Jika ada yang salah, ditegur dan diperbaiki. Padahal komunikasi sesederhana itu. Aku tidak merasa ada masalah saat tidak banyak bicara selama berjam-jam. Malah merasa nyaman (bahkan bisa terlalu nyaman).

Tapi sebelum aku menikah, aku memang beberapa kali menemukan komunikasi yang buruk karena pelabelan ini. Itu menyakitkan dan menyesakkan. Aku tahu itu akan menjadi komunikasi yang melelahkan.

Karena masalah ini aku sangat menjaga anakku tidak terbawa pelabelan gender bahwa laki-laki A atau perempuan B. Aku mengajarkan karakter-karakter baik yang dimiliki pria maupun perempuan.

Untukku, Buah-Buah Roh sudah cukup untuk menjadi pegangan membangun karakter terbaik untuk menjaga sebuah hubungan, khususnya dalam hal ini hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Semoga mitos-mitos ini segera hilang dari masyarakat dan ada komunikasi yang lebih baik antara pria dan wanita.

Komentar

Postingan Populer