Sunday, March 29, 2015

Pembenaran Diri

Merawat anak sendiri, sudah pasti menjadi impian semua ibu. Termasuk saya, makanya saya memilih bekerja di rumah. 

Tumbuh kembang anak di 5 tahun pertama sangat penting & sangat perlu diperhatikan. Lima tahun pertama itu tidak akan bisa terulang lagi.

Lalu, bagaimana dengan ibu yang bekerja? Apakah mereka salah??

Okeyyy teman-teman!! Selama ini saya sering menemukan pandangan seperti ini;

- Ih, anak lo ga full ASI? Awas obesitas lo. Males banget jadi ibu ga mau kasih ASI (kagak tahu dia kalau kasih sufor lebih ribet & repot, jadi sebenarnya kami lebih rajin hahhahaha *ngeles)

- Ih, lo di rumah doang? Terus buat apa lo sekolah tinggi-tinggi? Ngurus anak doang?

- Ih, anak kok ditinggal-tinggal kerja. Uang tuh bisa dicari. Tapi, anak siapa yang bisa ganti?

- Ih, kerja siang malem. Hasilnya juga ga keliatan.

- Ih, kerja siang malem demi duit. Iya, sih uangnya banyak, tapi pasti penyakitan & keluarganya ga keurus.

- dan ih lainnya yang bikin kita ingin menyumpal mulut orang yang bicara.
(Lasma kasaarrr)

Maksud saya di sini, kita bukan HAKIM atas hidup orang lain & pilihan yang mereka ambil. Hari ini kita bisa memberi ASI penuh buat anak kita bersyukurlah & berempatilah pada mereka yang tidak bisa. Bukan mencibirnya, bukan mempertanyakannya, bukan menyindirnya (anak sapi minum susu sapi, anak manusia masa minum susu sapi).

Kalau hari ini kita memilih menjadi IRT, jangan mencibir ibu yang memilih bekerja. Kapasitas ibu yang memilih jadi IRT dengan yang bekerja itu beda. Mereka punya pertimbangan masing-masing. 

Kenapa ya Lasma milih jadi IRT saja?? Tiga bulan pertama saya menikah, tertekan & kelelahan luar biasa. Di situ saya menemukan tidak bisa memberikan waktu yang terbaik, mood yang terbaik, tenaga yang terbaik buat suami saya. Berkali-kali saya menangis tanpa sebab karena stress & kelelahan. Kebayang kalau sudah punya anak lalu tetap bekerja?? 

Sekarang, waktu saya memutuskan bekerja dari rumah, pemasukan memang tidak tetap. Tidak bisa langsung menerima "jebrettt" sekian juta. Pelan-pelan saya harus membangunnya sendiri. Tapi, saya punya tenaga yang terbaik, waktu yang terbaik dari diri saya untuk keluarga saya. Waktu yang fleksibel, uang yang pelan-pelan diraih. Itu pilihan saya. Saya sudah mempertimbangkannya & mau menerima resikonya.

Bagaimana dengan ibu yang bekerja? Apakah mereka bisa memberi waktu yang terbaik buat keluarga? 

Tentu saja bisaaaa. Hanya saja mereka harus lebih bekerja ekstra untuk melakukannya. Banyak ibu bekerja yang berhasil mendidik anaknya dengan baik.

Ibu yang bekerja dari rumah menggunakan kreatifitasnya untuk mendapat uang lebih. Sedangkan mereka yang bekerja kantoran menggunakan kreatifitasnya untuk mendapatkan waktu yang berkualitas.

Setiap hal punya resiko. Mana yang kita pilih, kita harus siap menerima ketidaknyamanannya. Pasti akan selalu ada harga yang kita bayar.

Yang jadi masalah, kalau kita menyalahkan kondisi orang lain untuk membenarkan pilihan kita sendiri.

Misalnya. Saya sudah memilih menjadi seorang ibu yang bekerja di rumah, lalu saya katakan.

" Gua sih ga mau anak gua di asuh orang lain. Nanti anak gua blablabla...."

Atau si A melihat orang kerja siang malam, lalu mengagakan

" Ngapain kerja siang malam cari uang, tapi ga bahagia. Gua sih bersyukur dengan hidup gua." Di dalam hati mengingat seseorang.

Ccckkcckkk, pilihan kita sudah benar, tapi pilihan orang lain juga ga salah. 

Saya membagikan ini bukannya tidak pernah berpikir seperti itu. Justru saya sering menemukan pikiran saya melakukan hal demikian. Menyalahkan kondisi orang lain untuk membenarkan kondisi sendiri.

Padahal tidak bisa seperti itu. Cerita saya ya cerita saya. Cerita mereka ya cerita mereka. Kita tidak bisa memaksakan cerita hidup kita pada orang lain. Apalagi kalau hanya untuk membenarkan diri.

Lagipula, kalau kita membenarkan diri, sebenarnya ada sisi hati kita yang terusik & terganggu. Di situ kita mungkin perlu minta Tuhan selidiki isi hati kita.

Ocehan yang ngalur ngidul. Cuma nulis dari hp. Karena komit buat nulis seminggu sekali, ya harus tetap nulis.

Semoga bisa jadi berkat yaaaa 😁😁😁

Saturday, March 28, 2015

MENAMPI SEKAM


Bacaan: Lukas 22:31-34
NATS: Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau (Lukas 22:31,32)

Di zaman Yesus, gandum dipisahkan dari sekam dengan proses yang disebut penampian. Seseorang akan menggoyang penampi maju dan mundur sambil meniup di atasnya untuk menyingkirkan sekamnya. Yesus memakai analogi ini untuk menyiapkan Petrus akan trauma yang bakal dihadapi jika melihat Gurunya dibawa ke kayu salib. Dia berkata, "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum" (Lukas 22:31).

Setan akan mengguncang Petrus sampai ke inti keberadaan dirinya untuk mencoba menghancurkan imannya. Namun Yesus yang memahami kelemahan Petrus, meyakinkan dirinya, "tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu" (ayat 32). Dengan peringatan dan penguatan seperti itu pun Petrus masih menyangkal bahwa ia pernah mengenal Yesus. Anda mungkin bertanya, "Bukankah itu berarti imannya sudah gugur?" Bukan, bukan imannya yang gugur, tetapi nyalinya.

Mungkin Anda atau saya pernah "menyangkal" Allah. Memang kita tidak berdusta seperti Petrus, tetapi dengan tingkah laku kita menyangkal-Nya. Seperti Petrus, mungkin kini kita sedang menangis dengan sedihnya (ayat 62). Namun bila kita kembali kepada sang Juruselamat, kita akan menerima pengampunan, pemulihan, dan panggilan pelayanan yang baru. Dan kita merasakan, seperti saya yakin Petrus juga, bahwa Allah sering memakai penampi Setan untuk memisahkan sekam kepercayaan diri dan kebanggaan diri kita sendiri -DJD


SIASAT SETAN BUKANLAH TANDINGAN
BAGI KUASA SANG JURUSELAMAT

Saturday, March 21, 2015

JANGAN BERHENTI MENULIS

Jangan berenti nulis. 

Itu aja yang ada di dalam otak sejak mulai bisnis. Jalanin bisnis & urus keluarga sekaligus, sudah pasti nyita waktu & pikiran. Kadang mau baca buku atau nulis kalau si ganteng.Jr udah bobo. Eh, malah ikutan bobo. Saya bobo duluan malah.

Nah, akhir-akhir ini Tuhan ingetin buat bikin jadwal. Jangan sampai tanggung jawab sebagai istri, tanggung jawab sebagai upline, & tanggung jawab sebagai pribadi tidak dijalankan dengan seimbang.

Istilahnya... JANGAN KEHILANGAN JATI DIRI

Iya, kamu sibuk urus anak. Urus suami. Urus rumah. Jalanin bisnis. Sampai lupa ada jati diri yang perlu dihidupin.

Apa sih maksud lo jati diri, Las??

Jati diri yang saya maksud, ya apa adanya diri kita. 

Kalau Lasma jati dirinya,
Suka nulis
Suka ngomongin yang rohani, yang sok bijak, yang sok membangun orang lain
Suka memimpin & mengajar
Suka baca-baca buku motivasi & kepemimpinan
Suka nonton
Dll

Nah, saya sering terjebak dalam tanggung jawab sebagai istri & ibu sampai melupakan apa yang saya sukai. Saya pikir sudah sepatutnya saya melepaskan itu semua.

Tapi, suatu hari saya nonton kotbah Philip Mantofa di youtube sambil setrika baju. Dia ad bilang " Suami-suami dukung istri untuk maksimal dalam panggilannya."
Berartiii, seharusnya saya tidak melupakan panggilan yang Tuhan taruh di hati. Suami sih ga larang ini itu, tapi saya mengikat kaki & tangan saya dalam tanggung jawab lalu melupakan panggilan saya.

Kok bisa?? Cuma gara-gara GA BISA BAGI WAKTU.

Seminggu ini Tuhan ingatkan saya untuk membuat jadwal & menaatinya. Berat bangetttt ternyataaa... Jatuh bangun. Tapi, tentunya ga boleh nyerah.

Sabtu-Minggu jadi hari saya ngeblog. Ga boleh ga nulis.

Semoga hikmat Tuhan terus mengalir. Biar saya benar-benar menyampaikan isi hati Tuhan, bukan hikmat saya sendiri.

Aminnn.

Monday, March 16, 2015

Balik Ngantor? Bocah??

Hari ini mempertimbangkan kembali saran untuk kembali bekerja kantoran sampai "marsak" (gelisah). Tanya Aki, Aki maunya Oma kerja atau ga? Ga langsung dijawab. Katanya pas di rumah aja.

Waktu di rumah dibahas, malah dilempar pertanyaan lagi, "Ya, Oma damai sejahtera ga?".Mulut manyun daaahh. Eh, ditambahin lagi, "Kita pasti kan mikirin si bocah. Mengurus bocah itu tanggung jawab kita orang tuanya, bukan orang lain."

Tuiiiinggg!!! Langsung damai sejahtera.

Laki gua emang agak belok-belok kelakuannya, Puji Tuhan hatinya lurus :p

Luph u so muchhh Akikuuu

Saturday, March 07, 2015

[Slice Of Spank] Jangan Tunggu Lempeng





" Ka, aku ga berani dateng sama Tuhan karena hidup aku ga benar,"

Kalo nunggu hidup benar baru datang sama Tuhan, dijamin, sampai lo jadi debu & tanah pun lo ga akan bisa datang sama Tuhan.
Ga ada orang yang bisa membersihkan dirinya sendiri dari dosa. Bahkan gua yang tiap hari bagiin saat teduh tiap hari, tetap aja banyak dosa.
Justru di situ lo butuh Tuhan. Orang ga bisa hidup benar dari dirinya sendiri, kecuali lo kenal sama si Sumber Kebenaran. Bergaul karib, kenali hati-Nya. Apa benar Dia pengen lo hidup lempeng, tapi ga bisa mengasihi saudara lo sesama manusia? Gimana dengan hidup yang ga lempeng, tapi punya kasih?



Apa gunanya lo hidup lempeng tapi masih ngomong "Terima kasih Tuhan, aku berdoa tiap hari, bersyukur tiap hari, & tidak hidup seperti orang itu."

Justru lo harus datang kesadaran penuh bahwa lo orang berdosa yang butuh kasih karunia untuk bisa hidup benar. " Tuhan aku nih kotor! Kotor pikiran! Kotor perbuatan!! Tolong aku Tuhan, supaya aku bisa jalan dalam kebenaran-Mu!"

Trus dengan iman terima penebusan Tuhan atas hidup lo. Jangan sok jago dengan bilang " Ga bis mengampuni diri sendiri." Tuhan udah ampunin, mau bersihin dosa lo, lo malah masih pegang erat tuh dosa. Panteslah masih jatuh bangun.

Nih, gua ingetin lagi ya, Tuhan ga cari orang pinter, orang suci, orang kaya, atau apa pun yang diagungkan dunia. Tuhan cari lo yang utuh, apa adany lo, bagusnya lo, borokny lo, jijikny lo, semuanya yang dari lo. Supaya Dia bisa perbaiki lo jadi seperti sejak awal Dia nyiptain lo. Baik & mulia & Dia mengasihi lo.

Jangan tunggu hidup lo lempeng, justru saat hidup lo berantakan datang pada Tuhan, di situ lo akan mengerti artinya kasih karunia.

Dateng giihh!!

Pic: Rainer_Maiores

[ARTIKEL] GA SEMUA ORANG DILAHIRKAN UNTUK SUKSES

Kalau ukuran kita untuk sukses adalah punya uang banyak, menjadi terkenal, punya jabatan tinggi, disegani semua orang... Bayangkan kalau ...