Thursday, April 27, 2017

Nyinyir







Nyinyir = penyakit yang timbul pada masa2 pemilihan kepala pemerintahan. Sekali menyerang, akan sulit disembuhkan bahkan saat pemilihan sudah berakhir. Tidak peduli jagoannya menang atau kalah. Nyinyir menjadi penyakit yang dinikmati penderitanya dan penderitaan bagi orang sekelilingnya. 


Nyinyir timbul dari dalam dada naik ke tenggorokan dan keluar dari mulut dalam bentuk kata-kata. Dijaman ini nyinyir mengalir lewat dua ibu jari yang mengetikkan kata-kata serta kalimat lewat social media. 

Para penderita nyinyir mengharapkan kata-kata mereka memberikan kenikmatan, rasa bangga, rasa lebih, dan rasa benar bagi diri mereka sendiri serta menunjukkan kelemahan, kekurangan, dan kebodohan orang lain.

Penyakit nyinyir berbahaya karena terkesan memberi perasaan positif  padahal perasaan itu hanya sementara dan akan menggerogoti setiap bagian hati si penderita. Sampai pada titik puncaknya mereka akan marah pada banyak hal, sulit percaya pada orang, bahkan diri sendiri. 




Bagaimana menyembuhkan nyinyir? Nyinyir tidak dapat disembuhkan jika penderita tinggal dan berkumpul sesama orang nyinyir. Mereka harus diasingkan diberikan pikiran-pikiran baru tentang hal-hal baik, pemikiran optimis dan positif. 



Apakah penderita nyinyir bisa disembuhkan tanpa perlu diasingkan dari kelompoknya? Bisa. Selama penderita menyadari bahwa ia sakit dan butuh disembuhkan. Penderita tinggal melepaskan apa yang sedang penderita pertahankan. Jika dia sudah sadar dan mau sembuh, tidak akan lama dia akan segera sembuh. 


Apakah nyinyir bisa kambuh? Bisa kapan saja. Tapi selama penderita menyadari bahwa nyinyir adalah penyakit dan kunci kesembuhannya adalah pada diri sendiri, penderita bisa lekas sembuh kembali. Selama penderita sendiri mau sembuh dari penyakit ini. 

Kunci kesembuhan penderita adalah pada dirinya sendiri. Jika dia tidak merasakan bahwa nyinyirnya bukanlah penyakit, dia tidak akan bisa disembuhkan.








Tuesday, April 25, 2017

Kebiasaan Tak Menyelesaikan




Tahun ini, saya makin sadar kebiasaan buruk saya yang cukup membuat saya ga maksimal adalah memulai tapi sering tidak menyelesaikan dengan baik. 

Banyak hal-hal yang saya targetkan, tapi tidak pernah menunjukkan hasil karena saya tidak mengakhiri dengan baik. Cukup frustasi dengan masalah ini. 

Friday, April 21, 2017

Isu SARA Ada Pada Semua Orang

Sebagai orang yang merasakan namanya jadi orang minoritas, saya prihatin sekali dengan isu SARA yang menyeruak sekarang-sekarang ini. Bikin gerah. Bikin sesak napas.

Iyaaahh. Lelah liat orang saling jatuhin. Bilangnya cinta perbedaan, tapi saling tunjuk waktu ga sama. Merasa pilihannya paling benar.

Saya ga membela kaum minoritas atau pun mayoritas karena keduanya ambil bagian dalam masalah ini.

Oh yaaa??
Iyaaa

Dari kecil saya tahu rasanya sebagai orang minoritas di tengah-tengah mayoritas. Dianggap darahnya halal pun sudah pernah dengar di kuping saya langsung. Di depan mata saya. Walau pada akhirnya main bareng juga.

Tapiii...
Ternyata ga sedikit di sekeliling saya pun (bahkan saya sendiri) punya stereotype terhadap kaum mayoritas.

Hayoo ngakuu, pasti kita pernah ngomong "Suku ini begini, suku itu begitu, agama ini begini, agama itu begitu."

Kalo ga pernah saya acungin jempol.

Sadar ga sadar obrolan santai tapi tertanam dalam otak inilah yang mempengaruhi sikap kita. Ga jarang orang-orang tua menanamkan jangan terlalu dekat sama orang A, mereka begini begitu. Orang B begini begitu. Harus menikah satu suku. Giliran anaknya menikah dengan suku lain kebakaran jenggot.

Seee...
SARA itu isu harian. Kalau sampai naik ke pemerintahan wajar. Karena sudah tertanam di alam bawah sadar.

Saya bukan orang rasis?? Saya ga rasis tapi saya punya isu SARA. Saya tidak mau menikah dengan yang beda agama. Buat mereka yang bilangnya "mencintai perbedaan" saya salah. Tapi buat saya ga. Pernikahan masalah iman, hubungan saya dengan Tuhan. Terserah orang mau bilang saya bodoh atau apa (itu kenapa sedikit banyak saya mengerti perasaan mereka yang memilih seagama, terlepas isu tersebut ditunggangi politikus atau tidak).

Lalu apa isu SARA ini dibiarkan saja? Apalagi sampai pada tindakan diskriminasi? Tentu saja tidak boleh.

Kalau kita mencintai perbedaan. Sungguh-sungguh mencintai perbedaan, ya kita mulai dari diri sendiri. Berhenti mengatakan saudara kita yang beda suku dan agama dengan segala macam stereotaip. Jangan mewariskannya pada anak-anak kita. Jika pun ada dalam pikiran kita ingin melabel orang-orang tertentu, jangan diberi makan. Kita tahu pasti faktanya bahwa tidak semua orang seperti yang kita pikirkan. Jangan menyebar racun.

Jangan paksakan orang lain mengerti iman kita
Sementara kita tidak mau mengerti iman orang lain
Jangan paksa orang lain mengucapkan hari raya dan memakai segala macam atributnya kalau iman mereka memang mengatakan tidak boleh. Ya kita rayakan apa yang jadi hari raya kita.

Segala macam isu tidak benar yang ditujukan pada kita, ya cukup tanggapi dengan kepala dingin. Tidak perlu kita katai dan cemooh. Berikan penjelasan. Jika mereka tidak puas, urusan mereka. Mereka cemooh? Urusan mereka. Saling melempar lumpur tidak akan menyelesaikan masalah. Jangan buang waktu dengan hal-hal yang tidak membangun. Tetap berbuat baik. Tetap berteman.

Adakah tindakan diskriminasi kita rasakan?? Saya cuma percaya, kalau Tuhan dipihak kita siapa lawan kita? Selama hidup kita lurus sejalan Firman-Nya dan mengandalkan Dia, ga ada yang bisa melawan kita. Tapii ingatlahhh... Tetap jadi pembawa damai bukan perbantahan.

Filipi 2:14-15 (TB)  Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Notes: Dada saya sakit saat Pak Ahok didemo berjilid-jilid. Bukan kasian sama Pak Ahok. Saya tahu dia akan kuat menghadapai hal seperti itu.

Sakitnya tuh saat melihat para "penuai" menginjak-injak "tuaian" dengan cemooh dan amarah. Rasanya mau teriak, "Kalian sedang apa?!!"


Friday, April 14, 2017

Jadi Penulis Kontributor

Sebulan yang lalu EQ Trainer Kak Josua Iwan Wahyudi, penulis buku Menikah Adalah Bunuh Diri pasang pengumuman untuk orang-orang yang suka menulis seputar bidang psikologi dan pengembangan karakter. Ia sedang mencari penulis kontributor untuk website barunya  kepribadianmu.com  

Website apa sih tuh? Kepribadianmu.com adalah website seputar hal-hal psikologi dan pengembangan karakter. Tapi bukan cuma itu saja, di situ juga ada alat tes semiformal. Maksudnya, terlihat casual tapi cukup akurat untuk menganalisa sisi-sisi psikologis kita. Bahkan menganalisa seperti apa kira-kira pasangan hidup idaman kita (hayooo jomblo langsung melipirrr).

Waktu Kak Iwan pasang iklan itu, entah kenapa tanpa pikir panjang saya langsung inbox beliau dan menanyakan syarat-syaratnya. Cuma pengen tahu. Tapi, ternyata Ka Iwan berlanjut ingin membaca tulisan-tulisan saya.

Saya sendiri pernah menjadi penulis kontributor di  Majalah Pearl, majalah rohani wanita yang diterbitkan secara online. Saya berhenti menjadi kontributor sekitar tahun 2015 karena merasa tidak bisa memenuhi komitmen lagi. Ya, akhirnya saya berikan tulisan-tulisan saya yang pernah dimuat.

Beberapa hari kemudian saya dihubungi admin dan dinyatakan lolos menjadi kontributor 😂😂😂. Antara senang dan kaget.

Senang karena bisa mengembangkan kemampuan menulis saya lagi. Kaget karena ini keputusan yang sangat spontan. Tuhan seperti tidak ijinkan saya untuk berpikir dan menimbang.

Waktu para kontributor mulai menerbitkan tulisan-tulisan mereka pun saya mulai ciut. Mereka orang-orang yang benar-benar terjun di bidang psikologi. Para praktisi. Sementara saya hanya IRT lulusan psikologi yang ga pernah sempat memakai ilmunya di dunia profesional.

Bersyukur juga sih jalanin Oriflame, di bisnis ini saya digembleng. Tuhan "jitak" saya, bukan masalah bisa ga bisa, tapi mau atau ga.

Seperti dijorogin harus nulis lagi biar kemampuan nulis saya berkembang lagi. Sejak tidak pernah menulis yang berat-berat, kemampuan menulis saya jadi berantakan. Saya terlalu banyak menulis singkat-singkat di status Facebook.

Dengan menjadi kontributor kepribadianmu.com, kemampuan otak dan menulis saya dipertajam, terlebih lagi apa yang Tuhan ajarkan pada saya, bisa dibagikan juga pada orang banyak.

Semoga benar-benar semakin berkembang dan jadi berkat. Mampirrr yaaa. Banyak artikel dari teman-teman yang bagus juga. Jangan lupa coba alat tesnya 😊😊


Hei Bangun!!



Jangan jahat sama diri sendiri. Pikirkan yang baik-baik untuk diri sendiri. Pikirkan yang baik-baik tentang orang lain. Tuhan udah naik2kan dirimu supaya kamu jadi pemenang, tapi kamu malah injak-injak dirimu sendiri dengan pikiran2 jahat pada diri sendiri dan orang lain.

Hei!! Bangunn!! Jangan kau muntahkan kebaikan Tuhan dengan pikiran jahatmu!! Jangan menye2!! Ingat apa yang sudah Tuhan lakukan untukmu di masa lalu!! Sekarang mau kau bilang Tuhan itu ga mampu membantumu hanya karena semua mustahil di depan matamu?!

Buka matamu!! Ga perlu semua orang baik padamu asal Tuhan itu baik sama kau, semua yang jahat itu Tuhan buat baik buat kau!!

Bangun kau!! Jangan meratap kelamaan!! Gimana Tuhan mau bantu kau kalau kau tak mau dibantu!!? Sombong kali kauu!! Tugasmu cuma taat!! Ga usah kau pusingkan bagian Tuhan. Atau kau mau jadi tuhan?? Biar makin kacau hidupmu.

#selftalk #batakkali

Sumber pic: pixabay - Stevebidmead


Tuesday, April 11, 2017

Gua Doain Ya...

Acung tangan seberapa sering kita ngomong kayak gini ke teman yang sedang bergumul, tapi pas doa, lupa sama sekali buat doain.

Hahahha... Sayyyaaa!! Tunjuk tangan paling tinggi deh saya..

Iya, ngomong "saya dukung doa yaa.." itu guampang buangeettt, tapi ngerjainnya susahhh buangetttt.

Tahun ini jadi tahun resolusi saya dalam berdoa. Berawal dari artikel tentang doa yang dibagikan adik saya, saya semakin sadar kalau ga ada dukungan yang paling kuat selain dukungan doa yang sungguh-sungguh untuk orang-orang yang kita kasihi.

Pas bener hari ini 2 sahabat saya bercerita tentang masalah mereka. Dulu, saya bisa panjang kasih nasehat ini itu. Iya, sekarang juga masih. Tapi sekarang lebih banyak mendorong mereka berdoa sungguh-sungguh. Bukan sekedar omongan, tapi benar-benar mendorong dalam hati.

Saya percaya, untuk memenangkan sebuah masalah, kita harus memenangkannya dahulu di dalam roh. Dulu... Dulu... Saya tahu akan hal ini, tapi ga mengimani sungguh-sungguh. Baru setelah mendapat artikel dari adik saya itu selaput mata saya seperti terbuka.

Berdoa bukan hanya sampai sesuatu terjadi, tapi juga supaya orang2 yang saya kasihi semakin kuat di dalam Tuhan, menemukan maksud Tuhan dalam hidupnya, menjadi lebih kokoh di dalam iman.

Kadang-kadang saya ciut mendengar cerita teman2 saya yang lebih berat dari masalah saya pribadi, omongan dan nasehat saya sepertinya ga akan cukup. Tapi lewat doa, saya tahu saya sedang mendukung mereka dengan lebih kuat dibanding dukungan apa pun.

Jadi, dari akhir tahun kemarin saya sedang mendisiplinkan diri untuk benar-benar membawa dalam doa, setiap orang yang meminta dukungan doa. Ga gampang, tapi patut diperjuangkan.... Saya sendiri pun lebih fokus pada karya Tuhan dalam hidup orang-orang sekeliling saya daripada masalah pribadi saya.

Berdoa dan berjaga-jagalah supaya kamu tidak jatuh dalam pencobaan....


[ARTIKEL] Dia yang PHP atau Gw yang GeeRan??

Bess-Hamiti Haaahhh... Ayo streching dulu dan pemanasan sebelum mebahas topik ini. Topik ini bukan cuma untuk para wanita, tapi jug...