Wednesday, September 25, 2013

Traveling: Enyaaakkk Akhirnya Aye Ke Baliii (Part 2)

Pulang dari Ubud, Pak De membawa kami mencoba kopi luwak Bali. Bukan di coffee shop atau pun warung kopi, tapi di dekat sawah-sawah. Kami disambut seorang Mba dengan senyum ramah dan kami diajak melewati beberapa kebun rempah-rempah. Dengan lembut dan sabar ia menjelaskan mereka menanam apa saja. Dari jahe, kunyit, kopi, coklat, sere, dan banyak lagi. Ga jauh dari kebun-kebun ada seperti bale-bale seorang ibu lagi ongseng-ongseng biji kopi. Di situ Mba menjelaskan kalau kopi mereka diolah dengan cara tradisional (apinya pakai arang, bahannya ditumbuk dan disaring manual). Ga cuma kopi, tapi juga teh dan minuman-minuman herbal lainnya.
Setelah melihat-lihat kami dipersilahkan duduk di bangku-bangku seperti di warung kopi hanya saja tidak ada tembok. Kami bebas melihat pemandangan sawah yang luas. Mba tadi mengatakan akan menyuguhkan minuman produk mereka (di cangkir kecill) dan kalau kami mau, mereka akan menyuguhkan kopi luwak dan membayarnya dengan harga hanya Rp.50.000. Mumpuuunggg … harganya Cuma 50rebeng, saya dan Aki langsung memesan dua cangkir. Untungnya minuman yang lain gratisss :p.




Traveling: Enyaaakkk Akhirnya Aye Ke Baliii (Part 1)

Semangat!! Antusias!! Menggebu-gebu dan tidak sabar ingin cepat berangkat, itu yang saya rasakan saat menjelang  hari untuk waktunya jalan-jalan ke Bali – alias – Honey Moon …
Maaf kalau saya norak dan kampungan. Ke Bali aja kok heboh amat. Yaaaa, dikarenakan saya dan keluarga tipe yang ga pernah jalan-jalan jauh – selain melintasi pulau sumatra untuk sampai ke Tanah Toba, kami tidak pernah berwisata ke tempat lain. Yogya aja tidak pernah, apa lagi Bali.
Nah, Aki juga ga jauh beda dengan saya. Belum pernah ke Bali, tapi dia lebih maju sedikit.. Sudah pernah ke Yogya beberapa kali. Sekali sama rombongan teman-teman komsel, 2 kali acara dari kantor. Ampe cinte mati die sama Yogya.

Tuesday, September 17, 2013

Bola Mukjizat Yang Retak 8



Teman-temanku yang terkasih. Terima kasih atas dukungan, doa, dan sumbangannya. Apa yang kalian kasih lewat kata-kata, doa yang mungkin tidak terdengar oleh saya dan Aki, dukungan yang ga ada hentinya benar-benar berarti buat kami. Perhatian kalian, kasih kalian , membuat pengharapan kami di dalam Tuhan tidak pernah padam.

Kadang-kadang mungkin saya menuliskan bahwa mukjizat itu dalam bentuk materi, diskon dkk, tapi sebenarnya kalian adalah mukjizat terbaik yang Tuhan berikan.

Friday, September 13, 2013

Janji Nikah Langsung Diuji Ckckckc...

So,besok dua minggu saya sudah menjadi istri dan Aki jadi suami.. Hueehhehe.. Tenang saudara-saudara.. Saya tidak akan menghitung per minggu, bulan, atau tahun. Cuma mau share sedikit kehidupan pasutri baru ini.

Senin, 9 September – Selasa, 11 September 2013 saya dan Aki jalan-jalan ke Bali. Dengan modis (modal diskon) dari DisDus, kami bisa menginap di Inn Sandat Legian. Penginapannya tidak terlalu mewah, tapi Puji Tuhan yang tadinya kita pesan standard room dinaikan menjadi delux room oleh pihak penginapan (soal ini saya punya cerita lucunya.. nanti yaaa..).

Wednesday, September 04, 2013

Review Vendor Nganten: Undangan - The Crown Indonesia

Ini undangan yang akhirnya sudah jadi dibuat oleh adik saya (The Crown Indonesia). Ide dasarnya dari saya dan Aki yang tiap terima undangan liatnya sayang banget karena pasti langsung dibuang. Akhirnya kita rencanakan untuk membuat design dan kertas yang sesimpel mungkin. Jadinya begini deh. Terdiri dari tiga lembar; cover, keterangan hari dan tempat, dan peta. Ketiganya disatukan memakai tali (seperti tali tambang kecil), dimasukan ke dalam amplop, lalu diikat dengan tali tambang kecil lagi. Jadi undangannya benar-benar berkesan vintage. Nama yang diundang ditulis di kertas yang ada di tali, lalu di beri cap. Karena undangan ini terbatas untuk orang-orang tertentu saja (yang kami pikir akan jarang buka media sosial), kami mencetaknya sangat terbatas.

Tuesday, September 03, 2013

Review: Vendor Nganten Review: Bridal & Foto Pre Wed (White Bridal – De caption Photography)


Di awal ketemu bridal ini di pameran, kami sudah senang dengan sambutan hangat Ci Nia. Dengan jujur kami katakan apa yang kami butuhkan bahwa kami hanya fokus pada pemberkatan. Puji Tuhan, Ci Nia langsung memberikan harga yang sesuai dengan yang kami butuhkan dengan paket-paket yang memang sesuai keinginan kami. Selain itu Ci Nia memberikan keringanan pada kami untuk pembayaran dengan cara menyicil. Waktu itu rasanya tertolooong sekali.

Akhirnya dengan setia, setiap bulan kami membayar cicilan minimal 1 juta dan Puji Tuhan kami bisa membayar pelunasan lebih awal dari yang ditargetkan.

Yang membuat kami puas dengan White Bridal, kami selalu disambut dengan hangat dan dilayani dengan baik. Apalagi saat memilih gaun. Mba Eni yang membantu kami memilah-milah gaun sangat sabar dan ramah. Setiap kali kami datang untuk memilih gaun atau fitting selalu ada keceriaan dan kesenangan tersendiri. Padahal wajah Mba Eni sudah keliatan sangat lelah, tapi beliau tetap tersenyum dengan hangat pada kami.

Kesaksian Bimbingan Pra Nikah (Versi Aki)

Sesuai janji saya di sini, Aki memberikan izin untuk saya post kesaksian dia untuk kelas BPN. So, ini dia kesaksiannya.

Saya dulunya termasuk salah satu orang yang cukup skeptis dengan Bimbingan Pra-Nikah. Padahal, saya sudah berjemaat di Abbalove kurang lebih 15 tahun tetapi karena termakan perkataan orang lain bahwa di BPN ada ini-itu, harus begini-begitu, belum lagi jangka waktu bimbingan yang cukup lama (minimal 9 bulan – buat saya lama sekali) malas rasanya untuk mengikuti semua”syarat” ini. Yah, memang saat itu saya memiliki paradigma yang salah. Paradigma saya ini diubahkan oleh karena kesaksian sebagian besar teman-teman saya yang sudah menikah dan mengikuti BPN, bahwa saya dan pasangan saya, Lasma, WAJIB dan KUDU MESTI ikut! Wah, memang ada sedikit unsur pemaksaan. Namun, pada akhirnya saya dan Lasma pun menuruti saran dari teman-teman, itu pun setelah 2 tahun menjalani hubungan khusus.

Monday, September 02, 2013

Kesaksian Mengikuti Kelas Bimbingan Pra Nikah (BPN)


Di kelas BPN, sebelum para pasangan akan menikah, biasanya tiga bulan sebelumnya diminta untuk menulis sebuah kesaksian selama mengikuti kelas BPN. Ci Lia juga posting sedikit di blog ini. Malahan dicetak di warta. Yah, jadi saya mau ikutan ci Lia untuk bagiin apa yang jadi kesaksian saya tentang kelas BPN. Intinya BPN itu investasi seumur hidup dalam pernikahan. Walaupun berkali-kali ikut, pasti akan ada rhema baru yang kita terima. So, ini sebagian kecil yang saya terima dari kelas BPN. :)


Awal masuk BPN, ada pemikiran dalam diri saya bahwa saya sudah tahu apa yang akan dibahas di dalam kelas-kelas BPN (sombonggg..), tapi ternyata saya SALAH BESAR!! Memang ada beberapa hal yang sudah saya ketahuai dari membaca buku tentang pra-nikah atau kelas Love Sex and Dating di SPK (Saya Pengikut Kristus), tapi itu hanya sepersekian bagian yang dibagikan di kelas BPN.

Hari Pernikahan Yang Tidak Sempurna

Ok, saya seorang istri sekarang.

Oh, No!! Sekarang saya seorang istri!!

Thank you, Lord sekarang saya seorang istri :”>

Oh my God!! Sekarang saya seorang istri??!!!



Ok.. Itu reaksi saya setelah mengucapkan janji nikah, pasang cincin, wedding kiss (akhirnyaaa halal.. *ehhh), dan perjamuan kudus. Antara lega, happy, dan ga yakin kalau yang saya alami beneran. Hahahha.. Saya harus melihat cincin di jari manis saya berkali-kali kalau saya benar-benar sudah menjadi seorang istri.

[ARTIKEL] GA SEMUA ORANG DILAHIRKAN UNTUK SUKSES

Kalau ukuran kita untuk sukses adalah punya uang banyak, menjadi terkenal, punya jabatan tinggi, disegani semua orang... Bayangkan kalau ...