Tuesday, June 17, 2014

Galau Gara-Gara Pilpres

Serius, hari ini tertekan. Tulang panggul lagi sakit dan ga bisa ngapa-ngapain dengan bebas. Udah berasa ga enak. Tau2 baca status kenalan share soal capres ga mau cipika cipiki. Saya sudah lihat beritanya pas bareng suami. Kami langsung muak luar biasa. Bukan karena memojokkan capres yang satu, tapi karena bagaimana berita itu disampaikan dengan cara yang tidak mendidik.
Waktu lihat status teman saya itu, saya sudah gerah. Waktu lihat status kk saya dikomentari dengan berita itu lagi, saya makin panas.
Orang ini dengan sengaja komentar untuk menyebarkan berita tersebut padahal status kakak saya tidak membahas hal tersebut.
Jujur, saya marah. Saya mulai balas komentarnya dengan tajam. Mungkin orang akan anggap saya membela capres A, tapi sebenarnya ada satu nilai yang saya pegang.

Dulu saya pernah ikut camp dan di sana saya diajarkan untuk tunduk dan taat pada komandan. Istilahnya kami dilatih untuk jadi pelayan Tuhan yang tangguh. Saya paling ingat nilai-nilai yang diajarkan. JANGAN BERASUMSI! Saat kita mengambil keputusan yang mempengaruhi orang banyak dengan asumsi, pasti berantakan. Bukan hanya saya saja yang dirugikan, tapi juga orang yang saya pimpin dan orang sekeliling saya.

Nilai ini saya bawa sampai sekarang. Dulu saat masih bekerja, saya memilih bertanya dan dikatakan bodoh daripada salah mengambil keputusan. Walaupun pekerjaan saya sepele. Saya hanya terngiang kakak pembina di camp saat itu. Hari ini kalau saya teledor, mungkin hanya selembar surat, tapi bisa memperlambat prosedur atau proses administrasi.

Teman yang share link ini pun pernah ikut camp yang sama. Jadi, ini bentuk protes saya. Sebelumnya juga ada beberapa orang yang saya kenal dan saya tahu dia harusnya beliau jadi teladan, melakukan hal yang sama. Menyebar link dengan kalimat yang tidak membangun.

Rasanya tuhh sesakk luar biasa waktu lihat hal ini. Mungkin saya yang terlalu serius, tapi beneran dehh, saya pribadi butuh teladan. Apalagi generasi di bawah saya. Kalo ingin generasi kita pintar, masa kita menyuapi mereka dengan bulat-bulat. Tidak diajarkan memakai hikmat dan pengetahuannya?? Ampuni aku Tuhan kalau aku ternyata begitu.

Saya jadi berkaca juga, apa saya sendiri tidak terlalu ekstrim dan keras berusaha meluruskan? Apa saya tidak berat sebelah? Apa saya terlalu bersungguh-sungguh seperti yang teman saya bilang dulu? Apa saya justru sedang menghakimi?

Hikss.. ya sudahlah ya. Saya hanya menyatakan apa yang menjadi keyakinan saya, balik-balik keputusan masing-masing orang mau bicara dengan cara apa atau seperti apa.

God bless Indonesia. God bless our nation. God bless Pak Wowo dkk & Pak Wiwi dkk.

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan. Amin.

Monday, June 16, 2014

Random June - 32 Weeks Gi

Huaaa, sudah berapa lama saya tidak menulis ya?? Sudah lama sekali ternyata. Eh, terakhir sih tanggal 2 Juni. Ya, belum lama-lama amatlah ya.

Bulan Juni ini bisa dibilang bulan PANAS. Bukan cuma karena sedang musim kemarau, tapi juga panas dan gerah dari efek kehamilan (elus-elus perut). Ditambah lagi adanya Pesta Demokrasi dan Piala Dunia. WOWWW. Kira-kira kalau dikalkulasi ke Celcius bisa berapa derajat ya?? Hahaaha...

By the way BUSWAY,

Monday, June 02, 2014

Masalah Pria

Hampir setahun nikah ini, udah mulai makin kelihatan jelek-jeleknya Aki. Waktu pacaraan sih udah, tapi udah  nikah kita bini jadi lebih cermat liat kekurangan suami.

Biar begitu, Babe tidak pernah berhenti buat mengingatkan kalau Aki itu tidak sempurna sama seperti saya yang tidak sempurna.  Kalau ada yang kurang berkenan, bicara dengan cara yang nyaman tanpa merusak hubungan dan menjatuhkan pihak lain.

Nah, mungkin bisa jadi pelajaran buat yang mau nikah.  Ada beberapa hal yang bisa jadi masukan.

1. Soal Quality Time

Kita cewe biasanya kalau quality time pengennya laki tuh bisa diajak ngobrol dari hati ke hati,  tapi kennyataannya..  Pulang kantor laki pasti malah cari hobinya.  Entah game,  browsing,  nonton, olahraga, atau yang lainnya.  Nah,  kita cewe bisa dianggurin dan ga didengerin karena mereka cuma fokus ke satu hal.  Solusinya? Ga ada salahnya kita join nikmatin hobinya.  Selain bisa quality time, kita perempuan jadi nambah pengetahuan pluss bisa jadi sahabat buat laki. Pokoknya jadi kloppp,  kayak sohiban :D

2. Masalah Boy always be boy

Perempuan jaman sekarang biasanya udah tahu deh sifat laki seperti apa.  Dari baca buku sampai ikut seminar atau pernah pacaran berkali-kali,  minimal tahu pria itu seperti apa.  Mereka bisa dewasa,  tapi langsung "menggila"  kalau bertemu teman-temannya. Nah,  kalau sudah nyaman dengan kita perempuan, kelakuan anak laki-lakinya akan makin kelihatan.  Mereka jadi manja dan ingin diperhatikan (memangnya cewe doang yang mau diperhatikan :p). Jangan kaget kalau melihat mereka seperti ini. Jangan frustasi.  Apalagi depresi. Percaya saja bahwa mereka masih memimpin kita perempuan.  Tidak usah terlalu menuntut mereka untuk dewasa 24 jam.  Serius,  kadang-kadang orang dewasa itu membosankan.  Malahan jiwa kekanakan itu masih perlu ada dalam seseorang supaya bisa menikmati  hidup.  Lagi pula, pria waktu sedang kekanakan selalu bisa membuat kita perempuan tertawa bukan? Jadi, nikmati saja.

3. Masalah pria Tidak Peka

Kebanyakan perempuan akan mengatakan kalau pria itu makhluk yang kurang peka. Itu karena kita perempuan selalu ingin dimengerti sedangkan pria tidak ngerti-ngerti  karena tidak diberi tahu.
Buat yang punya cita-cita menikah,  terimalah kenyataan kalau  pria memang kurang peka.  Bukan berarti kita biarkan saja ketidak pekaannya berakar,  tapi kita perempuan belajar mengerti supaya kalau pria tidak peka,  kita tidak perlu sakit hati.  Kalau kita tidak mau mengkomunikasikan isi hati kita,  jangan sakit hati kalau akhirnya pria gagal memenuhi keinginan kita.
Sebenarnya bukan pria saja yang tidak peka,  wanita juga sering tidak peka saat berpusat pada diri sendiri.  Karena hanya memikirkan kebutuhan diri, kita bisa mengabaikan kebutuban pria,  bahkan menghakimi atau menghukum mereka dengan berbagai jurus dan ilmu kekekekek... Jadi, balik-balik silahkan sebutkan kasih itu apa saja (sabar, murah hati, lemah lembut dst)

Ada lagi tidak ya.?  Segitu saja dulu.  Silahkan kalau ada yang mau menambahkan.  Hehehehe...

Kalau saya sendiri, sedang banyak bersyukur karena ternyata banyak sekali persamaan yang bisa kami temukan dan kerjakan bersama.  Seperti satu tim yang bersemangat memenangkan menyelesaikan dan memenangkan pertandingan. Sebentar lagi anggota kami bertambah satu.  Semoga Tuhan terus menyatukan hati kami di dalam iman,  pengharapan, kasih dan sukacita.  Aminnnn.


amsaLFoje via Blogaway

[ARTIKEL] GA SEMUA ORANG DILAHIRKAN UNTUK SUKSES

Kalau ukuran kita untuk sukses adalah punya uang banyak, menjadi terkenal, punya jabatan tinggi, disegani semua orang... Bayangkan kalau ...