Friday, September 25, 2015

Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan -Repost dari Pak Ery

Repost dari Pak Ery

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

sumber : rhenald kasali

Thursday, September 24, 2015

Sikap Hati Orang Jepang

Saya dan Aki lagi suka banget nonton channel Waku Waku Japan. Channel tv Jepang yang "kayaknya" dipakai buat promosi pariwisata Jepang juga.

Kami suka channel ini sebenarnya juga ya karena channel tv Jepang. Kami lebih banyak suka drama-drama Jepang dibanding drama dari negara lain.

Seperti
Tonbi, drama tentang hubungan ayah dan anak laki-lakinya. Ia berjuang membesarkan anaknya dengan di bantu sahabat-sahabat satu kampungnya. Ceritanya seru dan mengharukan.

Jin, drama tentang dokter yang secara tidak sengaja kembali ke masa lalu, jaman Edo. Di sana ia menyembuhkan banyak orang dan bisa dibilang mengubah sejarah.

Emperor's Cooks, drama berdasarkan kisah  nyata. Seorang anak muda yang bercita-cita menjadi koki kekaisaran. Cita-citanya tercapai dan kesetiaannya pada kaisar diuji pada saat Perang Dunia ke 2 berakhir dan Kaisar dinyatakan penjahat perang.

The Doctor, yang ini sudah pasti drama tentang dokter. Dokter baru yang masuk ke sebuah rumah sakit dengan management yang kacau. Berbekal keinginan menjadi seorang dokter yang baik, Dr. Sagara mengubah keadaan, management, dan budaya rumah sakit di mana dia bekerja.

New Kids War 2, drama keluarga Kawai. Di mana dua keluarga disatukan. Awalnya keadaan sangat kacau. Anak-anak dari suami dan anak dari istri bertengkar dan tidak pernah akur. Ditambah dengan kedatangan Nenek yang ingin tinggal dengan mereka. Nenek yang suka kritik dan cerewet. Tapi, akhirnya ikatan keluarga benar-benar bersatu. Tentu saja karena adanya sikap  peduli terhadap satu sama lain.

Itu baru drama-dramanya, belum acara-acara tentang wisata di Jepang, makananya dan juga sejarah Jepang. Kayaknya bisa seharian ditonton hahahha.

Tapi, yang paling berkesan waktu nonton tentang pastry Jepang. Kebiasaan orang Jepang yang membuat saya berkaca-kaca, mereka belajar cara membuat pastry di Prancis dan saat kembali ke Jepang memodifikasinya menjadi pastry khas Jepang. Akhirnya malah pastry khas Jepang yang lebih populer dan ada di mana-mana bahkan sampai ke luar negeri.




Soal teknologi pun Jepang mengalahkan Amerika. Teknologi dan animasi sekarang banyak yang berkiblat ke Jepang. Teknologi itu bukan ciptaan mereka, tapi mereka bisa memodifikasinya dengan luar biasa dan menjadikan produk mereka diakui dunia.

Yang saya percaya, Jepang bisa maju seperti itu karena sikap hati mereka. Mereka punya rasa cinta pada profesi mereka. Bekerja bukan sekedar bekerj, tapi memberi yang terbaik. Sikap hati yang sungguh-sungguh.

Di mana pun kita berada, kalau ketemu orang yang punya hati yang sungguh-sungguh, hati kita pasti langsung tergugah dan merasa hangat. Itu yang saya rasakan setiap kali melihat atau mendengar tentang Jepang.

Ga ada istilah setengah-setengah.

Bukan berarti ga ada orang yang hidupnya setengah-setengah di sana, tapi dari budayanya, sikap totalitas ini sepertinya sudah menjadi ciri khas. Mungkin itu juga yang membuat banyak orang bunuh diri di sana. Harakiri masih membudaya ya.

Jadi intinya apa Las?? Intinya sih, tiap abis nonton film Jepang itu langsung berasa bersemangat menjalani kegiatan sehari-hari. Tentunya juga makin pengen ke Jepaanggg.

Oh ya 1 lagi. Drama-drama di atas sangat, sangat aku rekomendasi. Jadi, kalau nemu filmnya, tonton yaaa.

Wednesday, September 23, 2015

Earn It

Tadi siang baca kesaksian Ci Fany yang menyentuh hati banget. Tentang orang yang sangat membantu dia di saat-saat sulit.

Sekarang ini banyak orang yang mengejar impian, tapi sedikit sekali yang menjadi fasilitator agar orang mencapai impiannya. Waktu baca cerita tentang Om Gunawan ini, saya langsung ingat kalimat yang sering saya dengar

"Hiduplah sebagaimana kita ingin diingat saat kita sudah meninggal."
"Apa yang ingin dituliskan di batu nisan tentang hidupmu, hiduplah seperti itu."

Sukses itu memang ga akan cukup buat diri sendiri. Orang yang memikirkan orang lainlah yang jalannya banyak dikuatkan dan dimudahkan Tuhan.
Kalau nyerah dikit karena masalah-masalah sepele, jangan-jangan kita sukses hanya untuk kepentingan kita sendiri.
*ngecek diri sendiri juga

Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Amsal 22:4

Inilah kesaksian Ci Fany
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika lagi berberes loteng rumah mami ketemu foto 10 tahun lalu dan di foto ini ada sosok yang luar biasa berpengaruh dalam hidup saya yaitu om Gunawan yang paling kanan.
Mungkin Passioners udah banyak yang tahu ya cerita om Gunawan ini dari Fany😄😄
Jadi om Gun ini adalah suami dari teman Papi saya tante Meysian. Ketika dulu ekonomi keluarga saya sedang sangat amat sulit sehingga terancam ga bisa bayar kuliah tiba2 ada telp dari tante Mey Sian kalau tante butuh mentor untuk anaknya kuliah akuntansi dan jadilah saya mentor privat anaknya yang juga junior saya di kampus. Ketika itu saya bisa mendapatkan tambahan uang 700 rb/ bulan hanya dari les privat akuntansi, jumlah yang sangat lumayan untuk mahasiswa semester 6 bahkan selalu dilebihin uang transport serta selalu tersedia kue2 enak setiap kali saya datang. Sehingga saya bisa menutup biaya kuliah dan kadang bisa membeli makanan enak untuk keluarga. Puji Tuhan saya ga jadi berhenti kuliah tapi malah mulai bisa memberi kepada orang tua saya ketika itu.
Saya belajar banyak hal dari keluarga om Gun ini yang ekonominya terbilang amat sangat mapan tapi hidupnya sangat bersahaja dan menghargai mahasiswi miskin seperti saya.
Ketika saya skripsi, Om Gun pula yang membantu mendapatkan akses ke salah satu perusahaan biskuit legendaris di Indonesia bahkan membantu mengantarkan saya ke Pabrik di luar Jakarta dengan mobil dan supir pribadinya serta membantu saya mendapatkan pekerjaan sebagai SPG di even PRJ untuk lebih mengenal produk dan sistem Perusahaannya. Lagi2 uang dari hasil SPGan itu bisa digunakan untuk membantu keluarga.
Om Gun yang mengajarkan saya untuk tidak pernah menyerah dan untuk tetap ulet untuk mencapai kesuksesan. Karena Om Gun pun berangkat ke Jakarta tanpa modal tapi berkat keuletan dan kerja kerasnya dimana siang dia bekerja dan malam berbisnis sampai ga pernah lihat matahari akhirnya bisa sukses dan mapan.
Om Gun ini sangat berwibawa, tegas dan galak tapi sangat dicintai anak buahnya. Di lapangan dia ga segan turun tangan kotor2 cek2 barang di display dan gudang dan menyapa pegawai yang laling rendah sekalipun dengan akrab.
Sampai saat terakhir hidupnya walaupun beliau mengidap kanker pita suara tapi beliau masih terus giat bekerja dengan berkomunikasi via tulisan. Benar2 etos kerja yang luar biasa.
Sekarang beliau telah beristirahat dengan tenang di surga.
Terimakasih Om Gun telah hadir dalam hidup saya dan memberi teladan dalam hidup saya untuk melakukan segala sesuatu dengan PASSION, jangan takut untuk keluar dari zona nyaman dan mengajarkan para generasi muda untuk jangan malas dan tekun mengejar apa yang dicari karena hanya diri sendiri yang mampu merubah nasib diri sendiri dan tetaplah rendah hati dalam segala kesuksesan yang telah dicapai dan selalu mengandalkan Tuhan
Terimakasih Tuhan saya diijinkan mengenal sosok kepemimpinan yang luar biasa dalam diri om Gun
Walaupun beliau sudah tidak ada di dunia ini tapi ajaran dan teladan beliau akan selalu saya ingat dan bagikan pada generasi muda lainnya

Friday, September 18, 2015

Cara Orang Tua Memotivasi Jaman Dulu

Kebiasaan orang tua jaman dulu memotivasi anak dengan merendahkan dan membandingkan. Tanpa mereka sadari mereka sedang mengubur potensi anaknya semakin dalam dan semakin dalam.

Ga sadar mereka menumbuhkan luka pada anak.

Oh saya memang buruk dan ga sehebat dia
Iya, saya memang malas dan bodoh
Aku mah apa atuhh

Jangan lakukan ini pada anakmu GI. Semoga Mama juga tidak melakukannya padamu.

Sunday, September 13, 2015

FOTO PROFILE SAMA PASANGAN

Yak, ini postingan bakal ga penting jadi, maaf-maaf saja kalau nanti merasa terjebak masuk ke sini hahahhaha.

Jadi, ini topik tentang foto profil di FB. Biasa kan ya, kalau kita single, kita akan pasang PP terbaik kita. Tercantik kita. Sudah nikah, ganti dengan foto paling mesra. Punya anak, foto paling mesra sama anak atau bertiga sama suami.

Nah, saya pilih menghindari pasang foto berdua sama anak atau bertiga kalau di PP. Kenapa? Di otak saya terpikir soal ini ... Mudah banget buat kita mencintai anak kita walau pun dia ga nurutnya sampai bisa bikin kepala panas. Tapi, kalau sama suami yang kadang lagi ga asik, kita harus terus komitmen terus menerus supaya ga kemakan rasa keki.

Nah, saya berusaha sebisa mungkin pasang PP berdua sama Aki biar selalu inget kalau kasih saya pada anak ga boleh lebih besar daripada sama suami. Suami harus tetap yang terutama.

Ada sih di path foto sama Gi. Karna pas bagus aja dan males ganti. Hahaha. Sisanya kalau ga foto sendiri, ya berdua.

Itu salah satu apa yang saya pikirin soal masalah sepele yaitu PP. Tiba-tiba pengen posting soal ini aja. Hahahhah.

Ngapain ya gua share doa gua di socmed? Keliatan banget sendirinya. Malah ini ngomong ke blog.

Ga masalah sih ya, gua posting doanya juga setelah berdoa. Ga ada aturan yang larang kita posting doa kita kan.... Hehehhehe

Hai masalah, aku punya Allah yang besar. Hi, iblis, hi pikiran sia-sia, hi kepahitan, hi kekuatiran, hi ketakutan, hi amarah, hi kebencian, hi kesombongan. Kalian tidak berkuasa atas hidupku karena Tuhan sudah membayar semuanya di kayu salib. Enyahlah daripadaku! Roh Kudus kuasailah hati dan pikiranku. Biar pikiran dan perasaan Kristus yang menuntun langkahku, perkataanku, perbuatanku.
Selidiki hatiku dan baharuilah batinku.

Galatia 2:20 (TB)  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Tuesday, September 08, 2015

Ga Perlu Ketemu Orang Buat Cape

Sudah beberapa bulan ini capek luar biasa. Mau banget nyalahin keadaan yang bikin aku susah punya ME TIME. Eh, ujungnya nyalahin diri sendiri karena ga bisa atur waktu HAHAHAHAHA.

Ya, pokoknya capek karena ga punya ME TIME. Di tanya kabar juga udah males cerita.

Aneh kan, padahal ga ketemu orang dan keramaian. Tapi, kerjaan saya berkutat di sosial media. Dari kerja di sosial media, ngurus Gyan lagi, dari ngurus Gyan, ngurus rumah lagi sambil mikirin kerjaan. Tahu-tahu udah sore dan harus ajak Gyan jalan-jalan lalu siapin makan malam dan beresin rumah. Malam, urus suami, lalu boboin Gyan. Kadang malah emaknya duluan yang bobo gara-gara tepar hahahha.

Kadang nyalahin diri sendiri lagi, kok gua ga bisa  bagi waktu dengan baik. Kok gua ga bisa disiplin?? Apa yang salah ya. Waktu mau beresin semua, ok beres. Tahu-tahu besok bangun dengan badan yang lelah dan kesakitan.

Suka bayangin Ci Lia, urus rumah sendiri dengan 3 anak, dan homeschooling. Sampe mikir apa Ci Lia lahirnya bukan di bumi kali ya. Hahahah...

Beberapa kali ada pikiran pengen bilang nyesel milih nikah hahahha, tapi pas mikirin ga ada Aki ga ada Gi, ketelen lagi itu penyeasalan.

Saya orang yang ga pernah bergantung sama orang lain. Lo mau tinggalin gua, gua sedih, tapi ga ambil pusing. Tapi, pas mikirin kalau sampai Aki dan Gi ninggalin saya... Ini pertama kalinya saya merasa takut kehilangan orang yang ada di sisi saya - sekali pun saya tahu kalau pun terjadi saya akan baik-baik saja.

Jadi intinya....

Saya bukan mau nulis postingan di atas hahhahha....

Capeknya saya bukan cuma karena kerjaan rumah dan bisnis, tapi karena harus ketemu orang di socmed. Kalau orannya positif sih gpp ya. Tapi makin ngerasa kesedot dan tertekan tiap lihat foto-foto korban kecelakaan pembunuhan dll yang diposting secara gamblang. Lalu ditulis,sempatkanlah bilang AMIN.

Mau nangis tiap lihat yang kayak gitu. Mau muntah. Muntah bukan karena korban, mau muntah karena apa yang si punya socmed terhadap foto korban.

Belum lagi liat orang yang ngebela pemerintah A atau pemerintah B udah kayak Tuhan. Menghina pemerintah A atau pemerintah B udah kayak setan. Seolah yang satu suci yang banget yang satu dosa banget.

Ngomong gini di otak aja masih ngerasa ditunjuk-tunjuk (emang lo kagak kayak gitu?)

Ya, lucunya ngeluh kayak gini juga ga ngaruh ya. Yang bisa nyaring kan saya sendiri. Kalau ga suka ya unfollow aja. Resiko pekerjaan saya.

Tapi, ga tahu kenapa sulit diabaikan. Ada yang sesak dan luka di hati tiap lihat hal-hal kayak gitu. Kalau saya mengabaikn, seolah saya sedang menumpulkan hati nurnai. Tapi, pas nulis begini, jadi diingatkan... Kalau saya sesak dengan perilaku sesama saya, apakah terhadap saya langsung, atau orang lain ... ya cerita aja ke Bapa. Mengumbarnya di depan orang banyak tidak akan melegakan, tapi mengumbarnya di hadapan Tuhan, akan mendatangkan hikmat dan pengertian.

Masih cape, masih lelah, tapi harus bertahan. Mungkin kapan-kapan ijin sama Aki buat sweet escape sendirian hahahha.


Saturday, September 05, 2015

MENGENANG WAKTU JADI PEMBINA OSIS. HEHEHE

Habis makan rendang ayam, memutuskan menulis. Bukan tentang rendam ayam, tapi tentang pekerjaan saya dulu sebelum saya berprofesi menjadi ibu rumah tangga.

Iye, soal saya sebagai pembina OSIS. Kenapa bahas ini? Tadi lihat foto kegiatan mereka di tahun ajaran ini dan entah kenapa rindu setengah mati hahahha sampai pengen mewek.

Ga nyangka mereka sudah besar-besar. Sudah regenerasi. Bahkan yang tahun ini menjadi ketua atau wakil ketua saat saya resign, baru masuk SMP dan cuma jadi panitia TMIS Cup.

Tapi saya ingat waktu itu saat berbincang-bincang dengannya. Dia bilang mau masuk OSIS. Murid yang kelihatan sempurna. Cantik dan pintar. Hari ini melihat dia di deretan anak OSIS. Dia memegang kata-katanya.

Saat jadi pembina OSIS, saya selalu mengatakan pada anak-anak buat banyak belajar karena nantinya apa yang mereka kerjakan di OSIS akan sangat berguna di luar sana.

Kenyataannya memang demikian. Berorganisasi melatih kepekaan kita terhadap lingkungan, memperhatikan dan menolong kebutuhan orang lain tanpa diminta, belajar berinisiatif,  belajar memberikan effort terbaik, mengatasi konflik, memecahkan masalah, belajar bertoleransi, belajar bertanggung jawab atas kesalahan pribadi atau kelompok, belajar bekerja sama, belajar meletakkan ego demi tujuan bersama dan banyak lagi.

Dalam organisasi benar-benar terjadi yang namanya manusia menajamkan manusia demi mencapai tujuan bersama. Jadi, yang namanya masuk OSIS itu ga akan pernah sia-sia deh.

Ntar kalau sudah pada punya anak, dorong mereka buat terjun ke dunia organisasi ya. Bukan buat cari popularitas, tapi buat nambah pengalaman dan pelajaran.

Selain organisasi rohani, dorong mereka buat bergabung dalam organisasi nonrohani yang di dalamnya ada banyak macam orang. Dari situ mereka bisa belajar menghadapi manusia-manusia yang punya nilai-nilai yang jauh beda.

Saya tidak tahu apakah mereka akhirnya bisa merasakan manfaat berorganisasi. Saya harap iya.

Di sela-sela kegiatan OSIS terutama saat evaluasi, saya sering menanamkan nilai-nilai kerjasama.

Satu untuk semua. Satu orang berhasil, semua berhasil. Satu orang gagal, semua gagal. Makanya pikirkan setiap tindakan apakah akan merugikan teman-teman yang lain atau tidak.

Banyak yang cepat menangkap, tapi ada juga yang sepertinya harus "ditegaskan" baru mengerti.

Jangan menyalahkan anggota timmu di depan orang luar. Selain karena mempermalukan anggotamu, kelihatan tidak profesional. Fokuslah pada solusi dan tegur temanmu empat mata bukan di depan orang banyak.

Jika generasi sebelumnya telah sukses menjalankan tugasnya, ada beban moral di pundak kalian untuk melakukan kesuksesan minimal dengan standar yang sama. Bukan berarti kalian harus seperti mereka. Justru angkatan kalian harus melakukan dan membawa perbedaan yang akan diingat orang.

OSIS berada di bawah naungan sekolah, sudah sepatutnya OSIS mengikuti peraturan dan keputusan sekolah sekali pun OSIS merasa tidak sreg dengan keputusan yang ada.

Akan selalu ada orang-orang yang menjatuhkan semangat kalian dan memandang rendah kegiatan yang kalian rencanakan, jangan marah dan kecewa. Tetaplah antusias karena masih ada mereka yang bersemangat mengikuti kegiatan yang kalian buat. Fokuslah pada mereka dan buat mereka gembira.

Libatkan semua staff sekolah dan hargai apa yang mereka lakukan untuk membantu pelaksanaan kegiatan kalian.

Jangan mengerjakan tanggung jawab timmu sendirian. Libatkan mereka dan belajarlah percaya pada orang lain. Bagikan tugas.

Mana yang lebih penting? OSIS atau tes harian? Ada yang jawab kegiatan OSIS karena mendesak. Saya katakan, tes harian lebih penting. Kamu ke sekolah buat belajar bukan OSIS. Saat ada tes, percayakan tanggung jawabmu pada orang lain untuk sementara sampai tesmu selesai.

[ARTIKEL] Dia yang PHP atau Gw yang GeeRan??

Bess-Hamiti Haaahhh... Ayo streching dulu dan pemanasan sebelum mebahas topik ini. Topik ini bukan cuma untuk para wanita, tapi jug...