Saturday, July 25, 2015

WANITA, KITA BUKAN PUSAT DUNIA


Berapa banyak dari kita, wanita, sering merasa menjadi korban dari sebuah situasi. Merasa terjebak dalam sebuah keadaan yang sepertinya salah. Pekerjaan yang salah, pasanggan yang salah, keputusan yang salah, lingkungan yang salah, dan situasi yang salah lainnya.

Saya salah satu orang yang bisa menyebutkan berbagai hal yang menyebabkan saya merasa berada di situasi yang salah. Merasa menjadi si pemeran utama yang selalu menjadi korban dan si penerima penderitaan.

Dengan sifat yang melankolis, hal ini bisa menjadi hal yang sangat menyiksa. Dengan segala macam detail kesalahan yang "tidak seharusnya" saya alami, saya merasa seluruh dunia membenci dan memusuhi saya.

Haiii, mungkin saya tidak sendirian. Ada banyak orang lainnya yang merasakan apa yang saya rasakan. Di sini saya hanya ingin mengatakan, benar-benar menyenangkan saat berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita.

Tapi tahukah kamu, dengan berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita, pusat dari dunia, kita sedang membohongi dan merusak diri sendiri. Kita percaya bahwa cerita dirancang hanya untuk mewarnai hidup kita.

"Lihat aku! Aku sedih! Aku terluka! Seharusnya kalian mengerti!"
" Hari ini aku sangat senang! Tidak seharusnya kalian merusam kesenanganku!"

Tapi, kita harus sedikit keluar dari lingkaran "kenarsisan" kita dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kita melihat apa yang terjadi dalam hidup orang-orang sekeliling kita?

Ya, mereka punya cerita mereka masing-masing. Mereka punya masalah yang mereka bawa sendiri-sendiri. Ada yang terlihat lebih ringan, ada yang lebih berat.

Ada orang yang datang ke hidup orang lain untuk membantu mengangkat beban, padahal ia sendiri sudah membawa bebannya sendiri. Ada yang datang meletakkan bebannya pada orang lain, lalu pergi meninggalkan orang itu sendiri. Ada pula yang memilih mengangkat bebannya sendiri tanpa melibatkan siapa pun dan ia sendiri pun tidak mau dilibatkan dengan beban orang lain.

Anehnya, ada yang mengangkat dan menerim beban dari orang banyak, tetapi senyumnya tetap lebar dan hidup. Ada yang bebannya ringan, tapi membawanya seperti bertontonn.

Mengapa begitu? Karena semuanya bergantung pada siapa pemeran utamanya.

Saat kita menyadari segala reaksi, respon, dan tindakan kita mempengaruhi cerita dari hidup orang lain. Kita akan lebih berhati-hati. Cerita apa yanb ingin kita bangun, cerita bahagia untuk semua orang atau cerita bahagia untuk kita sendiri?

Semuanya terserah kita.

#NyonyaDasterBahagia #amsalfoje

Gambar: answeritsa.wordpress

Sunday, July 05, 2015

Semuanya Terkendali

Ah, akhirnya nulis lagi. Gyan dan Papa Gi udah bobo. Saya sudah ngantuk, tapi mau beresin beberapa urusan Oriflame.

Sejak stress yang bikin mau mati itu, akhirnya semua bisa terkendali. Bukan karena TING tiba-tiba semua masalah beres, tapi karena seperti mendapat kekuatan baru.

Rasanya seperti Tuhan dukung saya untuk apa pun yang saya kerjakan. Tuhan mengajarkan saya untuk tidak berpikir terlalu jauh dari apa yang saya lihat dan dengar. Alias berhenti asumsi. Mulai mengungkapkan keinginan dengan santai dan melakukan 1 pekerjaan tanpa memikirkan pekerjaan lain.

Puji Tuhan, kesibukan sama seperti biasa, tapi hati lebih damai sejahtera, lebih bisa sabar dan sukacita. Tuhan menguatkan tangan saya untuk bekerja memberi yang terbaik. Tidak sempurna, tapi yang terbaik.

Saya selalu ingin menyelesaikan dengan sempurna, tapi tentus saja itu tidak mungkin. Ada situasi-situask yang tidak bisa kendalikan. Fokus pada apa yang bisa kita ubah daripada mengeluhkan hal-hal yang diluar kendali kita.

Mendisiplinkan pikiran dan perasaan memang tidak mudah, tapi hasilnya pasti akan membuat kita bersorak dan bersyukur pada Tuhan.



amsaLFoje via Blogaway

[ARTIKEL] Dia yang PHP atau Gw yang GeeRan??

Bess-Hamiti Haaahhh... Ayo streching dulu dan pemanasan sebelum mebahas topik ini. Topik ini bukan cuma untuk para wanita, tapi jug...