Friday, November 27, 2015

Mengatur Jadwal Karena Bekerja di Rumah

Seminggu ini saya mengatur ulang jadwal saya. Setelah melewati pergumulan yang panjang dan mencoba mencontoh jadwal orang lain, akhirnya Tuhan kasih hikmat untuk saya mengatur jadwal sesuai dengan kondisi fisik dan kebiasaan Gyan.

Jadi, beberapa hari ini mulai terbiasa bangun jam 3 pagi. Dari jam 3 pagi sampai jam 5 nyeterika, jam 5 saat teduh, setengah 6 sampai jam 7 belanja dan masak sarapan dan makan siang, jam 7.30 temenin Aki sarapan, jam 8 nyuci dan beres2 yang lain sampai jam 9. Pokoknya sampai jam 9 itu sudah harus mandi, kasih makan Gyan. Karena jam 9 sudah harus di depan komputer ngerjain Oriflame, terjemahan, dan shoponline. Kerja sampai jam 4, ajak Gyan keluar dan main. Jam 5 sudah harus di rumah beres-beres dan masak makan malam. Kalau rumah sudah beres tinggal duduk manis nyuapin Gyan sambil nonton drama Jepang hohoho sambil nunggu Aki pulang.

Selama ini saya ga sabaran. Ingin membereskannya dalam 1 waktu. Kunci jadwal yang saya buat kerjakan semuanya satu-satu. Jangan biarkan pikiran memikirkan semuanya bersamaan. Energi jadi terkuras di pikiran, bukan saat bekerja. Saya nurut aja dituntun seperti itu. Waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, ya tinggalkan HP. Waktu mengerjakan Oriflame dan yang lain, ya jangan mikirin pekerjaan rumah tangga yang lain.

Puji Tuhan banget dengan hal ini saya sangat tertolong. Yang tadinya pekerjaan kecil-kecil tidak beres-beres juga, akhirnya bisa dibereskan satu per satu. Kerjain pekerjaan rumah jadi lebih terasa ringan, kerjain Oriflame juga lebih fokus.

Saya juga jadi lebih disiplin untuk saat teduh. Walau ngantuk-ngantuk hahahhaha.

Buat orang lain mungkin mikirnya ya emang udah niat saya, tapi buat saya pribadi ini bener-bener pertolongan Tuhan. Tuhan kasih hikmat bagaimana saya seharusnya mengatur waktu saya.

Memang sih harus bergumul dan stress sampai rasanya mau gila dulu. Tapi, justru di situ Tuhan jadi kasih rhema, kalau waktu harus digunakan dengan efektif, bukan semau kita.

Waktu itu seperti uang, kalau tidak digunakan dengan sebaik mungkin malah akan memperbudak kita. Bahayanya lagi, uang bisa dicari, tapi waktu ga bisa. Waktu harus digunakan sebaik mungkin. Bukan cuma tentang momen-momen, tapi juga gimana waktu kita bisa untuk kita bertumbuh juga, memaksimal hidup kita dan juga orang lain.

Semoga Tuhan beri hikmat lebih lagi, supaya saya lebih berdisiplin lagi. Aminnn.

Thursday, November 26, 2015

Tobat ala Yudas atau Petrus?


Jadi hari ini saya baca status seseorang tentang Yudas dan Petrus yang "sama-sama bertobat", tapi dapet perlakuan beda.
Saya sudah tulis komen di status tersebut kenapa Yudas dan Petrus sama-sama berkhianat, tapi dapet perlakuan beda.

 Maksudnya perlakuan beda gimana??
Yudas menjual Yesus, tapi akhirnya menyesal dan mengembalikan uang pada para ahli Taurat dan orang Farisi. Tapi penyesalan Yudas tidak diterima dan akhirnya Yudas bunuh diri.

Petrus menyangkal Yesus, menyesal, bersembunyi, tapi akhirnya malah dipakai Allah dengan dahsyat. Beda ya. Beda banget. Coba dikupas satu-satu.

Saya ga akan membandingkan kesalahan yang paling besar, tapi lebih kepada sikap hati Yudas dan Petrus.

Yudas menyesal bukan bertobat. Ada tertulis kalau Yudas itu sejak semula sebenarnya ga percaya sama Tuhan Yesus. Bukan ga percaya Tuhan Yesus itu baik, tapi Dia ga percaya kalau Tuhan Yesus mampu memberikan pengampunan. Dia setiap hari berada di dekat Yesus, tapi Dia ga menerima kasih itu. Dia ga tersentuh dengan apa yang Tuhan lakukan. Apa buktinya??

Matius 27:4 dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"

Penyesalan Yudas bukan pertobatan hubungan antara manusia dan Tuhan, tapi lebih pada rasa kemanusiaan. Ia merasa bersalah, bukan merasa berdosa. Ia pikir dengan mengembalikan uang tersebut dapat membayar kesalahannya.

Rasa bersalah pada titik tertentu memang dapat mengakibatkan gangguan jiwa. Rasa bersalah yang dialami Yudas iblis pakai untuk mengintimidasi dan merusak jiwanya. Itu mengapa ia bunuh diri.


* Matius 27:5 
Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. 
Kalau sejak semula Yudas percaya pada Kristus, Yudas pasti akan percaya pada pribadi Yesus. Pada perkataan-Nya dan pada kasih-Nya.

Bagaimana dengan Petrus?? Di firman reaksi Petrus setelah sadar bahwa ia telah menyangkal Yesus 3 kali hanya digambarkan menyesal dan menangis. Tapi, dia tidak lari, dia juga tidak berusaha membayar dosanya. Terlebih saat mendapat kabar bahwa Yesus bangkit, dia langsung lari menuju kubur Yesus. Bahkan dia yang duluan masuk ke kubur dari pada murid lain yang ga punya masalah apa-apa. (Yohanes 20:1-10)

Coba kalau dia punya perasaan yang sama dengan Yudas, apakah dia akan dengan segera lari menghampiri kubur dan berharap bertemu dengan Yesus?? Ga. Dia pasti akan memilih menjauh. Mau taruh di mana mukanya??

Tapi justru ini menunjukkan bagaimana Petrus mempercayai pribadi Yesus. Dia percaya Yesus ga akan menolak dia. Dia percaya kasih Yesus sama dia ga akan berkurang. Kenapa?? Petrus sudah bertobat dari sejak awal Yesus mengajaknya.

Kapan?? Waktu dia menyaksikan Yesus membuat perahunya hampir tenggelam oleh ikan. Di situ dia berlutut dan menyatakan diri bahwa dirinya pendosa yang ga layak dekat-dekat dengan Tuhan.

Lukas 5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

Yudas ga benar-benar bertobat. Petrus Ya.

Pertobatan sejati membuat kita remuk hati, rasanya tulang-tulang ini sampai darah-darah ini ga pantes berdiri di hadapan Allah, tapi pertobatan sejati juga menimbulkan iman bahwa Allah mengampuni. Kita tidak peduli lagi apa kata orang tentang masa lalu kita, hidup kita. Kita hanya peduli apa kata Tuhan. Hati kita meluap-lupa dipenuhi kerinduan untuk hidup kudus di hadapan Allah.

Nah, pertobatan versi Yudas mirip-mirip. Merasa bersalah dan merasa berdosa. Tapi kita hanya menganggapnya sepintas lalu. Kita hanya mengukur dosa kita dari segi moralitas. Kita ga melihat ada hubungan yang putus antara kita dan Pencipta karena dosa-dosa kita. Pertobatan versi Yudas bisa bikin hidup kita berubah, tapi bedanya... Kita berpikir perbuatan baik kita dapat membayar dosa kita. Di sana ga ada kasih karunia. Hidup kita dikendalikan rasa bersalah dan ketakutan akan dinilai orang lain, pembalasan dari orang lain dll. Kita mengejar standar moralitas yang tinggi, bukan ketaatan pada Allah.

Pertobatan sejati itu karya kasih karunia Allah. Di sana ga ada ketakutan selain takut akan Allah. Kasih Allah yang melingkupi kita memampukan kita untuk berani mengatasi segala hal akibat dari masa lalu kita. Bahkan masa lalu itu Tuhan putar dan jadikan alat untuk menjadi kesaksian hebat. Itu kalau kita bertobat dengan sungguh-sungguh.

Berhubung pertobatan adalah tindakan setiap hari dan terus menerus karena kita setiap hari berbuat dosa, mungkin kita perlu cek terus menerus juga, pertobatan kita pertobatan ala siapa. Ala Yudas atau Petrus??

Itu yang aku mengerti dan pelajari dari bahan yang aku sedang translate ahhahaha...

Mohon koreksinya kalau ada yang salah.

Thursday, November 19, 2015

Perpuluhan Ga Perlu Karena Bikin Hamba Tuhan Kaya?

Baru baca status seseorang tentang persepuluhan. Ayat tentang persepuluhan memang berasal dari Perjanjian Lama (Maleakhi 3:10) "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap- tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Tapi bukan berarti ga berlaku di jaman ini.
Perpuluhan bukan semata-mata bukan untuk memperkaya hamba Tuhan. Tapi sudah jelas tertulis supaya ada persediaan makanan di rumah Tuhan. Seorang hamba Tuhan apakah karena melayani lalu harus susah makan, tidak punya tempat tinggal dan tidak punya pakaian juga??
Kalau ada hamba Tuhan yang punya mobil, punya rumah, apakah mereka tidak boleh menerima berkat juga? Sekian banyak jemaatnya yang diurus, haruskah dia berjalan kaki dari rumah ke rumah? Iya, kalau lingkupnya masih desa. Nah, kalau dari kota ke kota lain bahkan bisa antar negara??
Ga menutup mata banyak hamba Tuhan yang menjadi komersil juga. Tapi itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan kita hanya memberikan apa yang menjadi hak Allah. Rumah-Nya memerlukan dana untuk melakukan banyak pelayanan. Pelayanan orang sakit, sekolah Minggu, misi, pendidikan, kunjungan orang sakit, pemuda remaja. Bukan hal yang ga mungkin Allah menjatuhkan uang tiba-tiba supaya semuanya berjalan. Tapi Allah kita lebih suka melihat semua dana itu terkumpul karena anak-anak-Nya taat bukan??
‪#‎hanyasharing‬ ‪#‎numpanglemparopini‬

Sombong

Setiap kesombongan yang tidak kita sadari mengeras di dalam hati kita, pasti akan Tuhan remuk redamkan. Kalau kita tidak segera bertobat, ya siap-siap dengan yang lebih ga enak.
Itu tandanya Tuhan sayang.

Tuesday, November 17, 2015

Menginginkan Hidup Orang Lain.

Jangan menjalani hidup ingin seperti orang lain. Kamu tidak akan sanggup menjadi orang lain. Selain karena blue printmu berbeda dari orang lain, Tuhan punya cara sendiri memetakan perjalanan hidupmu.

Hari-hari ini banyak pandangan dan idelalisme yang bersileweran di depan mata kita. Kadang saat kita melihat kita tidak bisa mencapai idealisme tersebut, kita akan merasa tertuduh, berbeda, dan mungkin ada yang salah.

Perjalanan Pulang



Dalam perjalan kita pulang
Ada jalan yang harus kita lewati
 Deretan hutan gelap di kanan kiri
Sulit untuk tidak mengabaikannya,
Aku aku tahu itu tidak akan membahayakanku
Selama aku tidak masuk ke dalamnya

Perjalanan ini begitu jauh
Dari hutan itu sering terdengar suara-suara
Lihatlah jauh ke depan!!
Kau katakan lihatlah setapak demi setapak

Ada lagi suara berkata
Lihatlah ke atas!!
Kau katakan, lihatlah ke bawah
Supaya kakimu tidak terantuk batu

Bagaimana aku mengabaikan hutan di kanan kiriku?
Dari sana ada suara lolongan
Ada derap kaki
Ada bisikan-bisikan yang menusuk punggungku
Aku sulit tidak mengabaikannya

Maukah Kau menolongku??
Berbicaralah lebih keras di telingaku
Katakanlah banyak hal tentang diri-Mu
Supaya perjalananku hanya berpusat pada-Mu
Bukan hutan dan nyanyiannya yang menusuk dagingku

Bicaralah lebih keras
Supaya aku tetap memegang tangan-Mu
Saat kita sudah tiba di Rumah

Thursday, November 12, 2015

Rhema Hari Ini: Apa Kata Orang Bukan Ukuran Perbuatan Kita

Terlalu banyak mikirin apa kata orang, penilaian orang, lama-lama ga berbuat apa-apa. Ga berbuat baik dan akhirnya ga berbuah apa-apa.

Rhema Hari Ini: Apa Pusat Tindakan Kita Hari Ini?

Jika kita berputar-putar dalam rasa jenuh, kuatir, frustasi,
Mungkin itu karena menyenangkan hati Tuhan bukan lagi tujuan utama kita setiap tindakan kita.

Tuesday, November 10, 2015

Kristen Atau Murid Kristus?

Untuk membuat orang menjadi beragama Kristen itu gampang. Todong aja pakai pisau atau pistol, paksa nikah kristen, bikin peraturan semua orang harus beragama Kristen kayak jaman dulu.
Tapi apakah dengan beragama Kristen otomatis jadi pengikut Kristus? Tuhan Yesus ga bilang banyakin orang Kristen di dunia, tapi jadikan semua bangsa murid-Nya.
Murid Kristus bukan tentang kita pakai kalung salib, bukan cuma tentang gereja tiap minggu, bukan cuma tentang baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Murid Kristus itu punya pikiran dan perasaan Kristus. Kristus menerima orang dulu baru diajak bertobat, bukan disuruh bertobat dulu baru diterima.
Jadi, apa motivasi kita hari ini mengabarkan tentang Kristus? Supaya orang jadi Kristen? Atau supaya orang mengalami Kristus?

Apa Kabar Pelayanan??

Hal yang biasa dan wajar buat anak Tuhan punya kerinduan untuk bisa melayani di Rumah Tuhan, terutama bersama saudara seiman. Yang jadi masalah, saat kita mau, tapi kita tidak bisa.

Eh, ternyata banyak ya yang kayak begini. Bukan cuma saya yang ngalamin. Bahkan mereka yang single dan belum menikah.

Nah, yang sudah menikah apa kabar pelayanannya?? Saat sibuk mengurus anak karena mengurus sendiri dan banyak lagi kondisi yang membuat kaki tidak bisa melangkah.

Monday, November 09, 2015

Tuh, Kan! Makanya Jangan Lagi!

Baru-baru ini Gyan bongkar-bongkar laci bajunya. Waktu dia mau tutup ga sadar tangannya ikutan kejepit.

Nah, kebiasaan kita orang tua suka kayak gini. Kalau lihat anak sudah mengalami sesuatu yang buruk, kita akan bilang..

" Tuh, kan dibilangin. Udah jangan lagi."

Setelah itu anak jadi kapok dan ga mau belajar lagi. Yang dipikiran, itu laci berbahaya dan bisa menyakiti.

Padahal, harusnya kita bilang, " Tuh kan. Makanya hati-hati."

Menjauhkan anak-anak dari kegagalan ga membuat anak punya mental pejuang. Yes, biarkan mereka ngerasain sakitnya, lalu ajarkan bagaimana seharusnya mereka menghadapi situasi itu dengan cara lebih baik.

Kalau kita, malah berusaha anak supaya ga merasakan kegagalan. Akhirnya anak-anak ga belajar apa pun, ga ahli dalam hal apa pun, parahnya mental mereka jadi mental tempe dan langsung mundur saat mereka baru gagal sekali.

Ah, ya belajar lagi sebagai orang tua

*pelajaran kemarin.

lasmamanullang.blogspot.com

[ARTIKEL] GA SEMUA ORANG DILAHIRKAN UNTUK SUKSES

Kalau ukuran kita untuk sukses adalah punya uang banyak, menjadi terkenal, punya jabatan tinggi, disegani semua orang... Bayangkan kalau ...