Thursday, March 30, 2017

Benarkah Aku Harus Menjadi Besar?

Bicara soal besar, saya bukan bicara ukuran badan loh yaa. Badan saya sudah besar kok hihihi.

Besar yang saya maksud di sini adalah mempunyai nama besar, prestasi besar. Menjadi seseorang yang dihormati, diakui...

Benarkah harus demikian?? Selama ini saya diajarkan demikian. Orang-orang sukses pun mengajarkan demikian... Tapiii...

Hati saya bilang tidak. Tidak harus besar.

Kenapa? Karena kebaikan yang tidak diketahui sebenarnya lebih manis. Prestasi yang tidak diakui terkadang lebih menyenangkan tanpa beban.

Eh, padahal kadang kita pengen diakui, dihargai yaaa. Ada di dalam diri kita ingin menjadi orang besar juga. Ya, itu juga tidak salah. Jadilah orang besar, jika itu memang menjadi panggilan. Mempengaruhi banyak orang lewat tindakan dan kata-kata, karya, serta partisipasi.

Tapi...
Ingin menjadi kecil pun bukan kejahatan. Dari keinginan sederhana membuat orang lain bersukacita atau ingin melihat orang ingin lebih berhikmat atau ingin melihat orang yang lapar menjadi kenyang.

Hanya orang di depan mata, bukan seisi dunia.

Perbuatan yang mungkin orang pikir sebagai kebaikan, padahal kita hanya tergerak ingin melakukan. Kita tidak pernah memandangnya sebagai sebuah kebaikan, apalagi hal besar..

Kita hanya berpikir harus melakukannya. Kalau tidak, kita akan gelisah.

Ah, mungkin akan lebih baik lagi kalau kita adalah orang besar yang memiliki hati orang kecil. Memberi pengaruh baik pada banyak orang tapi tetap memiliki hati yanh sederhana...

Bisa??
Seperti itu pun bisa...
Bukan dosa 😊😊


Thursday, March 23, 2017

Insecure Mama



Seminggu ini para emak-emak makin gelisah dengan berita-berita penculikan anak dan pedhopil. Tidak terkecuali saya.

Gimana ga. Pelaku-pelaku kejahatannya sekarang bukan cuma orang asing, tapi orang-orang yang kita percaya. Bahkan orang-orang tidak kita duga seperti keluarga sendiri.

Buat emak-emak kayak saya, pengen banget kurung anak di rumah. Ga usah main di luar deh. Liat tetangga cowo aja saya jadi mikir macam-macam.

Gelisah dan takut
Itu yang saya rasakan walau tidak terlalu kentara.

Saya juga memilih tidak menyebarkan berita seputar penculikan dan pedhopil karena merasa seperti sedang menularkan dan kegelisahaan saya pada ibu-ibu lain. Makin disebarkan saya makin cemas. Lagian makin disebar bukannya malah bikin orang terinspirasi meniru ya?? (mau gila bayanginnya)

Bagus dong ibu-ibu pada takut, jadi waspada.... Iya ga? Ga buat saya. Hahhaha
Tindakan yang berdasarkan ketakutan biasanya jadi irasional. Ga masuk akal. Bahkan cenderung ga sehat.

Lagipula ada ayat Tuhan bilang, kalau kita sempurna di dalam kasih, kita ga akan takut selain takut sama Tuhan.

Tapi benar kan?? Coba deh kalau mikirin soal kecelakaan dan kejahatan, mau seberapa panjang dan kuat tangan kita melindungi orang-orang yang kita kasihi khususnya anak kita? Sedangkan di rumah aja bisa ada kecelakaan. Di tempat yang kita pikir aman aja ternyata banyak kejahatan.
Terbatas banget. Emak kayak saya benar-benar ga berdaya melindungi anak saya sendiri.

Saya ga berdaya bukan berarti ga berusaha menjaga. Saya juga lebih ketat menemani anak saya main. Tapi, saya ingin sekali saat saya anak main, saya menemani bukan dengan ketakutan yang menghantui.

Solusinya akhirnya cuma 1. Melindunginya dengan doa. Memohon pada Bapa di Surga menjauhkan anak saya dari segala kejahatan, melindungi dia dari segala marabahaya dan mempertemukan dia dengan orang-orang baik. Ga ada yang lebih bisa melindungi Gi selain Bapanya di Surga.

Waktu teringat hal ini saya lebih plong. Menjaga Gi bermain dengan rasa percaya kalau Bapa menjaganya lebih baik dari yang saya lakukan.

Kecelakaan, kejahatan ada di mana-mana, tapi Bapa di Surga adalah tempat perlindungan yang lebig kuat dari itu semua. Kalau bukan Dia yang saya andalkan untuk menjaga Gi, siapa lagi?

😊😊😊😊


Wednesday, March 15, 2017

Ambil Yang Pantas Kamu Miliki

Hi jiwaku...

Jangan menunggu orang lain memberi apresiasi, beri apresiasi diri sendiri. Apalagi kalau tahu sekeliling memang lebih suka liat keburukanmu daripada hal2 baik yang sudah kamu lakukan.

Ambil dan pakai apa yang memang pantas kamu gunakan untuk membangkitkan semangatmu. Jangan berlama-lama merasa menjadi korban. Mengapa berbetah-betah mengasihani diri jika tidak mengubah keadaan? Sekalipun kamu memang korban dan orang pun ga perduli.

Mungkin kamu memang terbiasa dikritik, jarang dianggap sebagai pribadi, lebih seperti properti. Jangan berkubang di dalamnya. Kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan dan diciptakan. Bukan jadi kotoran, tapi berlian.

Keluar dari situ dan bersinarlah. Kalau tidak ada yang berdiri di sisimu 100%, bukankah ada Penguasa Alam Semesta yang paling tahu DNAmu?

Jangan biarkan apa yang orang lakukan dan tidak lakukan membuatmu terpuruk, oh yaaa jatuhlah, tapi jatuhlah dalam pelukan Tuhan. Bukan ratapan tanpa ujung yang menghasilkan kebencian pada dunia.

Biarkan orang2 hidup dengan egonya dan kamu ambil bagianmu sepantasnya. Jangan membenci mereka karena nanti kamu seperti mereka. Mengampuni karena Tuhan katakan demikian.

Jangan biarkan luka itu menjeratmu ke tanah..
Kamu lebih kuat dari itu....
Ingatlah juga... Mereka yang menyakitimu adalah produk dari kegagalan manusia juga..
Jangan harapkan mereka jadi Tuhan yang sempurna...
Tapi perlakukan mereka seperti apa kamu ingin diperlakukan....
Untuk mereka dan untuk nama Tuhan dipermuliakan..

Tapi ingatt...jangan lupa mengambil yang menjadi bagianmu. Kamu pantas mendapatkannya dan kamu akan lihat pekerjaan tanganmu menjadi lebih baik dari sebelumnya.


[ARTIKEL] Dia yang PHP atau Gw yang GeeRan??

Bess-Hamiti Haaahhh... Ayo streching dulu dan pemanasan sebelum mebahas topik ini. Topik ini bukan cuma untuk para wanita, tapi jug...