Saturday, October 25, 2014

Gw Kesindir

Orang udah pada tahulah ya beberapa bulan ini gua ama laki bikin ribut di socmed. Debat ga karuan soal copras capres (sebenernya kami ga pernah bermaksud pengen debat).

Yang terakhir soal opini dan pertanyaan gw yg ternyata menyulut perdebatan lagi. Dari situ ternyata banyak yang terganggu (maaf sebesar2nya), sampai salah satu sesepuh majalah pearl negur gw.

Ya, dr teguran dia gw bljar nahan diri buat komentar sekalipun gw resah seresah resahnya juga dengan pemerintahan yg baru. Gw putusin buat komentar ke orangnya langsung lewat twitter. Memang seharusnya begitu.

Yang bikin hati ini nyat nyit nyut waktu baca status orang yang entah kenapa kayak nyindir gw. Kalau beneran, kamu berhasil *tepok tangan. Tapi juga kecewa. Kalau benar itu nyindir gua, kenapa ga ngomong langsung?? Kata2 dia semua benar.

Gw berharap dia ngomong langsung sebagai saudara. Tapi, ya udinlah yaaa... gw tahu selama perdebatan itu orang pada salah paham sama gw n suami. Dikira kami sangat membela si ini, dikira kami sangat membenci si itu. Sampai kami merasa disuruh diam secara tidak langsung.

Hanya beberapa orang yang benar-benar bertanya apa yang gw pikirkan.      Sisanya, dengan semangat silang pendapat ama gw 😄

Gw ga tau apa yg salah dgn mengkritik pemerintahan karena selama ini toh orang melakukannya. Benar gw berpendapat dgn emosi, di waktu yg ga tepat, dan bahasa yg ga tepat. Mungkin ini yg jadi masalah.

Ya, intinya gw mau hati-hati nulis. Jangan sampe malah orang2 yg gw sayang kecipratan kebodohan gw.

Buat yg akhirnya nyindir gua, terima kasih buat hikmatnya. Tapi gw juga harus lepasin pengampunan karena gw udh terlanjur kecewa (sakitnya tuh di sini). Semoga orang itu semakin diberi hikmat oleh Tuhan.

*Pantesan gw sering ngefans sama orang yg omongannya pedes tapi bener. Selalu ngerasa aman sama org kyk gini (salah satunya Aki 😄😄😄).


Thursday, October 23, 2014

Selamat Ulang Tahun Akiku-Papa Gi

Selamat Ulang Tahun

Akiku-Papa Gi-Gerry Adrianus Sewow

Panjang umur sehat selalu. Makin ganteng maksimal. Makin jadi inspirasi buat Oma dan Gi. Karirnya makin sukses. Rejekinya makin tokcer.

Thursday, October 16, 2014

Menjadi Ibumu

Menjadi seorang ibu
Kata mereka adalah naluri
Tapi tidak bagiku

Menjadi seorang ibu
Sama seperti saat aku memilih
Menjadi seorang istri

Memutuskan untuk mengasihimu setiap hari
Sama seperti aku memutuskan mencintai ayahmu setiap waktu

Aku memilih bersabar saat tak mengerti maumu
Sama seperti aku selalu bersabar menghadapi kelemahan ayahmu

Kasihku tidak otomatis, Nak
Kasihku tumbuh perlahan
Seiring kuberikan waktuku
Tenagaku, hidupku
Agar kau tumbuh dengan baik
Sama seperti cintaku pada ayahmu
Bertumbuh perlahan
Bukan muncul seketika

Menjadi ibu bukan naluri, Nak
Bukan pula tentang hubungan darah dan daging
Menjadi ibu adalah sebuah komitmen
Sebuah pilihan
Dan aku memilih menjadi
Ibumu

Wednesday, October 08, 2014

Surat Untuk Gi (2 bulan)



*nguap tiga kali
*ngulet sepuasnya
*rebahan cari posisi ueeenaaak

Ok, Gi akhirnya kamu sudah 2 bulan 8 hari. Makin hari tangan Mama lebih gampang pegal menggondong kamu. Itu tandanya kamu tambah besar dan sehat, Nak. Puji Tuhan.

Kamu bukan anak yang rewel. Asal kenyang, kamu pasti tidur dan main dengan tenang.

Papa Mama antusias sekali melihat pertumbuhanmu. Kamu mulai banyak mengeksplorasi sekelilingmu dengan tatapan ingin tahu. Tangisan hausmu saja bisa membuat kami tertawa senang.

Walau begitu, ada saat-saat di mana kami frustasi karena kami tidak mengerti apa yang kamu mau. Kamu hanya menangis dan menangis. Seperti waktu "pabrik" Mama mampet sebelah, kamu lebih banyak menangis. Berbagai macam dugaan kami kira-kira. Berbagai macam cara kami lakukan supaya tidurmu nyenyak. Kami tidak tahu kenapa udaha kami lebih banyak gagal. Setelah dari dokter kami baru mengerti, kamu kurang kenyang.

Waktu mendengar hal itu, Mama merasa sesak karena Mama merasa gagal menjadi ibu. Keputusan memberikanmu susu formula kami ambil dengan berat hati.

Tapi, melihatmu seperti sekarang,sehat, kuat, aktif, kami menjadi tidak menyesal. Bagaimana pun kesehatanmu lebih penting dari pada idealisme kami.

Kadang-kadang kita menang harus meletakkan idealisme kita demi orang lain, Nak. Bukan berarti kita menjadi orang lain, tapi artinya mengagungkan sebuah idealisme yang sebenarnya pun bukan hal terikat di firman Tuhan dan membiarkan orang yang kita sayang kesusahan (kecuali hal itu hal prinsipil dari firman Tuhan).

Waktu Mama hamil, mama sudah berpikir mau melakukan ini itu buat kamu. Seperti teman-teman Mama yang sudah punya anak, tapi lagi-lagi Mama menyerah. Mama tidak bisa jadi seperti mereka. Bukan berarti Mama berhenti melakukan yang terbaik, hanya saja... Kamu ya kamu, bukan anak lain. Mama ingin perlakukan dan didik kamu sebagaimana Tuhan menciptakanmu. Teman-teman Mama bisa jadi contoh dan inspirasi, tapi bukan menjadi dasar untuk melakukan ini atau itu terhadapmu.

Memang akhirnya Mama menemukan kesenangan tersendiri saat mengenalmu lebih lagi. Orang bilang nanti "bau tangan". Mama bilang itu cara membuat ikatan denganmu. Orang bilang ini dan itu, tapi Mama melihat apa pun yg Mama lakukan, sudah ada karakter khusus yang Tuhan letakkan di dalam dirimu. Mau Mama dan Papa jungkir balikan seperti apa pun, karaktermu akan seperti itu. Karakter yg menjadi dasar kamu untuk meresponi segala sesuatu.

Sekarang tugas kami adalah mengajarkanmu kebiasaan baik yang menjadi prinsip hidupmu nanti. Tugas yg lumayan berat, mengingat Mama dan Papa bukan tipe yang konsisten dan mudah bosan.

Apa pun itu, tetap semangat bertumbuh ya Gi. Semangag belajar dan mengeksplorasi duniamu.

Ingat selalu, di antara semua orang yang menyayangimu, Tuhan Yesuslah yang paling sayang padamu.

Papa sayang Gi
Mama sayang Gi

[ARTIKEL] Dia yang PHP atau Gw yang GeeRan??

Bess-Hamiti Haaahhh... Ayo streching dulu dan pemanasan sebelum mebahas topik ini. Topik ini bukan cuma untuk para wanita, tapi jug...