[Iman Kristen] Ucapan Syukur 2019, Tuhan Masih Setia



Rasanya masih belum terlambat ya kalau saya menuliskan ucapan syukur 2019 baru di hari ke 14 di tahun 2020. Padahal saya sudah memikirkannya dari akhir tahun 2019,tapi jiwa pengecut saya masih betah manahan tangan dan pikiran saya untuk bebas berkarya.


Kalau ngomongin 2019, sudah pasti tahun itu ga akan ada tanpa melewati tahun 2018...

Tahun 2018 buat saya tahun dimana Tuhan banyak mengajar saya dan Aki. Jadi ingat kalau dulu kakak pembina kami di Bimbingan Pra Nikah pernah bilang,

" Tema yang kalian tentukan pada saat  pemberkatan nikah, tema itu yang akan banyak Tuhan kerjakan dalam keluarga kalian."


Waktu kami menikah, kami memakai tema " Iman, Pengharapan, Kasih" dan memang selama  kami menikah tiga hal itu terus diproses. Walau sebenarnyaaa dalam iman Kristen ya memang tiga hal itu yang akan terus Tuhan godok sampai mati. Hehehhe. Tapi saat menjadikan 3 hal itu sebagai tema pemberkatan nikah kami, setiap ada masalah selalu teringat dan  menguatkan lagi.

Lalu hal-hal signifikan apa saja yang mau saya catat dalam blog ini? Ini dia beberapa hal yang membuat saya diteguhkan setiap hari.


1. Lunas Hutang

Cr: Nikolay F. 


Sejujurnya, walaupun kami menikah tanpa meninggalkan hutang, tapi kekurang cakapan saya dan Aki mengatur keuangan cukup memporak porandakan keuangan kami. Sebenarnya pun kami bukan yang boros-boros amat. Hedon pun tidak, tapi memang banyak hal perintilan yang kami pikir ga masalah, ternyata bisa jadi masalah.

Kami sempat menggunakan kartu kredit dan akhirnya memutuskan untuk berhenti menggunakannya. Tentu saja denga melunasi hutang yang tersisa. Kami belajar menghidupi diri dengan gaji yang kami terima. Puji Tuhan, hutang kartu kredit sudah lunas. 

Di awal tahun ini kami masih sempat memiliki hutang pembelian handphone secara kredit. Ini pun beli karena handphone benar-benar sudah tidak bisa digunakan sama sekali. Parahnya handphone saya dan Aki rusak di waktu yang berdekatan. 

Di sekitar bulan Oktober, akhirnya kami bisa melunasi pembayaran kredit handphone. Kami tidak punya hutang lagi selain KPR. Buat saya  hal ini kemenangan besar. Heheheh. Setelah beberapa tahun sebelumnya berjuang melunasi semua tanggung jawab.

Puji Tuhan usaha sketsa wajah pun Tuhan lancarkan, bisa untuk menjadi tambahan dompet dapur kami.

Terkadang saya ngelus dada setiap Aki dan saya ingin pergi nonton atau kongkow, kami harus mikir berkali-kali, uang kami cukup atau tidak. Ada rasa bersalah terselip setiap kali melihat Aki juga harus menurunkan standar kesenangannya supaya kami bisa mencukupi hidup. Dia sudah bekerja keras selama sebulan penuh, tapi ga bisa menikmati hasil kerjanya sendiri dengan bebas...huksss.. Di sini binik cuma bisa berdoa supaya Tuhan lipat gandakan berkat untuk suamiku supaya dia bisa menikmati hasil keringatnya tanpa perlu banyak pertimbangan.

Yah, biar begitu toh masa-masa kejepit itu membawa kami pada pendewasaan. Bukan cuma bijak dalam menggunakan uang, tapi juga kerendahan hati dalam menerima bantuan.

Dalam kondisi-kondisi terjepit, ga jarang kami meminta bantuan, tapi ga jarang juga orang-orang terdekat kami memberikan berkat tanpa diminta. Harga diri ini teriris-iris, rasanya seperti tertuduh dengan tagline

"Lebih baik tangan di atas."


Maunya kami, kami yang bisa membantu orang lain
Maunya kami, kami yang menolong orang yang susah
Ga perlulah kami nerima bantuan..

Tapi Tuhan tegor...

Di gereja dulu kami diajarkan " Setia menerima, setia memberi."  Kami terlalu fokus pada konsep  memberi, seolah-olah memberi adalah tindakan yang paling baik. Kami lupa kalau setia menerima sama pentingnya untuk menunjukkan kerendahan hati dan penyerahan diri pada pekerjaan tangan Tuhan.

Baca juga: Jangan Menikah Kalau...


Waktu saya dan Aki membicarakan hal ini, saya tertegun, ternyata saya dan Aki punya watak yang sama, punya harga diri yang tinggi. Sedangkan untuk bisa melihat kemuliaan Tuhan kita ga bisa mempertahankan harga diri yang ditakar lewat pikiran manusia.

Bersyukur lewat proses yang sudah kami lewati dan pastinya masih terus diproses. Gimana cara Tuhan prosesnya, akan kami lihat nanti.


2. Keputusan Gyan Tetap Di TK A



Sewaktu saya dan Aki memutuskan untuk membiarkan Gi tetap di TK A, sebenarnya ada ketakutan di dalam hati saya. Gimana kalau nanti Gi jadi minder? Gimana nanti kalau dia ga bisa gaul sama teman-temannya? Gimana kalau nanti dia merasa berbeda karena teman-teman sekelasnya sudah naik ke TK B.

Puji Tuhan, guru-guru Gi pintar menjelaskan pada anak-anak muridnya. Dengan cara yang menyenangkan Ibu Kepsek menjelaskan pada Gi, dia harus tetap di TK A karena kedua gurunya membutuhkan bantuannya di kelas. Dengan semangat pula Gi menerima tugas itu.

Baca juga:  Mama Papa Harus Berani Sabar


Di pembagian rapot semester 1 kemarin, saya menjadi lega. Kedua guru Gi menjelaskan kalau keputusan saya dan Aki membiarkan Gi tetap di TK A sudah tepat. Gi lebih percaya diri, dia lebih tenang di kelas, lebih antusias mengerjakan tugas. Dari hasil observasi pun menunjukkan  hasil yang baik. Di tahun sebelumnya Gi tidak mengisi jawaban semua pertanyaan tentang membaca, tahun ini dia bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.


3. Pekerjaan baru Aki



Karena satu dan lain hal, Aki akhirnya memutuskan untuk resign dari kantor lama. Puji Tuhannya karena kantor lama sedang dalam perombakan besar-besaran, niat Aki buat resign ga pake sembunyi-sembunyi. Atasannya memberi dispensasi Aki keluar kantor untuk wawancara kerja. 

Biar begitu, tetap saja ada kesulitan yang Aki lewati. Aki memasukan lamaran ke beberapa lowongan mulai dari website loker sampai info dari teman sejawat atau tawaran langsung, tapi sampai beberapa bulan belum juga ada panggilan. Sempat sampai menanyakan list gaji, tapi lagi-lagi ga keterima. 

Beberapa kali liat wajah Aki yang bilang hasil wawancaranya ditolak lagi, bikin saya patah hati. Wawancara kerja sampai 10 kali dari yang ngarep sampai ya udahlah dijalanin aja, pastilah melelahkan. Saya sudah bersiap mencari lowongan kerja untuk kembali kerja kantoran kalau kalau Aki sampai tidak dapat kerja juga (itu saja belum tentu bisa segera dapet karena hiatsu yang panjang)

Baca juga: Keluar Dari Kotak Untuk Kotak Yang Baru


Syukurlah, di akhir tahun, Tuhan beri hadiah. Akhirnya Aki diterima bekerja di satu perusahaan. Walaupun harus bergeser dikit dari bidang pekerjaannya yang dulu, kami benar-benar mengucap syukur.

Aki meninggalkan kantor lama dengan baik dan membawa pelajaran yang membuatnya lebih dewasa sebagai seorang profesional. 


4. Buah Manis Pernikahan


Ada teori yang bilang kalau 5 tahun pertama adalah masa bulan madu dan setelahnya kemungkinan krisis pernikahan. Beberapa hari lalu seorang artis menceritakan bahwa 5 tahun pernikahannya adalah siksaan dan setelahnya baru merasakan kenikmatan. 

Waktu itu saya menonton wawancara itu bersama Aki dan langsung mengiyakan kata-kata artis tersebut. Aki langsung pause videonya dan kami ngobrol panjang lebar soal hal itu. 

Iya, 5 tahun pertama adalah masa adaptasi yang menyiksa. Bukan cuma saya, tapi Aki juga walau dia ga bilang, tapi mukanya ngomong banyak. 😬😬😬

Di tahun ke 6 pernikahan kami baru benar-benar ngerti, ngedong apa itu satu hati, satu jiwa, satu pikiran. Seperti menemukan soulmate lagi dan lagi. Segala macama kata-kata romantis yang ada di drakor, saya baru mengerti maknanya di tahun ke 6 pernikahan. "Everything I'll do. I do it for you." semacam itu.

Bukan lagi soal kewajiban, istri harusnya begini, begitu, atau suami harusnya melakukan a atau b. Tapi lebih ke

"aku melakukan ini karena aku mengasihimu. Aku mau melakukan yang terbaik untukmu."

Saya ga tahu gimana pernikahan ini jadi berbuah manis. Yang saya tahu saya fokus merubah cara berpikir saya dan saya melihat Aki juga belajar sesuatu. Banyak perubahan ke arah baik yang bahkan saya ga minta. Saya  berusaha mengerti Aki dan menerimanya. Bukan berarti ga ada konflik, tapi saya dan aki belajar menyampaikan ketidak setujuan kami dengan mengutamakan perasaan masing-masing. Saat salah satu tidak suka pun kami berusaha saling mendengar dan berusaha berubah tanpa diminta. Setelah sebelum-sebelumnya cara komunikasi kami yang buruk, kami belajar banyak.

Empat hal di atas yang paling signifikan saya rasakan dan gumulkan tahun lalu. Semoga tahun 2020 kami bisa lihat karya Tuhan lebih lagi. 





Post a Comment

0 Comments