amsaLFoje -A Long Life Learner-

Salah 1 hal sulit sebagai ortu dalam pengasuhan adalah.. 

Menjelaskan pada bocah bahwa setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda.

Bocah gw ajarin teratur sejak kecil. Pas liat temennya ga seteratur dia, dia nanya, komplain dll. 


Pic: lw.imaging

Halo teman-teman, setelah berkutat dengan berbagai hal dan ragu-ragu menulis tentang bagaimana cara gw mengatasi masalah perkembangan bahasa Indonesia yang agak lambat... Akhirnya gw meyakinkan diri buat menulis. 


Udah lama ga ngomongin si bocah. Gyan udah 8 tahun dan makin ke sini perkembangan sikap baby ke sikap remaja mulai kelihatan.

Cara dia membicarakan banyak hal juga mulai berbeda. Yang biasanya cuek dan asyik sendiri, dia mulai mengamati dan ingin tahu tentang orang lain. Yang biasanya nanya "apa itu?" sekarang lebih banyak nanya "kenapa?"

 

Mengajarkan anak-anak tentang kesehatan sudah pasti bisa dilakukan sejak kecil. Ga perlu menunggu mereka bisa baca tulis. Iyalah ya, semua orang tua pasti sudah tahu.

Dari nenek moyang kita pun anak-anak sudah diajarkan tentang kesehatan dari kegiatan harian. Misalnya, cuci tangan sebelum makan, mandi setelah bermain, makan tepat waktu, tidur yang cukup dan lain-lain. Semuanya dilakukan dalam aturan-aturan yang sebenarnya merujuk pada tujuan menjaga kesehatan. 


 
Anak bicara tidak lancar

Tahun ajaran baru sudah dimulai dan bocah sudah masuk SD. Bukan TK lagi. Di awal semester genap kemarin, sebenarnya gw ketar ketir ngeliat cara bicara bocah. Bocah lebih nyaman berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. 
StockSnap


Hi Gorgeous yang sudah menikah...
Kapan nih terakhir meluk dan cium pasangan??

Seminggu ini menyadari 1 hal, sesibuk2nya sama kerjaan rumah dan anak jangan lupa bermanja-manja sama suami. Manjanya bukan minta beliin ini itu ya, tapi beri pelukan dan ciuman pada suami atau memberikan rayuan-rayuan kecil seperti colekan di perutanya atau kecupan kecil di bibir saat sambil lewat ke dapur.




Tiga tahun lebih menjadi ibu, hal yang paling sulit dilakukan untuk bocah saya satu-satunya bukanlah memperjuangkan ASI (sempat baby blues karena ASI yang sedikit), tapi membangun karakternya. Sebagai orang tua saya dan suami harus terus menerus mengajarkan sikap yang baik dan memperbaiki sikap yang buruk. Berkali-kali memberi disiplin perilaku buruk yang sama sampai ia benar-benar mengerti dan mengimbanginya dengan memastikan selalu memberi pujian dan senyuman untuk setiap sikap baik yang ia tunjukkan.




Hi Georgeous!!
Siapa di sini yang sudah ibu-ibu dan baru punya anak pertama yang usianya antara 2 sampai 4 tahun?? Tunjuk tangan!!

Sebelum saya menulis postingan ini, saya melihat gambar ini di FB dan langsung ngakak sambil manggut-manggut.


Apalah pula itu toilet re-training?? Bukan apa-apa. Cuma bahasa saya sendiri yang buat hahahha. 

Saya pakai istilah itu untuk proses mengajarkan ulang gi untuk ke BAB di toilet, BAK di toilet. 

Loh, kok bisa?? 

Jadi, ceritanya suatu hari di saat bulan puasa 2017, Gi tiba-tiba BAB di celana. Kotorannya sampai ke lantai. Jangan dibayangin ya kalau jijik. Hehehe. 

Gi sendiri  jijik dan lumayan trauma. Sejak itu dia sering nahan BABnya. Yang keluar sedikit-sedikit. Saya sendiri juga bingung. Padahal makan lumayan banyak. Tapi keluar sedikit-sedikit. Ternyata karena dia tahan. Dia ga mau ngalamin BAB di celana lagi. 

Saya dan Papa Gi stress dong. Takut dia sembelit. Tiap mau BAB dia cuma lari keliling kayak orang ketakutan.  Mau ga mau kami angkat dia  ke kamar mandi dan dudukan di toilet. Kalau udah kayak gitu, ga jarang jadi drama. Dia ketakutan setiap kali harus duduk di toilet.

Aneh yaa. Padahal sebelum kejadian BAB di celana itu kalau mau ke toilet, Gi pasti bilang. Mau "ee" walau pun akhirnya cuma pipis. 

Saya yang sudah senang dia bisa komunikasikan kalau mau buang air kecil jadi stress liat Gi tiba2 sering BAB atau BAK di celana. Belum lagi ngompol kalau tidur.

Stress karena ga lama lagi dia harus sekolah. Ga mungkin kan kalau mau buang air nanti di kelas malah muter2. Sedangkan dia juga sudah ga mau pakai popok. 

Gara-gara stress itu saya jadi sering emosi juga kalau dia mau buang malah cuma muter2. Saya tahu ga boleh nekan anak, tapi udah frustasi juga kasih tahu dia kalau buang jangan ditahan. Harus bilang biar ditemenin ke toilet. 

Stress liat Gi begitu, stress juga karena ga bisa nahan emosi. Ya, ampun... Emak2 serba salah banget dah. 

Tiap hari berdoa dalam hati tanya Tuhan kenapa. Kenapa Gi kayak gitu? Apa bener cuma karena trauma? Apa gara2 saya? Banyak lagi penuduhan dan rasa bersalah ga bisa didik anak dengan baik. 

Daripada nanya2 doang, saya putuskan buat cari tahu di google kenapa anak tiba2 jadi suka nahan buang air. Ternyata ada banyak faktor, kurang perhatian, trauma, dll. Lebih ke psikologis. 

Saya langsung ambil kesimpulan, mungkin Gi butuh perhatian lebih. Karna saya sibuk urus rumah sambil kerjain bisnis juga. Kepala penuh dengan to do list yang kadang ga semuanya bisa beres. Ngadepin Gi jadi dengan sisa-sisa tenaga.

Dari situ minta ampun sama Tuhan. Saya lalai. Perbaikin lagi jadwal saya. Perbaikin lagi cara ajarin Gi ke toilet. Ngingetin diri sendiri buat selalu sabar.. Sabar... Gi cuma anak-anak yang belum bisa menyampaikan isi hatinya dengan gamblang. Jadi, harus saya yang tahu perubahan perilakunya dan analisa lalu cari solusi. Harus saya yang lebih dulu mengerti dia. Saya harus mendengar kebutuhan dia dari perilakunya. 

Makasih Tuhan kasih saya hikmat, saya jadi lebih fokus buat ajarkan Gi toilet training lagi. Targetnya sebelum masuk sekolah sudah harus bisa balik seperti sebelum dia BAB di celana. 

Mau ga mau saya mendisiplin emosi saya. Saya tunggu dia dengan sabar saat duduk di toilet. Kalau dia ga mau, ga saya paksa. Kalau dia kelepasan, saya berusaha berespon dengan tenang. Memang kerja lebih banyak. Waktu lebih kebuang. Tapi demi anak kan yaa. 

Setiap mules itu datang, Gi langsung stress. Kalau dia ga mau ke toilet saya angkat. Kalau dia duduk lama sambil nangis, berarti benar mau BAB. Saya peluk sambil bilang "ga papa.. Ga papa.." lalu pijat2 bagian atas tulang ekornya. 

Beberapa hari masih keluar sedikit2, biar begitu saya beri pujian dan tepuk tangan lalu bilang "Tuh, ga papa kan?" 

Lama-lama Gi bilang kalau mau BAB walau masih ketakutan saat mulas itu datang. Beberapa hari malah masih harus saya peluk dan motivasi. Jika dia berhasil BAB, selalu diberi pujian dan tepuk tangan. 

Puji Tuhan, sebelum masuk sekolah Gi sudah kembali bilang kalau mau buang air. Sudah ga takut lagi. Malah sekarang sudah bisa BAK sendiri tanpa perlu ditemani. 

Hari ini malah Gi bisa BAB, naik ke toilet sendiri. Kadang dia juga cebok sendiri. Mama cuma cebokin ulang memastikan sudah bersih. 

Puji Tuhan juga Gi sudah ga ngompol di kasur mau tidur siang atau pun malam. Kalau pun bablas paling sekali sebulan. 

Eh, jadi mewek kalau inget stressnya saat itu. Puji Tuhan laki bisa sabar juga ngadepin situasinya. Tetep ada marahnya juga sih kalau liat Gi nahan2. Dia takut banget Gi sembelit. Tapi dia bener-bener mau temenin Gi kalau buang air, ingetin Gi berkali-kali buat bilang kalau mau buang air. 

Kalau ditulis kayak gini jadi keliatan nyata gimana Tuhan berserta kami. Hahahha. Makanya lebih sering nulis Mama Gi!! *getok kepala sendiri. 

So, emak2, mami2, bunda2.. Mungkin ada yang ngalamin kayak saya. Jangan nyerah yaaa. Anak kita lebih pintar dari yang kita duga. Tinggal kitanya yang sabar narik potensi dia keluar buat belajar. 

Oh iya.. Rajin2 puji anak2 kita. Dia makin cepet belajarnya. Semangattt!!!


Follow IG saya yaa @lasma_manullang



Weekend.. Weekend... Enaknya nulis. Hehehe. 

Dan memutuskan menulis tentang kelanjutan toilet training Gi. Buat kenang-kenangan dan mungkin ada mahmud2 yang lagi berjuang buat bocah2nya buat lebih mandiri. 


Dari beberapa hari yang lalu rasa-rasa pengen nulis. Tapi belum dapet mau nulis topik apa. Akhirnya mau mencurahkan kekuatiran saya tentang sekolah Gi. 

Kalau kita sedang berada dalam kondisi seperti "dirajam", masalah bertubi-tubi seperti lemparan batu tiada henti, bukan hal yang aneh kita jadi sulit bersukacita.

Masalah lebih sering mendatangkan kesedihan. Kesedihan seperti lubang hasil tancapan paku yang sulit dihilangkan. Apalagi jika lubang yang sama ditancapkan lagi dan lagi. Sukacita jadi terasa jauh. Seperti tidak ada cahayanya.

Lebih tidak enak lagi, entah kenapa kesedihan lebih bertahan lama daripada kebahagiaan. Saat mengingat kesedihan mood kita bisa berubah banyak. Saat mengingat kebahagiaan efeknya tidak sehebat itu.

Mungkin itulah kenapa kebahagiaan lebih mahal harganya. Menurut hukum ekobomi juga begitu kan? Makin banyak permintaan, harga juga naik. Hehehe

Ya tapi daripada mengeluhkan kebahagiaan yang tidak bertahan lama efeknya, toh ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengawetkannya. Momen-momen menggembirakan tidak bisa terulang dua kali kan?

Bersyukurlah kita yang hidup di jaman digital ini. Teknologi bukan lagi barang mahal. Kita bebas merekam momen-momen penting hanya dengan sentuhan jari. Bisa lewat video, foto, bahkan blog ini.

Memang sih kebiasaan ini mungkin akan dianggap pamer atau sok ngartis, tapi seperti di film Into The Wild bilang, kebahagiaan hanya ada saat dibagikan.

Coba cek lagi foto-foto dan video socmed kita, berapa sering kita akan tertawa dan tersenyum lagi melihatnya?? Sepertinya hampir semua orang akan tersenyum dan tertawa berkali-kali. Bahkan FB sampai membuat aplikasi On This Day.

Jadi, karena saya sedang mumet beberapa hari ini, saya mau menuliskan hal-hal yang membuat saya bahagia. Salah satunya perkembangan Gi. Melihat dia tumbuh dan kejutan-kejutan kecil dari kelakuannya seperti mood booster buat saya.

Memang Gi sudah seperti apa di usia 2 tahun 4 bulan??

Fisik

Bisa dibilang Gi anak yang chubby. Gemuk tapi ga gendut. Saya betah berlama-lama memeluk dia mungkin karna badannya yang gempal. Puji Tuhan makannya lancar. Semua yang saya berikan pasti dia makan walau kadang tidak habis. Minum susu pun kuat.

Paling bersyukur, beberapa bulan ini jauh dari RS atau Puskesmas. Padahal biasanya bisa sebulan sekali.

Gi tipe anak yang sangat aktif. Bisa dibilang cerdas secara kinestetik. Dia percaya diri dengan segala gerakan fisiknya. Melompat, berlari, memanjat, naik turun tangga, meniti, menendang bola, jungkir balik. Tidak jarang emak sama bapaknya yang kewalahan mengimbangi geraknya yang lincah.

Kadang kami pikir akan jadi hal yang bagus membawa dia ke kelas gymnastic hehhehee.

Bahasa

Gi bukan anak yang cepat lancar bicara. Tapi saat masuk usia 2 tahun perbendaharaan katanya semakin banyak. Setiap kata-kata baru yang dia ucapkan membuat emaknya terbelalak senang.

Gi lebih banyak membeo akhir-akhir ini. Sebelum-sebelumnya tidak mau membeo sama sekali. Puji Tuhan dengan membeo itu dia belajar bicara juga kan.

Kata-kata apa saja yang sering diucapkan Gi..
- ee (ee atau pipis)
- oma
- pung (opung)
- aki (papa)
- boboi (sendalnya gambar karakter boboboy)
- bobo
- aduhh (kalau ada kejadian yg dia tidak suka)
- yah jatuh (kalau ada barang jatuh, tivi tiba-tiba mati dll).
- nmum (minum)
- apa (kalau minta sesuatu)
- duduk
- oiii (kalau manggil orang)
- ayeyuya (haleluya)
- shaoom (shalom)
- sosana (hosana)
- uah (udah)
- shiii (oishii - jepang, enak)
- kee (oke)
- mam papa (maaf papa)
- isii (permisi)
- aasjijin (awas licin)
- no (jangan/ga mau)
- ajatu (apa tuh?)
- hayoo
- sisang (pisang)
- duku
- hjan (hujan)
- jijak (cicak)
- miauw, puss (kucing)
- tatu, ua, tita, mpat, ma, nam, juh, pan, lan

Emaknya suka dengerin dan ketawa kalau dia ngoceh-ngoceh. Kadang mengikuti anchor berita.

Gi juga sudah bisa menyanyikan beberapa lagu yang biasa saya nyanyikan.
- cicak2 di dinding
- Yesus kuundang
- Yesus sayang pada Gi
- Bapa kudatang padaMu
- Hatiku penuh nyanyian
- Hompila hompimpa
- Satu-satu Gyan sayang Mama
- Dan beberapa lagu Hi5

Sosial

Gi ini salah satu anak yang cuek. Dia mencari orang buat berteman, tapi ga nyari-nyari amat. Entah kenapa kalau sama anak yang takut sama dia, dia malah makin bikin nangis. Ga jarang waktu temannya nangis, dia malah mengikuti suara tangisan temannya (tepok jidad). Kalau anak yang melawan dia, dia bisa lebih akrab.

Gi terlihat lebih antusias saat bermain dengan anak-anak yang lebih besar. Ada anak lain lari-lari, ga pakai babibu dia tertawa dan ikutan berlari.

Sama orang dewasa Gi selalu berusaha membuat dirinya terlihat (ikut sanggar aja kayaknya nih). Tapi dia juga tidak langsung mau digendong atau diajak. Dia akan langsung akrab dengan orang-orang yang mengajaknya bermain (semua anak sepertinya begitu).

Gi juga sudah bisa salim dan bilang dadah secara rutin. Papanya pagi-pagi berangkat sudah langsung bilang " Da Papa." Kadang kalau sedang pura-pura mau pergi juga dadah ke emaknya sambil bawa kotak bekal papanya.

Keterampilan Harian

Gi sudah bisa pup di kamar mandi. Masih bilang ee untuk pipis dan pup. Tapi kalau dia minta duduk berarti beneran mau ee. Kadang dia juga lebih suka cebok sendiri. Emaknya bagian pembersihan terakhir.

Kalau makan snack Gi sudah buang sampah sendiri. Piring atau cangkirnya sudah kosong dia taruh di dapur sendiri (kalau lagi mau). Kadang bantu emaknya masukin baju ke mesin cuci atau bantu taruh baju ke ember buat di jemur. Mencet tombol mesin cuci juga dia antusias. Ngepel Gi sudah bisa sedikit2. Lebih kayak main sih sebenernya, tapi lumayan kebantu emaknya hehhehe.

Kalau emaknya selesai nyeterika, dia sering mau bantu. Emaknya biasanya kasih baju-baju dia aja. Memang sih berantakan, tapi ya gpp. Anaknya seneng.

Kalau main berantakan, mama minta beresin Gi udah nurut walau kadang masih ogah-ogahan. Masih perlu lebih disiplin lagi. Makin gede kan harus makin tanggung jawab dengan barang sendiri ya Gi.

Tidur siang dan tidur malam Puji Tuhan Gi sudah berubah banyak. Biasanya masih suka loncat2, nangis kalau diajak bobo. Sekarang, Gi matiin tv sendiri, naik ke tempat tidur tanpa perlu emaknya paksa.

Masih banyak perkembangan Gi yang lain. Tapi yang paling Mama suka dan ga mau itu berubah kalau Gi datang sama Mama, minta peluk, pangku kayak bayi koala, kita liat-liatan sambil mainin alis dan ketawa-ketawa.

Kadang Mama jengkel kalau Gi bobo di atas dada Mama. Berattt. Tapi Mama juga sukaaa. Selagi Mama bisa, pengen peluk kamu terussss. Kalau udah gede mana bisa lagi tidur di badan Mama kayak bayi koala. Hehehe.

Masih ada 8 bulan lagi sampai Gi usia 3 tahun. Bakal lebih banyak tingkah Gi yang bakal bikin Emaknya berbunga-bunga.

Huhuhuhu

Amsal 17:6 (TB)  Mahkota orang-orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka.



Kesehatan emosional ibu mempengaruhi kesehatan emosional anak akhi-akhir ini sedang saya benar rasakan. Dimana kondisi saya sering menglami konflik batin dan mulai membaik di bulan ini. Saya belajar menerima diri saya sendiri apa adanya sebagaimana Tuhan menciptakan saya. Belajar menerima emosi-emosi yang timbul baik emosi negatif atau pun positif. Belajar menerima kalau saya memang baperan, sensitif, cenderung bersikap pesimis. Saya tidak berusaha merubah diri saya sendiri dengan cara pikir saya. Saya menerimanya dan membiarkan Tuhan meluruskannya. Berfokus melekat pada pencipta saya daripada sibuk menyempurnakan diri terutama tentang keimanan dan intelektualitas.

Baru seminggu saya mengalaminya dan saya mulai melihat bagaimana perubahan hati saya merubah sikap saya dalam menghadapi Gi. Sikap saya pada Gi mengubah perilaku Gi juga. Saat saya menerima diri saya apa adanya, saya bisa lebih mengasihi Gi dengan kelemh lembutan.

Saya belajar untuk membiarkan Gi melakukan yang dia mau dan saya menyampaikan batasannya. Saya belajar mendengarkan keinginan dan kebutuhannya dengan seksama. Gi lebih bisa diajak bekerja sama dan lebih penurut.

Sebagai orang tua memang agak sulit memahami anak. Apalagi kalau anak belum lancar bicara. Belum lagi kondisi diri yang lelah, marah-marah seperti jadi alternatif paling mudah untuk dilakukan.

Padahal ternyata memahami anak cukup dengan empati. Semua orang pernah jadi anak-anak, maka semua orang tua pasti juga tahu apa yang anak harapkan dari diri orang tua. Tinggal orang tua bersedia mendengar atau tidak.

Semoga saja saya makin bisa terlatih untuk mendengarkan hati Gi. Mendengarkan dan berespon dengan benar, bukan mengabaikan seperti yang secara tidak sadar sering saya lakukan. 

Terlebih sebelum itu tentunya saya juga harus belajar mendengarkan kebutuhan saya sendiri. Terutama kebutuhan saya dalam menerima diri sendiri. 

Biar Tuhan yang mampukan. 

Satu minggu ini sukacita banget. Akhirnya Gi bisa pup di toilet. Ga ada paksaan atau target yang gimana. Memang saya sebagai emaknya yang harus sabar.

Awal-awal, saya dan papanya membiarkannya pup di celana kalau tidak mau ke kamar mandi. Tapi sebisa mungkin waktu dia sudah ambil posisi, kami langsung gendong dia ke toilet.

Sayangnya, lebih sering kejadian, sudah digendong ke toilet, duduk rapih, eh dia batal pup. Ujung-ujungnya pup di celana.

Tapi sejak minggu lalu, dia bilang ee, saya bawa ke toilet ternyata ga pipis. Saya dudukkan di toilet dan menunggu sambil nemenin main air, akhirnya pup juga. Awalnya makan waktu lama, sekarang cuma nunggu 5-10 menit, akhirnya pupnya lancar.

Gi ada sempat melihat saya juga duduk di toilet dan dia tertawa melihat emaknya duduk di toilet. Sepertinya dari situ dia mulai merasa santai.

Setiap kali dia mengeluarkan feses, saya beri pujian dan tepukan tangan. Dari pujian itu, Gi jadi lebih santai duduk di toilet. Puji Tuhan.

Sudah lolos di step ini. Tadinya saya pikir bakal susah banget, tapi ternyata tidak. Tuhan beri banyak hikmat.

Lanjut ke training berikutnya. Supaya Gi bisa bobo malem tanpa perlu popok. Untuk yang ini saya belum siap. Masih meraba-raba kesiapan Gi dibangunkan tengah malam. Akan ada waktunyaa ^^


Setelah dua minggu melakukan toilette training, akhirnya Gi bisa lebih komunikatif kalau sudah mau pipis. Walaupun masih bilang ee padahal cuma pipis. 

Lucunya, meskipun sudah dipakaikan popok, Gi tetap gelisah kalau sudah kebelet mau pipis. Seperti kejadian beberapa hari lalu. Kami sudah siap-siap mau tidur, tapi ini bocah ga tidur-tidur juga. Bolak balik cari posisi nyaman. Tengkurep salah, tidur miring salah, nangis terus-terusan. Emak bapaknya sampai bingung harus gimana.

Main Playdogh, dari yang serius sampe jadi main india-indiaan. Ga pake popok tetep aktif yee

Dari kemarin saya nyari-nyari cara-cara para ibu-ibu melakukan toilet training. Banyak yang lucu-lucu pakai stiker, potty training karakter dll. Sayangnya ga sesuai kantong saya. Lagian saya bukan tipe yang detail dan tekun lakukan hal seperti itu hahahha. Yang ada fokusnya urusin stikernya. Akhirnya saya cari cara sendiri yang simpel dan memang sesuai kemampuan. Tuhan beri hikmat. Tuhan kasih hikmat.

Enaknya jadi IRT tuh, hampir semua perkembangan anak kita ga pernah kelewat. Kecuali mungkin kalau dia ucapin kata pertama, kita lagi bayar hajat, mandi, atau urus yang lain ga sempet denger sendiri. Heheheh... Itu lain cerita yaaa.
Kemarin malem Gi bobo jam 21.16. Ituuu sukacita yang besar buat aku hahahha.

Selama ini mau maksa Gi bobo lebih awal itu memang susah. Apalagi kalau Papanya masih di ruang tamu buat refreshing.

Dua hari sebelumnya pun Gi masih bobo di atas jam 9. Lari-lari dan berpetualang di tempat tidur.
Kita lihat dia seperti itu karna masih ada cahaya dari pintu kamar mandi.

Nah, semalam begitu dia nyender di bahu Papanya, kami langsung bawa ke kamar dan matiin semua lampu sampai gelap total.

Gi masih gelisah aja, tapi ya nunggu sekitar setengah jam lebih, akhirnya dia pules. Puji Tuhan banget.

Papa Mamanya jadi bisa kerjain yang lain.

Dari sini aku sadar banget sih, kadang pengen anak ikutin maunya kita, misalnya tidur lebih awal, tapi kita ga bantu mereka untuk tidur lebih awal. Aku masih pengen sibuk kerja, papanya masih mau main. Ya anak jadinya ikut suasana yang ada.

Iya ya ortu harus ngalah kalau mau diturutin. Ngalah dengan naruh segala kepentingan pribadi dan menolong anak dengan menunjukkan apa yang harus mereka lakukan. Dan ini butuh kesabaran.

Lebih gampang buat ngomong, teriak, marah2 dan ngelarang, tapi pesan yang kita sampaikan ga nyampe. Anak malah stress. Ortu jg stress karna pesan ga sampe.

Harus sabar dan telaten.

Apa lagi seumur gi. Dia cuma ngikut apa yang dia liat. Belum bisa diajak diskusi.

Moga-moga Papa Mama Gi makin dewasa dan matang untuk bisa ajarin Gi lebih banyak.


Lasma WA 08170878531 BBM 6Y4N63 LINE amsalfoje

Tiga hari ini aku sama Aki mulai ajarin Gi bobo lebih awal. Dulu dia jam 9 udah tidur. Kayaknya kami kelepasan sekarang jadi jam 11 malem baru tidur.

Menjadwal ulang tidur anak seumur Gyan itu super syusah. Harus sabar. Karna dia stress. Mau main tapi ngantuk. Ngantuk tapi masih mau main.

Salahnya kami sebelum2nya bawa gadget ke tempat tidur. Jadi mungkin di pikiran Gi, kalo Papa Mama masih urusan sama hp, berarti belum waktunya bobo.

Ga ada obrolan serius soal ini antara aku sama Aki, tapi tahu2 ngalir gitu aja.  Jam 9 matiin lampu ruang tamu, ga bawa hp ke tempat tidur. Aku sama Aki jg temenin dia tidur. Kalau mau kerjain yang lain nunggu dia benar-benar lelap.

Hari pertama luar biasa nguras emosi karna Gi lari-lari di atas tempat tidur. Lempar badannya ke Papa Mamanya. Hadeehhh... remuk badan ini.

Tiap kali dia mau berdiri buat main, kami tarik. Begitu terus. Nangisnya ga karuan.

Tapi gimana yaaa. Harus tega. Mikirin kalau dia sudah besarnya.

Makin ke sini Gi mulai ngerti. Matiin lampu berarti bobo. Dia udah ga protes kayak kemarin.

Cuma bilang "Yahhh.." kalau lampu udah dimatiin.

Semoga Tuhan beri hikmat dan kesabaran buat aku dan Aki.

Banyak kesenangan kami yang harus dikorbankan "cuma" demi Gi bobo lebih awal. Tapi ini investasi masa depan buat Gi.

Aku sama Aki tipe yang bukan disiplin luar biasa dan benar-benar cambuk diri sendiri.

Tuhan beserta. Aminnn.



Lasma WA 08170878531 BBM 6Y4N63 LINE amsalfoje
Repost dari Pak Ery

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

sumber : rhenald kasali
Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen kumpulan puisi liburan movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • Review For Prometheus
    Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
  • [Review] Nano Healthy Family - Pijat Puas Harga Pas
    Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
  • Hadiah Ulang Tahun Tak Terkira
    Dua hari lalu salah satu sahabat terbaik saya tahu-tahu inbox saya di FB. Ngucapin selamat ulang tahun yang sangat telat. Walau pun ga memp...
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
  • [Review] Makarizo Hair Energy Hair Fragrance Fresh Bouquet
    Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
  • Hati Yang Keras
    Satu bulan kurang tanpa sosial media, saya tersadar... Banyak berita, artikel, status, yang terlihat membesarkan hati sekelompok orang tapi ...

Cinta Tertutup Luka

Cinta Tertutup Luka
Kisah Wei membalaskan luka hatinya pada ayahnya.

Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Traktir kopi

Traktir kopi
Traktir amsaLFoJe kopi supaya makin semangat nulis.

Art & Design Services

Art & Design Services

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Lasma Works
    Lasma Works
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates