amsaLFoje -A Long Life Learner-

Salah 1 hal sulit sebagai ortu dalam pengasuhan adalah.. 

Menjelaskan pada bocah bahwa setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda.

Bocah gw ajarin teratur sejak kecil. Pas liat temennya ga seteratur dia, dia nanya, komplain dll. 


Pic: lw.imaging

Halo teman-teman, setelah berkutat dengan berbagai hal dan ragu-ragu menulis tentang bagaimana cara gw mengatasi masalah perkembangan bahasa Indonesia yang agak lambat... Akhirnya gw meyakinkan diri buat menulis. 


 

Mengajarkan anak-anak tentang kesehatan sudah pasti bisa dilakukan sejak kecil. Ga perlu menunggu mereka bisa baca tulis. Iyalah ya, semua orang tua pasti sudah tahu.

Dari nenek moyang kita pun anak-anak sudah diajarkan tentang kesehatan dari kegiatan harian. Misalnya, cuci tangan sebelum makan, mandi setelah bermain, makan tepat waktu, tidur yang cukup dan lain-lain. Semuanya dilakukan dalam aturan-aturan yang sebenarnya merujuk pada tujuan menjaga kesehatan. 


 
Anak bicara tidak lancar

Tahun ajaran baru sudah dimulai dan bocah sudah masuk SD. Bukan TK lagi. Di awal semester genap kemarin, sebenarnya gw ketar ketir ngeliat cara bicara bocah. Bocah lebih nyaman berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. 
StockSnap


Hi Gorgeous yang sudah menikah...
Kapan nih terakhir meluk dan cium pasangan??

Seminggu ini menyadari 1 hal, sesibuk2nya sama kerjaan rumah dan anak jangan lupa bermanja-manja sama suami. Manjanya bukan minta beliin ini itu ya, tapi beri pelukan dan ciuman pada suami atau memberikan rayuan-rayuan kecil seperti colekan di perutanya atau kecupan kecil di bibir saat sambil lewat ke dapur.





Tiga tahun lebih menjadi ibu, hal yang paling sulit dilakukan untuk bocah saya satu-satunya bukanlah memperjuangkan ASI (sempat baby blues karena ASI yang sedikit), tapi membangun karakternya. Sebagai orang tua saya dan suami harus terus menerus mengajarkan sikap yang baik dan memperbaiki sikap yang buruk. Berkali-kali memberi disiplin perilaku buruk yang sama sampai ia benar-benar mengerti dan mengimbanginya dengan memastikan selalu memberi pujian dan senyuman untuk setiap sikap baik yang ia tunjukkan.



Hi Georgeous!!
Siapa di sini yang sudah ibu-ibu dan baru punya anak pertama yang usianya antara 2 sampai 4 tahun?? Tunjuk tangan!!

Sebelum saya menulis postingan ini, saya melihat gambar ini di FB dan langsung ngakak sambil manggut-manggut.



Apalah pula itu toilet re-training?? Bukan apa-apa. Cuma bahasa saya sendiri yang buat hahahha. 

Saya pakai istilah itu untuk proses mengajarkan ulang gi untuk ke BAB di toilet, BAK di toilet. 

Loh, kok bisa?? 

Jadi, ceritanya suatu hari di saat bulan puasa 2017, Gi tiba-tiba BAB di celana. Kotorannya sampai ke lantai. Jangan dibayangin ya kalau jijik. Hehehe. 

Gi sendiri  jijik dan lumayan trauma. Sejak itu dia sering nahan BABnya. Yang keluar sedikit-sedikit. Saya sendiri juga bingung. Padahal makan lumayan banyak. Tapi keluar sedikit-sedikit. Ternyata karena dia tahan. Dia ga mau ngalamin BAB di celana lagi. 

Saya dan Papa Gi stress dong. Takut dia sembelit. Tiap mau BAB dia cuma lari keliling kayak orang ketakutan.  Mau ga mau kami angkat dia  ke kamar mandi dan dudukan di toilet. Kalau udah kayak gitu, ga jarang jadi drama. Dia ketakutan setiap kali harus duduk di toilet.

Aneh yaa. Padahal sebelum kejadian BAB di celana itu kalau mau ke toilet, Gi pasti bilang. Mau "ee" walau pun akhirnya cuma pipis. 

Saya yang sudah senang dia bisa komunikasikan kalau mau buang air kecil jadi stress liat Gi tiba2 sering BAB atau BAK di celana. Belum lagi ngompol kalau tidur.

Stress karena ga lama lagi dia harus sekolah. Ga mungkin kan kalau mau buang air nanti di kelas malah muter2. Sedangkan dia juga sudah ga mau pakai popok. 

Gara-gara stress itu saya jadi sering emosi juga kalau dia mau buang malah cuma muter2. Saya tahu ga boleh nekan anak, tapi udah frustasi juga kasih tahu dia kalau buang jangan ditahan. Harus bilang biar ditemenin ke toilet. 

Stress liat Gi begitu, stress juga karena ga bisa nahan emosi. Ya, ampun... Emak2 serba salah banget dah. 

Tiap hari berdoa dalam hati tanya Tuhan kenapa. Kenapa Gi kayak gitu? Apa bener cuma karena trauma? Apa gara2 saya? Banyak lagi penuduhan dan rasa bersalah ga bisa didik anak dengan baik. 

Daripada nanya2 doang, saya putuskan buat cari tahu di google kenapa anak tiba2 jadi suka nahan buang air. Ternyata ada banyak faktor, kurang perhatian, trauma, dll. Lebih ke psikologis. 

Saya langsung ambil kesimpulan, mungkin Gi butuh perhatian lebih. Karna saya sibuk urus rumah sambil kerjain bisnis juga. Kepala penuh dengan to do list yang kadang ga semuanya bisa beres. Ngadepin Gi jadi dengan sisa-sisa tenaga.

Dari situ minta ampun sama Tuhan. Saya lalai. Perbaikin lagi jadwal saya. Perbaikin lagi cara ajarin Gi ke toilet. Ngingetin diri sendiri buat selalu sabar.. Sabar... Gi cuma anak-anak yang belum bisa menyampaikan isi hatinya dengan gamblang. Jadi, harus saya yang tahu perubahan perilakunya dan analisa lalu cari solusi. Harus saya yang lebih dulu mengerti dia. Saya harus mendengar kebutuhan dia dari perilakunya. 

Makasih Tuhan kasih saya hikmat, saya jadi lebih fokus buat ajarkan Gi toilet training lagi. Targetnya sebelum masuk sekolah sudah harus bisa balik seperti sebelum dia BAB di celana. 

Mau ga mau saya mendisiplin emosi saya. Saya tunggu dia dengan sabar saat duduk di toilet. Kalau dia ga mau, ga saya paksa. Kalau dia kelepasan, saya berusaha berespon dengan tenang. Memang kerja lebih banyak. Waktu lebih kebuang. Tapi demi anak kan yaa. 

Setiap mules itu datang, Gi langsung stress. Kalau dia ga mau ke toilet saya angkat. Kalau dia duduk lama sambil nangis, berarti benar mau BAB. Saya peluk sambil bilang "ga papa.. Ga papa.." lalu pijat2 bagian atas tulang ekornya. 

Beberapa hari masih keluar sedikit2, biar begitu saya beri pujian dan tepuk tangan lalu bilang "Tuh, ga papa kan?" 

Lama-lama Gi bilang kalau mau BAB walau masih ketakutan saat mulas itu datang. Beberapa hari malah masih harus saya peluk dan motivasi. Jika dia berhasil BAB, selalu diberi pujian dan tepuk tangan. 

Puji Tuhan, sebelum masuk sekolah Gi sudah kembali bilang kalau mau buang air. Sudah ga takut lagi. Malah sekarang sudah bisa BAK sendiri tanpa perlu ditemani. 

Hari ini malah Gi bisa BAB, naik ke toilet sendiri. Kadang dia juga cebok sendiri. Mama cuma cebokin ulang memastikan sudah bersih. 

Puji Tuhan juga Gi sudah ga ngompol di kasur mau tidur siang atau pun malam. Kalau pun bablas paling sekali sebulan. 

Eh, jadi mewek kalau inget stressnya saat itu. Puji Tuhan laki bisa sabar juga ngadepin situasinya. Tetep ada marahnya juga sih kalau liat Gi nahan2. Dia takut banget Gi sembelit. Tapi dia bener-bener mau temenin Gi kalau buang air, ingetin Gi berkali-kali buat bilang kalau mau buang air. 

Kalau ditulis kayak gini jadi keliatan nyata gimana Tuhan berserta kami. Hahahha. Makanya lebih sering nulis Mama Gi!! *getok kepala sendiri. 

So, emak2, mami2, bunda2.. Mungkin ada yang ngalamin kayak saya. Jangan nyerah yaaa. Anak kita lebih pintar dari yang kita duga. Tinggal kitanya yang sabar narik potensi dia keluar buat belajar. 

Oh iya.. Rajin2 puji anak2 kita. Dia makin cepet belajarnya. Semangattt!!!




Weekend.. Weekend... Enaknya nulis. Hehehe. 

Dan memutuskan menulis tentang kelanjutan toilet training Gi. Buat kenang-kenangan dan mungkin ada mahmud2 yang lagi berjuang buat bocah2nya buat lebih mandiri. 

Enaknya jadi IRT tuh, hampir semua perkembangan anak kita ga pernah kelewat. Kecuali mungkin kalau dia ucapin kata pertama, kita lagi bayar hajat, mandi, atau urus yang lain ga sempet denger sendiri. Heheheh... Itu lain cerita yaaa.
Repost dari Pak Ery

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

sumber : rhenald kasali
Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
  • [Review] Makarizo Hair Energy Hair Fragrance Fresh Bouquet
    Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
  • [Review] Nivea Micellar Water 0% Alkohol
    Hi temans, Besok Gi, bocahku, libur jadi hari ini emak centil agak santai. Sambil nunggu jemuran kering supaya bisa langsung ...
  • ISTRI Versus MERTUA
    http://www.lovelovechina.com/wp-content/uploads/husband-wife-mother.jpg Kemarin saya mampir ke forum weddingku.com dan baca-baca bera...
  • CURHATAN SI INTROVERT
    Baru-baru ini saya baca artikel tentang orang introvert yang waktu baca saya pengen teriak “ Itu gua bangeeeettt!!” Hahahhaha…. Sete...
  • Gandengan Tangan
    S ekalinya ngeblog langsung banyak yang diceritain neh.. Hehhehehe.. Secara kuota internet tau-tau habis gara-gara buka YouTube. Di ...
Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karyaku. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang saya bagikan, kamu bisa mendukung saya dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Support Me

Support Me
Traktir amsaLFoJe Amerikano supaya makin semangat nulis.

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Pengikut

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates