amsaLFoje -A Long Life Learner-




Tulisan di note FB, 31 Mei 2009. Pas baca lagi ngerasa Tuhan ngomong banyak. 
Aku tulis di blog biar disimpen dan buat ngingetin lagi hehhehe. Warisan buat Gi. 

Ini bukan notes yang ngebahas panjang, lebar dan tinggi sebuah kotak. Ini notes lebih tertuju pada perubahan.

Kadang-kadang saya bertanya "Tuhan, kenapa saya harus mengalami ini?"

Saat saya renungkan lagi, apa yang terjadi pada saya adalah buah dari perbuatan saya di masa lalu.

Kadang masalah ada karna Tuhan ijinkan. Maka Ia pasti akan menguatkan kita untuk melangkah.

Tapi kadang masalah pun akibat dari perbuatan kita sendiri. Tuhan pun akan menguatkan kita, jika kita dengan rendah hati mengakui kelemahan dan dosa kita.

Jika kita tidak mau bertobat, siap2 masalah itu menelan hidup kita. Seperti orang sakit yang merasa sehat dan selalu menolak ke dokter.
Dosa berbahaya saat disembunyikan dan menjadi tumpul saat diakui dengan rendah hati.

#selfreminder #Selidikiaku #hikmat #woman amsalfoje.blogspot.com



Damai sejahtera yang Tuhan janjikan bukan semata-mata tentang kemakmuran.

Damai sejahtera adalah kondisi di mana kita tetap tenang, tetap memiliki iman, tetap mengasihi, tetap berharap walau

- kamu ga tahu mau makan apa besok
- keluargamu masih saling berteriak dan menyakiti
- orang-orang menghina kebodohanmu dan tak pernah menganggapmu
- kamu masih saja gagal untuk bisa lepas dari dosa masa lalu
- sakitmu ga sembuh-sembuh atau malah makin parah
- kamu gagal berkali-kali sementara orang seangkatanmu sudah melesat maju meninggalkanmu di belakang.

Damai sejahtera bicara tentang bernaung di bawah sayap Tuhan saat badai bisa menghempaskanmu jauh ...
Dan kamu cuma bisa mendapatkannya dengan tinggal di dalam Dia

Ga ada cara lain.





Kalau kita mengampuni diri sendiri, kita akan sanggup mengampuni orang lain.

Semuanya dari sudut paling dalam hatimu. Tempat tergelap di mana kadang kita sendiri pun tidak tahu punya perasaan-perasaan itu.

Mulai dari situ... Mengampuni masa lalu, mengampuni setiap kebodohan, kecerobohan, ego dan amarah.

Jangan membenci diri sendiri, ampuni karena Tuhan sudah mengampuni. Supaya kita juga sanggup mengampuni orang lain.

#selfreminder #berdamaidengandirisendiri #NyonyaDasterBahagia #mikirmalamhari #merenung #TuhanItuBaik






Apa pun keinginanmu, tentang pekerjaan, keluarga, rejeki, jodoh... Jangan berhenti menabur doa dan usaha. Mungkin kita menabur di tanah ini, tapi Tuhan memberi tuaian di tanah lain jauh dari yang kita pikirkan.

Misalnya: A Doain B jadi jodoh, taunya saat doa ada C yang mengamati  dan mendoakan A dan saat itu Tuhan sedang merenda hubungan A dan C tanpa mereka sendiri sadari.

Yang pasti jangan batasi karya Tuhan, Tuhan memberi dan mengambil sekehendak hatiNya. Kita cuma wadah yang jadi alat, saat diisi harus berbagi dengan wadah lainnya.

Buka hatimuuu... Buka pikiranmuu.. Tuhan terlalu BESAR untuk kita mengerti.

#quotes #selfreminder #NyonyaDasterBahagia #ThankYouGod #GodGrace

Baru baca status seseorang tentang persepuluhan. Ayat tentang persepuluhan memang berasal dari Perjanjian Lama (Maleakhi 3:10) "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap- tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Tapi bukan berarti ga berlaku di jaman ini.
Perpuluhan bukan semata-mata bukan untuk memperkaya hamba Tuhan. Tapi sudah jelas tertulis supaya ada persediaan makanan di rumah Tuhan. Seorang hamba Tuhan apakah karena melayani lalu harus susah makan, tidak punya tempat tinggal dan tidak punya pakaian juga??
Kalau ada hamba Tuhan yang punya mobil, punya rumah, apakah mereka tidak boleh menerima berkat juga? Sekian banyak jemaatnya yang diurus, haruskah dia berjalan kaki dari rumah ke rumah? Iya, kalau lingkupnya masih desa. Nah, kalau dari kota ke kota lain bahkan bisa antar negara??
Ga menutup mata banyak hamba Tuhan yang menjadi komersil juga. Tapi itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan kita hanya memberikan apa yang menjadi hak Allah. Rumah-Nya memerlukan dana untuk melakukan banyak pelayanan. Pelayanan orang sakit, sekolah Minggu, misi, pendidikan, kunjungan orang sakit, pemuda remaja. Bukan hal yang ga mungkin Allah menjatuhkan uang tiba-tiba supaya semuanya berjalan. Tapi Allah kita lebih suka melihat semua dana itu terkumpul karena anak-anak-Nya taat bukan??
‪#‎hanyasharing‬ ‪#‎numpanglemparopini‬
Jangan menjalani hidup ingin seperti orang lain. Kamu tidak akan sanggup menjadi orang lain. Selain karena blue printmu berbeda dari orang lain, Tuhan punya cara sendiri memetakan perjalanan hidupmu.

Hari-hari ini banyak pandangan dan idelalisme yang bersileweran di depan mata kita. Kadang saat kita melihat kita tidak bisa mencapai idealisme tersebut, kita akan merasa tertuduh, berbeda, dan mungkin ada yang salah.

Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih karena itu, dia mengampuni orang-orang yang dengan rendah hati berbalik pada-Nya serta memberikan hidup kekal pada yang menyerahkan hidupnya dalam iman kepada Kristus.
Tapi, Allah itu juga adil dan Maha Benar, karena itu kita tetap akan menanggung dosa akibat dari perbuatan dosa kita di dunia.
Itulah mengapa Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan, itulah mengapa Daud kehilangan anak pertamanya dari Batsyeba istri Uria.
Allah mengampuni, tapi Allah tidak melupakan. Allah tidak dapat dipermaikan. Takutlah akan Allah dan ingatlah Ia ada di mana pun kita berada bahkan di tempat tergelap di sudut di dunia ini.
Sejak jadi ibu-ibu, saya merasa lebih jadi perempuan. Bukan karena sudah punya anak, tapi karena jadi lebih gampang tersinggung dan susah bersyukur.

Entah kenapa kebiasaan-kebiasaan buruk  perempuan yang sering disebut-sebut orang, yang pada masa single jarang saya alami, waktu sudah punya anak jadi keluar semua. Hahahha. Jujur, saya merasa tidak mengenal diri saya kadang.

Tapi sebenarnya ternyata benih kebiasaan buruk itu bukannya saya tidak punya, tapi memang sudah ada lama, hanya saja baru keluar saat mendapat tekanan dan masalah. Jadi, justru kebiasaan-kebiasaan jelek itu adalah diri saya sebenarnya yang saya tidak pernah tahu ... Tapi pasti Tuhan tahu... -_-

Jadi, kebiasaan apa yang paling saya rasakan akkhir-akhir ini? Kebiasaan hati saya yang menuduh dan "sukur-sukurin" (sukur loo!! - kayak gitu maksudnya) kondisi saya. Hati saya menuduh saya dan mengatakan saya pantas mengalami penderitaan karena saya tidak begini atau begitu, membanding-bandingkan keadaan saya dengan orang lain, dan ujungnya mengasihani diri sendiri.

Kalau sudah mengasihani diri, fisik yang udah lelah menjadi semakin terasa lelah. Makin terasa berat menjalani hidup.

Dipikiran selalu bilang, " Lo sih enak ada ART yang bantuin! Gua kerjain semua sendiri!! Ga jarang tidur cuma 2 jam cuma biar semua beres!!"
Lalu hati nurani menjawab, " Itu kan pilihan yang sudah kamu ambil. Kenapa mengeluh? Kamu masih punya mesin cuci. Ada mertua yang sesekali memberikan makanan. Bisa pakai komputer dan internet untuk kerjain bisnis. Anak ga pernah sakit walau pun kadang rewel. Coba lihat Ci Lia anak 3 urus sendiri. Coba lihat Mama Vale, urus anak sendiri dan ga punya mesin cuci."
Lalu saya menjawab, " Iya, Ci Lia kan ga kerjain bisnis dan yang lain. Murni senang menjadi ibu rumah tangga (berarti gua ga senang ya? Hahhahah). Mama Vale kan masih ada kakaknya, kerjain kerjaan rumah ya ganti-gantian. Saya kerjain semuanya sendirian!"

Intinya sih tiap mau bersyukur dengan membandingkan hidup saya dengan orang lain, semuanya patah karena memang kondisi yang saya alami "berasa" sudah paling susah.

Beberapa kali akhirnya saya memutuskan untuk mencari-cari apa yang bisa saya syukuri tanpa membandingkannya dengan hidup orang lain. Ya gimana mau bandingin kalau ujungnya malah jadi makin ga bersyukur hahahha.

Iya, rasa syukur  timbul bukan karena melihat yang di bawah kita, tapi dengan kemungkinan bahwa kita bisa mengalami hal yang lebih buruk. Bandingkanlah dengan keadaan-keadaan buruk yang pernah kita lewati juga.

Saya tidak bisa membandingkan hidup saya dengan orang lain baik dari sisi positif atau pun negatif. Kenapa? Karena kapasitas beda. Kondisi beda. Saya bukan orang lain dan orang lain bukan saya. Seempati-empatinya saya pada orang lain, saya tidak akan pernah bisa mengerti 100% kondisi orang lain.

Akhirnya saya berhasil membungkam mulut hati saya yang menuduh dan mencemooh saya dengan cara bersyukur yang benar. Itu Tuhan kasih hikmat Toeng begitu aja saat saya sedang mengerjakan transletan saya. Rasanya lega, tapi saat menghadapi hari berikutnya, ternyata ga terlalu lega hahahha.

Tuhan sedang mengajarkan saya untuk mendisiplinkan emosi dan hati saya. Kondisi sulit bukan berarti penderitaan berkepanjangan. Semuanya tergantung dari respon yang saya berikan.

Bersikap tenang menghadapi masalah bukan berarti ga punya hati, tapi lebih baik dari pada bertindak gegabah karena terbawa perasaan.

Hati yang menuduh itu memang perlu untuk menjaga hati kita tetap murni, tapi tuduhan yang mematahkan semangat dan meremukkan tulang, pastinya harus dikendalikan.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Semoga besok Lasma bisa jadi pribadi yang lebih dewasa dan mengenal Engkau. Amin.


Repost dari Pak Ery

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

sumber : rhenald kasali

Ini sih pelajaran dari pengalaman saya menyusui. Saya sudah belajar dan banyak membaca tentang menyusui dan cukup percaya diri untuk memberikan ASI eksklusif buat Gyan.

Tapi semuanya ga cukup. Kenapa? Saya tetap buta jika tanpa latihan. Saya buta juga karena ga bertanya riwayat menyusui ibu saya yang ternyata menurun pada saya.

Emang emak saya kenapa? ASI-nya kurang ok. Biasanya ASI kan ada dua. Pada saat awal proses menyusui yang keluar foremilk dulu. Foremilk warnanya lebih bening dan lebih encer. Seteleh foremilk di payudara habis, baru keluar hindmilk. Nah, hindmilk ini yang bikin bayi kenyang karena banyak mengandung lemak.

Yang jadi masalah. Emak saya hanya mengeluarkan foremilk dan ternyata kakak saya juga begitu.

Di bulan pertama Gyan menyusu bisa 30 menit lebih. Jauh dari batas normal menyusui. Dari yang saya pelajari, rata-rata bayi menyusui hanya sekitar 20 menit. Gyan ga, bisa lebih dari itu. Makanya di bulan pertama, saya sangat sangat sangat kurang tidur.

Emak saya sudah menyarankan supaya kami memberikan sufor pada Gyan. Saya tetap ngotot memberikan ASI. ASI eksklusif sudah jadi kerinduan saya bahkan dari sebelum hamil.

Suami dan ibu mertua sangat mendukung saya. Tapi, mereka juga keheranan karena ASI saya sangat sedikit. Bahkan payudara sudah bengkak, diperah dua-duanya pun tidak sampai menghasilkan 30 ml. Padahal sudah menyusui Gyan tiap 2 jam sekali.

Orang-orang yang datang dam bertamu pun semakin membuat saya tertekan karena mau tidak mau saya menjawab pertanyaan yang sama lagi dan itu-itu lagi. Diberi saran ini itu. Makan ini, makan itu. Jangan stress, jangan nangis.

Hahhahaha, udah kena baby blues sampai mau ninggalin Gyan sama bapaknya gara-gara tertekan. Nangis hampir tiap malam karena ga bisa bikin Gyan kenyang. Sedangkan katanya ASI lancar kalau ibunya santai dan senang. Nah loohh kan. Keki banget waktu itu.

Tahu dari mana ASI kurang? Selain dari waktu memerah, Gyan juga kuning. Beratnya ga bertambah. Kuningnya malah menjadi.

Dokter sudah wanti-wanti waktu awal datang ke dokter anak. Pemeriksaan setelah sebulan dokter malah mempertanyakan, kenapa beratnya ga naik. Sebelum ketemu dokter, lihat timbangan Gyan saja rasanya mau nangis.

"Anak gua kayak ga keurus. Mana dibilang kisut. Dibilang kecil banget sama orang." - mau kayak gimana lagi saya sebagai ibu? Ga mungkin kan saya kasih MPASI - gile ah.

Akhirnya dokter kasih ACC buat kami kasih sufor. Apalagi payudara kiri saya juga terkena mastitis.

Mastitis adalah infeksi pada payudara. Ciri-ciri payudara bengkak, memerah, dan jika sudah parah bernanah. Mastitis berawal dari peradangan dan bakteri. Ibu yang mengidap mastitis pasti mengalami demam.

Mastitis yang saya alami sudah sampai bernanah. Setiap mencoba menyusui Gi di payudara yang bengkak dan sakit itu, saya langsung demam.

Balik ke masalah Gyan, akhirnnya saya menurunkan sedikit cita-cita saya. Berharap setelah saya sembuh, Gyan bisa ASI eksklusif. Hancur hati waktu kasih sufor ke Gyan. Antara ga rela, tapi kasihan. Ya, demi kesehatan Gyan, saya nyerah (hikss masih sedih). Waktu liat dia tidur nyenyak setelah minum susu dan dia ga pernah senyenyak itu waktu ngASI, antara seneng dan patah hati. Kok, saya ibu ga bisa kasih yang terbaik buat anak.

Ya udah, akhirnya lanjut. Saya masih perah ASI saya. Kasih ke Gyan. Gyan juga masih tetap ngASI. ASI saya bertambah banyak, tapi tetap ga sampai 30 ml dan ga keluar hindmilk (ngenes banget kalau diingat lagi ... Sedih).

Terus deh pakai sufor sampai sekarang dan Gyan menyapih diri sendiri menjelang 6 bulan. Aku ditolakkk...Dia menolakku sambil ketawa-ketawa geli.

Jadi, maksud cerita saya ... Hahaha..

Karena makin banyak calon ibu, mau kasih masukan. Persiapkan proses menyusui sebaik mungkin. Ga ada salahnya belajar pakai boneka buat tahu posisi menyusui yang benar. Karena, kalau salah posisi, bakal sakiittt bangettt. Bahkan bisa mastitis itu.

Banyak nanya sama emak sendiri riwayat menyusui mereka. Kayak saya ini, saya udah pede  aja, tapi ternyata ada riwayat seperti itu yang menurun ke kakak saya juga. Kalau dari awal saya tahu, saya mungkin siap dan akan cari tahu solusinya supaya saya bisa tetap full ASI.

Jangan ambil pusing apa kata orang. Banyak orang akan memberi saran ini itu sampai kepala mau meledak. Bagus sih kalau kita ga masalah soal menyusui, kalau masalah, nah, siap-siapin hati. Semua orang punya niat baik, tapi ga harus kita turutin semua.

Taruh mimpi kita sebagai ibu di bawah kaki Tuhan. Mungkin Tuhan juga ijinin ini supaya saya ga jadi emak-emak yang sombong. Coba kalau saya berhasil ASI eksklusif, mungkin saya akan mengatai anak yang pakai sufor anak sapi. Akan menghakimi ibu mereka kurang usaha, males dll.

Tumpang tangan payudara kita juga salah satu hal yang terpikirkan oleh saya, seandainya ... Mungkin... Punya anak lagi. Mama saya bisa punya riwayat seperti itu ... Tapi, jika Tuhan berkenan ... Mungkin Ia mau berbaik hati pada saya dan mengabulkan kerinduan saya yang tidak tercapai saat menyusui Gyan.

Sudah dari minggu kemarin saya mau bagiin hal ini. Saya hanya tidak mau ada orang yang mengalami seperti saya lagi. Minimal ... Kalau ada yang baca ini dan menghadapi hal yang sama .. Bisa terhibur juga.

Para calon ibu, semangat yaaaa!! Melahirkan itu sakitnya ga seberapa. Mengurus anak sampai besar kesakitan yang paling kuat yang akan kita rasakan. Tapi, rasa sakit itu setimpal dengan semua pertumbuhan yang kita lihat pada anak-anak kita.

Semangatttt!!! Tuhan berkati kehamilannya \^^/

Apa maksudnya judul di atas?

Sehubungan dengan masalah pasangan hidup hahahha. Karena saya sedang menyeterika, saya nulis cepat dan langsung aja dah.

Ada beberapa hal yang membuat wanita rajin menunggu pasangan hidup, tapi tidak siap juga dipertemukan dengan PH.

Hampir semua wanita memimpikan sebuah pernikahan. Kita bisa saja langsung menikah dengan siapa saja yang datang pada kita, tapi tentu saja kita yang mengenal kebenaran tidak melakukan itu. Kita wanita diajarkan untuk menunggu, tapi apakah kita menunggu dengan benar? Apakah kita menunggu hanya sekedar menunggu?

Memangnya kita harus melakukan apa selama menunggu?

1. Membangun diri

Banyak dari kita menunggu dengan baik dan berharap pria pilihan Bapa datang melamar kita, tapi tidak sedikit juga yang menunggu dalam diam. Diam yang seperti apa? Tidak ada usaha untuk membangun karakter-karakter yang dibutuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi. Mungkin kita sudah banyak membaca buku tentang membangun hubungan, tapi apakah kita sudah membaca buku bagaimana menjadi wanita-Nya Allah? Sudah? Apakah sudah dipraktekkan?

Yang perlu kita ketahui, menjadi seorang isteri lebih sulit dari yang kita lihat. Kita harus berani memgkonfrontasi kesalahan suami kita tanpa mengurangi rasa hormat dan tunduk. Kita harus taat pada keputusan suami pada saat keinginan hati kita yang paling dalam harus dikorbankan. Kita harus menjadi isteri yang lemah lembut saat suami bersikap menyebalkan. Kita harus tetap mengutamakan cinta pada pasangan daripada anak, sekali pun suami lupa bersikap mesra.

Susah sekali? Ya, kalau kita tidak pernah membangun karakter-karakter yang kita butuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi.

Memiliki iman untuk menikah? Bangunlah karakter wanita ilahi. Lebih dari itu, bangunlah karakter itu untuk memuliakan nama Tuhan. Wanita yang mengikat hatinya pada Tuhan akan terus membangun karakter itu sekalipun tidak akan ada yang mengikat dirinya dengan cincin.

2. Perlakukan saudara seiman pria sebagaimana mereka harus diperlakukan

Masih suka memandang rendah teman pria yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik? Merasa mereka ga mungkin mereka menjadi pasanganmu? Sikapmu berbeda pada satu saudara seiman dengan saudara seiman yang lain?

Mari dicek, murnikah hati kita pada mereka? Murni bukan cuma bicara suka-sukaan atau rasa simpati, tapi pandangan rendah dan menghakimi yang sering muncul di dalam hati kita, itu pun tanda ketidak murnian.

Tuhan menegur saya tentang hal ini sebelum saya mulai dekat dengan Aki. Saya sering memandang rendah para pria yang hidup di bawah standar hidup saya. Di pikiran saya, saya berkata, "Mereka ga sepadan dengan saya." Perkataan yang angkuh dan sombong. Secara perilaku mungkin saya tidaj melakukan yang melecehkan, tapi sikap hati saya.. Tuhan tidak berkenan akan hal itu.

Hormati dan pandang sebagai pemimpin siapa pun dan seperti apa pun teman pria kita. Dengan cara ini kita membangun karakter hormat pada suami tanpa syarat.

Buang jauh-jauh pandangan dan filosofi semua pria sama. Mulai memakai kacamata Tuhan.

3. Buatlah standar pasangan hidup, tapi jangan lupa evaluasi diri

Pengen punya pasangan yang rajin doa? Kita rajin doa ga? Pengen punya pasangan yang rajin muji dan nyembah Tuhan? Kita rajin muji dan nyembah Tuhan ga? Pengen punya pasangan yang berani kabartin Injil, kita berani ga?

Jangan sampai waktu sama kita, PH kita bukannya malah maksimal, tapi malah terhambat.

4. Seriuslah berdoa

Gimana Tuhan mau pertemukan kita dengan calon PH kalo kita sendiri tidak menganggap perkara PH sebagai perkara yang serius? Sudahkah kita berdoa untuk kesiapan diri kita? Sudahkah kita berpuasa untuk membangun roh kita?

Sama seperti kerjaan di kantor ya, kalo kita ga serius melakukan bagian kita pada saat training, jabatan yang kita inginkan pasti akan diberikan pada orang lain.

Tidak perlu malu berdoa tentang pasangan hidup. Tuhan sudah tahu isi hati kita, apa yang mau dimaluin lagi?

Jadi, serius ya berdoanya.

5. Bukalah pergaulan seluas mungkin

Saudara seiman ga selalu di gereja yang sama loohh. Bangunlah pergaulan dengan saudara seiman seluas mungkin. Bergabung di forum, group, atau apa pun yang membangun iman dan karkter.

Jauhkan dulu pikiran meluaskan pergaulan supaya dapat jodoh, tapj miliki motivasi dengan banyak bergaul, kita semakin banyak belajar. Semakin mendengar banyak cerita orang. Semakin banyak mengerti cara Tuhan bekerja dalam hidup orang lain.

Jangan batasi diri. Bergaul ga harus banyak bicara, menjadi pendengar yang baik, kita sudah bisa punya banyak teman.

Itu 5 hal yang terlintas di dini hari ini. Dari 5 hal itu paling penting fokus pada membangun diri untuk memuliakan nama Tuhan. Jangan batasi diri dengan pemikiran dan keinginan kita.

Pakai pikiran dan perasaan Kristus, nanti otomatis kita tahu apa yang harus kita lakukan.

Yaaaaa.... Itu ajahhh. Semangatttt!! Tuhan itu baikkk. Sungguhh!

Kadang, bukan menyatakan iman pada orang lain yang susah, tapi menyatakan iman pada diri sendiri.

Terbiasa melihaf apa adanya, apa yang ada di depan mata, menjadi sebuah kerja keras saat harus melihat segala sesuatu melampaui akal. Melihat kapasitas sendiri, rasanya ga mungkin untuk mengalami hal yang lebih dari yang dilihat dan dirasa.

Tapi kan Firman Tuhan bicara lain...
Tapi kan kenyataannya bla bla bla bla...
Tapi kan Tuhan janji ini dan itu
Tapi kan kamu sendiri bla bla bla...

Bukan yang diluar daging kita yang menjadi musuh kita, tapi apa yang ada di dalam kepala dan apa yang ada di dalam dada. Apa yang kita rasa-rasa dan apa yang kita hitung-hitung.

Itu kenapa, sering-seringlah membicarakan Firman atau minimal menuliskannya kalau kita jarang bicara. Kenapa? Supaya suara Roh Kudus lebih keras dari pada suara pikiran manusia kita, perasaan manusiawi kita. Dengan begitu, roh kita juga menjadi kuat untuk mengambil keputusan dan melakukan apa yang benar.


Berapa banyak dari kita, wanita, sering merasa menjadi korban dari sebuah situasi. Merasa terjebak dalam sebuah keadaan yang sepertinya salah. Pekerjaan yang salah, pasanggan yang salah, keputusan yang salah, lingkungan yang salah, dan situasi yang salah lainnya.

Saya salah satu orang yang bisa menyebutkan berbagai hal yang menyebabkan saya merasa berada di situasi yang salah. Merasa menjadi si pemeran utama yang selalu menjadi korban dan si penerima penderitaan.

Dengan sifat yang melankolis, hal ini bisa menjadi hal yang sangat menyiksa. Dengan segala macam detail kesalahan yang "tidak seharusnya" saya alami, saya merasa seluruh dunia membenci dan memusuhi saya.

Haiii, mungkin saya tidak sendirian. Ada banyak orang lainnya yang merasakan apa yang saya rasakan. Di sini saya hanya ingin mengatakan, benar-benar menyenangkan saat berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita.

Tapi tahukah kamu, dengan berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita, pusat dari dunia, kita sedang membohongi dan merusak diri sendiri. Kita percaya bahwa cerita dirancang hanya untuk mewarnai hidup kita.

"Lihat aku! Aku sedih! Aku terluka! Seharusnya kalian mengerti!"
" Hari ini aku sangat senang! Tidak seharusnya kalian merusam kesenanganku!"

Tapi, kita harus sedikit keluar dari lingkaran "kenarsisan" kita dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kita melihat apa yang terjadi dalam hidup orang-orang sekeliling kita?

Ya, mereka punya cerita mereka masing-masing. Mereka punya masalah yang mereka bawa sendiri-sendiri. Ada yang terlihat lebih ringan, ada yang lebih berat.

Ada orang yang datang ke hidup orang lain untuk membantu mengangkat beban, padahal ia sendiri sudah membawa bebannya sendiri. Ada yang datang meletakkan bebannya pada orang lain, lalu pergi meninggalkan orang itu sendiri. Ada pula yang memilih mengangkat bebannya sendiri tanpa melibatkan siapa pun dan ia sendiri pun tidak mau dilibatkan dengan beban orang lain.

Anehnya, ada yang mengangkat dan menerim beban dari orang banyak, tetapi senyumnya tetap lebar dan hidup. Ada yang bebannya ringan, tapi membawanya seperti bertontonn.

Mengapa begitu? Karena semuanya bergantung pada siapa pemeran utamanya.

Saat kita menyadari segala reaksi, respon, dan tindakan kita mempengaruhi cerita dari hidup orang lain. Kita akan lebih berhati-hati. Cerita apa yanb ingin kita bangun, cerita bahagia untuk semua orang atau cerita bahagia untuk kita sendiri?

Semuanya terserah kita.

#NyonyaDasterBahagia #amsalfoje

Gambar: answeritsa.wordpress

Ah, akhirnya nulis lagi. Gyan dan Papa Gi udah bobo. Saya sudah ngantuk, tapi mau beresin beberapa urusan Oriflame.

Sejak stress yang bikin mau mati itu, akhirnya semua bisa terkendali. Bukan karena TING tiba-tiba semua masalah beres, tapi karena seperti mendapat kekuatan baru.

Rasanya seperti Tuhan dukung saya untuk apa pun yang saya kerjakan. Tuhan mengajarkan saya untuk tidak berpikir terlalu jauh dari apa yang saya lihat dan dengar. Alias berhenti asumsi. Mulai mengungkapkan keinginan dengan santai dan melakukan 1 pekerjaan tanpa memikirkan pekerjaan lain.

Puji Tuhan, kesibukan sama seperti biasa, tapi hati lebih damai sejahtera, lebih bisa sabar dan sukacita. Tuhan menguatkan tangan saya untuk bekerja memberi yang terbaik. Tidak sempurna, tapi yang terbaik.

Saya selalu ingin menyelesaikan dengan sempurna, tapi tentus saja itu tidak mungkin. Ada situasi-situask yang tidak bisa kendalikan. Fokus pada apa yang bisa kita ubah daripada mengeluhkan hal-hal yang diluar kendali kita.

Mendisiplinkan pikiran dan perasaan memang tidak mudah, tapi hasilnya pasti akan membuat kita bersorak dan bersyukur pada Tuhan.



amsaLFoje via Blogaway

Waktu kita memilih hidup yang bertentangan dengan Firman Tuhan
Jangan marah jika kita dihakimi masuk neraka
Karena memang itu yang dikatakan Firman Tuhan

Waktu kita memilih hidup di luar Tuhan
Jangan marah kalau orang menyebut perbuatan dosa kita sebagai DOSA
Karena memang itu kenyataannya

Kita memilih hidup di dalam atau di luar Tuhan
Memilih hidup di dalam dosa atau lepas dari dosa
Kita tahu pasti apa resikonya
Jangan marah jika orang lain mengingatkannya

Berbagai spekulasi dan teori
Menolak surga dan neraka
Semua terasa benar karena hati tak perlu dituduh lagi
Lalu merasa tenang dengan hidup yang bebas

Tapi saat kamu dihadapkan dengan kematian
Kamu kembali berpikir
Apakah hidupku sudah benar?
Apakah keyakinanku benar?
Apakah surga dan neraka benar-benar tidak ada?
Bagaimana kalau ada?

Seribu kebaikan kita lakukan
Tetap tidak membuat kita merasa menjadi orang benar

Kebenaran
Sudahkah kita benar-benar tinggal di dalamnya?

Jangan marah kalau kamu hidup dalam kegelisahaan
Karena kamu sendiri yang memilihnya



amsaLFoje via Blogaway

Hari ini saya menemukan gigi saya bergeser dan mengalami perubahan. Ada ruang yang lebih lebar di antara gigi bawah karena semasa SMA saya mencabut gigi geraham saya yang bolong. Sekarang baru terlihat efeknya. Gigi bawah saya seolah bergeser untuk mengisi ruang gusi yang kosong.

Lucunya, saya yang sudah ibu-ibu ini merasa gusar dengan perubahan ini. Saya takut menjadi jelek dengan gigi-gigi yang bergeser. Takut menjadi terlihat lebih tua dari usia saya yang sebenarnya.

Sayq mencoba mengabaikannya tanpa berusaha memperbaiki cara berpikir saya yang saya tahu itu tidak benar. Sampai tadi saya membaca training tentang skin care #oriflame, pikiran saya dibukakan lagi.

Saya diingatkan tentang wanita terjelek di dunia. Saya tidak akan menyangkal kalau dia memang sangat jelek secara fisik. Ada rasa ingin tahu bagaimana orang bisa hidup dengan wajah yang seperti itu.

Lizzie mengatakan bahwa siapa diri kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan, kesuksesan kita dll. Bukan oleh apa yang orang katakan.

Tapi saya tidak meyakini itu. Karena saat kita gagal, apakah kita menjadi tidak berharga? Saat kita mengikuti nasehat orang tua, apakah kita tidak menjadi diri sendiri? Saat kita ingin menyenangkan orang yang kita cintai apakah kita sedang menjadi orang lain?

Tidak. Keberhargaan dan siapa diri kita bukan ditentukan apa yang sudah kita lakukan karena jika itu menjadi dasarnya, akhirnya jatuh pad penilaian orang lain lagi. Keberhargaan dan siapa diri kita yang sejati bergantung pada apa yang dikatakan Pencipta kita

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. Yesaya 43:4

Jika apa yang kita lakukan tidak bisa menjadi penentu keberhargaan kita, apalagi fisik kita.

Keberhargaan kita tidak ditentukan oleh kulit putih tanpa jerawat atau noda jerawat, rambut panjang lurus hitam tanpa uban, hidung mancung ramping sempurna, atau gigi rata putih tanpa lubang dan ompong. Tidak bukan itu.

Sejak Tuhan memikirkan bentuk, rupa, karakter, nama, siapa orang tua kita, kapan kita akan lahir, bagaimana cerita hidup kita... Sejak itulah kita berharga di mata Tuhan. Kita adalah buah hasil pikiran-Nya, kerinduan-Nya, kasih-Nya ....

Jadi, tak apalah gigi ini sedikit bergeser karena saat saya tahu saya berharga, saat itu pula saya tahu saya cantik apa adanya.

Terus, ga perlu pakai kosmetik dong Las?? Tetap perlulahh. Namanya kerja jualan kosmetik. Hahahha. Kalau kita menghargai diri sendiri, kita tahu bagaimana memperlakukan tubuh kita sendiri. Kosmetik perlu atau ga? Silahkan jawab sendiri ;).



amsaLFoje via Blogaway
Lasma ngapain sih sibuk banget nulis-nulis status sok rohani di FB?? Mending ada yang baca. (Tudahan setan dalam pikiran)

Sori yee kalau gua suka sok kotbah & sok suci di medsoc. Hidup juga belum tentu bener.

Tapi, gua punya kerinduan melayani Tuhan. Sayangnya, keadaan gua ga memungkinkan untuk melakukannya di luar rumah. Gua juga udah mewek-mewek sama Tuhan karena rindu pelayanan (rindu Tuhan atau pelayanan sih? -_-)

Terus, kalau gua mewek terus memang bisa ngubah keadaan? Ga. Ya gua fokus sama apa yang bisa gua lakukan buat Tuhan. Gua suka nulis, kata teman-teman tulisan gua lumayan, gua punya socmed, gua punya hp canggih. Ini yang gua punya buat melayani Tuhan. Kalau gua fokus sama apa yang ga gua punya, pengen kejayaan masa single, gua ga akan pernah melayani karena gua fokus sama yang ga gua punya.

Ini cara gua membagi apa yang sudah Tuhan kasih buat gua. Berkat itu bukan buat kita sendiri. Jangan biarkan cawan kita luber dengan anggur. Nanti anggur itu tumpah terbuang sia-sia. Dengan berbagi lewat socmed, gua menjaga cawan gua terus terisi anggur yang baru. Dengan cara itu juga gua melayani Tuhan

Mau dibilang pencitraan atau apa terserah. Pikiran orang tanggung jawab masing-masing, tugasku menjaga hati nuraniku tetap bersih. Dengan dikendalikan rasa takut dinilai, nama Tuhan ga akan dipermuliakan. Ga akan ada kesaksian, ga ada yang dikuatkan, ga ada yang ditegur, ga ada yang diberi tahu jalan yang benar.

Badan gua dibatasi rumah kontrakan kami, tapi kesaksian tentang Kristus ga boleh dihentikan oleh apa pun & siapa pun.

#melawanintimidasiiblis
Jebakan pernikahan yang sering kita pikir benar;

- mentingin anak dari pada pasangan
- mentingin pekerjaan daripada keluarga dengan alasan demi keluarga
- mentingin keluarga sendiri dari pada pasangan
- mentingin diri sendiri daripada pasangan dengan alasan yang penting sudah melakukan kewajiban
- berhenti memaafkan & memberi karena merasa selalu mengalah & yang paling berusaha

Hati-hati buat pasangan baru, apa yang kelihatan benar belum tentu benar. Rumah tangga retak bukan cuma karena ada pria atau wanita idaman lain. Keterpusatan pada diri sendirilah yang pertama kali memberi retakan kecil. Retakan kecil bisa menjadi retakkan besar.

Berpegang pada Firman Tuhan, kunci terbaik untuk berespon dengan BENAR dalam situasi yang SALAH.

- istri tunduk & hormat pada suami karena suami kepala atas istri & kepala suami adalah Kristus
- suami sayangi istri
- perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan
- KASIH
1 Korintus 13:4-8

13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap..

#mengoreksidiri
Mengampuni itu berat
Mengampuni itu sulit
Mengampuni itu menyesakkan

Bagaimana kalau dia mengulangnya lagi?
Bagaimana kalau dia menyakiti lagi?
Bagaimana kalau aku terluka lagi?
Bagaimana kalau aku direndahkan lagi?

Aku harus tetap mengampuni
Sekali pun aku terluka lagi
Aku harus terus mengampuni
Walau sesak di dadaku berulang kali
Aku tidak boleh berhenti mengampuni
Meski aku merasa bodoh & rendah

Aku harus mengampuni karena aku telah diampuni
Aku ingin mengampuni karena aku ingin mengasihi
Aku memutuskan untuk mengampuni lagi karena aku selalu mendapat pengampunan

Mengampuni itu sakit
Tapi aku mau
Karena aku
Telah diampuni


Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen kumpulan puisi liburan movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • Review For Prometheus
    Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
  • [Review] Makarizo Hair Energy Hair Fragrance Fresh Bouquet
    Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
  • [Review] Nano Healthy Family - Pijat Puas Harga Pas
    Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
  • Hadiah Ulang Tahun Tak Terkira
    Dua hari lalu salah satu sahabat terbaik saya tahu-tahu inbox saya di FB. Ngucapin selamat ulang tahun yang sangat telat. Walau pun ga memp...
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
  • Hati Yang Keras
    Satu bulan kurang tanpa sosial media, saya tersadar... Banyak berita, artikel, status, yang terlihat membesarkan hati sekelompok orang tapi ...

Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Traktir kopi

Traktir kopi
Traktir amsaLFoJe kopi supaya makin semangat nulis.

Art & Design Services

Art & Design Services

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Lasma Works
    Lasma Works
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates