Antara Bermuka Dua & Kedewasaan

 

Pic: lw.imaging by Lasma Works

Sering ga sih kita dengar, manusia jaman sekarang bilang

"Gw tuh lebih suka sama orang yang apa adanya."

"Gw tuh ya emang orangnya kayak gini. Apa adanya."

Mungkin kita sendiri, termasuk gw, berharap bisa jadi orang yang apa adanya, menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa takut dinilai, tanpa beban, bebas lepas. Tapi makin tua gw makin ngerti bahwa yang namanya apa adanya itu hanyalah bocah-bocah kecil yang memang cuma mikirin kesenangannya sendiri. Dia ga akan mikirin apa yang dipikirkan orang lain, apa yang dirasakan orang lain. Yang penting gw suka, gitu kira-kira yang ada di otaknya.

Kenyataannya, kita ga pernah benar-benar bisa nerima 100% saat orang menyampaikan pikiran dan perasaannya tanpa saringan. Gamblang, tembus pandang. Kenapa? 

1. Karena setiap orang punya cara berpikir yang beda. Bahkan cara berpikir yang kita pikir sama, saat didiskusikan lebih dalam ternyata bisa beda. Saat kita tahu perbedaan itu, awalnya akan terheran-heran. Setelah heran tinggal eksekusinya nih, kalau saling maksa untuk mempengaruhi pikiran masing-masing biat ngikutin, pasti bakal ada konflik. Atau sekedar informasi aja, ternyata dalam kesamaan, masih ada yang beda setelah itu tetap jalanin seperti biasa. Yang penting lo kagak nyenggol gw. 



2. Karena alesan yang pertama, kadang tidak menjadi apa adanya adalah solusi terbaik untuk menjaga perdamaian dunia. Misalnya, kita kesal pada Bos. Apakah kita akan menunjukkan cara bicara kita yang memang terbiasa kotor saat merasa kesal? Tentu tidak bukan? Pada akhirnya kita akan menahan diri atau minimal mengkomunikasikannya dengan cara yang lebih tepat. 

3. Saat kita meminta orang lain menerima diri kita yang apa adanya.. Apakah kita sendiri siap saat orang lain bersikap apa adanya pada kita? Sering kali yang gw temukan adalah standar ganda. Cara bicara kasar, melontarkan komentar tanpa dipikirkan, bersikap seenaknya di mana saja dianggap sebagai orang yang apa adanya. Keren. Sedangkan mereka yang memilih bersikap tenang, sopan, menjaga perkataan dicap munafik. Padahal orang tersebut memang ga suka mengeluarkan kata-kata kotor. Dia lebih suka bersikap tenang dan menimbang banyak hal (ini gw kayaknya curcol sekalian). Ga jarang si kalem ini jadi ikut-ikutan ceplas ceplos ga nyaring demi diterima dan dianggap apa adanya. 

4. Kenyataan lainnya, ga semua orang bisa jaga mulutnya saat kita tampil apa adanya. Kita curhat soal A, besok-besok banyak orang tahunya kita ngomong AZ. Ada trust issue yang dipermasalahkan. Iye kali kan ga mungkin kita membeberkan siapa diri kita dengan begitu mudah. 

Jadi, apakah kita harus memakai topeng setiap saat? Daripada topeng atau bermuka dua, gw lebih suka menyebutnya beradaptasi.



"Gw punya kepentingan, lo punya kepentingan, mari saling menyesuaikan untuk kepentingan bersama."

Kita bisa apa adanya tapi tetap ga bisa seenaknya. Bahkan saat kita ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan diri sendiri, jika kita cukup dewasa, kita akan melakukan hal yang menyenangkan tapi tidak merugikan orang lain. Jika ada hal yang kita suka atau tidak suka, kita bisa menyampaikannya pada orang lain tanpa mengurangi rasa hormat. Kita bisa bercanda dengan tetap memiliki batasan-batasan yang baik. 

Golden rulenya belum berubah

Perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan



*Quotes yang gw pajang gw ambil dari IG Coach Emotional Intelligence, Joshua Iwan Wahyudi. Beliau banyak kasih edukasi yang 'napak bumi' untuk followernya supaya bisa punya EQ yang lebih baik. 

Istrinya, Vonny Cicilia seorang konselor pernikahan. IGnya juga patut difollow. Setiap minggu ada tulisan-tulisan yang mencerahkan seputar CINTA dan PERNIKAHAN. 











0 Comments