[CURHAT] Berhadapan Dengan Rasa Sakit

October 13, 2018




Hi Gorgeous!! 
Menulis sepertinya jadi hal yang sulit buat saya lakukan karena terlalu mempertimbangkan banyak hal. Selain tidak mau terlalu membuka kehidupan pribadi, saya juga tidak mau membuat orang lain tersinggung. Buah pemikiran jadi lebih banyak tertahan. Kecuali saya sudah tidak tahan. Hehhehe. 


Hari ini hari ke 2 saya menstruasi di bulan Oktober. Sejak saya mengerti tentang premenstrual dysphoric disorder (PMDD) yang saya tulis di SINI, saya jadi lebih tenang dalam menghadapi mood swing saya. 

Memang seberapa besar sih masalah mood swing saya?? Ciri-ciri PMDD pernah saya alami. Tapi karena tidak berlarut-larut, saya tidak melanjutkan melakukan konsultasi. Situasi gangguan psikologis yang saya alami, murni hanya pada masa-masa PMS. 

Pada masa PMS ini saya lebih mudah marah bahkan "membenci anak saya" 

(Gyan kalau suatu saat baca ini inget yaa.. MAMA SAYANG GYAN. Ini cuma masalah psikologis yang harus Mama hadapi tiap bulan yang kadang Mama ga tahu harus buang ke mana).

Setiap rengekannya membuat saya merasa ingin mati atau menyakiti diri sendiri atau memotong kuping saya. Rasanya seperti tidak ada rasa cinta tersisa di hati saya. Saya cuma mau lari dan sendirian. 



Terhadap suami saya jadi lebih kritis, gampang tersinggung, susah diajak bercanda, sering kali tidak mau disentuh. Seharian hanya ingin marah dan menangis. Jujur, ini perasaan yang cukup menyiksa. Karena masalahnya bukan pada suami dan anak saya, tapi muncul begitu saja. Akhirnya malah menimbulkan rasa bersalah. 

Sebelum saya mengerti kondisi saya ini, saya selalu merasa tersiksa sendirian. Seperti mau gila. Saya merasa buruk dan jahat karena perasaan-perasaan saya ini. Saya pikir tidak seharusnya saya merasakan hal-hal negatif seperti itu. 

Sampai saya mengerti semuanya, saya jadi lebih bisa menerima. Beberapa teman blogger menguatkan kalau mereka mengalami hal yang sama dan itu lumrah. Jadi, bersabar saja sampai masa-masa hormonal itu berakhir.

Saya lebih bisa menerima bukan berarti perasaan-perasaan itu menghilang. Masih tetap ada, tapi saya mengakui keberadaannya dan berusaha mengelolanya dengan baik. Sampai saat ini saya hanya bisa menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan jika sudah tidak tahan dengan rengekan si kecil. Atau meluapkan tangisan dengan doa di kamat mandi. Minta Tuhan tolong beri kekuatan selama masa-masa emosional saya ini. 


Kenapa saya share hal ini ya?? Saya ingin menghubungkannya dengan kebiasaan kita "mengabaikan rasa sakit" agar tetap bisa menggunakan nalar dan logika. Itu yang saya lakukan dulu. Saat saya terluka, saya banyak berdialog dengan diri sendiri. Mencari-cari hal positif dari yang terjadi dan berusaha selalu mengerti, padahal saya terluka. Saya sedih marah. 

Pada kenyataannya untuk menjadi selalu positif, optimis itu tidak mungkin. Ya, bisa saja, tapi menjadi tidak sehat saat rasa sakit, luka, dan marah diabaikan. Dibenamkan dan dianggap tak ada demi rasa tenang dan menjauh dari konflik. 


Masalah kesehatan mental saya beberapa tahun belakangan membuat saya benar-benar mengerti bagaimana seharusnya jujur pada diri sendiri. Hal yang wajar jika kita terluka, marah, sedih dan berbagai macam emosi yang dianggap negatif lainnya. Hadapi saja, akui saja. Jangan sampai kita mengabaikan luka itu dan tahu-tahu lukanya sudah bernanah atau malah sudah melebar, muncul belatung, dan melumpuhkan. 

Mengakui luka dan rasa sakit bukanlah sebuah kelemahan. Hal itu hanyalah sebuah keterbukaan untuk mendapat pemulihan. Kalau pada akhirnya pihak-pihak yang melukai tidak menyesal, Tuhan akan tolong untuk pulihkan. Minimal kita sendiri mengakui rasa sakit itu supaya dokter dari segala dokter bisa menyembuhkan dengan leluasa. 



Untuk bisa mengerti hal ini, Tuhan harus buat saya mengerti rasanya terluka sampai ga tahu harus berbuat apa. Tapi, Puji Tuhan sekarang saya sudah sembuh. Saya juga jadi lebih mengerti luka-luka yang orang lain alami. 

Yahhh.... Lega setelah menulis postingan ini. Rasanya saya sudah bisa menghadapi anak saya lagi. Terima kasih sudah mampir dan membaca sedikit cerita dari saya. Semoga bisa memberkati. 



Jangan lupa subscribe blog ini ya buat dapet info postingan terbaru atau follow IG saya di @lasma_manullang2

You Might Also Like

1 komentar

  1. Aih diriku dulu gak sempat marah dan nangis yang sering malah pingsan saat menstruasi.Terpaksa minum pain killer .Syukur sekarang udah mendingan mungkin seperti yang kamu bilang soal hormon itu.thanks for share tetap positif

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)



recent posts

Your Ads Here

Follow us on Facebook

ads