Gengsi Jadi Supir Taksi??

Suami saya punya kebiasaan mengobrol dengan supir taksi kalau sedang menggunakan jasanya. Ada saja yang saja yang ia bicarakan yang jika saya dengarkan obrolan ia dan supir taksi membuat saya sadar pengetahuan saya tidak terlalu banyak.


Beberapa hari lalu, suami saya naik taksi dari salah satu kantor kliennya untuk kembali ke kantornya. Seperti biasa ia mengajak berbincang.


Bapak supir ini ternyata orang Tiong Hoa, dulunya pengusaha,btapi akhirnya bangkrut karena ditipu. Ia memilih jadi supir taksi karena kepepet. Anaknya kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual atau DKV.

Adik saya dua orang kuliah di DKV. Sekalipun misalnya biaya kuliah murah, saya tahu pasti tugas2 dan proyeknya memakan biaya besar.

Uang kuliah anak supir taksi itu sempat menunggak. Mau tidak mau si Pak Supir harus mencari uang. 

Sebenarnya ia malu karena keturunan Tiong Hoa yang terkenal pandai usaha dan berdagang, malah hanya jadi supir taksi.

Waktu dia pertama ia bekerja, ia terkejut. Ternyata banyak teman-teman satu pull-nya orang Tiong Hoa. Teman-temannya mengatakan agar ia tidak perlu malu karena pekerjaan menjadi supir taksi ternyata menjanjikan.

Pak Supir itu membuktikannya. Dalam sebulan, uang penghasilannya bisa membiayai kuliah anaknya, bahkan ada lebihnya.

Waktu dengar cerita ini dari suami saya, saya sadar tidak ada pekerjaan halal yang memalukan. Semuanya tergantung dari bagaimana kita memandangnya. 

Sebenarnya gengsi kitalah yang membuat pekerjaan menjadi memalukan. Mungkin karena pendidikan kita tinggi atay status sosial kita. Mungkin juga karena latar belakang suku dan ras. Padahal gengsi tidak bisa memberi kita makan. :D

Pekerjaan apa pun yang dikerjakan dengan hati yang melayani akan selalu menjadi berkat untuk diri sendiri dan juga orang lain. Aminn. 

#NyonyaDasterBahagia

WA 08170878531
BBM 7FC0CC37
Line: amsalfoje

0 Comments