Kalau udah benci, semua pujian pun akan dianggap jarum dan kotoran. Ga mau melihat dan mendengar lebih dekat. Ga mau lebih jauh mengerti, semua dianggap manipulasi.Kalau udah benci ya benci. Jadi, sebenarnya hatinya siapa yang harus dibersihkan??? Orang yg dibenci jalan santai, kitanya udah keburu rusak oleh amarah.
Jadi, siapa yang harus dibersihkan??
Luapkan amarah ke hadapan sosial, lalu sama2 marah dan menghujat. Apakah itu yang memang kita mau?? Puaskan saja marah kalau itu bisa memperbaiki keadaan.
Apa kita ga bisa belajar dari masa lalu?? Segitu besar dan pentingnyakah harga diri kita hingga tidak sanggup melakukan apa yang benar?? Mengampuni dan mengasihi??
Kita tahu kok kalau dunia ini kotor, ga adil, kenapa harus begitu marah dan merugikan diri sendiri?? Percaya deh, pelan2 kamu bisa mati kalau kamu pelihara marahmu. Lepaskan hakmu untuk menghakimi, itu bukan bagianmu. Jangan lempar damai sejahtera yang Tuhan kasih cuma demi pembuktian diri bahwa kamu benar dan mereka salah.
Kalau kamu benar, biar Tuhan yang buktikan. Kalau mereka salah, biar Tuhan yang buktikan.
Kalau hari ini kamu bisa gereja
Keluar masuk tanpa kuatir, bersyukurlah
Kalau hari ini kamu bisa melayani dengan bebas walau hanya dengan sebuah kesaksian kecil di socmed
Atau membersihkan gereja tanpa dilihat siapa pun
Bersyukurlah
Kalau hari ini kamu masih punya orang-orang yang menegurmu dan berjaga-jaga untukmu lewat doa
Menyediakan waktunya mendengarkanmu, menaruh tangannya dibahumu, mengucapkan doa yang terdengar telingamu
Bersyukurlah
Kalau hari ini kamu bisa makan roti dari kotbah Mingguan yang kadang kamu pikir itu lagi itu lagi
Bersyukurlah
Karna mungkin akan ada saatnya kamu di tempatkan di tempat asing
Saat kamu tidak bebas menyuarakan imanmu
Ingin melayani di gereja tapi tidak mampu
Ingin mendengarkan Firman dari pengkotbah tapi tidak bisa
Butuh topangan dari saudara seiman tapi jarak memisahkan
Mungkin akan ada saatny kamu akan bertemu waktu seperti itu
Nikmati hari ini
Syukuri imanmu hari ini
Lakukan yang terbaik untuk melayani
Mungkin akan ada saatnya
Saat kamu akan mengerti
Apa yang kamu anggap biasa sekarang
Ternyata mahal harganya
Lasma WA 08170878531 BBM 6Y4N63 LINE amsalfoje
Di saat saya ribut-ribut soal LGBT, tahu-tahu Tuhan tarik saya lagi untuk lebih banyak diskusi dengan Dia. Diskusi tentang Gyan. Tentang kerjaan saya di Oriflame.
Beberapa minggu ini saya tahu saya melakukan kesalahan dalam mengasuh Gyan. Katanya kan emosi seorang ibu mempengaruhi watak anak yaa. Aku lihat Gyan pemarah. Emosional. Aku bercermin pada dia.
Tadi siang baca tentang damai sejahtera yang dihubungkan dengan kemakmuran yang katanya merupakan ajaran Kristen Kharismatik...
Si penulis ga setuju, saya juga ga setuju karena dia menulis bahwa Tuhan ga pernah janjiin damai sejahtera setiap saat (kemakmuran).
Sementara aku punya iman Tuhan janjikan damai sejahtera setiap saat. Waktu kita percaya penuh sama Tuhan, seketika hati kita yang mungkin tadinya bolong dan kosong karena takut dan kuatir, jadi terasa penuh. Ada kepuasan, ada ketenangan, ada rasa sanggup dan keberanian. Rasanya apa yang di depan mata tidak lagi menakutkan. Malahan dengan antusias kita menanti-nantikan pekerjaan tangan Tuhan.
Itulah damai sehahtera yang Tuhan janjikan.
Yohanes 14:27 (TB) Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
http://www.bibleforandroid.com/v/6bf3afae3f83
Jadi, beberapa hari ini mulai terbiasa bangun jam 3 pagi. Dari jam 3 pagi sampai jam 5 nyeterika, jam 5 saat teduh, setengah 6 sampai jam 7 belanja dan masak sarapan dan makan siang, jam 7.30 temenin Aki sarapan, jam 8 nyuci dan beres2 yang lain sampai jam 9. Pokoknya sampai jam 9 itu sudah harus mandi, kasih makan Gyan. Karena jam 9 sudah harus di depan komputer ngerjain Oriflame, terjemahan, dan shoponline. Kerja sampai jam 4, ajak Gyan keluar dan main. Jam 5 sudah harus di rumah beres-beres dan masak makan malam. Kalau rumah sudah beres tinggal duduk manis nyuapin Gyan sambil nonton drama Jepang hohoho sambil nunggu Aki pulang.
Selama ini saya ga sabaran. Ingin membereskannya dalam 1 waktu. Kunci jadwal yang saya buat kerjakan semuanya satu-satu. Jangan biarkan pikiran memikirkan semuanya bersamaan. Energi jadi terkuras di pikiran, bukan saat bekerja. Saya nurut aja dituntun seperti itu. Waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, ya tinggalkan HP. Waktu mengerjakan Oriflame dan yang lain, ya jangan mikirin pekerjaan rumah tangga yang lain.
Puji Tuhan banget dengan hal ini saya sangat tertolong. Yang tadinya pekerjaan kecil-kecil tidak beres-beres juga, akhirnya bisa dibereskan satu per satu. Kerjain pekerjaan rumah jadi lebih terasa ringan, kerjain Oriflame juga lebih fokus.
Saya juga jadi lebih disiplin untuk saat teduh. Walau ngantuk-ngantuk hahahhaha.
Buat orang lain mungkin mikirnya ya emang udah niat saya, tapi buat saya pribadi ini bener-bener pertolongan Tuhan. Tuhan kasih hikmat bagaimana saya seharusnya mengatur waktu saya.
Memang sih harus bergumul dan stress sampai rasanya mau gila dulu. Tapi, justru di situ Tuhan jadi kasih rhema, kalau waktu harus digunakan dengan efektif, bukan semau kita.
Waktu itu seperti uang, kalau tidak digunakan dengan sebaik mungkin malah akan memperbudak kita. Bahayanya lagi, uang bisa dicari, tapi waktu ga bisa. Waktu harus digunakan sebaik mungkin. Bukan cuma tentang momen-momen, tapi juga gimana waktu kita bisa untuk kita bertumbuh juga, memaksimal hidup kita dan juga orang lain.
Semoga Tuhan beri hikmat lebih lagi, supaya saya lebih berdisiplin lagi. Aminnn.
Itu tandanya Tuhan sayang.
Hari-hari ini banyak pandangan dan idelalisme yang bersileweran di depan mata kita. Kadang saat kita melihat kita tidak bisa mencapai idealisme tersebut, kita akan merasa tertuduh, berbeda, dan mungkin ada yang salah.
Mungkin itu karena menyenangkan hati Tuhan bukan lagi tujuan utama kita setiap tindakan kita.
Eh, ternyata banyak ya yang kayak begini. Bukan cuma saya yang ngalamin. Bahkan mereka yang single dan belum menikah.
Nah, yang sudah menikah apa kabar pelayanannya?? Saat sibuk mengurus anak karena mengurus sendiri dan banyak lagi kondisi yang membuat kaki tidak bisa melangkah.
Tapi, Allah itu juga adil dan Maha Benar, karena itu kita tetap akan menanggung dosa akibat dari perbuatan dosa kita di dunia.
Itulah mengapa Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan, itulah mengapa Daud kehilangan anak pertamanya dari Batsyeba istri Uria.
Entah kenapa kebiasaan-kebiasaan buruk perempuan yang sering disebut-sebut orang, yang pada masa single jarang saya alami, waktu sudah punya anak jadi keluar semua. Hahahha. Jujur, saya merasa tidak mengenal diri saya kadang.
Tapi sebenarnya ternyata benih kebiasaan buruk itu bukannya saya tidak punya, tapi memang sudah ada lama, hanya saja baru keluar saat mendapat tekanan dan masalah. Jadi, justru kebiasaan-kebiasaan jelek itu adalah diri saya sebenarnya yang saya tidak pernah tahu ... Tapi pasti Tuhan tahu... -_-
Jadi, kebiasaan apa yang paling saya rasakan akkhir-akhir ini? Kebiasaan hati saya yang menuduh dan "sukur-sukurin" (sukur loo!! - kayak gitu maksudnya) kondisi saya. Hati saya menuduh saya dan mengatakan saya pantas mengalami penderitaan karena saya tidak begini atau begitu, membanding-bandingkan keadaan saya dengan orang lain, dan ujungnya mengasihani diri sendiri.
Kalau sudah mengasihani diri, fisik yang udah lelah menjadi semakin terasa lelah. Makin terasa berat menjalani hidup.
Dipikiran selalu bilang, " Lo sih enak ada ART yang bantuin! Gua kerjain semua sendiri!! Ga jarang tidur cuma 2 jam cuma biar semua beres!!"
Lalu hati nurani menjawab, " Itu kan pilihan yang sudah kamu ambil. Kenapa mengeluh? Kamu masih punya mesin cuci. Ada mertua yang sesekali memberikan makanan. Bisa pakai komputer dan internet untuk kerjain bisnis. Anak ga pernah sakit walau pun kadang rewel. Coba lihat Ci Lia anak 3 urus sendiri. Coba lihat Mama Vale, urus anak sendiri dan ga punya mesin cuci."
Lalu saya menjawab, " Iya, Ci Lia kan ga kerjain bisnis dan yang lain. Murni senang menjadi ibu rumah tangga (berarti gua ga senang ya? Hahhahah). Mama Vale kan masih ada kakaknya, kerjain kerjaan rumah ya ganti-gantian. Saya kerjain semuanya sendirian!"
Intinya sih tiap mau bersyukur dengan membandingkan hidup saya dengan orang lain, semuanya patah karena memang kondisi yang saya alami "berasa" sudah paling susah.
Beberapa kali akhirnya saya memutuskan untuk mencari-cari apa yang bisa saya syukuri tanpa membandingkannya dengan hidup orang lain. Ya gimana mau bandingin kalau ujungnya malah jadi makin ga bersyukur hahahha.
Iya, rasa syukur timbul bukan karena melihat yang di bawah kita, tapi dengan kemungkinan bahwa kita bisa mengalami hal yang lebih buruk. Bandingkanlah dengan keadaan-keadaan buruk yang pernah kita lewati juga.
Saya tidak bisa membandingkan hidup saya dengan orang lain baik dari sisi positif atau pun negatif. Kenapa? Karena kapasitas beda. Kondisi beda. Saya bukan orang lain dan orang lain bukan saya. Seempati-empatinya saya pada orang lain, saya tidak akan pernah bisa mengerti 100% kondisi orang lain.
Akhirnya saya berhasil membungkam mulut hati saya yang menuduh dan mencemooh saya dengan cara bersyukur yang benar. Itu Tuhan kasih hikmat Toeng begitu aja saat saya sedang mengerjakan transletan saya. Rasanya lega, tapi saat menghadapi hari berikutnya, ternyata ga terlalu lega hahahha.
Tuhan sedang mengajarkan saya untuk mendisiplinkan emosi dan hati saya. Kondisi sulit bukan berarti penderitaan berkepanjangan. Semuanya tergantung dari respon yang saya berikan.
Bersikap tenang menghadapi masalah bukan berarti ga punya hati, tapi lebih baik dari pada bertindak gegabah karena terbawa perasaan.
Hati yang menuduh itu memang perlu untuk menjaga hati kita tetap murni, tapi tuduhan yang mematahkan semangat dan meremukkan tulang, pastinya harus dikendalikan.
Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Semoga besok Lasma bisa jadi pribadi yang lebih dewasa dan mengenal Engkau. Amin.
Ada apa ya pakai perlu bikin daftar ucapan syukur??
Karena lagi ga bisa bersyukur. Hehehhe..
Tiga bulan ini jadi tiga bulan terberat buat saya. Terasa seperti diberi beban batu banyak sampai berton-ton. Mungkin kaki sudah terbenam di tanah dan sudah tidak bisa jalan.
Intinya sih ya, di masalah keuangan. Saya dan Aki memulai kehidupan rumah tangga dengan keuangan yang kurang OK. Ditambah saya berhenti bekerja dengan cepat, belum benar-benar aman keuangan Gyan udah dihadiahin.
Jadi kami babak belur untuk mengatasi keuangan.
Kerja dari rumah dengan Oriflame dan bisa naik level lalu dapet bonus, itu PUJI TUHAN BANGET. Itu kayak hadiah. Tuhan pelihara kami sebagian dari situ.
Lalu datang tawaran buat jadi translator, PUJI TUHAN LAGI kami dapet berkat lagi. Tuhan memang selalu cukupkan dari hal-hal yang ga kita duga.
Tapi, beberapa bulan ini saya ga bisa menysukuri semua itu. Amarah menumpuk di hati saya. Saya memang bekerja di rumah, tapi bagaimana pun anak jadi prioritas. Tapi, di situ juga saya jadi stress sendiri dengan jaringan yang tidak terurus, pekerjaan terjemahan yang harus segera diselesaikan. Belum lagi pekerjaan rumah yang tidak habis-habis.
Titik puncak tekanannya, saat saya mulai memikirkan kematian dan ingin menyakiti diri sendiri. Ya, gimana ya. Saking sudah tidak tahan dengan tekanan, saya merasa kesakitan fisik bisa meredakan sesak di dada saya.
Puji Tuhan, Roh Kudus masih jaga. Istilahnya saya masih hitung-hitungan, kalau nanti bunuh diri ketemu Tuhan atau ga. Kalau saya masih menyakiti diri sendiri, akan memberi efek buruk buat Gyan. Pasti.
Akhirnya cari cara buat pulih, berdoa lagi, cerita ke orang, tapi ga lega 100%.
Selama tertekan itu saya menyalahkan Aki. Semua perasaan sesak saya, saya anggap karena Aki begini dan begitu. Tapi, waktu Aki melakukan apa yang saya inginkan, saya tetap tidak senang. Saya masih merasa marah. Bukan lagi sama Aki, tapi pada sesuatu yang saya tidak tahu apa. Rasanya mau membantingkan badan ke tembok karena tidak tahan dengan tekanan di dada.
Saya jadi mudah tersinggung, mudah marah, curigaan, pengennya marah-marah dan memaki. Sudah takut kena mood disorder. Hahahha...
Lalu, hari ini sahabat saya bertanya, apa kabarnya Las??
Pertanyaan yang buat saya sudah malas menjawabnya. Sudah males mendengarnya. Bahkan sudah pada kondisi muak dengan pertanyaan itu.
Entah bagaimana, akhirnya saya balas juga. Saya tidak mau sahabat saya merasa dicuekin ahhaha..
Saya balas, " Lagi ga bagus, Mar. Lagi susah bersyukur. Sempet empet sama idup."
Dia ga bales banyak, cuma, " ooo iya. Jangan lupa bersyukur yaa."
Sempet keki dibales begitu saja, tapi ga tahu sepertinya dia berdoa buat saya, makanya saya jadi menulis ini.
Iya, saya mau menuliskan ucapan syukur saya.
- Lasma bersyukur hari ini masih bisa makan padahal kemarin-kemarin mikir mau makan apa.
- Lasma bersyukur Gyan masih ketawa, senyum lebar, walau Mamanya marah-marah dan ga bisa ajak main dengan bebas.
- Lasma bersyukur punya suami kayak Aki, yang mau belajar berubah, pengertian, ga penuntut, selalu menghibur... walau pun istrinya ini ga pinter masak dan beres rumah, lebih sering pasang muka mesam
- Lasma bersyukur dapet kerjaan yang bisa nambah penghasilan, walau ga seberapa. Dari situ bisa kasih perpuluhan dan ajak Gyan sekolah Minggu.
- Lasma bersyukur Opa Gyan bisa beli mobil bekas, dapet berkat dari pelanggannya. Gyan jadi bisa sekolah Minggu walau harus bangun pagi-pagi banget dan ga bisa diem waktu di kelas.
- Lasma bersyukur di tengah rasa tertekan dan putus asa, Tuhan masih jagain Lasma. Lasma jarang baca Firman, jarang berdoa, bahkan udah lama ga ibadah, tapi Tuhan jagain Lasma lewat bahan terjemahan. Betapa hanya lewat anugrah dan kasih karunia Tuhan saja Lasma bisa hidup benar, bisa hidup di dalam jalan-jalan-Nya. Cuma karena oleh kasih karunia Tuhan saja Lasma punya kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan, melakukan firman-firman-Nya. Bukan karena kuat dan gagah Lasma. Bukan pula karena hikmat Lasma sendiri. Sampai hari ini saat Lasma masih bilang mengampuni itu susah, bersyukur itu susah, bersukacita itu susah, Lasma ga ngerasa Tuhan ninggalin Lasma. Tuhan masih di situ, nungguin Lasma melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Makasih Tuhan Yesus. Ampuni Lasma, Tuhan. Terima kasih atas kasih setia-Mu.
- Lasma bersyukur bisa mengalami tekanan ini. Berkali-kali Tuhan ingatkan mereka yang mati bunuh diri atau membunuh anaknya karena himpitan ekonomi. Lasma jadi ngerti apa yang mereka rasain. Sakitnya kepala dan hati karena ga tahu harus gimana lagi. Ternyata masih banyak yang butuh Tuhan.
- Lasma bersyukur dengan tekanan ini, empati Lasma lebih kuat. Lasma juga bisa lebih mengasihi diri sendiri. Belajar memilah mana yang masuk telinga, mana yang tidak boleh masuk telinga.
- Lasma bersyukur walau pun sering bergadang, Lasma ga ada sakit. Gyan juga sehat walau lagi susah makan. Aki juga sehat walau sempat pilek.
Rasanya seperti Elia yang ciut karena dikejar-kejar mau dibunuh. Waktu bersyukur begini jadi ngerasa bodoh, tapi juga lega, tapi juga sukacita. Aku punya Allah yang hidup.
Siapa pun yang mendukung doa saya, Terima kasih. Saya tahu hari ini ada seseorang yang berdoa buat saya. Supaya saya ga jadi anak yang durhaka sama Tuhan.
Hari ini saya merasa bebas. Sesak di dada saya hilang. Saya merasa merdeka. Serius dehhh. Bukan promosi.
Mengampuni situasi. Mengampuni kelemahan dan ketidak mampuan saya. Mengampuni ketidaksempurnaan saya.
Sungguh, Tuhan itu baik. Tuhanlah yang menjaga keluar masukku. Dialah penjaga hidupku.
Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.
Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.
Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.
Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.
Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.
Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.
Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.
Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.
Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.
Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.
sumber : rhenald kasali
Ini sih pelajaran dari pengalaman saya menyusui. Saya sudah belajar dan banyak membaca tentang menyusui dan cukup percaya diri untuk memberikan ASI eksklusif buat Gyan.
Tapi semuanya ga cukup. Kenapa? Saya tetap buta jika tanpa latihan. Saya buta juga karena ga bertanya riwayat menyusui ibu saya yang ternyata menurun pada saya.
Emang emak saya kenapa? ASI-nya kurang ok. Biasanya ASI kan ada dua. Pada saat awal proses menyusui yang keluar foremilk dulu. Foremilk warnanya lebih bening dan lebih encer. Seteleh foremilk di payudara habis, baru keluar hindmilk. Nah, hindmilk ini yang bikin bayi kenyang karena banyak mengandung lemak.
Yang jadi masalah. Emak saya hanya mengeluarkan foremilk dan ternyata kakak saya juga begitu.
Di bulan pertama Gyan menyusu bisa 30 menit lebih. Jauh dari batas normal menyusui. Dari yang saya pelajari, rata-rata bayi menyusui hanya sekitar 20 menit. Gyan ga, bisa lebih dari itu. Makanya di bulan pertama, saya sangat sangat sangat kurang tidur.
Emak saya sudah menyarankan supaya kami memberikan sufor pada Gyan. Saya tetap ngotot memberikan ASI. ASI eksklusif sudah jadi kerinduan saya bahkan dari sebelum hamil.
Suami dan ibu mertua sangat mendukung saya. Tapi, mereka juga keheranan karena ASI saya sangat sedikit. Bahkan payudara sudah bengkak, diperah dua-duanya pun tidak sampai menghasilkan 30 ml. Padahal sudah menyusui Gyan tiap 2 jam sekali.
Orang-orang yang datang dam bertamu pun semakin membuat saya tertekan karena mau tidak mau saya menjawab pertanyaan yang sama lagi dan itu-itu lagi. Diberi saran ini itu. Makan ini, makan itu. Jangan stress, jangan nangis.
Hahhahaha, udah kena baby blues sampai mau ninggalin Gyan sama bapaknya gara-gara tertekan. Nangis hampir tiap malam karena ga bisa bikin Gyan kenyang. Sedangkan katanya ASI lancar kalau ibunya santai dan senang. Nah loohh kan. Keki banget waktu itu.
Tahu dari mana ASI kurang? Selain dari waktu memerah, Gyan juga kuning. Beratnya ga bertambah. Kuningnya malah menjadi.
Dokter sudah wanti-wanti waktu awal datang ke dokter anak. Pemeriksaan setelah sebulan dokter malah mempertanyakan, kenapa beratnya ga naik. Sebelum ketemu dokter, lihat timbangan Gyan saja rasanya mau nangis.
"Anak gua kayak ga keurus. Mana dibilang kisut. Dibilang kecil banget sama orang." - mau kayak gimana lagi saya sebagai ibu? Ga mungkin kan saya kasih MPASI - gile ah.
Akhirnya dokter kasih ACC buat kami kasih sufor. Apalagi payudara kiri saya juga terkena mastitis.
Mastitis adalah infeksi pada payudara. Ciri-ciri payudara bengkak, memerah, dan jika sudah parah bernanah. Mastitis berawal dari peradangan dan bakteri. Ibu yang mengidap mastitis pasti mengalami demam.
Mastitis yang saya alami sudah sampai bernanah. Setiap mencoba menyusui Gi di payudara yang bengkak dan sakit itu, saya langsung demam.
Balik ke masalah Gyan, akhirnnya saya menurunkan sedikit cita-cita saya. Berharap setelah saya sembuh, Gyan bisa ASI eksklusif. Hancur hati waktu kasih sufor ke Gyan. Antara ga rela, tapi kasihan. Ya, demi kesehatan Gyan, saya nyerah (hikss masih sedih). Waktu liat dia tidur nyenyak setelah minum susu dan dia ga pernah senyenyak itu waktu ngASI, antara seneng dan patah hati. Kok, saya ibu ga bisa kasih yang terbaik buat anak.
Ya udah, akhirnya lanjut. Saya masih perah ASI saya. Kasih ke Gyan. Gyan juga masih tetap ngASI. ASI saya bertambah banyak, tapi tetap ga sampai 30 ml dan ga keluar hindmilk (ngenes banget kalau diingat lagi ... Sedih).
Terus deh pakai sufor sampai sekarang dan Gyan menyapih diri sendiri menjelang 6 bulan. Aku ditolakkk...Dia menolakku sambil ketawa-ketawa geli.
Jadi, maksud cerita saya ... Hahaha..
Karena makin banyak calon ibu, mau kasih masukan. Persiapkan proses menyusui sebaik mungkin. Ga ada salahnya belajar pakai boneka buat tahu posisi menyusui yang benar. Karena, kalau salah posisi, bakal sakiittt bangettt. Bahkan bisa mastitis itu.
Banyak nanya sama emak sendiri riwayat menyusui mereka. Kayak saya ini, saya udah pede aja, tapi ternyata ada riwayat seperti itu yang menurun ke kakak saya juga. Kalau dari awal saya tahu, saya mungkin siap dan akan cari tahu solusinya supaya saya bisa tetap full ASI.
Jangan ambil pusing apa kata orang. Banyak orang akan memberi saran ini itu sampai kepala mau meledak. Bagus sih kalau kita ga masalah soal menyusui, kalau masalah, nah, siap-siapin hati. Semua orang punya niat baik, tapi ga harus kita turutin semua.
Taruh mimpi kita sebagai ibu di bawah kaki Tuhan. Mungkin Tuhan juga ijinin ini supaya saya ga jadi emak-emak yang sombong. Coba kalau saya berhasil ASI eksklusif, mungkin saya akan mengatai anak yang pakai sufor anak sapi. Akan menghakimi ibu mereka kurang usaha, males dll.
Tumpang tangan payudara kita juga salah satu hal yang terpikirkan oleh saya, seandainya ... Mungkin... Punya anak lagi. Mama saya bisa punya riwayat seperti itu ... Tapi, jika Tuhan berkenan ... Mungkin Ia mau berbaik hati pada saya dan mengabulkan kerinduan saya yang tidak tercapai saat menyusui Gyan.
Sudah dari minggu kemarin saya mau bagiin hal ini. Saya hanya tidak mau ada orang yang mengalami seperti saya lagi. Minimal ... Kalau ada yang baca ini dan menghadapi hal yang sama .. Bisa terhibur juga.
Para calon ibu, semangat yaaaa!! Melahirkan itu sakitnya ga seberapa. Mengurus anak sampai besar kesakitan yang paling kuat yang akan kita rasakan. Tapi, rasa sakit itu setimpal dengan semua pertumbuhan yang kita lihat pada anak-anak kita.
Semangatttt!!! Tuhan berkati kehamilannya \^^/
Apa maksudnya judul di atas?
Sehubungan dengan masalah pasangan hidup hahahha. Karena saya sedang menyeterika, saya nulis cepat dan langsung aja dah.
Ada beberapa hal yang membuat wanita rajin menunggu pasangan hidup, tapi tidak siap juga dipertemukan dengan PH.
Hampir semua wanita memimpikan sebuah pernikahan. Kita bisa saja langsung menikah dengan siapa saja yang datang pada kita, tapi tentu saja kita yang mengenal kebenaran tidak melakukan itu. Kita wanita diajarkan untuk menunggu, tapi apakah kita menunggu dengan benar? Apakah kita menunggu hanya sekedar menunggu?
Memangnya kita harus melakukan apa selama menunggu?
1. Membangun diri
Banyak dari kita menunggu dengan baik dan berharap pria pilihan Bapa datang melamar kita, tapi tidak sedikit juga yang menunggu dalam diam. Diam yang seperti apa? Tidak ada usaha untuk membangun karakter-karakter yang dibutuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi. Mungkin kita sudah banyak membaca buku tentang membangun hubungan, tapi apakah kita sudah membaca buku bagaimana menjadi wanita-Nya Allah? Sudah? Apakah sudah dipraktekkan?
Yang perlu kita ketahui, menjadi seorang isteri lebih sulit dari yang kita lihat. Kita harus berani memgkonfrontasi kesalahan suami kita tanpa mengurangi rasa hormat dan tunduk. Kita harus taat pada keputusan suami pada saat keinginan hati kita yang paling dalam harus dikorbankan. Kita harus menjadi isteri yang lemah lembut saat suami bersikap menyebalkan. Kita harus tetap mengutamakan cinta pada pasangan daripada anak, sekali pun suami lupa bersikap mesra.
Susah sekali? Ya, kalau kita tidak pernah membangun karakter-karakter yang kita butuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi.
Memiliki iman untuk menikah? Bangunlah karakter wanita ilahi. Lebih dari itu, bangunlah karakter itu untuk memuliakan nama Tuhan. Wanita yang mengikat hatinya pada Tuhan akan terus membangun karakter itu sekalipun tidak akan ada yang mengikat dirinya dengan cincin.
2. Perlakukan saudara seiman pria sebagaimana mereka harus diperlakukan
Masih suka memandang rendah teman pria yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik? Merasa mereka ga mungkin mereka menjadi pasanganmu? Sikapmu berbeda pada satu saudara seiman dengan saudara seiman yang lain?
Mari dicek, murnikah hati kita pada mereka? Murni bukan cuma bicara suka-sukaan atau rasa simpati, tapi pandangan rendah dan menghakimi yang sering muncul di dalam hati kita, itu pun tanda ketidak murnian.
Tuhan menegur saya tentang hal ini sebelum saya mulai dekat dengan Aki. Saya sering memandang rendah para pria yang hidup di bawah standar hidup saya. Di pikiran saya, saya berkata, "Mereka ga sepadan dengan saya." Perkataan yang angkuh dan sombong. Secara perilaku mungkin saya tidaj melakukan yang melecehkan, tapi sikap hati saya.. Tuhan tidak berkenan akan hal itu.
Hormati dan pandang sebagai pemimpin siapa pun dan seperti apa pun teman pria kita. Dengan cara ini kita membangun karakter hormat pada suami tanpa syarat.
Buang jauh-jauh pandangan dan filosofi semua pria sama. Mulai memakai kacamata Tuhan.
3. Buatlah standar pasangan hidup, tapi jangan lupa evaluasi diri
Pengen punya pasangan yang rajin doa? Kita rajin doa ga? Pengen punya pasangan yang rajin muji dan nyembah Tuhan? Kita rajin muji dan nyembah Tuhan ga? Pengen punya pasangan yang berani kabartin Injil, kita berani ga?
Jangan sampai waktu sama kita, PH kita bukannya malah maksimal, tapi malah terhambat.
4. Seriuslah berdoa
Gimana Tuhan mau pertemukan kita dengan calon PH kalo kita sendiri tidak menganggap perkara PH sebagai perkara yang serius? Sudahkah kita berdoa untuk kesiapan diri kita? Sudahkah kita berpuasa untuk membangun roh kita?
Sama seperti kerjaan di kantor ya, kalo kita ga serius melakukan bagian kita pada saat training, jabatan yang kita inginkan pasti akan diberikan pada orang lain.
Tidak perlu malu berdoa tentang pasangan hidup. Tuhan sudah tahu isi hati kita, apa yang mau dimaluin lagi?
Jadi, serius ya berdoanya.
5. Bukalah pergaulan seluas mungkin
Saudara seiman ga selalu di gereja yang sama loohh. Bangunlah pergaulan dengan saudara seiman seluas mungkin. Bergabung di forum, group, atau apa pun yang membangun iman dan karkter.
Jauhkan dulu pikiran meluaskan pergaulan supaya dapat jodoh, tapj miliki motivasi dengan banyak bergaul, kita semakin banyak belajar. Semakin mendengar banyak cerita orang. Semakin banyak mengerti cara Tuhan bekerja dalam hidup orang lain.
Jangan batasi diri. Bergaul ga harus banyak bicara, menjadi pendengar yang baik, kita sudah bisa punya banyak teman.
Itu 5 hal yang terlintas di dini hari ini. Dari 5 hal itu paling penting fokus pada membangun diri untuk memuliakan nama Tuhan. Jangan batasi diri dengan pemikiran dan keinginan kita.
Pakai pikiran dan perasaan Kristus, nanti otomatis kita tahu apa yang harus kita lakukan.
Yaaaaa.... Itu ajahhh. Semangatttt!! Tuhan itu baikkk. Sungguhh!
Kadang, bukan menyatakan iman pada orang lain yang susah, tapi menyatakan iman pada diri sendiri.
Terbiasa melihaf apa adanya, apa yang ada di depan mata, menjadi sebuah kerja keras saat harus melihat segala sesuatu melampaui akal. Melihat kapasitas sendiri, rasanya ga mungkin untuk mengalami hal yang lebih dari yang dilihat dan dirasa.
Tapi kan Firman Tuhan bicara lain...
Tapi kan kenyataannya bla bla bla bla...
Tapi kan Tuhan janji ini dan itu
Tapi kan kamu sendiri bla bla bla...
Bukan yang diluar daging kita yang menjadi musuh kita, tapi apa yang ada di dalam kepala dan apa yang ada di dalam dada. Apa yang kita rasa-rasa dan apa yang kita hitung-hitung.
Itu kenapa, sering-seringlah membicarakan Firman atau minimal menuliskannya kalau kita jarang bicara. Kenapa? Supaya suara Roh Kudus lebih keras dari pada suara pikiran manusia kita, perasaan manusiawi kita. Dengan begitu, roh kita juga menjadi kuat untuk mengambil keputusan dan melakukan apa yang benar.
Berapa banyak dari kita, wanita, sering merasa menjadi korban dari sebuah situasi. Merasa terjebak dalam sebuah keadaan yang sepertinya salah. Pekerjaan yang salah, pasanggan yang salah, keputusan yang salah, lingkungan yang salah, dan situasi yang salah lainnya.
Saya salah satu orang yang bisa menyebutkan berbagai hal yang menyebabkan saya merasa berada di situasi yang salah. Merasa menjadi si pemeran utama yang selalu menjadi korban dan si penerima penderitaan.
Dengan sifat yang melankolis, hal ini bisa menjadi hal yang sangat menyiksa. Dengan segala macam detail kesalahan yang "tidak seharusnya" saya alami, saya merasa seluruh dunia membenci dan memusuhi saya.
Haiii, mungkin saya tidak sendirian. Ada banyak orang lainnya yang merasakan apa yang saya rasakan. Di sini saya hanya ingin mengatakan, benar-benar menyenangkan saat berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita.
Tapi tahukah kamu, dengan berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita, pusat dari dunia, kita sedang membohongi dan merusak diri sendiri. Kita percaya bahwa cerita dirancang hanya untuk mewarnai hidup kita.
"Lihat aku! Aku sedih! Aku terluka! Seharusnya kalian mengerti!"
" Hari ini aku sangat senang! Tidak seharusnya kalian merusam kesenanganku!"
Tapi, kita harus sedikit keluar dari lingkaran "kenarsisan" kita dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kita melihat apa yang terjadi dalam hidup orang-orang sekeliling kita?
Ya, mereka punya cerita mereka masing-masing. Mereka punya masalah yang mereka bawa sendiri-sendiri. Ada yang terlihat lebih ringan, ada yang lebih berat.
Ada orang yang datang ke hidup orang lain untuk membantu mengangkat beban, padahal ia sendiri sudah membawa bebannya sendiri. Ada yang datang meletakkan bebannya pada orang lain, lalu pergi meninggalkan orang itu sendiri. Ada pula yang memilih mengangkat bebannya sendiri tanpa melibatkan siapa pun dan ia sendiri pun tidak mau dilibatkan dengan beban orang lain.
Anehnya, ada yang mengangkat dan menerim beban dari orang banyak, tetapi senyumnya tetap lebar dan hidup. Ada yang bebannya ringan, tapi membawanya seperti bertontonn.
Mengapa begitu? Karena semuanya bergantung pada siapa pemeran utamanya.
Saat kita menyadari segala reaksi, respon, dan tindakan kita mempengaruhi cerita dari hidup orang lain. Kita akan lebih berhati-hati. Cerita apa yanb ingin kita bangun, cerita bahagia untuk semua orang atau cerita bahagia untuk kita sendiri?
Semuanya terserah kita.
#NyonyaDasterBahagia #amsalfoje
Gambar: answeritsa.wordpress
-
Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
-
Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
-
Dua hari lalu salah satu sahabat terbaik saya tahu-tahu inbox saya di FB. Ngucapin selamat ulang tahun yang sangat telat. Walau pun ga memp...
-
Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
-
Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih. Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
-
Satu bulan kurang tanpa sosial media, saya tersadar... Banyak berita, artikel, status, yang terlihat membesarkan hati sekelompok orang tapi ...
Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

