Dalam Diri Kita Pun Ada Si Tokoh


Baru saja pulang dari latihan P-SRAN...Mengamati teman-teman yang mendapatkan peran penting saya gatal ingin memberikan saran pada mereka. Setelah memberikan saran saya masih berpikir apakah yang saya sampaikan telah menyamakan persepsi kami tentang peran yang ia lakoni??

Waktu itu saya menuliskan Empati menjadi kunci seorang aktor untuk dapat memerankan suatu tokoh dengan kuat, tapi sejak dari tadi saya berpikir dan menemukan bahwa empati itu tidak semua orang bisa melakukannya secara otomatis. Empati biasanya muncul karena adanya kesamaan perasaan, pikiran, dan pandangan.
Tedeng!! Jadi...?? Untuk dapat memerankan tokoh dengan baik memang tidak gampang dan memerlukan empati. Bagaimana melatih empati di dalam diri kita??

Sadari bahwa karakter, perasaan, pikiran, pandangan si tokoh, walau cuma sedikit, semuanya ada di dalam diri kita. Hanya saja dalam porsi yang berbeda.

Hal inilah yang harus kita sadari, 'si tokoh' yang ada di dalam diri kita, kita keluarkan dan biarkan mendominasi untuk sementara. Mengeluarkan sisi lain dari diri kita yang sebenarnya ada, tetapi tersembunyi oleh karakter kita yang lain. Dengan cara ini, tidak akan sulit untuk kita berperan menjadi si tokoh.

Oleh karena itu, sebagai seorang aktor memang tidak cukup hanya sekedar membaca, tetapi juga perlu belajar menganalisa tokoh dalam naskah dengan detail. Setelah mengerti apa yang terjadi pada si tokoh, tugas kita adalah menggali apa yang ada di dalam diri kita, yang sebenarnya sama seperti apa yang si tokoh itu rasakan. 

Saat kita dapat mengerti emosi dan pikirannya, yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita mengekspresikan diri kita sesuai dengan karakter si tokoh. Orang yang tenang akan cenderung lebih datar pada saat marah, orang sanguin akan lebih meledak-ledak dan sebagainya. Mungkin dari sini perlu juga belajar psikologi tentang karakter manusia.

Kira-kira itu yang saya dapatkan dari latihan hari ini. Semoga memberkati.

0 Comments