Kok bisa orang gagap nerima kebaikan dan kasih sayang? Iya, bisa. Berawal dari rasa takut dimanfaatkan, takut kebaikan yang kita terima jadi hutang kepada orang tersebut. Tentu saja pemikiran seperti ini sebagian besar hasil dari pola asuh plus pengalaman masa lalu (atau melihat, mendengar pengalaman orang lain).
Gw salah satu orang yang dulu gagap menerima kebaikan dan kasih sayang orang lain. Bahkan apresiasi saja gw bingung cara meresponnya.
Otak gw termakan narasi "orang yang memuji = penjilat, bermuka dua, ada maunya". Ya, orang yang suka memuji mungkin penjilat tapi kan mungkin juga bukan.
Pemikiran gw mulai agak berubah saat mulai masuk komunitas gereja. Kami diajarkan untuk memberikan apresiasi dan melihat sisi terbaik dari seseorang.
Baca-baca buku kepemimpinan lebih mengajarkan lagi pentingnya apresiasi dan penghargaan. Gw mulai belajar mengapresiasi teman-teman gw, keluarga gw. Mengingatkan sisi-sisi baik dari mereka.
Tapi kebiasaan ini ga langsung mengubah gw jadi orang yang tahu cara nerima pujian. Pernah satu hari, gw dan teman-teman mahasiswa ada tugas bantu dosen di projek kerjanya. Gw lumayan kewalahan saat itu. Waktu pulang, dosen gw muji gw, tapi gw malah ngejawab dengan bilang kalau gw ga puas dengan hasil kerja gw sendiri. Air muka dosen gw keliatan banget sebelnya. Saat itu gw sadar respon gw salah. Pola pikir gw yang perfeksionis, jelek banget. Bukan buat diceritakan begitu saja. Itu juga strategi buruk untuk membuat image 'tidak sombong'.
Dari situ gw sadar kebiasaan gw memandang sebuah pujian benar-benar buruk. Setelah gw bayangin lagi,.. ya, itu cara yang memuakkan untuk menerima sebuah pujian. Gw pun ga suka saat muji orang tapi orang itu tetap fokus pada kelemahan dan kekurangannya sendiri. Berasa kebaikan gw ditepis dan dianggap ga penting.
Pelan-pelan gw perbaiki pola pikir gw ini. Mulai belajar bilang terima kasih pas dipuji atau membawanya dalam candaan. Dari kebiasaan itu gw mulai luwes menerima apresiasi dari orang lain. Walaupun apresiasi tersebut ga banyak ngaruh ke otak gw (bahasa kasih gw act of service dan sentuhan), tapi liat respon positif orang apresiasinya diterima, bikin gw ngerasa lebih happy. Ternyata nerima apresiasi orang, bikin orang itu happy juga.
Menerima pujian ga bikin kita otomatis sombong, tapi itu bisa menjadi tanda kita menerima niat baik orang lain yang mau menghargai hal-hal baik dalam diri kita. Semuanya kembali untuk kemuliaan Tuhan.
Mulai dari belajar menerima apresiasi inilah gw akhirnya belajar menerima kasih sayang. Saat orang menawarkan bantuan, pemberian, gw menerima dengan penuh terima kasih.
Dari menerima kebaikan orang, gw belajar menerima kasih sayang. Boleh loh sekali-kali bermanja. Bisa bilang ke Aki apa yang gw mau tanpa malu-malu. Nerima hadiah dan perlakuan sayangnya tanpa merasa kaku. Gitu juga kasih sayang dari orang lain yang terdekat. Sambil gw menikmati kasih sayang mereka, gw memberi apresiasi dan menunjukkan rasa terima kasih yang tulus. Bukan rasa diri ini jadi beban bagi orang lain.
Iya, ternyata untuk menyadari diri kita itu dicintai pun perlu banyak latihan.

0 Comments