[IMAN KRISTEN] Mewek Waktu Daftarin Bocah SD


Ini kejadian bulan September lalu, tapi saya belum menuliskannya secara detail. Saya ingin menyimpannya supaya saya bisa mengingatnya lagi.

Tahun depan si bocah kami satu-satunya akan masuk SD dan  tidak seperti sekolah negeri, untuk sekolah swasta biasanya sudah membuka kuota pendaftaran sejak mendekati akhir tahun. Bulan September kemarin salah satu orang tua murid yang sekelas dengan si bocah di TK B memberikan informasi bahwa SD yang sudah lama kami incar sudah membuka pendaftaran. Mereka juga memberikan diskon besar untuk pendaftar pertama. 

Mungkin karena saya bukan tipe yang berespon cepat pada diskon, saya tidak buru-buru mendaftarkan bocah. Iya, bagaimana mau menikmati diskon kalau duitnya saja tidak ada. HAHAHHAHA (hussss). 

Tapi dengan info dari sesama orang tua tersebut akhirnya saya menanyakan biaya total pendaftaran murid baru tanpa embel-embel diskon. Maksudnya ya kami mau memperhitungkan sanggup mencicil berapa kali. Setelah mendapatkan info dari kepala sekolah SD saya menghitung total biaya dan narik napas berat melihat berapa biaya yang akan kami keluarkan.

Iya, pendidikan di Indonesia memang mahal. Apalagi kalau berharap sekolah bisa menyediakan pendidikan yang benar-benar berfokus pada minat bakat anak... Sekolah tempat saya bekerja dulu memakai kurikulum seperti itu dan harganya bikin mau ketawa guling-guling sambil menangis berderai-derai. Iya, kan kami bukan keluarga sultan. Biaya SD yang kami incar ini masih termasuk bisa kami sanggupi walau harus mengencangkan ikat pinggang. Demi si bocah, apa pun akan kami kasih yang terbaik semampu kami.

Saya memberi tahukan pada Aki biaya pendaftaran SD dan dia ikutan stress melihat berapa biayanya. Hahahah. Akhirnya kami diskusi dan membicarakan bagaimana mengatur uang supaya bisa mencicil biaya daftar. Walaupun di bank kami ada tabungan, kami mencoba berpikir buruk-buruknya dulu dan dari situ kami menyiapkan diri supaya bisa melewati masa mengencangkan ikat pinggang. Saya juga sudah memikirkan mengatur ulang hal-hal yang bisa saya lakukan untuk mengurangi pengeluaran atau menambah pemasukan. Stress? Iya. Tapi tidak seperti dua tahun lalu. Respon kali ini saya lebih tenang. Otot-otot mental saya sepertinya sudah lebih terlatih. Ada keyakinan bulat kalau Tuhan akan sanggupkan kami.

Sampai hari H saya datang ke sekolah untuk membeli formulir pendaftaran dan menemui kepala sekolah. Kami diskusi tentang biaya, sistem belajar dll. Tiba-tiba Ibu Kepala Sekolah bertanya, "Anaknya dari TK mana?". Saya menjawab asal TK si bocah. Ibu Kepsek langsung bilang, " Karena TK S sudah banyak rekomendasi sekolah ini ke orang tua muridnya, saya kasih potongan harga ya bu."

Saya mengucapkan terima kasih dan bersyukur bisa mendapat potongan diskon. Saat itu yang saya pikirkan potongannya sekitar 300-500ribu. Tapi saat saya melihat Ibu Kepsek menulis angka potongan harga yang mencapai 25% dari biaya total, air mata saya mau tumpah. HAHAHAHA. Saya lemas dan merinding.

"Ibu banyak amat?" kata saya saat itu. Saya ingat sekali suara saya gemetar menahan tangis. Ibu Kepsek menuliskan cicilan yang bisa saya bayarkan selama 3 bulan dan mengingatkan kalau saya bisa melunasi lebih cepat, ya lebih baik. Saya mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Saat pulang, begitu keluar gerbang, setelah menyapa security, air mata saya tumpah. Ada rasa senang, lega, merasa dibela, beban yang ternyata sebenarnya berat, terangkat dan membuat bahu saya terasa lebih ringan.

Awalnya kami sudah siap tempur dengan "peperangan" yang ada. Apa saja akan kami lewati, walau sakit tapi pasti Tuhan pelihara. Itu saja yang ada di otak saya. Makanya saat mendapatkan keringanan biaya, Rasanya....Sebagian besar ketegangan di dalam jiwa saya langsung reda. 

Saya langsung memberitahukan Aki tentang kabar baik itu dan tentu saja dia ikut senanggg.

Ternyata kebaikan Tuhan belum sampai di situ. Sekalipun kami sudah mendapatkan potongan harga, kami tetap harus menghemat beberapa pengeluaran untuk membayar sisanya. Selama itu pesanan lukisan malah banyak masuk dengan cara yang tidak diduga-duga. 

Tepat bulan sebelumnya saya juga memisahkan dana usaha dan gaji saya sebagai pekerja,walau bisnis yang saya jalankan adalah bisnis saya pribadi. Jadi, saat ada kekurangan saya pinjam dari dana bisnis yang bulan depannya saya kembalikan lagi. Terus belajar mengelola keuangan supaya tidak perlu meminjam dari kas usaha lagi.

Bulan depan cicilan terakhir kami. Sisanya kami menyiapkan bocah untuk siap masuk SD. Entah kelas online atau tidak, itu nanti lagi dipikirkan. 😁

Pic: Free-Photos / 9089 images





Post a Comment

0 Comments