[CURHAT] Haruskah Saya Bangga Jadi Perempuan? Sebuah Drama PMS



Hi temans, 
Buat kamu yang tahu-tahu baca postingan ini, maafkanlah sampah-sampah ini. Kamu bisa langsung tutup postingan ini dan kembali dengan kesibukan. Karena postingan ini hanyalah sebuah postingan tempat buang sampah seorang perempuan biar waras lagi. 


Kebanyakan ibu-ibu mungkin akan kangen hamil lagi kalau sudah menghadapi datang bulan. Iya, setidaknya itu yang saya pikirkan saat menghadapi masa menstruasi. Tapi, saat saya pikirkan lagi, membayangkan bagaimana beratnya hamil, emosi ga stabil, diet makanan asin dan manis supaya terhindar dari preaklamsia... Saya tarik kata-kata saya 🤣🤣. Kesakitan dan kegalauan menstruasi paling lama seminggu. Kalau hamil harus merasakan tulang kemaluan ditekan dengan keras, perut ditarik seperti mau meledak, kaki sering kram, ga bisa tidur tengkurap (paling penting).. Rasain itu selama 9 bulan... Ga dehh 😂😂. Belum lanjutan kurang tidur, stress nyusuin, dll. Bisa dibilang saya kapok hamil. 

Kapok hamil pun berdasarkan perhitungan saya sebagai perempuan yang sudah menjalani hidup sebagai ibu selama 5 tahun ini. Setiap PMS emosi saya ga karuan. Marah, sedih, merasa diabaikan, kesepian, tapi maunya sendirian, paling parah memikirkan gimana caranya biar bisa mati tanpa rasa sakit. 

Beberapa tahun yang lalu saya malabel emosi-emosi saya ini dengan frasa "Kurang Iman" dan label itu semakin membuat saya menggila. Korbannya? Diri sendiri dan anak saya 😭😭. Sampai akhirnya saya cari tahu dan analisa sendiri dan saya mendapati kondisi saya ini hanya pada saat PMS. Jaman saya belum menikah, PMS saya ga separah ini. Menyadari hal itu saya sedikit lega. Tapi membayangkan harus menghadapi emosi-emosi yang sama setiap bulan... Saya sering mau menangis membayangkannya. Jujur, saya takut.. Sangat takut... 

Saya berharap bisa menyingkirkan setan bulanan saya itu dengan cepat. Sayangnya, saya belum menemukan caranya. Sejauh ini saya hanya bisa memotivasi diri saya bahwa kondisi saya hanya sementara. Jangan kemakan omongan setan bulanan yang menuduh dan mengintimidasi saya dengan intens. 

Setiap kali dia datang, saya merasa benci menjadi wanita... Benci karena harus mengalaminya setiap bulan. Saya tahu perasaan ini ga bener dan tentu saja tidak saya beri makan. Sekuat tenaga saya berusaha fokus dengan pekerjaan saya dan mengabaikan emosi-emosi yang menusuk-nusuk punggung atau mengikat leher saya. 


Oh, tunggu.. Setidaknya saya punya Tuhan yang akan dengerin tumpahan emosi dan tangisan meraung, serta kesedihan tak berdasar saya. Hehhehe... 







Jangan lupa subscribe blog ini ya buat dapet info postingan terbaru atau follow IG saya di @lasma_manullang

Post a Comment

0 Comments