[Iman Kristen] Ketika Lebih Butuh Didoakan Daripada Dinasehati

April 24, 2018






Ngomong soal curhat, sebagai seorang introvert, curhat itu biasanya kalau kepepet baru saya lakukan. Antara mau meledak atau bener-bener mentok ga tahu jalan keluar. Perlu ngeluarin sampah busuk biar hati dan pikiran ga ikutan busuk lalu lama-lama jadi manusia busuk (apa sihhh Las).




Tapi terkadang sesi-sesi curhat ga semanis yang diharapkan oleh orang macam saya yang terlalu banyak nuntut dan mengharapkan kesempurnaan. Iya kaliiiii... masa mengharapkan teman kita jadi tong sampah yang berespon bak ahli terapis handal yang tahu semua jawaban (emangnya Tuhan...)



Kenyataannya memang begitu ya, sering kali kita curhat (terutama kamu hai Melankolis), hasil dari curhat malah bikin tambah frustasi karena orang yang dicurhatin ga mudeng. Responnya ga sesuai. Ga jarang malah kita yang jadi pendengar, pendengar atas nasehat A, B, C, D. Itu juga beranak jadi 
A. 
a) 
b)
c)... 

B. 
a) 
b) 
c) 

Seringnya dalam hati bilang, "Iye, gua udah tahu...!" tapi ga diungkapkan karena ga enak sama orang yang jadi "tong sampah". Huahahha... Asli saya ngaku dosa ini mah. Pleghmatis abissss sampai semua diendep ke jurang bawah sadar yang terdalam sampai ke inti bumi. Ice berg juga kalah. 

Eh, tapi ga selalu begitu. Ada satu tindakan yang membuat saya lega melebihi kelegaan mendapat nasehat seperti apa pun, yaitu DOA. 

Iya, setiap saya didoakan, selalu merasa lebih baik dan lega. Pikiran jadi lebih jernih, lebih kuat, dan ga ngerasa sendirian. Entah doa lewat telepon atau tumpang tangan. Tumpang tangan malah lebih nampol lagi rasanya.



Pokoknya setelah didoakan berasa baru selesai massage 1 jam. Beban itu kayak rontok, luruh, diguyur air sampai bersih. Macam daki 1 satu tahun digosok sampai bersih. 

Omongan saya ini ga lebay lohh ya. Itulah yang saya rasakan. 

Makanya kadang kalau dapet curhatan temen, saya lebih banyak didorong (oleh Roh Kudus) untuk mendoakan. Lewat doa saya bisa menyampaikan kebenaran tanpa menghakimi atau menilai. Kadang Tuhan juga taruh pesan khusus di dalam hati saya tentang orang yang sedang didoakan. Ituu kalau saya lagi 'lurus'. 

Tapi kalau saya lagi error saya juga lebih banyak menasehati dan mengoreksi hehhehe... Lebih banyak meluncur kata-kata dulu daripada membangun koneksi dengan Tuhan untuk menjawab kebutuhan orang yang sedang menuangkan uneg-unegnya pada saya. Hasil dari nasehat itu kadang saya lihat malah membuat orang yang bersangkutan merasa dihakimi atau minimal ga ada lega. Nambah pikiran iya. 



Ya gitulah kalau saya nasehatin orang pakai hikmat saya sendiri, menurut pengalaman saya sendiri, semuanya malah fokus sama kemampuan saya dan menurut saya bersama dengan segala pesan sponsorny ... Ngerasa hebat gitu kayaknya. 



Puji Tuhan sih masih disadarkan. Makanya nulis postingan ini supaya saya selalu ingat, koneksi sama Tuhan. Tanya. Pakai hati dan pikiran Tuhan sebelum berkata-kata. Lihat lebih dalam dan jawab kebutuhan bukan jawab biar kelihatan pintar atau bijak atau ngerasa paling tahu solusinya. 

Jadi, ga perlu nasehatin?? Bukan ga perlu, tapi arahkan fokusnya yang tepat. Nasehat yang kita berikan kita pastikan untuk membangun dan membawa orang pada kasih Tuhan, apa kata Tuhan buat dia. Itu sih kunci utamanya. Jangan fokus salah atau bener dulu deh, fokusnya sama 

"Tuhan punya rencana apa buat hidup dia."


Paling baik lagi, saat ga tahu harus nasehatin apa, ya doakan. Doa selalu menjawab kebutuhan. Walau masalahnya ga selesai dengan cepat, minimal hati dan pikirannya sudah diubahkan (semoga). Bahkan doanya pun jangan asal doa. 

Doanya itu seperti kita jadi kayak 


"Iya Tuhan, tolong lihat temanku ini. Aku tahu Tuhan sayang dia, Tuhan pasti bantu dia dalam setiap masalah. Sama seperti Tuhan sudah banyak menolongku. Beri dia jalan keluar, Tuhan. Terutama damai sejahtera yang dari Tuhan. Dia sangat membutuhkanmu."




Doa seperti di atas membantu orang lain merasa ditopang. Kata-katanya ga indah, tapi kalau kita tulus pasti berasa. Kasih Tuhan tuh nyampe ke orang tersebut. 

Ada lagi doa yang meneguhkan dengan mengucapkan janji-janji yang dari Tuhan.

" Tuhan, Lasma percaya ga ada usaha yang sia-sia. Tuhan pasti akan berkati study sahabatku ini. Engkau akan memberikan dia hikmat yang dari Engkau. Menguatkannya dengan kesehatan dan vitalitas yang baik. Engkau juga yang akan memberikan penghiburan, damai sejahtera dan sukacita sehingga studynya bukan hanya menjadi berkat buat orang lain tapi juga dirinya sendiri. Engkau yang melingkupi dia dengan kuasa-Mu, kekuatan-Mu. Biar imannya bulat, kuat, teguh di dalam Engkau Tuhan."


Tiap saya didoakan yang mirip-mirip kayak di atas ada rasa bisa berdiri lagi. Bisa tahu harus pegangan ke mana lagi. Rasanya seperti dibangunkan dan punya iman 

"Oh, iya rohku lebih besar dari roh di dunia ini. Allahku lebih besar dari semua masalahku. Aku ga perlu takut. Apa pun jadinya nanti, Tuhan memberi yang terbaik dan aku pasti sanggup menghadapinya."




Setelah doa rasanya tuhhh... HUAH... masalahnya sih belum selesai, tapi beban itu kayak diangkat. Pikiran-pikiran negatif itu terhempas. Rasanya lebih sanggup untuk menghadapi dunia. Walau mungkin besoknya baper dan ciut lagi... Hahahha. Tapi minimal saya sadar, saya ga sendirian.

Ya, itu sedikit cerita saya tentang sesi curhat dan dicurhatin. Semoga bisa membantu (walau sedikit) kalau nanti ada teman yang curhat.



You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)



recent posts