amsaLFoje -A Long Life Learner-
Hal yang biasa dan wajar buat anak Tuhan punya kerinduan untuk bisa melayani di Rumah Tuhan, terutama bersama saudara seiman. Yang jadi masalah, saat kita mau, tapi kita tidak bisa.

Eh, ternyata banyak ya yang kayak begini. Bukan cuma saya yang ngalamin. Bahkan mereka yang single dan belum menikah.

Nah, yang sudah menikah apa kabar pelayanannya?? Saat sibuk mengurus anak karena mengurus sendiri dan banyak lagi kondisi yang membuat kaki tidak bisa melangkah.
Baru-baru ini Gyan bongkar-bongkar laci bajunya. Waktu dia mau tutup ga sadar tangannya ikutan kejepit.

Nah, kebiasaan kita orang tua suka kayak gini. Kalau lihat anak sudah mengalami sesuatu yang buruk, kita akan bilang..

" Tuh, kan dibilangin. Udah jangan lagi."

Setelah itu anak jadi kapok dan ga mau belajar lagi. Yang dipikiran, itu laci berbahaya dan bisa menyakiti.

Padahal, harusnya kita bilang, " Tuh kan. Makanya hati-hati."

Menjauhkan anak-anak dari kegagalan ga membuat anak punya mental pejuang. Yes, biarkan mereka ngerasain sakitnya, lalu ajarkan bagaimana seharusnya mereka menghadapi situasi itu dengan cara lebih baik.

Kalau kita, malah berusaha anak supaya ga merasakan kegagalan. Akhirnya anak-anak ga belajar apa pun, ga ahli dalam hal apa pun, parahnya mental mereka jadi mental tempe dan langsung mundur saat mereka baru gagal sekali.

Ah, ya belajar lagi sebagai orang tua

*pelajaran kemarin.

lasmamanullang.blogspot.com
Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih karena itu, dia mengampuni orang-orang yang dengan rendah hati berbalik pada-Nya serta memberikan hidup kekal pada yang menyerahkan hidupnya dalam iman kepada Kristus.
Tapi, Allah itu juga adil dan Maha Benar, karena itu kita tetap akan menanggung dosa akibat dari perbuatan dosa kita di dunia.
Itulah mengapa Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan, itulah mengapa Daud kehilangan anak pertamanya dari Batsyeba istri Uria.
Allah mengampuni, tapi Allah tidak melupakan. Allah tidak dapat dipermaikan. Takutlah akan Allah dan ingatlah Ia ada di mana pun kita berada bahkan di tempat tergelap di sudut di dunia ini.
Sejak jadi ibu-ibu, saya merasa lebih jadi perempuan. Bukan karena sudah punya anak, tapi karena jadi lebih gampang tersinggung dan susah bersyukur.

Entah kenapa kebiasaan-kebiasaan buruk  perempuan yang sering disebut-sebut orang, yang pada masa single jarang saya alami, waktu sudah punya anak jadi keluar semua. Hahahha. Jujur, saya merasa tidak mengenal diri saya kadang.

Tapi sebenarnya ternyata benih kebiasaan buruk itu bukannya saya tidak punya, tapi memang sudah ada lama, hanya saja baru keluar saat mendapat tekanan dan masalah. Jadi, justru kebiasaan-kebiasaan jelek itu adalah diri saya sebenarnya yang saya tidak pernah tahu ... Tapi pasti Tuhan tahu... -_-

Jadi, kebiasaan apa yang paling saya rasakan akkhir-akhir ini? Kebiasaan hati saya yang menuduh dan "sukur-sukurin" (sukur loo!! - kayak gitu maksudnya) kondisi saya. Hati saya menuduh saya dan mengatakan saya pantas mengalami penderitaan karena saya tidak begini atau begitu, membanding-bandingkan keadaan saya dengan orang lain, dan ujungnya mengasihani diri sendiri.

Kalau sudah mengasihani diri, fisik yang udah lelah menjadi semakin terasa lelah. Makin terasa berat menjalani hidup.

Dipikiran selalu bilang, " Lo sih enak ada ART yang bantuin! Gua kerjain semua sendiri!! Ga jarang tidur cuma 2 jam cuma biar semua beres!!"
Lalu hati nurani menjawab, " Itu kan pilihan yang sudah kamu ambil. Kenapa mengeluh? Kamu masih punya mesin cuci. Ada mertua yang sesekali memberikan makanan. Bisa pakai komputer dan internet untuk kerjain bisnis. Anak ga pernah sakit walau pun kadang rewel. Coba lihat Ci Lia anak 3 urus sendiri. Coba lihat Mama Vale, urus anak sendiri dan ga punya mesin cuci."
Lalu saya menjawab, " Iya, Ci Lia kan ga kerjain bisnis dan yang lain. Murni senang menjadi ibu rumah tangga (berarti gua ga senang ya? Hahhahah). Mama Vale kan masih ada kakaknya, kerjain kerjaan rumah ya ganti-gantian. Saya kerjain semuanya sendirian!"

Intinya sih tiap mau bersyukur dengan membandingkan hidup saya dengan orang lain, semuanya patah karena memang kondisi yang saya alami "berasa" sudah paling susah.

Beberapa kali akhirnya saya memutuskan untuk mencari-cari apa yang bisa saya syukuri tanpa membandingkannya dengan hidup orang lain. Ya gimana mau bandingin kalau ujungnya malah jadi makin ga bersyukur hahahha.

Iya, rasa syukur  timbul bukan karena melihat yang di bawah kita, tapi dengan kemungkinan bahwa kita bisa mengalami hal yang lebih buruk. Bandingkanlah dengan keadaan-keadaan buruk yang pernah kita lewati juga.

Saya tidak bisa membandingkan hidup saya dengan orang lain baik dari sisi positif atau pun negatif. Kenapa? Karena kapasitas beda. Kondisi beda. Saya bukan orang lain dan orang lain bukan saya. Seempati-empatinya saya pada orang lain, saya tidak akan pernah bisa mengerti 100% kondisi orang lain.

Akhirnya saya berhasil membungkam mulut hati saya yang menuduh dan mencemooh saya dengan cara bersyukur yang benar. Itu Tuhan kasih hikmat Toeng begitu aja saat saya sedang mengerjakan transletan saya. Rasanya lega, tapi saat menghadapi hari berikutnya, ternyata ga terlalu lega hahahha.

Tuhan sedang mengajarkan saya untuk mendisiplinkan emosi dan hati saya. Kondisi sulit bukan berarti penderitaan berkepanjangan. Semuanya tergantung dari respon yang saya berikan.

Bersikap tenang menghadapi masalah bukan berarti ga punya hati, tapi lebih baik dari pada bertindak gegabah karena terbawa perasaan.

Hati yang menuduh itu memang perlu untuk menjaga hati kita tetap murni, tapi tuduhan yang mematahkan semangat dan meremukkan tulang, pastinya harus dikendalikan.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Semoga besok Lasma bisa jadi pribadi yang lebih dewasa dan mengenal Engkau. Amin.


Semangat pagii!! Tadinya mau lanjutin kerjaan terjemahan, tapi tahu-tahu diingatkan tentang bikin daftar ucapan syukur.

Ada apa ya pakai perlu bikin daftar ucapan syukur??

Karena lagi ga bisa bersyukur. Hehehhe..

Tiga bulan ini jadi tiga bulan terberat buat saya. Terasa seperti diberi beban batu banyak sampai berton-ton. Mungkin kaki sudah terbenam di tanah dan sudah tidak bisa jalan.

Intinya sih ya, di masalah keuangan. Saya dan Aki memulai kehidupan rumah tangga dengan keuangan yang kurang OK. Ditambah saya berhenti bekerja dengan cepat, belum benar-benar aman keuangan Gyan udah dihadiahin.

Jadi kami babak belur untuk mengatasi keuangan.

Kerja dari rumah dengan Oriflame dan bisa naik level lalu dapet bonus, itu PUJI TUHAN BANGET. Itu kayak hadiah. Tuhan pelihara kami sebagian dari situ.

Lalu datang tawaran buat jadi translator, PUJI TUHAN LAGI kami dapet berkat lagi. Tuhan memang selalu cukupkan dari hal-hal yang ga kita duga.

Tapi, beberapa bulan ini saya ga bisa menysukuri semua itu. Amarah  menumpuk di hati saya. Saya memang bekerja di rumah, tapi bagaimana pun anak jadi prioritas. Tapi, di situ juga saya jadi stress sendiri dengan jaringan yang tidak terurus, pekerjaan terjemahan yang harus segera diselesaikan. Belum lagi pekerjaan rumah yang tidak habis-habis.

Titik puncak tekanannya, saat saya mulai memikirkan kematian dan ingin menyakiti diri sendiri. Ya, gimana ya. Saking sudah tidak tahan dengan tekanan, saya merasa kesakitan fisik bisa meredakan sesak di dada saya.

Puji Tuhan, Roh Kudus masih jaga. Istilahnya saya masih hitung-hitungan, kalau nanti bunuh diri ketemu Tuhan atau ga. Kalau saya masih menyakiti diri sendiri, akan memberi efek buruk buat Gyan. Pasti.

Akhirnya cari cara buat pulih, berdoa lagi, cerita ke orang, tapi ga lega 100%.

Selama tertekan itu saya menyalahkan Aki. Semua perasaan sesak saya, saya anggap karena Aki begini dan begitu. Tapi, waktu Aki melakukan apa yang saya inginkan, saya tetap tidak senang. Saya masih merasa marah. Bukan lagi sama Aki, tapi pada sesuatu yang saya tidak tahu apa. Rasanya mau membantingkan badan ke tembok karena tidak tahan dengan tekanan di dada.

Saya jadi mudah tersinggung, mudah marah, curigaan, pengennya marah-marah dan memaki. Sudah takut kena mood disorder. Hahahha...

Lalu, hari ini sahabat saya bertanya, apa kabarnya Las??
Pertanyaan yang buat saya sudah malas menjawabnya. Sudah males mendengarnya. Bahkan sudah pada kondisi muak dengan pertanyaan itu.

Entah bagaimana,  akhirnya saya balas juga. Saya tidak mau sahabat saya merasa dicuekin ahhaha..
Saya balas, " Lagi ga bagus, Mar. Lagi susah bersyukur. Sempet empet sama idup."

Dia ga bales banyak, cuma, " ooo iya. Jangan lupa bersyukur yaa."

Sempet keki dibales begitu saja, tapi ga tahu sepertinya dia berdoa buat saya, makanya saya jadi menulis ini.

Iya, saya mau menuliskan ucapan syukur saya.

- Lasma bersyukur hari ini masih bisa makan padahal kemarin-kemarin mikir mau makan apa.
- Lasma bersyukur Gyan masih ketawa, senyum lebar, walau Mamanya marah-marah dan ga bisa ajak main dengan bebas.
- Lasma bersyukur punya suami kayak Aki, yang mau belajar berubah, pengertian, ga penuntut, selalu menghibur... walau pun istrinya ini ga pinter masak dan beres rumah, lebih sering pasang muka mesam
- Lasma bersyukur dapet kerjaan yang bisa nambah penghasilan, walau ga seberapa. Dari situ bisa kasih perpuluhan dan ajak Gyan sekolah Minggu.
- Lasma bersyukur Opa Gyan bisa beli mobil bekas, dapet berkat dari pelanggannya. Gyan jadi bisa sekolah Minggu walau harus bangun pagi-pagi banget dan ga bisa diem waktu di kelas.
- Lasma bersyukur di tengah rasa tertekan dan putus asa, Tuhan masih jagain Lasma. Lasma jarang baca Firman, jarang berdoa, bahkan udah lama ga ibadah, tapi Tuhan jagain Lasma lewat bahan terjemahan. Betapa hanya lewat anugrah dan kasih karunia Tuhan saja Lasma bisa hidup benar, bisa hidup di dalam jalan-jalan-Nya. Cuma karena oleh kasih karunia Tuhan saja Lasma punya kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan, melakukan firman-firman-Nya. Bukan karena kuat dan gagah Lasma. Bukan pula karena hikmat Lasma sendiri. Sampai hari ini saat Lasma masih bilang mengampuni itu susah, bersyukur itu susah, bersukacita itu susah, Lasma ga ngerasa Tuhan ninggalin Lasma. Tuhan masih di situ, nungguin Lasma melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Makasih Tuhan Yesus. Ampuni Lasma, Tuhan. Terima kasih atas kasih setia-Mu.
- Lasma bersyukur bisa mengalami tekanan ini. Berkali-kali Tuhan ingatkan mereka yang mati bunuh diri atau membunuh anaknya karena himpitan ekonomi. Lasma jadi ngerti apa yang mereka rasain. Sakitnya kepala dan hati karena ga tahu harus gimana lagi. Ternyata masih banyak yang butuh Tuhan.
- Lasma bersyukur dengan tekanan ini, empati Lasma lebih kuat. Lasma juga bisa lebih mengasihi diri sendiri. Belajar memilah mana yang masuk telinga, mana yang tidak boleh masuk telinga.
- Lasma bersyukur walau pun sering bergadang, Lasma ga ada sakit. Gyan juga sehat walau lagi susah makan. Aki juga sehat walau sempat pilek.

Rasanya seperti Elia yang ciut karena dikejar-kejar mau dibunuh. Waktu bersyukur begini jadi ngerasa bodoh, tapi juga lega, tapi juga sukacita. Aku punya Allah yang hidup.

Siapa pun yang mendukung doa saya, Terima kasih. Saya tahu hari ini ada seseorang yang berdoa buat saya. Supaya saya ga jadi anak yang durhaka sama Tuhan.

Hari ini saya merasa bebas. Sesak di dada saya hilang. Saya merasa merdeka. Serius dehhh. Bukan promosi.

Mengampuni situasi. Mengampuni kelemahan dan ketidak mampuan saya. Mengampuni ketidaksempurnaan saya.

Sungguh, Tuhan itu baik. Tuhanlah yang menjaga keluar masukku. Dialah penjaga hidupku.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen kumpulan puisi liburan movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • Review For Prometheus
    Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
  • [CURHAT] Berhadapan Dengan Rasa Sakit
    Hi Gorgeous!!  Menulis sepertinya jadi hal yang sulit buat saya lakukan karena terlalu mempertimbangkan banyak hal. Selain tidak ...
  • [DRAMA] Come and Hug Me - Apakah Kejahatan Menjadi Warisan?
    Come and Hug bercerita tentang Yoon Na-Moo dan Gil Nak-Woo yang bertemu pertama kali saat mereka remaja. Mereka saling jatuh cinta se...
  • [REVIEW] Genius Bath Sabun Homemade Tanpa Parfum, Paraben, & SL
    Hi Gorgeous!! Happy weekend!! Udah lama ga bikin postingan review tentang produk kecantikan yaa. Nih, kali ini saya mau review...
  • [Review] Nano Healthy Family - Pijat Puas Harga Pas
    Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...

Cinta Tertutup Luka

Cinta Tertutup Luka
Kisah Wei membalaskan luka hatinya pada ayahnya.

Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Traktir kopi

Traktir kopi
Traktir amsaLFoJe kopi supaya makin semangat nulis.

Art & Design Services

Art & Design Services

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Lasma Works
    Lasma Works
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Pengikut

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates