Perpuluhan Di Kala Kekurangan

Pixabay

Gile sih, udah lagi minus begini, masih harus kasih perpuluhan ke gereja. Tuhan tahu kok kalau saya lagi kekurangan. Masih banyak juga jemaat lain yang bayar perpuluhan lebih besar dari penghasilan saya yang cuma seiprit dan buat makan sebulan aja masih kurang.


Seandainya, saya bisa berpikir seperti itu. Ada sih saya berpikir seperti itu, tapi lagi-lagi hati nurani saya menggaruk-garuk minta diberi makan. Minta dibersihkan  dan meminta saya berespon dengan benar.

Harus ya perpulahan?? Kalau soal ayatnya ga perlu ditanya lagi ya. Dari orang yang menolak perpuluhan sampai yang mendukung dan taat melakukan, pasti tahu ayatnya. Maleakhi 3 : 10-12

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam. Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.



Di situ jelas janji Tuhan bagi siapa saja yang  mau mengisi persediaan makanan di rumah Tuhan. Tuhan berjanji akan menjaga harta kita, kesejahteraan kita, hasil kerja keras kita. Dijamin, Itu Tuhan yang janji loooh.

Rasanya saya sendiri juga sudah banyak mendengar kesaksian mereka yang setia melakukan perpuluhan dan setia memberi. Bagaimana Tuhan memelihara hidup mereka dan melipat gandakan kesejahteraan mereka. Dari yang bukan apa-apa jadi apa-apa. From nothing to be something. Woowww pokoknya!!

Makin diperkuat deh janji Tuhan atas ayat ini waktu sebulan lalu saya membaca renungan tentang perpuluhan. Cerita bagaimana seorang anak Tuhan berdoa akan memberikan perpuluhan jika mendapat pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan gaji pertamanya 500rbu. Dia terus setia memberi perpuluhan dan Tuhan mempromosikan dia naik, naik, dan naik, sampai akhirnya dia mendapat penghasilan 10 juta per bulan. 

Di saat penghasilannya 10 juta per bulan, anak Tuhan ini mulai hitung-hitungan. Satu juta itu bukan nilai yang sedikit. Lumayan bisa beli ini itu. Ia mulai tawar menawar dengan Tuhan, " Tuhan lumayan nih 1 juta. Sayang kalau buat perpuluhan. Bisa buat beli yang lain."

Lalu Tuhan menjawab apa? " Sepersepuluh dari gajimu begitu berat kamu berikan untuk rumah-Ku. Kalau begitu, aku kembalikan gajimu menjadi 500rbu, supaya kau tidak berat memberikannya untuk rumah-Ku." Dari situ si anak Tuhan tidak pakai berpikir lagi untuk memberikan perpuluhan.

Lucu ya? Lucu banget. Apa susahnya memberikan 1 juta dari 10 juta yang kita punya?? Padahal Tuhan sudah berikan yang 9 juta untuk kita. Ga susah kok!! Pasti banyak yang setuju kalau itu tidak sulit. Tidak susah.

Tapi bagaimana kalau kondisi, kita seperti keluhan di awal artikel ini? Keuangan sudah minus. Mau makan saja kurang. Gimana mau perpuluhan?? Sama saja memberikan daging sendiri untuk memberi makan gereja. Iya bukan?? Bisa mati kita!

Itu yang saya alami dua bulan terakhir ini. Pengen banget menunda perpuluhan kayak dulu. Pengen banget menyimpan beberapa ratus ribu itu yang lumayan untuk menambah persediaan makanan di dapur untuk beberapa hari. Pengeeennn bangettt...

Cumaa.. Roh Kudus tidak mengijinkan. Setiap kali menerima transferan dari suami perasaan saya gelisah. Daging dan iman bertempur. Mungkin seperti pertempuran di The Lord of The Ring. Haruskah saya bayar perpuluhan?? Haruskah?? Sudah males mikir, ya sudah, saya transfer juga ke rek gereja. Ga mau berdebat dengan kedagingan. Taat saja dulu.  

Terus bagaimana setelah perpuluhan?? Lebih minus daripada sebelum perpuluhan saudara-saudara!! Iya serius!! Apakah Tuhan melanggar janji? Ga!! Tapi kok tetep minus? Karena sekalipun minus keuangan, pemeliharaan Tuhan ada saja. Entah uang tambahan dari Oriflame, dapet voucher ulang tahun dari kantor suami,  penawaran kerja sama dari shoponline yang hadiahnya bisa saya jual lagi. Ada saja Tuhan sediakan.

Masih minus, MASIH. Justru dari kondisi yang minus itu saya bisa mengerti bahwa perppuluhan bukan cuma soal Tuhan berjaga-jaga atas keuangan kita. Bukan cuma soal harta dan uang. Perpuluhan adalah bentuk tindakan iman. Saat saya memberikan perpuluhan, saya membiarkan Tuhan berkuasa atas dapur saya, atas pemeliharaan hidup saya dan keluarga. 

Memberikan perpuluhan adalah tindakan iman saya bahwa Tuhan sungguh Tuhan yang menyediakan. Iman itu ada bukan hanya saat saya sedang bertindak. Tidak disangka-sangka, Tuhan memelihara iman saya.  Saya ga pusing nanti harus bagaimana, melakukan apa. Ga seradak seruduk dengan pikiran yang berputar "bagaimana kalau", " bagaimana nanti"... Cari penghasilan  tambahan ya udah just do it aja. Kalau duluuuu.. saya mungkin sudah stress jungkir balik. Ga bisa senyum. Semua salah suami :D.

Apalagi waktu baca Atheis Paling Sederhana,... Itu seperti Tuhan sedang bicara, "Ayo Lasma, mengucap syukur dalam segala hal. Fokus pada apa yang kamu punya hari ini, bukan apa yang tidak kamu punya." ... malu kalau karena makanan kita kuatir. Manusiawi, tapi malu-maluin kalau saya yakin Tuhan saya Tuhan yang menyediakan, tapi saya masih kuatir sampai stress.

Perpuluhan di saat kekurangan seperti cambukan yang memerdekakan buat saya. Di saat itu keputusan saya untuk memilih, bergantung pada Allah atau bergantung pada uang.

Baca juga: Tuan Atas Uang

Sakit?? Sakit bangettt!! Tapi sepadan dengan pemeliharaan yang sudah Dia berikan. *lap air mata

0 Comments