amsaLFoje -A Long Life Learner-
Kebiasaan orang tua jaman dulu memotivasi anak dengan merendahkan dan membandingkan. Tanpa mereka sadari mereka sedang mengubur potensi anaknya semakin dalam dan semakin dalam.

Ga sadar mereka menumbuhkan luka pada anak.

Oh saya memang buruk dan ga sehebat dia
Iya, saya memang malas dan bodoh
Aku mah apa atuhh

Jangan lakukan ini pada anakmu GI. Semoga Mama juga tidak melakukannya padamu.

Yak, ini postingan bakal ga penting jadi, maaf-maaf saja kalau nanti merasa terjebak masuk ke sini hahahhaha.

Jadi, ini topik tentang foto profil di FB. Biasa kan ya, kalau kita single, kita akan pasang PP terbaik kita. Tercantik kita. Sudah nikah, ganti dengan foto paling mesra. Punya anak, foto paling mesra sama anak atau bertiga sama suami.

Nah, saya pilih menghindari pasang foto berdua sama anak atau bertiga kalau di PP. Kenapa? Di otak saya terpikir soal ini ... Mudah banget buat kita mencintai anak kita walau pun dia ga nurutnya sampai bisa bikin kepala panas. Tapi, kalau sama suami yang kadang lagi ga asik, kita harus terus komitmen terus menerus supaya ga kemakan rasa keki.

Nah, saya berusaha sebisa mungkin pasang PP berdua sama Aki biar selalu inget kalau kasih saya pada anak ga boleh lebih besar daripada sama suami. Suami harus tetap yang terutama.

Ada sih di path foto sama Gi. Karna pas bagus aja dan males ganti. Hahaha. Sisanya kalau ga foto sendiri, ya berdua.

Itu salah satu apa yang saya pikirin soal masalah sepele yaitu PP. Tiba-tiba pengen posting soal ini aja. Hahahhah.

Ngapain ya gua share doa gua di socmed? Keliatan banget sendirinya. Malah ini ngomong ke blog.

Ga masalah sih ya, gua posting doanya juga setelah berdoa. Ga ada aturan yang larang kita posting doa kita kan.... Hehehhehe

Hai masalah, aku punya Allah yang besar. Hi, iblis, hi pikiran sia-sia, hi kepahitan, hi kekuatiran, hi ketakutan, hi amarah, hi kebencian, hi kesombongan. Kalian tidak berkuasa atas hidupku karena Tuhan sudah membayar semuanya di kayu salib. Enyahlah daripadaku! Roh Kudus kuasailah hati dan pikiranku. Biar pikiran dan perasaan Kristus yang menuntun langkahku, perkataanku, perbuatanku.
Selidiki hatiku dan baharuilah batinku.

Galatia 2:20 (TB)  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Sudah beberapa bulan ini capek luar biasa. Mau banget nyalahin keadaan yang bikin aku susah punya ME TIME. Eh, ujungnya nyalahin diri sendiri karena ga bisa atur waktu HAHAHAHAHA.

Ya, pokoknya capek karena ga punya ME TIME. Di tanya kabar juga udah males cerita.

Aneh kan, padahal ga ketemu orang dan keramaian. Tapi, kerjaan saya berkutat di sosial media. Dari kerja di sosial media, ngurus Gyan lagi, dari ngurus Gyan, ngurus rumah lagi sambil mikirin kerjaan. Tahu-tahu udah sore dan harus ajak Gyan jalan-jalan lalu siapin makan malam dan beresin rumah. Malam, urus suami, lalu boboin Gyan. Kadang malah emaknya duluan yang bobo gara-gara tepar hahahha.

Kadang nyalahin diri sendiri lagi, kok gua ga bisa  bagi waktu dengan baik. Kok gua ga bisa disiplin?? Apa yang salah ya. Waktu mau beresin semua, ok beres. Tahu-tahu besok bangun dengan badan yang lelah dan kesakitan.

Suka bayangin Ci Lia, urus rumah sendiri dengan 3 anak, dan homeschooling. Sampe mikir apa Ci Lia lahirnya bukan di bumi kali ya. Hahahah...

Beberapa kali ada pikiran pengen bilang nyesel milih nikah hahahha, tapi pas mikirin ga ada Aki ga ada Gi, ketelen lagi itu penyeasalan.

Saya orang yang ga pernah bergantung sama orang lain. Lo mau tinggalin gua, gua sedih, tapi ga ambil pusing. Tapi, pas mikirin kalau sampai Aki dan Gi ninggalin saya... Ini pertama kalinya saya merasa takut kehilangan orang yang ada di sisi saya - sekali pun saya tahu kalau pun terjadi saya akan baik-baik saja.

Jadi intinya....

Saya bukan mau nulis postingan di atas hahhahha....

Capeknya saya bukan cuma karena kerjaan rumah dan bisnis, tapi karena harus ketemu orang di socmed. Kalau orannya positif sih gpp ya. Tapi makin ngerasa kesedot dan tertekan tiap lihat foto-foto korban kecelakaan pembunuhan dll yang diposting secara gamblang. Lalu ditulis,sempatkanlah bilang AMIN.

Mau nangis tiap lihat yang kayak gitu. Mau muntah. Muntah bukan karena korban, mau muntah karena apa yang si punya socmed terhadap foto korban.

Belum lagi liat orang yang ngebela pemerintah A atau pemerintah B udah kayak Tuhan. Menghina pemerintah A atau pemerintah B udah kayak setan. Seolah yang satu suci yang banget yang satu dosa banget.

Ngomong gini di otak aja masih ngerasa ditunjuk-tunjuk (emang lo kagak kayak gitu?)

Ya, lucunya ngeluh kayak gini juga ga ngaruh ya. Yang bisa nyaring kan saya sendiri. Kalau ga suka ya unfollow aja. Resiko pekerjaan saya.

Tapi, ga tahu kenapa sulit diabaikan. Ada yang sesak dan luka di hati tiap lihat hal-hal kayak gitu. Kalau saya mengabaikn, seolah saya sedang menumpulkan hati nurnai. Tapi, pas nulis begini, jadi diingatkan... Kalau saya sesak dengan perilaku sesama saya, apakah terhadap saya langsung, atau orang lain ... ya cerita aja ke Bapa. Mengumbarnya di depan orang banyak tidak akan melegakan, tapi mengumbarnya di hadapan Tuhan, akan mendatangkan hikmat dan pengertian.

Masih cape, masih lelah, tapi harus bertahan. Mungkin kapan-kapan ijin sama Aki buat sweet escape sendirian hahahha.


Habis makan rendang ayam, memutuskan menulis. Bukan tentang rendam ayam, tapi tentang pekerjaan saya dulu sebelum saya berprofesi menjadi ibu rumah tangga.

Iye, soal saya sebagai pembina OSIS. Kenapa bahas ini? Tadi lihat foto kegiatan mereka di tahun ajaran ini dan entah kenapa rindu setengah mati hahahha sampai pengen mewek.

Ga nyangka mereka sudah besar-besar. Sudah regenerasi. Bahkan yang tahun ini menjadi ketua atau wakil ketua saat saya resign, baru masuk SMP dan cuma jadi panitia TMIS Cup.

Tapi saya ingat waktu itu saat berbincang-bincang dengannya. Dia bilang mau masuk OSIS. Murid yang kelihatan sempurna. Cantik dan pintar. Hari ini melihat dia di deretan anak OSIS. Dia memegang kata-katanya.

Saat jadi pembina OSIS, saya selalu mengatakan pada anak-anak buat banyak belajar karena nantinya apa yang mereka kerjakan di OSIS akan sangat berguna di luar sana.

Kenyataannya memang demikian. Berorganisasi melatih kepekaan kita terhadap lingkungan, memperhatikan dan menolong kebutuhan orang lain tanpa diminta, belajar berinisiatif,  belajar memberikan effort terbaik, mengatasi konflik, memecahkan masalah, belajar bertoleransi, belajar bertanggung jawab atas kesalahan pribadi atau kelompok, belajar bekerja sama, belajar meletakkan ego demi tujuan bersama dan banyak lagi.

Dalam organisasi benar-benar terjadi yang namanya manusia menajamkan manusia demi mencapai tujuan bersama. Jadi, yang namanya masuk OSIS itu ga akan pernah sia-sia deh.

Ntar kalau sudah pada punya anak, dorong mereka buat terjun ke dunia organisasi ya. Bukan buat cari popularitas, tapi buat nambah pengalaman dan pelajaran.

Selain organisasi rohani, dorong mereka buat bergabung dalam organisasi nonrohani yang di dalamnya ada banyak macam orang. Dari situ mereka bisa belajar menghadapi manusia-manusia yang punya nilai-nilai yang jauh beda.

Saya tidak tahu apakah mereka akhirnya bisa merasakan manfaat berorganisasi. Saya harap iya.

Di sela-sela kegiatan OSIS terutama saat evaluasi, saya sering menanamkan nilai-nilai kerjasama.

Satu untuk semua. Satu orang berhasil, semua berhasil. Satu orang gagal, semua gagal. Makanya pikirkan setiap tindakan apakah akan merugikan teman-teman yang lain atau tidak.

Banyak yang cepat menangkap, tapi ada juga yang sepertinya harus "ditegaskan" baru mengerti.

Jangan menyalahkan anggota timmu di depan orang luar. Selain karena mempermalukan anggotamu, kelihatan tidak profesional. Fokuslah pada solusi dan tegur temanmu empat mata bukan di depan orang banyak.

Jika generasi sebelumnya telah sukses menjalankan tugasnya, ada beban moral di pundak kalian untuk melakukan kesuksesan minimal dengan standar yang sama. Bukan berarti kalian harus seperti mereka. Justru angkatan kalian harus melakukan dan membawa perbedaan yang akan diingat orang.

OSIS berada di bawah naungan sekolah, sudah sepatutnya OSIS mengikuti peraturan dan keputusan sekolah sekali pun OSIS merasa tidak sreg dengan keputusan yang ada.

Akan selalu ada orang-orang yang menjatuhkan semangat kalian dan memandang rendah kegiatan yang kalian rencanakan, jangan marah dan kecewa. Tetaplah antusias karena masih ada mereka yang bersemangat mengikuti kegiatan yang kalian buat. Fokuslah pada mereka dan buat mereka gembira.

Libatkan semua staff sekolah dan hargai apa yang mereka lakukan untuk membantu pelaksanaan kegiatan kalian.

Jangan mengerjakan tanggung jawab timmu sendirian. Libatkan mereka dan belajarlah percaya pada orang lain. Bagikan tugas.

Mana yang lebih penting? OSIS atau tes harian? Ada yang jawab kegiatan OSIS karena mendesak. Saya katakan, tes harian lebih penting. Kamu ke sekolah buat belajar bukan OSIS. Saat ada tes, percayakan tanggung jawabmu pada orang lain untuk sementara sampai tesmu selesai.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen kumpulan puisi liburan movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • Review For Prometheus
    Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
  • [CURHAT] Berhadapan Dengan Rasa Sakit
    Hi Gorgeous!!  Menulis sepertinya jadi hal yang sulit buat saya lakukan karena terlalu mempertimbangkan banyak hal. Selain tidak ...
  • [DRAMA] Come and Hug Me - Apakah Kejahatan Menjadi Warisan?
    Come and Hug bercerita tentang Yoon Na-Moo dan Gil Nak-Woo yang bertemu pertama kali saat mereka remaja. Mereka saling jatuh cinta se...
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
  • [REVIEW] Genius Bath Sabun Homemade Tanpa Parfum, Paraben, & SL
    Hi Gorgeous!! Happy weekend!! Udah lama ga bikin postingan review tentang produk kecantikan yaa. Nih, kali ini saya mau review...
  • [Review] Nano Healthy Family - Pijat Puas Harga Pas
    Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...

Cinta Tertutup Luka

Cinta Tertutup Luka
Kisah Wei membalaskan luka hatinya pada ayahnya.

Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Traktir kopi

Traktir kopi
Traktir amsaLFoJe kopi supaya makin semangat nulis.

Art & Design Services

Art & Design Services

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Lasma Works
    Lasma Works
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Pengikut

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates