Ngapain ya gua share doa gua di socmed? Keliatan banget sendirinya. Malah ini ngomong ke blog.
Ga masalah sih ya, gua posting doanya juga setelah berdoa. Ga ada aturan yang larang kita posting doa kita kan.... Hehehhehe
Ngapain ya gua share doa gua di socmed? Keliatan banget sendirinya. Malah ini ngomong ke blog.
Ga masalah sih ya, gua posting doanya juga setelah berdoa. Ga ada aturan yang larang kita posting doa kita kan.... Hehehhehe
Hai masalah, aku punya Allah yang besar. Hi, iblis, hi pikiran sia-sia, hi kepahitan, hi kekuatiran, hi ketakutan, hi amarah, hi kebencian, hi kesombongan. Kalian tidak berkuasa atas hidupku karena Tuhan sudah membayar semuanya di kayu salib. Enyahlah daripadaku! Roh Kudus kuasailah hati dan pikiranku. Biar pikiran dan perasaan Kristus yang menuntun langkahku, perkataanku, perbuatanku.
Selidiki hatiku dan baharuilah batinku.
Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
Habis makan rendang ayam, memutuskan menulis. Bukan tentang rendam ayam, tapi tentang pekerjaan saya dulu sebelum saya berprofesi menjadi ibu rumah tangga.
Iye, soal saya sebagai pembina OSIS. Kenapa bahas ini? Tadi lihat foto kegiatan mereka di tahun ajaran ini dan entah kenapa rindu setengah mati hahahha sampai pengen mewek.
Ga nyangka mereka sudah besar-besar. Sudah regenerasi. Bahkan yang tahun ini menjadi ketua atau wakil ketua saat saya resign, baru masuk SMP dan cuma jadi panitia TMIS Cup.
Tapi saya ingat waktu itu saat berbincang-bincang dengannya. Dia bilang mau masuk OSIS. Murid yang kelihatan sempurna. Cantik dan pintar. Hari ini melihat dia di deretan anak OSIS. Dia memegang kata-katanya.
Saat jadi pembina OSIS, saya selalu mengatakan pada anak-anak buat banyak belajar karena nantinya apa yang mereka kerjakan di OSIS akan sangat berguna di luar sana.
Kenyataannya memang demikian. Berorganisasi melatih kepekaan kita terhadap lingkungan, memperhatikan dan menolong kebutuhan orang lain tanpa diminta, belajar berinisiatif, belajar memberikan effort terbaik, mengatasi konflik, memecahkan masalah, belajar bertoleransi, belajar bertanggung jawab atas kesalahan pribadi atau kelompok, belajar bekerja sama, belajar meletakkan ego demi tujuan bersama dan banyak lagi.
Dalam organisasi benar-benar terjadi yang namanya manusia menajamkan manusia demi mencapai tujuan bersama. Jadi, yang namanya masuk OSIS itu ga akan pernah sia-sia deh.
Ntar kalau sudah pada punya anak, dorong mereka buat terjun ke dunia organisasi ya. Bukan buat cari popularitas, tapi buat nambah pengalaman dan pelajaran.
Selain organisasi rohani, dorong mereka buat bergabung dalam organisasi nonrohani yang di dalamnya ada banyak macam orang. Dari situ mereka bisa belajar menghadapi manusia-manusia yang punya nilai-nilai yang jauh beda.
Saya tidak tahu apakah mereka akhirnya bisa merasakan manfaat berorganisasi. Saya harap iya.
Di sela-sela kegiatan OSIS terutama saat evaluasi, saya sering menanamkan nilai-nilai kerjasama.
Satu untuk semua. Satu orang berhasil, semua berhasil. Satu orang gagal, semua gagal. Makanya pikirkan setiap tindakan apakah akan merugikan teman-teman yang lain atau tidak.
Banyak yang cepat menangkap, tapi ada juga yang sepertinya harus "ditegaskan" baru mengerti.
Jangan menyalahkan anggota timmu di depan orang luar. Selain karena mempermalukan anggotamu, kelihatan tidak profesional. Fokuslah pada solusi dan tegur temanmu empat mata bukan di depan orang banyak.
Jika generasi sebelumnya telah sukses menjalankan tugasnya, ada beban moral di pundak kalian untuk melakukan kesuksesan minimal dengan standar yang sama. Bukan berarti kalian harus seperti mereka. Justru angkatan kalian harus melakukan dan membawa perbedaan yang akan diingat orang.
OSIS berada di bawah naungan sekolah, sudah sepatutnya OSIS mengikuti peraturan dan keputusan sekolah sekali pun OSIS merasa tidak sreg dengan keputusan yang ada.
Akan selalu ada orang-orang yang menjatuhkan semangat kalian dan memandang rendah kegiatan yang kalian rencanakan, jangan marah dan kecewa. Tetaplah antusias karena masih ada mereka yang bersemangat mengikuti kegiatan yang kalian buat. Fokuslah pada mereka dan buat mereka gembira.
Libatkan semua staff sekolah dan hargai apa yang mereka lakukan untuk membantu pelaksanaan kegiatan kalian.
Jangan mengerjakan tanggung jawab timmu sendirian. Libatkan mereka dan belajarlah percaya pada orang lain. Bagikan tugas.
Mana yang lebih penting? OSIS atau tes harian? Ada yang jawab kegiatan OSIS karena mendesak. Saya katakan, tes harian lebih penting. Kamu ke sekolah buat belajar bukan OSIS. Saat ada tes, percayakan tanggung jawabmu pada orang lain untuk sementara sampai tesmu selesai.
Apa maksudnya judul di atas?
Sehubungan dengan masalah pasangan hidup hahahha. Karena saya sedang menyeterika, saya nulis cepat dan langsung aja dah.
Ada beberapa hal yang membuat wanita rajin menunggu pasangan hidup, tapi tidak siap juga dipertemukan dengan PH.
Hampir semua wanita memimpikan sebuah pernikahan. Kita bisa saja langsung menikah dengan siapa saja yang datang pada kita, tapi tentu saja kita yang mengenal kebenaran tidak melakukan itu. Kita wanita diajarkan untuk menunggu, tapi apakah kita menunggu dengan benar? Apakah kita menunggu hanya sekedar menunggu?
Memangnya kita harus melakukan apa selama menunggu?
1. Membangun diri
Banyak dari kita menunggu dengan baik dan berharap pria pilihan Bapa datang melamar kita, tapi tidak sedikit juga yang menunggu dalam diam. Diam yang seperti apa? Tidak ada usaha untuk membangun karakter-karakter yang dibutuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi. Mungkin kita sudah banyak membaca buku tentang membangun hubungan, tapi apakah kita sudah membaca buku bagaimana menjadi wanita-Nya Allah? Sudah? Apakah sudah dipraktekkan?
Yang perlu kita ketahui, menjadi seorang isteri lebih sulit dari yang kita lihat. Kita harus berani memgkonfrontasi kesalahan suami kita tanpa mengurangi rasa hormat dan tunduk. Kita harus taat pada keputusan suami pada saat keinginan hati kita yang paling dalam harus dikorbankan. Kita harus menjadi isteri yang lemah lembut saat suami bersikap menyebalkan. Kita harus tetap mengutamakan cinta pada pasangan daripada anak, sekali pun suami lupa bersikap mesra.
Susah sekali? Ya, kalau kita tidak pernah membangun karakter-karakter yang kita butuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi.
Memiliki iman untuk menikah? Bangunlah karakter wanita ilahi. Lebih dari itu, bangunlah karakter itu untuk memuliakan nama Tuhan. Wanita yang mengikat hatinya pada Tuhan akan terus membangun karakter itu sekalipun tidak akan ada yang mengikat dirinya dengan cincin.
2. Perlakukan saudara seiman pria sebagaimana mereka harus diperlakukan
Masih suka memandang rendah teman pria yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik? Merasa mereka ga mungkin mereka menjadi pasanganmu? Sikapmu berbeda pada satu saudara seiman dengan saudara seiman yang lain?
Mari dicek, murnikah hati kita pada mereka? Murni bukan cuma bicara suka-sukaan atau rasa simpati, tapi pandangan rendah dan menghakimi yang sering muncul di dalam hati kita, itu pun tanda ketidak murnian.
Tuhan menegur saya tentang hal ini sebelum saya mulai dekat dengan Aki. Saya sering memandang rendah para pria yang hidup di bawah standar hidup saya. Di pikiran saya, saya berkata, "Mereka ga sepadan dengan saya." Perkataan yang angkuh dan sombong. Secara perilaku mungkin saya tidaj melakukan yang melecehkan, tapi sikap hati saya.. Tuhan tidak berkenan akan hal itu.
Hormati dan pandang sebagai pemimpin siapa pun dan seperti apa pun teman pria kita. Dengan cara ini kita membangun karakter hormat pada suami tanpa syarat.
Buang jauh-jauh pandangan dan filosofi semua pria sama. Mulai memakai kacamata Tuhan.
3. Buatlah standar pasangan hidup, tapi jangan lupa evaluasi diri
Pengen punya pasangan yang rajin doa? Kita rajin doa ga? Pengen punya pasangan yang rajin muji dan nyembah Tuhan? Kita rajin muji dan nyembah Tuhan ga? Pengen punya pasangan yang berani kabartin Injil, kita berani ga?
Jangan sampai waktu sama kita, PH kita bukannya malah maksimal, tapi malah terhambat.
4. Seriuslah berdoa
Gimana Tuhan mau pertemukan kita dengan calon PH kalo kita sendiri tidak menganggap perkara PH sebagai perkara yang serius? Sudahkah kita berdoa untuk kesiapan diri kita? Sudahkah kita berpuasa untuk membangun roh kita?
Sama seperti kerjaan di kantor ya, kalo kita ga serius melakukan bagian kita pada saat training, jabatan yang kita inginkan pasti akan diberikan pada orang lain.
Tidak perlu malu berdoa tentang pasangan hidup. Tuhan sudah tahu isi hati kita, apa yang mau dimaluin lagi?
Jadi, serius ya berdoanya.
5. Bukalah pergaulan seluas mungkin
Saudara seiman ga selalu di gereja yang sama loohh. Bangunlah pergaulan dengan saudara seiman seluas mungkin. Bergabung di forum, group, atau apa pun yang membangun iman dan karkter.
Jauhkan dulu pikiran meluaskan pergaulan supaya dapat jodoh, tapj miliki motivasi dengan banyak bergaul, kita semakin banyak belajar. Semakin mendengar banyak cerita orang. Semakin banyak mengerti cara Tuhan bekerja dalam hidup orang lain.
Jangan batasi diri. Bergaul ga harus banyak bicara, menjadi pendengar yang baik, kita sudah bisa punya banyak teman.
Itu 5 hal yang terlintas di dini hari ini. Dari 5 hal itu paling penting fokus pada membangun diri untuk memuliakan nama Tuhan. Jangan batasi diri dengan pemikiran dan keinginan kita.
Pakai pikiran dan perasaan Kristus, nanti otomatis kita tahu apa yang harus kita lakukan.
Yaaaaa.... Itu ajahhh. Semangatttt!! Tuhan itu baikkk. Sungguhh!
Kadang, bukan menyatakan iman pada orang lain yang susah, tapi menyatakan iman pada diri sendiri.
Terbiasa melihaf apa adanya, apa yang ada di depan mata, menjadi sebuah kerja keras saat harus melihat segala sesuatu melampaui akal. Melihat kapasitas sendiri, rasanya ga mungkin untuk mengalami hal yang lebih dari yang dilihat dan dirasa.
Tapi kan Firman Tuhan bicara lain...
Tapi kan kenyataannya bla bla bla bla...
Tapi kan Tuhan janji ini dan itu
Tapi kan kamu sendiri bla bla bla...
Bukan yang diluar daging kita yang menjadi musuh kita, tapi apa yang ada di dalam kepala dan apa yang ada di dalam dada. Apa yang kita rasa-rasa dan apa yang kita hitung-hitung.
Itu kenapa, sering-seringlah membicarakan Firman atau minimal menuliskannya kalau kita jarang bicara. Kenapa? Supaya suara Roh Kudus lebih keras dari pada suara pikiran manusia kita, perasaan manusiawi kita. Dengan begitu, roh kita juga menjadi kuat untuk mengambil keputusan dan melakukan apa yang benar.
Berapa banyak dari kita, wanita, sering merasa menjadi korban dari sebuah situasi. Merasa terjebak dalam sebuah keadaan yang sepertinya salah. Pekerjaan yang salah, pasanggan yang salah, keputusan yang salah, lingkungan yang salah, dan situasi yang salah lainnya.
Saya salah satu orang yang bisa menyebutkan berbagai hal yang menyebabkan saya merasa berada di situasi yang salah. Merasa menjadi si pemeran utama yang selalu menjadi korban dan si penerima penderitaan.
Dengan sifat yang melankolis, hal ini bisa menjadi hal yang sangat menyiksa. Dengan segala macam detail kesalahan yang "tidak seharusnya" saya alami, saya merasa seluruh dunia membenci dan memusuhi saya.
Haiii, mungkin saya tidak sendirian. Ada banyak orang lainnya yang merasakan apa yang saya rasakan. Di sini saya hanya ingin mengatakan, benar-benar menyenangkan saat berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita.
Tapi tahukah kamu, dengan berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita, pusat dari dunia, kita sedang membohongi dan merusak diri sendiri. Kita percaya bahwa cerita dirancang hanya untuk mewarnai hidup kita.
"Lihat aku! Aku sedih! Aku terluka! Seharusnya kalian mengerti!"
" Hari ini aku sangat senang! Tidak seharusnya kalian merusam kesenanganku!"
Tapi, kita harus sedikit keluar dari lingkaran "kenarsisan" kita dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kita melihat apa yang terjadi dalam hidup orang-orang sekeliling kita?
Ya, mereka punya cerita mereka masing-masing. Mereka punya masalah yang mereka bawa sendiri-sendiri. Ada yang terlihat lebih ringan, ada yang lebih berat.
Ada orang yang datang ke hidup orang lain untuk membantu mengangkat beban, padahal ia sendiri sudah membawa bebannya sendiri. Ada yang datang meletakkan bebannya pada orang lain, lalu pergi meninggalkan orang itu sendiri. Ada pula yang memilih mengangkat bebannya sendiri tanpa melibatkan siapa pun dan ia sendiri pun tidak mau dilibatkan dengan beban orang lain.
Anehnya, ada yang mengangkat dan menerim beban dari orang banyak, tetapi senyumnya tetap lebar dan hidup. Ada yang bebannya ringan, tapi membawanya seperti bertontonn.
Mengapa begitu? Karena semuanya bergantung pada siapa pemeran utamanya.
Saat kita menyadari segala reaksi, respon, dan tindakan kita mempengaruhi cerita dari hidup orang lain. Kita akan lebih berhati-hati. Cerita apa yanb ingin kita bangun, cerita bahagia untuk semua orang atau cerita bahagia untuk kita sendiri?
Semuanya terserah kita.
#NyonyaDasterBahagia #amsalfoje
Gambar: answeritsa.wordpress
Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates