[Kesaksian] Kemenangan Atas Wanita Berjubah Hitam

March 16, 2018



Suamik cuma infoin kalau pulsa listrik harus ditambah dan dalam sekejap saya tersedot dalam pemikiran yang hampir membuat saya jadi orang yang tidak waras tahun lalu. Tidak waras yang saya maksud benar-benar tidak waras. Bukan sekedar kiasan atau hiperbola. Kalau kamu pernah berada di titik stress menuju depresi, kamu akan mengerti kenapa hal sepele bisa membuatmu ingin mati. Kamu pasti tahu apa yang saya maksud. Baca terus kesaksian saya ini ya. Saya percaya yang saya alami ini bukan cuma tentang saya.

Semalaman saya bergumul dengan setan di dalam diri saya. Dalam pikiran saya dia adalah saya, versi lain diri saya yang begitu marah. Sangat amat marah. Ia terus berteriak-teriak mengata-ngatai saya bodoh, ga berguna, menyedihkan, ga punya harapan. Harusnya saya mati saja. Saya tidak punya faedah apa pun di dunia ini.

Dia memakai jubah hitam, rambutnya terurai panjang, matanya membelalak lebar, mulutnya terbuka lebar menunjukkan rasa jijik dan marah. Dia tidak berhenti bicara, memuntahkan semua rasa muak. Dia berteriak-teriak tak terkendali mengucapkan semua amarhnya. 

Dia terus berusaha menyadarkanku kalau aku tidak sepatutnya merasakan ini semua. Aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa, tapi tetap saja, tidak ada yang berubah. Mau sampai kapan aku harus merasakan hal yang sama? Terhimpit dan ditekan batu besar. Badanku sudah remuk, pikiranku sudah sampai pada batasnya. 

Dia tetawa-tawa keras melihat keadaanku lalu marah, marah, dan marah lagi. Ia melayang-layang, mencakar-cakar seperti ingin keluar dari sebuah lubang. Jubah dan rambutnya yang hitam beterbangan seolah ingin menelanku, masuk dalam amarah dan penderitaannya. Ia ingin aku menjadi dirinya. 

Tapi..
Tiba-tiba aku berkata padanya.. "sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba"...

Kalimat yang diucapkan Perawan Maria saat menerima kabar dari malaikat kalau dia akan mengandung bayi Yesus. Terakhir aku membacanya kemarin... Di ceritaku tentang pelayanan seni peran yang pernah aku ikuti..

Kalimat itu membuat wanita yang penuh amarah itu terdiam. Jubah dan rambutnya yang tadinya melayang-layang seperti ingin menelanku perlahan mereda.

Lalu aku mengatakan dengan lantang padanya, " Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba. Terjadilah sesuai kehendak Tuhan. Jika memang aku harus terhimpit batu, maka terjadilah. Semua yang kamu katakan memang kenyataannya demikian, tapi hal yang mustahil kalau Tuhan sampai tinggal diam. Tuhan akan mencukupkan kehidupanku, memberkati suami dan anakku, entah bagaimana caranya. Mustahil Tuhan tidak akan memelihara kami. Tuhan akan menolong kami sama sepertu dulu saat Dia selalu menolongku."

Tepat saat kata terakhir kuucapkan, tiba-tiba ia tersedot ke dalam sebuah botol selai. Jika kamu bisa membayangkannya, seperti jin yang tersedot ke dalam lampu ajaibnya. Lalu seseorang menutup botol itu dan aku menendangnya, membuangnya ke laut (laut dalam imajinasiku tentu saja).

Lalu semua yang tadinya gelap dan mencekam menjadi terlihat terang.. Aku merasakan ada harapan di hidupku. Aku bisa percaya Tuhan lagi. Aku bisa berharap pada-Nya lagi. Tidak ada bukti yang bisa diperhitungkan dan diperkirakan bagaimana Tuhan akan menolong, tapi Pribadi-Nya.. Aku percaya pada Pribadi-Nya.

Hari ini Dia menolongku lagi. Sekali lagi Ia menolongku untuk bangun dan percaya. Ia tidak mengabaikan lukaku. Ia tahu masih ada luka-luka di hatiku, tapi Dia tak memaksaku untuk segera pulih. 

Ia menuntunku lagi meninggalkan gelap di belakangku. Ia mengajakku untuk mulai lagi. Tidak tahu ada apa di depan sana, tapi aku percaya, selama ada Dia, semua akan baik-baik saja.

" kemanakah aku akan menjauh dari-Mu Tuhan? Kemana pun aku pergi, Kau ada di sana..."

Wanita itu adalah gambaran segala kekuatiran dan ketakutanku. Lukaku dan amarahku. Aku begiti takut mengalami hal yang sama lagi dan lagi. Tapi hari ini Tuhan mengajarkanku menjadi seorang pemberani. Ketakutan tidak akan hilang jika hanya dihindari. Ia harus dihadapi. 

Rasa takutku sudah seperti trauma. Infeksi terpendam tak terlihat yang bisa membuatku sakit secara mental kapan saja. Tapi Tuhan tidak membiarkan dia menguasaiku lebih jauh. 

Beberapa kali Tuhan bicara lewat renungan, tulisan blog lamaku, beberapa artikel. Hari ini aku baru mengerti apa artinya ayat ini. 

Bilangan 21:8 (TB)  Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."

Pergumulan saya di atas mengingatkan saya pada kotbah Ps. Philip Mantofa yang ini tentang Musuh Terbesar Kita dan Senjata Setan Yang Paling Ampuh. Simak saja ya. Sangat menguatkan saya. Mungkin buat kamu juga.


Dalam kelemahanku kuasa Tuhan bekerja. 

You Might Also Like

3 komentar

  1. Boru... kalau dalam agama saya, musuh terbesar manusia ya hawa nafsu kita sendiri. Saya rasa semua agama mengajarkan yg sama ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hawa nafsu juga. Sebenarnya pun hawa nafsu dimulai dari pikiran ya. Cara berpikir yang salah tentang diri sendiri, orang lain,dan situasi membawa kita pada perilaku2 dan keputusan yang salah. Respon yang salah.

      Delete
    2. Setan yang dimaksud di sini bukan yamg nakut2in ya. Setan di sini malah bekerja lewat pikiran2 yang salah, pikiran2 palsu, balik lagi ke kita apakah akan terjebak atau ga. Itu kenapa harus baca Firman biar bisa melawan pikiran yang salah ini. Saya termasuk masuk dalam jebakannya selama beberapa tahun belakangan dan Puji Tuhan, Tuhan ga tinggal diam. Berkali2 Tuhan tolong lewat Firman-Nya.

      Delete

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)



recent posts

Your Ads Here

Follow us on Facebook

ads