Perjuangan melahirkan ternyata bukan akhir dari kesakitan dan penderitaan menjadi ibu. Saya berkata jujur saja ya.. Wanita-wanita, kalau kau ingin jadi ibu, cari tahu penderitaannya dulu supaya waktu kau menghadapinya, kau sudah siap dan menjadi kuat ( selain mendapat kekuatan dari Tuhan tentunya ).
Sudah sebulan ya sejak Gi lahir. Sudah lama ingin menulis tentang proses kelahiranntya untuk pengingat hehe. Ini sambil menyusui, sambil menulis di memo handphone. Hehehe.
Jadi, kelanjutan cerita Bukaan 1, dari hari itu saya sempat frustasi juga. Sudah bukaan 1 dan sudah flek kenapa belum kontraksi juga. Dalam hati berdoa terus supaya kontraksi cepat datang, jadi tidak perlu lama-lama menunggu Gi lahir.
Hari Sabtu, tanggal 26 Agustus (salah nih, harusnya 26 Juli :p ) pagi, saya bangun seperti biasa. Aki sudah bangun duluan dan sedang tidur-tiduran di ruang tamu. Layaknya kebiasaan kita bangin tidur, pasti pengen pipis kan? Begitu pula saya. Tapi pagi itu tidak seperti biasanya. Saya agak kaget melihat ada flek darah di pakaian dalam saya.
Saya tidak panik atau bagaimana, yang ada dipikiran hanya beri tahu Aki atau tidak. Saya tidak mau dia khawatir. Toh, saya tidak merasakan sakit apa-apa.
Tapi, Tuhan 'menggetok' kepala saya, mengingatkan kalau Gi bukan anak saya sendiri. Apa pun yang terjadi, enteng atau berat, Aki harus tahu.
Akhirnya dengan ekspresi plegmatis, saya beri tahukan kalau ada flek di pakaian dalam saya. Benar, Aki langsung kaget. Dia bertanya ini itu, googling ciri-ciri menjelang kelahiran, dsb. Kami menelepon ke dokter kandungan kami (Dr.Soedirmanto), tapi tidak diangkat-angkat. Daripada menunggu lama, kami putuskan untuk ke rumah sakit. Sebelum siap-siap saya sms dokter menjelaskan kondisi saya. Siapa tahu dibalas.
Eh, benar. Selesai beres-beres sms saya sudah dibalas. Kami diajak ketemu diklinik saja. Untungnya kami belum berangkat ke rumah sakit.
Jadilah kami berangkat ke klinik. Sambil diskusi tanda-tanda kelahiran. Mama saya telepon, disuruh langsung ke rumah sakit, Mama mertua bilang banyak jalan. Aki cerita ke teman kerjanya, ternyata istrinya flek juga dan sudah bukaan 4, tapi tidak merasa mulas sama sekali.
Di klinik, setelah menunggu giliran, seperti biasa periksa berat badan dan tekanan darah. Dokter tidak banyak mengatakan apa-apa. Hanya ditenangkan supaya tidak terlalu kuatir. Dari hasil USG kondisi Gi juga baik dan sudah masuk jalan lahir. Kami disarankan menunggu di rumah saja sampai kontraksi meningkat karena kalau menunggu di rumah sakit malah akan membuat kondisi psikologis ibu tertekan.
Setelah konsultasi dan merasa tenang, kami pulang. Lebih tepatnya ke mall dulu akakakak. Supaya saya bisa jalan-jalan.
Sepertinya memang waktunya lahir sudah dekat. Saya yang biasanya bisa jalan betjam-jam, waktu itu jalan 1 jam saja sudah lelah sekali. Belum lagi rasa eneg yang muncul seperti waktu awal kehamilan.
Di rumah saya langsung istirahat. Aki masih sibuk googling tanda-tanda kelahiran. Berkali-kali ia bertanya fleknya bagaimana? Warna apa?? Kelehitan sekali paniknya. Hehehe. Berkali-kali ia katakan deg-degan.
Waktu setelah makan malam dan saya pijat pinggang Aki karena sedang sakit perut, Aki doa dan tumpang tangan perut saya yang buncit. Setelah kami berdoa, Aki kelihatan lebih tenang, tapi waktu mau tidur tetap saja Aki tidak bisa tidur. Hehehehe. Sudah saya garuki punggungnya pun sepertinya masih belum bisa meredekan kegelisahannya.
Waktu setelah makan malam dan saya pijat pinggang Aki karena sedang sakit perut, Aki doa dan tumpang tangan perut saya yang buncit. Setelah kami berdoa, Aki kelihatan lebih tenang, tapi waktu mau tidur tetap saja Aki tidak bisa tidur. Hehehehe. Sudah saya garuki punggungnya pun sepertinya masih belum bisa meredekan kegelisahannya.
Aki tetap tidur, tapi saya tetap bisa merasakan tidurnya tidak senyenyak seperti biasanya. Saya sendiri juga tidak terlalu bisa tidur. Saat saya sudah tertidur dengan masih merasakan rasa tidak nyaman di pinggang dan perut saya, tiba-tiba pinggang kanan saya terasa sakit sekali. Seperti ditumbuk dengan keras.
Saya beri tahu Aki yang langsung terbangun (biasanya Aki bukan tipe yang langsung bangun..akakak). Kami putuskan segera ke rumah sakit. Saya siap-siap sementara Aki memesan taksi.
Sekitar jam setengah 2 pagi kami sampai di RS Harapan Kita. Pinggang saya sudah tidak terlalu sakit, tapi kami juga tidak mau mengambil resiko dengan menunggu di rumah. Setelah beres mendaftar kami langsung pergi menuju tempat rawat inap untuk ibu hamil. Sempat kesasar, tapi tidak jauh. Sampai di tempat yang kami tuju, kami menyerahkan kertas pendaftaran yang diberikan dari UGD. Suster jaga langsung mengantar kami ke kamar rawat inap, memberikan baju khusus persalinan, dan memonitor detak jantung Gi. Yang paling membuat ngilu dan nyeri adalah saat periksa dalam. Sakiitttt!! Tapi, ya ditahan-tahan. Ternyata baru bukaan 1. Agak kecewa karena katanya bukaan satu bisa lama bisa sebentar.
Suster akhirnya menunggu sampai siang untuk memonitor perkembangannya. Flek yang terus menerus keluar dan melihat Aki tidak bisa tidur karena dingin dan bunyi mengorok suami pasien sebelah, saya jadi tambah tidak nyaman. Benar kata dokter, lebih baik tunggu di rumah.
Ah, iya ternyata pasien yang satu ruangan saya sudah 24 jam di RS dan sudah bukaan 4. Herannya dia belum merasakan kontraksi sama sekali. Saya jadi bingung. Sementara istri teman kantor Aki sudah melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Lihat fotonya di WA jadi ikut senang dan terharu sekaligus degdegan ngarep dan cemas.
Hari Minggu siang, jantung Gi dimonitor lagi. Sehat dan tidak ada tanda-tanda kontraksi. Suster menyarankan kami menunggu di rumah saja dan saya mengiyakan penuh semangat. Sebelum kami pulang, seorang asisten dokter memeriksa bukaan saya dulu dan ternyata masih bukaan 1 juga. Hiks. Semakin bulat memutuskan untuk pulang.
Sekarang, sudah hari ke - 4 sejak flek. Hari ke-3 sejak pembukaan 1 dan belum ada kontraksi yang berarti. Gi masih bergerak lincah di perut dan sepertinya senang-senang saja. Sementara saya harap-harap cemas. Mengharapkan ada tanda kontraksi yang semakin sering sebagai tanda kami akan segera bertemu Gi.
*lapkeringat, tapi mencoba bersabar saja. Aki ingatkan terus supaya tetap happy supaya dan Gi tetap sehat. Kakak saya malah lebih ketakutan dan menyarankan saya untuk sesar. Saya sempat mempertimbangkannya, tapi saya tidak mendapatkan iman untuk melalukan operasi sesar. Sejak awal kehamilan saya mendapat iman untuk melahirkan normal dan kami mendapatkan konfirmasi dari hasil tes, pemeriksaan, dan pernyataan dokter. Sampai hari ini saya masih mengimani bisa melahirkan Gi dengan normal. Tapi kalau kehendak Tuhan berbeda, Tuhan pasti akan tunjukkan.
Ah, ya sambil menulis ini pinggang mulai terasa sakitnya. Semoga tanda-tanda kontraksi. Hehehehe..
Tetap happy, tetap bersyukur, tetap berharap, Tuhan pasti jagain Mama, Papa, dan Gi. Aminn.
Yang mengikuti blog saya sudah lama, mu ngkin menyadari ada beberapa perubahan yang terjadi dalam saya menulis. Awalnya saya memang menulis dengan sekenanya saja dengan bahasa yang biasa saya gunakan sehari-hari. Tapi, suatu saat, di waktu yang berdekatan, saya mengalami hal yang berkesan dan membaca beberapa hal yang membuat saya memutuskan untuk belajar menggunakan bahasa baku dalam menulis.
Semua berawal dari keprihatinan saya saat saya menemukan anak murid tempat saya bekerja dulu, tidak tahu bagaimana mengarang dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ya, wajar sih karena sekolah tempat saya bekerja adalah sekolah internasional dan buku yang digunakan sudah pasti sebagian besar adalah buku berbahasa Inggris. Yang membuat saya miris, waktu saya menyarankan ia untuk lebih banyak membaca buku berbahasa Indonesia supaya kemampuan Bahasa Indonesianya lebih baik, ia menjawab kalau buku berbahasa Indonesia sulit ia pahami. Saya sampai terbengong saat itu.
Pak Prabowo menyatakan tidak menerima hasil rekapitulasi KPU, reaksi orang bermacam-macam. Saya salah satu pendukungnya yang sedang asyik menggosok baju, langsung terbengong-bengong menyaksikan pidato beliau di layar tivi. Saya mendengarkan dengan seksama pidato beliau untuk menyerap setiap detail kata-kata beliau. Sampai di penutupan pidato, saya cuma bisa senyum-senyum mengerti dan membayangkan drama yang akan terjadi. Timeline facebook saya pasti akan penuh dengan status mempertanyakan keputusan beliau. Dari yang waras sampai menghinadina.
Tapi, saya tidak mau membicarakan atau membela Pak Prabowo. Saya hanya ingin menceritakan sisi di mana saya melihat dari kacamata beliau. Mengapa Pak Prabowo tidak legowo??
Semua orang mengatakan bahwa beliau tidak bisa menerima kekalahan, tapi saya tidak melihat hal itu. Yang saya lihat beliau tidak bisa menerima kecurangan. Kalau apa yang beliau tuduhkan pada KPU ternyata terbukti benar, berarti hampir setengah rakyat Indonesia dicurangi. Tentunya ini bukan hal yang bisa dianggap enteng.
Buat orang-orang seperti saya dan orang-orang lain yang meminta beliau bersikap "ksatria", mungkin akan dengan mudah menerima kecurangan tersebut. Ya, kalau dipikir, buat apa sih bersusah payah?? Udahlah terima saja dan duduk tenang di rumah dan nikmati masa tuamu. Enak toh? Tidak perlu ada ribut-ribut.
Tapi... saya teringat saat-saat saya berhadapan dengan orang tua saya karena masalah restu. Saya ingat bagaimana hati saya berkobar ingin menyatakan bahwa cara berpikir orang tua saya tidak sesuai kebenaran. Terlalu banyak asumsi dan penuduhan. Waktu itu cara saya menyampaikan pemikiran saya memang salah, tidak tunduk dan cenderung berontak. Cara saya salah, tapi tentang kebenaran tidak boleh ditawar-tawar. Dari situ saya belajar bagaimana menyampaikan kebenaran dengan benar tanpa mengurangi rasa hormat pada semua orang (tetap masih perlu banyak belajar).
Ada lagi saat di waktu yang berdekatan Aki dan salah satu sahabat saya mengatakan kalau saya terlalu berusaha keras. Terlalu sungguh-sungguh. Waktu itu saya cukup stress mendengar pendapat mereka. Saya tidak mengerti mengapa menjadi sungguh-sungguh bisa seperti menjadi sebuah kesalahan. Tentu saja sebenarnya maksud mereka baik, supaya jangan sampai tindakan-tindakan saya merugikan diri sendiri. Saya mengerti maksud baik mereka, tapi tidak bisa melepaskan nilai-nilai yang saya pegang. Sampai akhirnya bergumul dan berdoa, Tuhan ingatkan kalau Tuhan tidak pernah meminta saya menjadi orang lain. Tuhan hanya ingatkan bahwa setiap keputusan dan tindakan yang saya ambil pasti ada resikonya dan salah satunya mungkin merugikan diri saya sendiri. Tuhan ingin saya belajar menerima setiap konsekuensi dan tidak menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami. Setelah itu, saya tidak ambil pusing apakah saya terlalu banyak memberi atau tidak. Yang saya tahu, jika seseorang mempercayakan 1 hal pada saya, saya harus memberikan yang maksimal dan terbaik
(melakukan seperti untuk Tuhan dan bukan manusia, bukankah begitu?).
Saya melihat Pak Prabowo dari sudut yang sama. Ada satu nilai yang kita pegang kuat dan kita akan "ngotot" habis-habisan untuk menegakkannya. Seribu orang datang untuk menggoyahkan kita pun sepertinya tidak akan berhasil. Nilai-nilai ini berbeda pada setiap orang. Tergantung pribadi, pengalaman, dan lingkungan di mana kita bertumbuh.
Ada orang yang mati-matian menjaga perdamaian dan mentolerir kesalahan. Ada yang mati-matian menegakkan kebenaran, sekalipun harus ribut. Ada yang mati-matian membawa perubahan, ada yang mati-matian menjaga tradisi.
Tidak ada yang benar atau salah karena semuanya mempunyai fungsinya masing-masing.
Lalu bagaimana dengan Pak Prabowo? Saya melihat beliau sebagai salah satu orang yang habis-habisan melawan kecurangan. Tidak salah bukan? Beliau juga melakukan di jalur yang benar. Bukan dengan kekerasan, tetapi mempercayakannya lewat hukum.
Ditambah dengan cerita Papa tentang beliau saat masih menjadi pimpinan di Group 1 Kopassus, apa yang beliau putuskan dengan beberapa poin alasannya, saya tidak heran. Pak Prabowo memang paling anti kecurangan. Anak buahnya dicurangi, dia yang akan maju ke depan untuk membela hak-hak mereka. Saat atasan lain memotong jatah para prajurit, beliau memberikan yang terbaik untuk kemakmuran bawahannya. Papa bilang beliau selalu adil. Dia akan memakmurkan bawahannya (kalau perlu dari dompet sendiri), tapi beliau juga akan tuntut mereka habis-habisan untuk bekerja maksimal buat rakyat. Kalau tidak bisa bekerja maksimal, lebih baik mundur. Tidak ada kata setengah-setengah.
Jadi, mungkin kita bisa melihat dari sudut yang berbeda fenomena drama politik ini. Kita percayakan semuanya pada pemerintahan. Akan seperti apa hasilnya, kita tidak tahu. Yang penting kepala kita dingin dan tetap belajar melihat segala sesuatu dari berbagai sudut. Bukan hanya karena asumsi dan pelabelan yang kita miliki pada suatu hal.
Salam 3 jari!! Indonesia penuh kemuliaanNya!
Eh, selama Pilpres ini (ih, masih soal Pilpresss??!!) saya banyak tulisa status-status yang minta tementemen FB saya menulis hal-hal yang baik. Mulai dari menggunakan kalimat yang tenang, sampai kalimat yang akhirnya lumayan 'ga asik' (sahabat saya sampai menegur akakkaka). Dari yang tadinya saya tenang saja, sampai jadi ikut-ikutan 'nyebelin' (apakah seperti itu? Saya merasa tertular virusnya hihihi). Dari yang tadinya saya abaikan, sampai saya unfollow beberapa teman yang saya sudah tidak tahan dengan kalimat-kalimat menjatuhkannya.
Mungkin kesannya saya merasa paling benar, tapi bener kan ya?? Kita harus menjaga perkataan kita? (cari teman). Selama ini kita selalu bikin hastag PrayForIndonesia, tapi kalau perkataan kita sendiri menjatuhkan tanah air kita dan lebih sering menceritakan 'dosa' orang lain, bukankah kita sedang menabur doa juga??
Blogging
Bodycare
Bola Mukjizat
Buku
Curhat
Iman Kristen
Kesehatan
MakeUp
MyFatherHasDone
MyLoveStory
Resep
Review Produk
Skincare
SuratUntukADik
Tips
artikel
cerpen
free download
friendship
ilustrasi
keluarga
kumpulan cerpen
kumpulan puisi
liburan
movie
parenting
perempuan
pranikah
printable
psikologi
tumbuh kembang anak
-
Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
-
Hi Gorgeous!! Menulis sepertinya jadi hal yang sulit buat saya lakukan karena terlalu mempertimbangkan banyak hal. Selain tidak ...
-
Come and Hug bercerita tentang Yoon Na-Moo dan Gil Nak-Woo yang bertemu pertama kali saat mereka remaja. Mereka saling jatuh cinta se...
-
Hi Gorgeous!! Happy weekend!! Udah lama ga bikin postingan review tentang produk kecantikan yaa. Nih, kali ini saya mau review...
-
Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih. Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
-
Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

