amsaLFoje -A Long Life Learner-

Pak Prabowo menyatakan tidak menerima hasil rekapitulasi KPU, reaksi orang bermacam-macam. Saya salah satu pendukungnya yang sedang asyik menggosok baju, langsung terbengong-bengong menyaksikan pidato beliau di layar tivi. Saya mendengarkan dengan seksama pidato beliau untuk menyerap setiap detail kata-kata beliau. Sampai di penutupan pidato, saya cuma bisa senyum-senyum mengerti dan membayangkan drama yang akan terjadi. Timeline facebook saya pasti akan penuh dengan status mempertanyakan keputusan beliau. Dari yang waras sampai menghinadina.

Tapi, saya tidak mau membicarakan atau membela Pak Prabowo. Saya hanya ingin menceritakan sisi di mana saya melihat dari kacamata beliau. Mengapa Pak Prabowo tidak legowo??

Semua orang mengatakan bahwa beliau tidak bisa menerima kekalahan, tapi saya tidak melihat hal itu. Yang saya lihat beliau tidak bisa menerima kecurangan. Kalau apa yang beliau tuduhkan pada KPU ternyata terbukti benar, berarti hampir setengah rakyat Indonesia dicurangi. Tentunya ini bukan hal yang bisa dianggap enteng.

Buat orang-orang seperti saya dan orang-orang lain yang meminta beliau bersikap "ksatria", mungkin akan dengan mudah menerima kecurangan tersebut. Ya, kalau dipikir, buat apa sih bersusah payah?? Udahlah terima saja dan duduk tenang di rumah dan nikmati masa tuamu. Enak toh? Tidak perlu ada ribut-ribut.

Tapi... saya teringat saat-saat saya berhadapan dengan orang tua saya karena masalah restu. Saya ingat bagaimana hati saya berkobar ingin menyatakan bahwa cara berpikir orang tua saya tidak sesuai kebenaran. Terlalu banyak asumsi dan penuduhan. Waktu itu cara saya menyampaikan pemikiran saya memang salah, tidak tunduk dan cenderung berontak. Cara saya salah, tapi tentang kebenaran tidak boleh ditawar-tawar. Dari situ saya belajar bagaimana menyampaikan kebenaran dengan benar tanpa mengurangi rasa hormat pada semua orang (tetap masih perlu banyak belajar).

Ada lagi saat di waktu yang berdekatan Aki dan salah satu sahabat saya mengatakan kalau saya terlalu berusaha keras. Terlalu sungguh-sungguh. Waktu itu saya cukup stress mendengar pendapat mereka. Saya tidak mengerti mengapa menjadi sungguh-sungguh bisa seperti menjadi sebuah kesalahan. Tentu saja sebenarnya maksud mereka baik, supaya jangan sampai tindakan-tindakan saya merugikan diri sendiri. Saya mengerti maksud baik mereka, tapi tidak bisa melepaskan nilai-nilai yang saya pegang. Sampai akhirnya bergumul dan berdoa, Tuhan ingatkan kalau Tuhan tidak pernah meminta saya menjadi orang lain. Tuhan hanya ingatkan bahwa setiap keputusan dan tindakan yang saya ambil pasti ada resikonya dan salah satunya mungkin merugikan diri saya sendiri. Tuhan ingin saya belajar menerima setiap konsekuensi dan tidak menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami. Setelah itu, saya tidak ambil pusing apakah saya terlalu banyak memberi atau tidak. Yang saya tahu, jika seseorang mempercayakan 1 hal pada saya, saya harus memberikan yang maksimal dan terbaik
(melakukan seperti untuk Tuhan dan bukan manusia, bukankah begitu?).

Saya melihat Pak Prabowo dari sudut yang sama. Ada satu nilai yang kita pegang kuat dan kita akan "ngotot" habis-habisan untuk menegakkannya. Seribu orang datang untuk menggoyahkan kita pun sepertinya tidak akan berhasil. Nilai-nilai ini berbeda pada setiap orang. Tergantung pribadi, pengalaman, dan lingkungan di mana kita bertumbuh.

Ada orang yang mati-matian menjaga perdamaian dan mentolerir kesalahan. Ada yang mati-matian menegakkan kebenaran, sekalipun harus ribut. Ada yang mati-matian membawa perubahan, ada yang mati-matian menjaga tradisi.

Tidak ada yang benar atau salah karena semuanya mempunyai fungsinya masing-masing.

Lalu bagaimana dengan Pak Prabowo? Saya melihat beliau sebagai salah satu orang yang habis-habisan melawan kecurangan. Tidak salah bukan? Beliau juga melakukan di jalur yang benar. Bukan dengan kekerasan, tetapi mempercayakannya lewat hukum.

Ditambah dengan cerita Papa tentang beliau saat masih menjadi pimpinan di Group 1 Kopassus, apa yang beliau putuskan dengan beberapa poin alasannya, saya tidak heran. Pak Prabowo memang paling anti kecurangan. Anak buahnya dicurangi, dia yang akan maju ke depan untuk membela hak-hak mereka. Saat atasan lain memotong jatah para prajurit, beliau memberikan yang terbaik untuk kemakmuran bawahannya. Papa bilang beliau selalu adil. Dia akan memakmurkan bawahannya (kalau perlu dari dompet sendiri), tapi beliau juga akan tuntut mereka habis-habisan untuk bekerja maksimal buat rakyat. Kalau tidak bisa bekerja maksimal, lebih baik mundur. Tidak ada kata setengah-setengah.

Jadi, mungkin kita bisa melihat dari sudut yang berbeda fenomena drama politik ini. Kita percayakan semuanya pada pemerintahan. Akan seperti apa hasilnya, kita tidak tahu. Yang penting kepala kita dingin dan tetap belajar melihat segala sesuatu dari berbagai sudut. Bukan hanya karena asumsi dan pelabelan yang kita miliki pada suatu hal.

Salam 3 jari!! Indonesia penuh kemuliaanNya!


Eh, selama Pilpres ini (ih, masih soal Pilpresss??!!) saya banyak tulisa status-status yang minta tementemen FB saya menulis hal-hal yang baik. Mulai dari menggunakan kalimat yang tenang, sampai kalimat yang akhirnya lumayan 'ga asik' (sahabat saya sampai menegur akakkaka). Dari yang tadinya saya tenang saja, sampai jadi ikut-ikutan 'nyebelin' (apakah seperti itu? Saya merasa tertular virusnya hihihi). Dari yang tadinya saya abaikan, sampai saya unfollow beberapa teman yang saya sudah tidak tahan dengan kalimat-kalimat menjatuhkannya.

Mungkin kesannya saya merasa paling benar, tapi bener kan ya?? Kita harus menjaga perkataan kita? (cari teman). Selama ini kita selalu bikin hastag PrayForIndonesia, tapi kalau perkataan kita sendiri menjatuhkan tanah air kita dan lebih sering menceritakan 'dosa' orang lain, bukankah kita sedang menabur doa juga??
Perhelatan Pilpres 2014 sudah berakhir. Teeettt!!! Ternyata belum. Masih ada drama kelanjutannya. Yang sudah muak bersabar yaaa... Apalagi yang berperan kali ini Capres yang saya dukung. Jadi, pasti timeline FB saya juga bakal banyak bahas soal beliau lagi. Hehehhe...

Soal drama, bukan hanya kejadian kemarin yang bisa dikatakan drama demokrasi yang cukup mengguncang sekaligus membanggakan (negara  demokrasi mana yang bisa capresnya begitu?? Akakkaka.. *ngelesss), sebelumnya tanggal 9 Juli ada drama lain di rumah saya tercinta di Cilegon. 

Masih berhubungan dengan copras capres. Jadi begini ceritanya....

Tanggal 8 Juli 2014, saya dijemput orang tua supaya bisa pulang ke Cilegon dan melakukan pencoblosan Pilpres yang sangat kita nanti-nantikan. Tadinya beraaattt banget mau perginya. Yang dipikiran nanti Aki siapa yang ngurusin, nanti Aki makan apa, dan berjuta pikiran seorang istri yang kuatir soal penghidupan suaminya. Alesannya sih Aki tidak mau ditinggal, padahal saya yang tidak mau pisah. Akakkaka... 
Yang Terhormat Bapak Prabowo, Capres No. 1 Mungkin Bapak tidak akan pernah membaca surat ini. Tapi daripada saya membuat surat untuk Pak Jokowi, yang saya sendiri pun tidak mendukung beliau untuk nyapres tahun ini, lebih baik saya menulis surat ini buat Bapak. Saya ibu rumah tangga biasa Pak. Ibu yang akan segera melahirkan seorang putra bangsa juga. Yang punya banyak mimpi untuk putranya ini suatu saat bisa membawa perubahan walau pun hanya perubahan kecil untuk orang-orang sekelilingnya. Mimpi saya tidak muluk-muluk, hanya ingin melihat anak saya bisa menjadi inspirasi untuk hidup orang lain. Dalam masa pilpres ini, saya sempat beberapa kali naik darah dengan kelakuan teman-teman saya, Pak. Bukan karena menjelek-jelekkan Pak Prabowo, tapi karena cara berpikir mereka dan kata-kata yang mereka keluarkan tentang negara ini. Pak, saya pendukung Bapak, tapi saya bukan pendukung fanatik atau cinta buta pada Bapak (Cinta buta saya hanya untuk Tuhan dan suami saya). Saya tahu isu-isu yang berkembang tentang Bapak, orang-orang bermasalah yang ada di belakang Bapak, dan banyak lagi kabar jelek tentang Bapak. Saya tidak menutup mata pada semua itu dan saya tidak tahu pasti kebenarannya. Saya mendukung Bapak hanya karena satu keyakinan, Bapak mencintai tanah air ini. Saya mendengar cerita dari orang tua saya bagaimana Bapak begitu menghormati negeri ini dan tidak ada berita lain yang bisa saya percaya selain perkataan orang tua saya sendiri. Tapi, ternyata cerita orang tua saya didukung dengan berita-berita lain yang kurang terkenal. Saya semakin diteguhkan dan percaya bahwa Bapak benar-benar mencintai negeri ini. Pak, orang banyak bilang Pak Prabowo begini dan begitu, tapi saya ini orang yang lebih percaya apa yang di depan mata saya Pak. Anda santun dan menghormati orang lain. Entahkah itu pencitraan atau bukan, saya tetap memandang itu sebagai keteladanan yang baik yang ingin saya dan anak saya contoh. Menghargai dan menghormati perbedaan. Omongan saya mulai ngalor ngidul, Pak. Saya tidak pintar berkata-kata, maklum saja ya Pak. Intinya dari surat saya ini, saya percaya orang yang mencintai negeri ini tidak akan melukai negeri ini juga. Kalau Bapak benar-benar jadi Presiden, saya tahu pemerintahan Bapak tidak akan sempurna, tapi saya memohon untuk Bapak benar-benar menjadi teladan bagi anak saya dalam mencintai tanah air dengan merangkul setiap lapisan masyarakat. Bekerjasama dengan partai oposisi atau pun orang-orang yang tidak sependapat dengan Bapak. Sejauh ini saya percaya Bapak bisa melakukannya. Kalau pun Bapak tidak jadi presiden juga, tetaplah jadi teladan untuk generasi kami ini Pak yang lebih banyak komentar daripada bertindak. Seperti yang Bapak katakan untuk menerima setiap keputusan rakyat dan akan tetap memajukan Indonesia dengan peternakan dan usaha Bapak. Jangan pernah berhenti jadi teladan untuk mencintai negeri ini, Pak. Ingatkan kami pendukungmu untuk tetap menghormati capres yang menang sama seperti Bapak selalu mengingatkan kami untuk menghormati kubu sebrang pada masa kampanye. Pak, saya bukan orang pintar, tapi saya bisa merasakan ketulusan Bapak mencintai negeri ini. Saya sebagai salah satu rakyat yang mendukung Bapak, sudah siap kecewa seandainya pemerintahan Bapak tidak seperti yang saya harapkan. Tapi, sekali lagi ini keyakinan saya Pak, saya merasakan ketulusan Bapak dan menginspirasi saya untuk mencintai tanah air ini apa pun keadaannya. Maju terus, Pak! Semoga akan lahir putra-putra bangsa yang benar-benar mencintai negeri ini sama seperti Bapak! Panjang umur sehat selalu, Pak. Tuhan memberkati. NB: Tuhan ga pernah bilang apakah Bapak adalah orang yang tepat atau tidak untuk memerintah bangsa ini, tapi Tuhan mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sisi dan menghormati setiap pemerintahan yang ada di negeri ini. Kalau pun ada hal buruk terjadi di tanah air ini, Dia hanya berjanji kalau Dia akan menjaga hidup saya dan orang-orang yang saya kasihi. Saya tidak takut nyawa habis Pak, saya hanya takut kalau semua orang lupa cara saling mengasihi dan mengampuni. ---- ini satu alasan lagi mengapa saya memilih Bapak.
amsaLFoje via Blogaway

Serius, hari ini tertekan. Tulang panggul lagi sakit dan ga bisa ngapa-ngapain dengan bebas. Udah berasa ga enak. Tau2 baca status kenalan share soal capres ga mau cipika cipiki. Saya sudah lihat beritanya pas bareng suami. Kami langsung muak luar biasa. Bukan karena memojokkan capres yang satu, tapi karena bagaimana berita itu disampaikan dengan cara yang tidak mendidik.
Waktu lihat status teman saya itu, saya sudah gerah. Waktu lihat status kk saya dikomentari dengan berita itu lagi, saya makin panas.
Orang ini dengan sengaja komentar untuk menyebarkan berita tersebut padahal status kakak saya tidak membahas hal tersebut.
Jujur, saya marah. Saya mulai balas komentarnya dengan tajam. Mungkin orang akan anggap saya membela capres A, tapi sebenarnya ada satu nilai yang saya pegang.

Dulu saya pernah ikut camp dan di sana saya diajarkan untuk tunduk dan taat pada komandan. Istilahnya kami dilatih untuk jadi pelayan Tuhan yang tangguh. Saya paling ingat nilai-nilai yang diajarkan. JANGAN BERASUMSI! Saat kita mengambil keputusan yang mempengaruhi orang banyak dengan asumsi, pasti berantakan. Bukan hanya saya saja yang dirugikan, tapi juga orang yang saya pimpin dan orang sekeliling saya.

Nilai ini saya bawa sampai sekarang. Dulu saat masih bekerja, saya memilih bertanya dan dikatakan bodoh daripada salah mengambil keputusan. Walaupun pekerjaan saya sepele. Saya hanya terngiang kakak pembina di camp saat itu. Hari ini kalau saya teledor, mungkin hanya selembar surat, tapi bisa memperlambat prosedur atau proses administrasi.

Teman yang share link ini pun pernah ikut camp yang sama. Jadi, ini bentuk protes saya. Sebelumnya juga ada beberapa orang yang saya kenal dan saya tahu dia harusnya beliau jadi teladan, melakukan hal yang sama. Menyebar link dengan kalimat yang tidak membangun.

Rasanya tuhh sesakk luar biasa waktu lihat hal ini. Mungkin saya yang terlalu serius, tapi beneran dehh, saya pribadi butuh teladan. Apalagi generasi di bawah saya. Kalo ingin generasi kita pintar, masa kita menyuapi mereka dengan bulat-bulat. Tidak diajarkan memakai hikmat dan pengetahuannya?? Ampuni aku Tuhan kalau aku ternyata begitu.

Saya jadi berkaca juga, apa saya sendiri tidak terlalu ekstrim dan keras berusaha meluruskan? Apa saya tidak berat sebelah? Apa saya terlalu bersungguh-sungguh seperti yang teman saya bilang dulu? Apa saya justru sedang menghakimi?

Hikss.. ya sudahlah ya. Saya hanya menyatakan apa yang menjadi keyakinan saya, balik-balik keputusan masing-masing orang mau bicara dengan cara apa atau seperti apa.

God bless Indonesia. God bless our nation. God bless Pak Wowo dkk & Pak Wiwi dkk.

Segala sesuatu mendatangkan kebaikan. Amin.

Huaaa, sudah berapa lama saya tidak menulis ya?? Sudah lama sekali ternyata. Eh, terakhir sih tanggal 2 Juni. Ya, belum lama-lama amatlah ya.

Bulan Juni ini bisa dibilang bulan PANAS. Bukan cuma karena sedang musim kemarau, tapi juga panas dan gerah dari efek kehamilan (elus-elus perut). Ditambah lagi adanya Pesta Demokrasi dan Piala Dunia. WOWWW. Kira-kira kalau dikalkulasi ke Celcius bisa berapa derajat ya?? Hahaaha...

By the way BUSWAY,
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
  • [Review] Makarizo Hair Energy Hair Fragrance Fresh Bouquet
    Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
  • [Review] Nivea Micellar Water 0% Alkohol
    Hi temans, Besok Gi, bocahku, libur jadi hari ini emak centil agak santai. Sambil nunggu jemuran kering supaya bisa langsung ...
  • ISTRI Versus MERTUA
    http://www.lovelovechina.com/wp-content/uploads/husband-wife-mother.jpg Kemarin saya mampir ke forum weddingku.com dan baca-baca bera...
  • CURHATAN SI INTROVERT
    Baru-baru ini saya baca artikel tentang orang introvert yang waktu baca saya pengen teriak “ Itu gua bangeeeettt!!” Hahahhaha…. Sete...
  • Gandengan Tangan
    S ekalinya ngeblog langsung banyak yang diceritain neh.. Hehhehehe.. Secara kuota internet tau-tau habis gara-gara buka YouTube. Di ...
Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karyaku. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang saya bagikan, kamu bisa mendukung saya dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Support Me

Support Me
Traktir amsaLFoJe Amerikano supaya makin semangat nulis.

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Pengikut

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates