amsaLFoje -A Long Life Learner-

 “ Kamu pasti bisa, Ra.” Bella menepuk bahuku, pelan. Senyuman hangatnya menghiburku, tapi tidak cukup untuk bisa meyakinkanku kalau aku bisa menyelesaikan apa yang ada di depan mataku.

“ Mari kita sambut, Diara!!” namaku disebut dan aku pun melangkah memasuki panggung. Alunan musik yang berputar memberiku tanda aku harus segera menari.

Aku menggerakkan setiap bagian badanku, menarikan tarian yang telah lama kulatih. Aku terus menari tanpa mau melihat pada wajah para juri. Aku hanya mengikuti musik dan menari sesuai dengan alunan lagu. Sampai akhirnya lagu berakhir, kurasakan jantungku berdegup kencang.

“ Silahkan Diara maju ke depan.”

Aku melengkah ke depan agar lebih dekat dengan juri.

“ Selamat siang, Diara.”

“ Siang” jawabku lirih dengan mike di tanganku.

“ Kamu punya bakat yang sangat bagus. Tapi sayang…”

Ini dia…Ini dia…Dia akan mengatakan aku tidak layak untuk jadi juara.

“ Kamu kurang percaya diri. Apakah berada di atas panggung ini begitu menakutkan? Jika kamu tidak benar-benar menginginkan panggung ini, lebih baik kamu menari di belakang panggung.”

Aku memandang wajah juri itu. Wajah yang ramah tapi kata-katanya tajam. Aku tahu ini semua akan terjadi. Aku memang tidak cocok jadi penari. Tidak cocok sama sekali.

“ Aku…Aku tahu…”

“ Jadi, kenapa kamu mengikuti kontes ini?”

“ Temanku…ikut lomba ini…”

“ Apa kau ingin menang?”

Aku menggeleng pelan. Juri itu tampak kecewa. Kedua juri yang lain hanya mengetuk-ngetukkan jari mereka atau menopang dagu mereka dengan tangan.

“ Kenapa kamu tidak ingin menang?”

Tanya salah satu juri wanita.

“ Karena…saya tahu saya akan kalah…” Suaraku semakin lirih.

“ Ok, sudah cukup! Terima kasih, Diara.” Si ketua juri memberi tanda pada MC untuk peserta berikutnya. Aku melangkah mundur dan masuk ke belakang panggung. Di belakang panggung Bella kembali menepuk bahuku.

“ Tidak apa-apa, Ra. Tidak apa-apa…” ucapnya. Lebih terdengar ragu.

“ Sudah giliran kamu.” ucapku. Bella mengangguk dan masuk panggung. Lagu terdengar mengiringi setiap gerakan tubuhnya yang lentur. Ia menari seperti burung yang bebas. Wajahnya tampak puas dan seperti ingin memasukkan semua bagian dari dunia ke dalam genggaman tangannya.

Aku selalu terpesona melihat cara Bella menari. Padahal kami memiliki aliran dansa yang berbeda. Aku mengikuti street dance, sedangkan Bella seorang penari balet sejati. Yang selalu membuat aku kagum adalah matanya yang lebih hidup dari biasanya saat ia menari. Matanya mengatakan setiap makna dari gerakannya, entahkah kesedihan, entahkah kegembiraan, cinta, atau kekaguman…Tariannya hidup…

***

“ Kan aku sudah bilang aku tidak perlu ikut lomba ini!! Kamu Cuma ingin mempermalukan aku!!” bentakku pada Bella. Aku melirik piala juara pertama di tangannya dan merasakan dadaku semakin sesak.

Lagi-lagi…Bella memenangkan perlombaan. Entah sudah piala ke berapa yang ia terima sejak kami bersama-sama memutuskan untuk menjadi penari profesional. Bella selalu menang dan aku selalu kalah. Ya, aku selalu kalah. Seperti saat ini.

Padahal aku sudah bekerja keras. Aku berlatih setiap hari. Aku berlatih hingga kelelahan, tapi aku selalu kalah dan kalah.

“ Ra, aku ga bermaksud. Maaf, ya. Kalau kamu mau piala ini, ambil saja.” Bella menyodorkan piala itu ke padaku dan kurasakan wajahku memanas. Aku merasa seperti dijatuhkan lebih dalam.

“ Aku tidak butuh pialamu! Aku akan memiliki pialaku sendiri!!” Aku merenggut piala itu dan melemparkannya jauh-jauh. Bella tampak terkejut. Ia memandangku dengan tatapan tidak percaya, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia pergi mengambil piala itu kembali sementara aku segera pergi meninggalkannya.

Aku tidak menoleh lagi. Aku tidak mau Bella menghampiriku dan membicarakan masalah perlombaan itu lagi. Aku muaaakkk…

***

“ Hei, Ra!! Mana senyumanmu??!!” Bella meneriakiku dengan keras. Padahal aku baru memulai tarianku.

“ Iya..” gerutuku sambil memutar ulang lagu.

Lagu mulai berputar. Memasuki setiap aliran darahku dan aku pun menari. Menari seperti burung yang terbang. Aku merasa seperti bisa melakukan apa pun. Aku cinta menari. Sepertinya aku bisa menari sepanjang hidupku. Tanganku, kakiku, aku menikmati setiap hentakan yang kurasakan ditubuhku saat musik mengalun dan memompa darahku.

Di sisi ruangan Bella memperhatikanku dengan puas. Tatapan mata yang beberapa hari ini sudah sering kulihat. Sedangkan kemarin-kemarin ia tampak lelah dan iri. Entah apa yang mengubah pandangan matanya itu.

“ Bravooo!! Kalau kamu menari seperti ini, besok pasti kamu menang Ra!” Bella berseru penuh antusias. Aku hanya tersenyum bangga.

Aku menyalakan musik lagi dan mengambil handukku. Mengelap keringatku dan menyambar air mineral. Kuteguk air mineral itu sampai 7 kali tegukan. Aku menoleh pada Bella yang menggoyang-goyangkan tangannya. Aku berlari mendekat dan menyambar gagang kursi rodanya. Kudorong kursi itu dan kuputar-putar sementara Bella merentangkan tangannya sambil bersenandung. Aku melihat mata yang sama, mata yang sama saat ia menari dengan kedua kakinya. Menari dengan lincah seolah dunia hanya miliknya.

Hari itu..Hari dimana aku melemparkan pialanya, itulah hari terakhir ia menari dengan kedua kakinya. Aku tidak tahu kalau Bella mengalami kecelakaan karena mengambil piala itu. Aku mengetahuinya keesokan harinya saat orang tuanya menelepon ke rumah.

Waktu itu aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya berdiri di depan kamar dimana Bella di rawat. Aku mendengar Bella menangis. Ia meraung. Ia tidak menerima…Kakinya diamputasi. Kakinya yang berharga…

Berminggu-minggu aku tidak mau menemuinya. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Semua salahku. Salahku…Kalau saja aku tidak melemparkan piala itu. .Bella layak untuk membalaskuu..

Tapi aku tidak bisa terus menerus lari darinya. Bella datang ke rumahku dan langsung datang ke kamarku dengan kursi rodanya. Ia memandangku dengan kesal.

“ Teman macam apa kamu?!!” serunya kesal. Aku bisa merasakan sesak di dadaku saat ia berkata seperti itu. Biarlah ia memakiku. Biarlah ia marah padaku. Biar puas dan lega hatinya.

“ Kenapa kau tidak menjengukku satu kali pun!!?? Aku membutuhkanmu!! Kenapa kamu tidak datangg??!!”

Waktu itu aku terpaku mendengar kata-kata Bella. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Aku hanya menangis dan menangis. Tangisku semakin keras saat Bella mengulurkan tangannya dan aku memeluknya dengan erat. Dia memaafkanku.

Tiga bulan telah berlalu, sekarang, akulah yang menjadi kaki Bella. Dia melatihku untuk mencintai tarian. Dia selalu meneriakiku untuk tersenyum saat menari di depan banyak orang. Sering kali ia memakai rasa bersalahku agar aku mau menari di depan orang banyak, tapi apa yang ia lakukan padaku membuat aku mengerti bahwa ia benar-benar mencintai dunia tari.

“ Kaki dan tanganku boleh hilang, tapi aku tidak akan berhenti menari, Ra.” ujarnya di satu malam saat aku menginap di kamarnya. Saat itu aku bisa merasakan api di hatinya. Api yang membara membakar dirinya saat dirinya menari. Tubuhnya mungkin terbatas untuk menari, tapi jiwanya tidak pernah bisa berhenti menari.

“ Ra, jangan kubur mimpimu ya. Kamu bisa jadi seorang penari terkenal Ra..Pasti bisa..”

Kalimat itu bukan hiburan atau dukungan semata. Kalimat itu adalah iman Bella terhadap hidupku dan hari ini menjadi imanku juga.

***

" You can do it, Ra. Jangan lupa senyumm!!” Bella menepuk bahuku dengan wajah tegang. Aku tersenyum dan mencubit pipinya pelan.

“ Iya, bu guru.” Bella tampak lega memandangku.

Ini pertama kalinya aku mengikuti lomba tanpa Bella menjadi sainganku. Justru ia menjadi pelatihku. Aku tidak tahu apakah aku akan menang atau tidak. Yang aku tahu, aku ingin menari…Menari sampai seluruh dunia tahu kalau aku mencintai tarian.

“ Inilah dia, Diara!!”

Namaku dipanggil dan bergegas aku masuk ke panggung. Musik diputar dan aku merasakan musik itu mengalir dalam darahku. Aku menari seperti burung yang terbang bebas. Seperti dunia hanyalah milikku….

***

 Trakteer cendol untuk Dara & Shani supaya hidup mereka terus happy.

KAPAL KAWAN |

  Warning!!!

Cerpen ini mungkin akan membangkitkan trauma. 

Sebaiknya hati-hati atau stop jika ada tanda-tanda terpicu.

—-------------------------------------------

"Scrolling twitter lagi lo, Ra?"
Tepokan pelan Shani di bahu Dara membuatnya sedikit tersentak. Shani duduk di sebelahnya dan mencomot satu kerupuk kulit yang Dara tidak habiskan.

"Pak, mau bakso telornya 1 porsi, pakai bihun aja." serunya pada Pak Jaja si penjual bakso di kantin sekolah.

Tanpa menjawab, Pak Jaja mengangkat jempolnya dan kembali sibuk melayani siswa lain yang sudah memesan lebih dulu.

"Lagi baca apa sih lo? Muka serius banget." Shani melirik ke arah hp Dara dan melihat aplikasi twitter yang sangat ia hindari.

Shani mendengus pelan dan memasukan kerupuk kulit terakhir, sisa an Dara.

"Masih baca Twitter aja lo? Nyari bokep lo ya?"

"Anjir.. Ya kagaklah." Dara mendelik tidak terima tuduhan Shani yang membuat harga dirinya jadi terasa rendah.

"Gw lagi baca topik cewe dicerai lakinya. Padahal baru 2 bulan nikah," jelas Dara sambil menyodorkan hpnya pada Shani supaya ia membacanya dan menjadi lebih jelas.

Shani membaca thread itu sebentar dan mendengus lagi. Bibirnya tersenyum, meledek.

"Baguslah dicerai. Daripasa hidup sama laki yang ga punya prinsip kayak gitu."

Shani mengembalikan hp Dara dan tak melanjutkan bicaranya. Ia menatap ke arah Pak Jaja dengan pandangan lurus. 
Dara kira ia sedang tidak sabar menunggu bakso pesanannya, tapi ternyata dia sedang melamun. Tatapan matanya kosong, pikirannya jauh menerawang.

" Lagi mikirin apa sih lo Shan?"  tanya Dara sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Shani.

"Ha? Kagak. Cuma mikirin cara dapet koleksi photo card Black Pink yang baru." jelas Shani, ngasal.

"Gara-gara topik kayak yang tadi itu, orang jadi banyak yang takut nikah tahu Shan." Dara masih mau membahas apa yang ia baru baca.

"Padahal kan pernikahan ga semengerikan itu.  Bonyok gw masih rukun-rukun aja tuh. Padahal udah 23 tahun nikah." cerocos Dara dengan dahi mengkerut.

"Orang harusnya ga ambil kesimpulan dari sedikit kasus..."

"Ya, sama ajalah Ra. Pernikahan bonyok lo adem ayem itu juga sedikit kasus. Banyak orang nikah lama, tapi ternyata ga happy.  Bisa jadi bertahan buat anak-anaknya aja atau takut ga dapet suntikan dana..."

Dara terdiam mendengar ucapan Shani yang memotong kalimatnya. Entah kenapa nada bicara Shani seperti sedang menekan mulutnya supaya diam.

" Tapi.. Nyokap gw kan kerja... " bantah Dara, ragu.

" Ya, gw juga bukan lagi ngomongin bonyok lo. Gw ngomongin orang lain yang nikah lama. Bonyok gw nikah lumayan lama, cerai juga."

"Iya, tapi kan ga semua berujung cerai.."

"Ya kagaklah. Tapi bukan berarti baik-baik aja. Lo ga tahu bagian dalem kapalnya bocor atau ga. Bisa jadi orang-orang di dalemnya lagi usaha biar kapalnya ga karam.. Ya kan??"

Dara tak membalas kata-kata Shani. Getaran suara menahan emosi di akhir kalimat Shani membuatnya mengunci mulutnya rapat. Waktunya ganti topik pembicaraan.

" Eh, bakso lo udah jadi tuh.." seru Dara, terlalu bersemangat. Pak Jaja meletakkan mangkok terisi penuh bakso di depan Shani. Shani mengangguk pelan, tanda terima kasih. Ia segera meracik baksonya tanpa bicara lagi.

Dara pun tidak bicara. Ia merasakan atmosphere dingin tiba-tiba membungkus ia dan Shani. Dara merasa harus meminta maaf pada Shani tapi ia pikir harusnya Shani tidak perlu sesensitif itu. Apalagi ia terkesan menyerang pendapat Dara.

Lagipula, orang tua Shani sudah lama bercerai. Harusnya dia sudah berdamai dengan perceraian itu. Dia juga sudah punya ayah baru yang bisa membiayai hidupnya dan ibunya. Ayah sambungnya tidak seperti ayahnya yang dulu tidak bisa menafkahi keluarganya.

Memikirkan cara bicara Shani tadi, entah kenapa Dara merasa gondok.

Dara menghela napasnya pelan, mencoba meredakan ketegangan di rongga dadanya.

Bukan sekali dua kali Shani suka mendebat Dara dengan nada menyerang. Dara sering merasa dianggp bodoh dan dianggap rendah dengan cara bicaranya tapi entah kenapa Dara tidak bisa menjawab. Semua yang Shani katakan benar.

Dara menghembuskan napasnya lagi. Ia tidak suka punya perasaan seperti ini pada sahabatnya.

"Mau ga? Aaaa..."

Tiba-tiba saja sebuah bakso sudah ada di depan wajah Dara. Shani yang menyodorkan bakso itu membuka mulutnya, mendorong Dara supaya mau menerima pemberiannya.

Dara membuka mulutnya, ragu. Saat bakso itu masuk ke mulutnya dan mulai mengunyah, air wajah Shani terlihat cerah. Ia menyeringai lebar lalu mencubit pipi Dara pelan.

"Apaan sih?"  bisik Dara, sambil tersenyum, malu.

Rasa sesak di dadanya seketika lenyap. Melihat sikap Shani yang mencair, ia tahu Shani baik-baik saja.

Hanya saja, ada yang menggantung dalam pikirannya. Benarkah Shani baik-baik saja??

***

"Mami pulangg!"

Dara berlari kecil ke arah pintu depan rumah mendengar suara ibunya.

"Udah pulang, Mi?" tanya Dara sambil cengengesan. Matanya memandang kantong belanjaan ibunya penuh harap.

"Hilih, Mami baru nyampe udah ngarep oleh-oleh. Nihhh!!"

Wanita 40an itu menyodorkan kantong di tangannya pada anak gadis sulungnya itu. Dara melompat kecil saking senangnya.

Martabak dari dekat kantor ibunya adalah yang terbaik. Dara sudah memesannya dari tadi pagi dan menunggunya dengan tidak sabar.

"Papi mana?"  tanya ibunya sambil meletakkan tas laptopnya di sofa.

"Lagi pergi sama Jaka beli bahan prakarya. Mau dibawa besok," jawab Dara sambil tetap fokus membongkar plastik merah dan mengeluarkan 2 kotak martabak. Satu martabak telor dan satu lagi martabak manis coklat, kacang, wijen.

Dengan tidak sabar Dara membuka kotak martabak manis dan mengambil 1 potong. Ia memasukkan potongan martabak itu ke mulutnya dan mengigitnya pela.  Cairan berminyak, gurih langsung tercecap dilidahnya. Kunyahan ke dua, ke tiga dan seterusnya mengeluarkan rasa manis dan gurih yang menari-nari di rongga mulutnya. Aroma wijen menerobos masuk ke hidungnya dan membisikkan kata 'Enak'  ke pusat otaknya.

"Enak banget kayanya sampai merem melek? Mami mau."

Tanpa menunggu persetujuan Dara, ibunya mengambil 1 potong dan menikmatinya sambil terus bergumam.

"Emang enak banget ini martabak. Ga jualan 1 bulan aja berasa bertahun-tahun. Yang kemarin kita beli di tempat lain, ga enak banget."

Dara mengangguk setuju sambil mengambil 1 potong lagi dan melahapnya penuh semangat. Mungkin dia akan makan 5 potong lagi.

" Iya, aku tuh milih nikah pas udah siap aja. Ga maulah nikah muda. Takut salah milih pasangan. Ga perlulah buru-buru."

Suara merdu artis, Pamela yang sedang diwawancara membuat Dara berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah hp ibunya yang sedang asyik menonton Youtube.

" Nonton apa Mi?" tanya Dara,  penasaran. Ia teralihkan dari martabak yang ada di tangannya.

" Ini, Tonight Show. Lagi ada bintang tamu Pamela sama Tigor. Mereka kan digosipin pacaran. Kayaknya sih gosip aja."

" Kok si Pamela bahas-bahas nikah??"

" Tadi lagi ditanya, kira-kira mereka setuju ga sama nikah muda."

" Ohhh.." Dara bergumam pelan. Ia mengunyah pelan martabak di mulutnya.

Otaknya memikirkan kejadian tadi siang di kantin sekolah. Bagaimana ia dan Shani menjadi tegang karena membahas tentang pernikahan.

" Kenapa, Ra? Abis bikin dosa apa?" tanya ibunya melihat Dara yang tiba-tiba tidak bersemangat dengan martabak di tangannya.

"Ih, Mami apaan sih?"  Dara memonyongkan bibirnya tidak terima dengan pertanyaan ibunya. Ia memasukkan potongan kecil martabak di tangannya dan mengunyahnya dengan cepat.

" Mi, Mami tahu kan kalau Shani ortunya udah cerai?"

"Iya tahu. Kenapa?" ibunya menjawab tanpa menoleh dari hpnya. Ia menunggu Dara menlanjutkan pertanyaannya, tapi pertanyaan selanjutnya tidak terdengar. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Dara yang tampak ragu untuk bicar.

" Kenapa Ra?"

" Hmmm.. Tadi siang tuh Dara sama Shani bahas soal pernikahan."

" Terus?"

" Hmmm.."

" Kamu mau nikah muda?"

" Bukaaan... Ih, Mami..."

" Teruss?"

" Dara tuh bahas kalau ada cerita pernikahan yang berakhir cerai bukan berarti ga ada pernikahan yang bisa sampai maut memisahkan. Terus Dara bilang,  kita ga bisa simpulin suatu hal hanya dari kasus tertentu. Kayak Mami sama Papi kan bisa nikah sampai sekarang dan bahagia-bahagia aja."

" Terus? "

" Shani langsung ngejawab Dara. Dia bilang kalau Dara ya sama aja. Nyimpulin suatu hal dengan kasus tertentu... Cara dia ngomong kayak nyudutin Dara...Dara jadi ngerasa gimana gitu.. "

" Ohhh... "

" Tapi kita berdua udah baik-baik aja, Mi."

" Ya, baguslah kalau udah baik-baik aja.  Terus masalahnya apa?"

" Itu... Shani kan ortunya udah 8 tahun cerai.  Sekarang juga udah punya ayah yang lebih baik. Harusnya dia ga sensitif itu kan, Mi?"

Ibunya menegakkan duduknya dan bersiap menyampaikan sesuatu.

" Suara Shani sampe gemeter lohh Mi pas dia ngomong. Padahal itu kan pembahasan yang ga terlalu serius. Cuma diskusi biasa."

Dara mencoba mempertahankan pendapatnya. Melihat ekspresi ibunya, ia tahu akan mendapat wejangan. Berarti apa yang ia pikirkan tidak benar di mata ibunya.

" Ra, inget ga waktu kecil kamu kaget sampe nangis lama gara-gara balon meledak deket Dara?"

Dara tercenung tidak berani menjawab.  Ia bisa menangkap arah pembicaraan ibunya. Seketika benteng logika di kepalanya luruh.

" Sampai sekarang pun Dara masih takut balon kan? Sama kayak gitu. Buat orang yang ga ngalamin 8 tahun itu lama. Tapi buat orang yang punya trauma, kejadiannya kayak baru kemarin. Tiap dibahas kayak luka yang dikorek-korek lagi. Mereka akan meraung kesakitan lagi karena lukanya belum sembuh benar."

Dara menatap mata ibunya dalam. Di dalam kepalanya terbayang wajah Shani yang beberapa kali Dara lihat tampak lesu dan muram. Tidak jarang pula seperti menahan tangis.

" Kamu, sebagai temannya.. Cukup di sisinya aja. Temanin. Ga perlu dinilai. Tunjukin aja kalau kamu peduli sama dia dan mau yang terbaik buat dia."

Entah dirinya yang memang bodoh atau tidak peduli, Dara sadar selama ini tidak benar-benar memberi perhatian penuh pada Shani untuk mendukungnya atau sekedar benar-benar bertanya tentang isi hatinya.

Besok, besok Dara akan mengajaknya bicara dari hati ke hati.

" Lukanya bisa sembuh, Mi?"

" Bisa. Walau membekas tapi pasti bisa. Kita yang ada di sekelilingnya yang harus sabar membantunya melewati masa pemulihan."

Dara menarik napasnya yang tiba-tiba menjadi berat. Ia ingin memeluk Shani dan mendukungnya.

Besok. Ia akan memberikan pelukan terhangat untuk Shani.

***

Sudah berkali-kali Dara mengecek hpnya tapi tidak ada balasan dari Shani. Sejak semalam Dara chat Shani tapi chatnya hanya centang satu.

Sekarang Dara berdiri di depan pintu kelas Shani. Ia sudah menengok beberapan kali ke dalam kelas, tapi Shani tidak ada.

" Tan,  liat Shani ga?"  tanya Dara pada cewe berambut bob yang baru akan masuk kelas.

" Tadi pas gw baru nyampe sih dia bilang mau ke toilet."

" Ok, makasihhh.."

Dara segera bergegas ke toilet murid perempuan yang ada di dekat kantor guru. Ia berharap Shani tidak menyimpan marah atas sikapnya kemarin.

" Ih, gila sih. Kok bisa ga sadar sih. Dari kemarin gw juga ga liat loh perut dia gede."

" Iya,  ga keliatan. Gw juga ga liat."

Obrolan dua orang yang berjalan dari arah toilet mencuri perhatian Dara. Mereka bertemu pandang dengan Dara dan tiba-tiba berbisik-bisik.

Ada apa?

Dara sudah di dekat toilet tapi pintu masuknya terhalang. Ada banyak orang di dalam yang tampak terkejut tapi juga ingin melihat sesuatu.

" Dara! Sini cepetan! Shaniii.."

Salah satu dari murid, teman sekelas Dara memanggil dan menyuruh Dara segera masuk ke toilet.

Mendengar nama Shani, Dara langsung menerobos kerumunan dan berjalan ke arah bilik yang menjadi pusat perhatian.

Semua orang langsung terdiam melihat Dara dan membuka jalan untuknya.

Darah..

Langkah kaki Dara tertahan saat melihat jejak-jejak darah. Kakinya mendadak lemas tapi ia berusaha kuat. Ia takut melihat apa yang ada di dalam bilik toilet. Ia takut Shani mencoba untuk bunuh di...

Dara hampir jatuh terduduk jika orang-orang di belakangnya tidak menahannya. Kakinya seperti menghilang.

Ba... Bayi.. Itu bayi??

Di depan matanya Shani terduduk lemas, bersandar di dinding toilet. Wajahnya pucat seperti mayat. Di pangkuannya bayi yang masih tersambung tali pusar tampak tak bergerak.

" Shaniii..."

***

" Bayinya ga bertahan."

Ibu Dara mengucapkannya dengan susah payah.

" Kematian alami. Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau usaha menggugurkan."

Dara menggigit bibirnya menahan tangis.

Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau Shani sedang hamil? Perutnya terlihat rata dan tidak ada tanda-tanda kehamilan. Shani tampak sangat sehat.

" Ra, kamu tahu siapa ayah bayinya?" tanya ibu membuat Dara semakin kalut.

Dara menggeleng keras karena Shani tidak punya pacar. Dia benci cowo. Sebagian besar waktunya dihabiskan bermain bersama Dara. Mereka hanya mengagumi cowo-cowo K-Pop, selain itu tidak ada 1 cowo pun dalam hidup mereka selain ayah mereka.

" Dara ga tahu, Mi. Dara ga tahuuu... Dara jahat, Miii..."

Tangis Dara pecah. Membayangkan Shani menanggung semuanya sendirian dan dia, sahabatnya, tidak tahu apa-apa. Padahal begitu banyak tanda-tanda Shani butuh ditolong.

Ibu Dara memeluk Dara dengan hangat, mencoba menenangkan anak sulungnya. Ia akan menahan diri untuk mencari tahu dari Dara sampai ia siap.

Jika ini kasus pemerkosaan, ia harus membawanya ke meja hukum.

***

Aroma alkohol dan obat mengiringi langkah Dara di lorong rumah sakit. Buket bunga di tangannya ia pegang erat-erat, membantunya menahan rasa tegang di hatinya.

Brakkk!!

Langkah Dara tertahan melihat seseorang terlempar dari salah kamar rawat. Seorang lagi keluar dan langsung mencengkram kerah baju orang yang pertama.

Itu ayah sambung dan ayah kandung Shani.  Ayah kandung Shani,  Om Fatur mendaratkan pukulan kuat di wajah Om Wali. Satu kali, dua kali,  tiga kali. Yang keempat kali Tante Vemi muncul dari dalam kamar menahan tangan Om Fatur.

" Mana buktinya? Kamu ga punya bukti!  Ga bisa kamu main hakim sendiri kayak gini!“

Om Fatur langsung berbalik ke arah Tante Vemi dan menudingnya dengan wajah memerah.

" Kamu ibu macam apa?? Sekarang kamu mau bilang kalau Shani bohong? Kamu lebih milih laki-laki setan ini?!"

" Laki-laki setan? Kamu yang setan! Dia melakukan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga! Kamu sendiri apa? Apa yang kamu lakukan? Ha?? Bahkan sampai sekarang kamu ga membiayai apa pun untuk Shani!"

Om Fatur terdiam. Ia berbalik ke arah Om Wali lagi dan mendorongnya ke tembok. Ia melayangkan 1 pukulan lagi. 
Walaupun Om Fatur memiliki postur yang lebih kecil, Om Wali babak belur dibuatnya.

" Pak, tahan Pak! Jangan buat keributan di sini!"

Dua orang petugas security berseru keras dan berlari melewati Dara. Salah satunya menarik Om Fatur dan yang satunya lagi berdiri di depan Om Wali, menengahi.

" Kamu! Kamuuuu... Kamuu hancurkan hidup anak saya! Beraninya kamuuuu! Saya pikir kamu bisa dipercaya!!"

Om Fatur menunjuk-nunjuk Om Wali dengan tangan lunglai. Amarahnya berganti dengan raung tangisan penuh ratapan. Ia memanggil nama Shani berkali-kali. Petugas security yang menahan tubuhnya, membiarkannya terduduk di lantai dan menangis.

Dara yang sejak tadi melihat kejadian itu hanya bisa terpaku. Ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi.

Om Wali dan Tante Vemi melewati Dara tanpa peduli pada keberadaan gadis itu. Sambil menggerutu dan mengeluarkan sumpah serapah, mereka pergi ke lift dan meninggalkan lantai itu.

Sementara itu Om Fatur dibantu dua security tadi, pergi ke arah ruang tunggu. Mereka mencoba menenangkannya.

" Mba, mau jenguk siapa?" 

Dara tersentak saat bahunya ditepuk pelan. Seorang perawat berdiri di belakangnya dan tersenyum dengan ramah.

" Oh.. Itu.. Saya mau jenguk Shani.."

Raut wajah perawat itu berubah kikuk tapi ia tetap menunjukkan kamarnya. Kamar dimana Om Fatur dan Om Wali tadi keluar.

Dara melihat Shani di ranjang dekat jendela. Berbaring dengan menoleh ke arah jendela.

Dara mengetuk pintu pelan tapi Shani tidak menoleh.  Ia mendekat perlahan.

" Ma, aku kan udah jelasin semua..."  Shani menoleh untuk memprotes karena merasakan ada seseorang mendekatinya. Ia terkejut saat melihat Dara berdiri di dekat ranjangya.

" Dara..."

Dara tidak menjawab. Shani mencoba tersenyum, tapi ekspresi Dara yang penuh rasa bersalah membuat Shani tidak tahan. Bendungan pertahanannya pecah.

" Ra, ini bukan salah lo. Bukan salah lo."

Shani sesenggukan mengulurkan tangannya pada Dara meminta Dara memeluknya.

Tanpa ragu Dara menyambut tangan itu dan memeluk Shani dengan erat. Ia ingin membawanya kemana pun ia bisa supaya Shani bisa aman. Tidak perlu merasakan kesakitan lagi.

" Maafin gw Shan! Maafin gw..."

Tangis mereka pecah. Perasaan mereka tumpah. Rasa ingin melindungi satu sama lain yang begitu kuat meledakkan hati mereka.

Tangisan jujur yang pertama kali mereka rasakan... Kenapa  harus dengan cara ini??

***

Dara memutar jam tangan kulitnya dengan gelisah. Janji temunya pukul 5 dan sekarang sudah pukul 4.30. Ia gugup sekali.

Bagaimana kabarnya? Dia sudah seperti apa sekarang? Dara melihatnya di Instagram tapi belum pernah melihatnya secara langsung.

Dia tampak bahagia. Tanpa luka.

Dara berharap apa yang ia lihat di Instagram adalah benar-benar yang ia rasakan. Bukan topeng seperti yang orang-orang bilang.

Setelah kejadian itu, Shani tinggal dengan Om Fatur. Om Wali disidang dan dihukum atas hukuman kekerasan seksual terutama pada anak di bawah umur.

Bukti-bukti yang ada kuat untuk membawa Om Wali masuk penjara.

Ternyata Shani mengumpulkan bukti-buktinya. Selama itu dia merahasiakannya karena Tante Vemi tidak percaya padanya. Malah menyuruhnya untuk diam dan jangan menyebar fitnah.

Shani menunggu waktu yang tepat untuk memenjarakan ayah sambungnya. Tapi ia sendiri tidak menyadari kalau bukti terkuat ada dalam kandungannya. Ia tidak tahu kalau ia sedang mengandung.

" Gw jahat ya, Ra. Gw bersyukur dia mati. Gw ga tahu harus gimana kalau dia hidup. Gw mungkin bakal gila. Mungkin bakal gw bunuh..."

Air mata Dara jatuh di pipi mengingat hari-hari dimana Shani menceritakan semuanya. Mereka berbagi luka dan air mata.

" Nyokap gw bisa bantu, Shan. Kalau sampai bayi itu hidup, Nyokap gw pasti bantu. Supaya lo ga perlu naggung luka lainnya... "

Ya, kalau sampai bayi itu hidup, ibunya Dara akan menolong Shani untuk menemukan keluarga lain yang mau mengasuh bayi itu. Shani tidak perlu melakukan hal yang akan melukai hidupnya lagi.

" Ra!"

Dara terbangun dari kenangannya mendengar namanya di panggil.

Ia menoleh ke arah suara itu berasal dan melihat wajah yang ia kenal dengan baik. Senyum lebar itu yang membuat matanya menjadi garis tipis.

Ia tampak lebih segar, berisi. Di belakangnya seorang pria berkulit sawo matang berjalan menggandeng seorang anak laki-laki usia 5-6 tahun.

Mereka berjalan ke arah Dara dan awan mendung yang tadi menyelimuti hati Dara seketika terhapus. Shani yang bersinar terang akan mencerahkan harinya lagi.

****

 

Trakteer cendol untuk Dara & Shani supaya hidup mereka terus happy.

KAPAL KAWAN | TARIAN JIWA


  “ Bukan, Pak. Ini rumah Pak Hardiman. Bukan rumah Pak Sanusi.”


Aku melihat bangunan mewah tiga tingkat itu dengan ragu. Apa benar ini bukan rumah Sanusi?? Tapi aku ingat benar lingkungan rumah ini.

“ Terima kasih, Pak.” Aku mengangguk pada satpam rumah dan ia membalas dengan anggukan ramah dan sopan.

Aku berjalan mengitari rumah yang ada di sudut jalan ini. 

Aku semakin mengerutkan keningku. Rasanya ada yang salah. Ini pasti benar rumah Sanusi. Terletak di sudut jalan dan ada pohon asam di depannya. Di seberangnya playground tempat biasa anak-anak bermain. Di komplek ini hanya ada satu playground dan berarti aku tidak salah.

Memang rumahnya berbeda. Dulu rumah Sanusi hanya satu lantai dan sangat kecil. Halamannya sih luas, tapi jaman dulu halaman rumah luas tidak berarti apa-apa dibanding orang lain yang punya rumah tingkat tanpa halaman.


Aku memperhatikan rumah itu dengan seksama, berusaha mencari-cari hal yang bisa kukenali. Ah, aku mau cari apa? Rumah itu benar-benar dirombak sejadi-jadinya. Tidak ada sisa-sisa kenangan antara aku dan Sanusi. Jendela kayu yang rusak akibat kami bermain bola dengan tidak hati-hati pun sudah tidak ada. Sekarang yang ada jendela persegi panjang dengan kaca bening yang dihias dengan gorden warna coklat emas. 

Mengingat jendela rumah Sanusi yang rusak membuatku teringat hari terakhir aku bertemu dengannya beberapa belas tahun yang lalu. Maluuuu rasanya…

Aku menundukkan kepalaku dan menarik napas dalam. Rasanya aku pun sudah tidak punya muka untuk bertemu dengannya.

Aku membalikkan tubuhku dan berjalan ke arah playground. Sebuah bangku taman yang sepertinya baru dicat ulang mengundangku untuk duduk. Benar juga. Seharian ini aku berjalan ke sana ke mari mencari alamat. Kakiku sudah pegal dan sakit.

Aku duduk di bangku taman panjang berwarna hijau. Kurenggangkan tubuhku dan menikmati udara segar yang datang dari pohon-pohon rindang. Saat itu baru kusadari, aku masih memegang kertas di tanganku. 


Catatan kecil di tanganku, keterangan rumah Sanusi yang kudapat dari Farah terlihat sudah sangat kusut. Sebentar lagi mungkin tanpa sengaja kertas itu sudah kubuang karena kupikir sampah.



Aku melihat sekeliling playground dan aku baru ingat kalau tanah ini pasti sebelumnya lapangan. Iya, tanah ini pasti tadinya lapangan. Nggg.. Lebih tepatnya tanah kosong yang sering dijadikan anak-anak untuk bermain bola.



Rumah yang ada di antara playground ini pun tadinya tidak ada. Hanya ada rumah Sanusi dan dua rumah lainnya yang jarak masing-masingnya sekitar 3 meter dari rumah Sanusi. 


Di sekitar kampung ini tidak ada tanah kosong lagi. Ya, ada sih, tapi tidak enak untuk bermain bola karena rumput-rumputnya terlalu tinggi atau ada juga yang dijadikan tempat pembuangan sampah. Jadi, tanah ini paling pas buat bermain bola.


Hampir tiap hari anak laki-laki di kampung ini bermain bola. Sering pula kami melakukan pertandingan antar Rt di sini. Pokoknya pasti tiap sore tanah kosong di sini ramai dengan anak-anak, orang tua, atau ABG-ABG.


Kalau sudah begitu, tukang bakso, tukang es doger, dan tukang jajanan lainnya, pasti ikut nimbrung untuk berjualan. Begitu juga dengan Emak Umiah, ibunya Sanusi. Janda ini berjualan pecel dan rujak setiap sore, di jam-jam warga kampung suka nongkrong di lapangan. Lumayan buat tambah-tambahan. Upah dari ia menjadi buruh cuci tidak akan cukup untuk membiayai sekolah Sanusi.


Sanusi memang bukan anak orang kaya. Dia anak satu-satunya dan ibunya janda. Tapi janda atau bukan pun masih diragukan. Waktu Sanusi umur 12 tahun, bapaknya pergi ke Malaysia jadi TKI. Beberapa bulan mereka mendapat uang kiriman yang cukup lumayan, tapi di bulan ke 5 bapaknya tidak mengirim. Begitu juga di bulan-bulan berikutnya. Bahkan tidak ada surat yang datang. Bisa dibilang Emak Umiah terus menanti kedatangan suaminya atau minimal suratnya untuk memberi kabar.


Itu 22 tahun yang lalu. Saat saya dan Sanusi masih asik bermain-main dengan bola atau mencari ikan di sungai yang penuh lumpur.


Sembilan tahun pertemanan kami sejak pertama kali aku pindah ke kampung ini, dia orang yang selalu menemaniku. Dia juga yang pertama kali menyapaku. Ah, Sanusi itu memang anak yang baik dan selalu ramah pada semua orang. Tidak seperti aku yang pendiam dan pemalu.


“ Pak, permisi, mau ambil bola.” Seorang bocah berusia sekitar 10 tahun menghampiriku. Ia menunjuk ke bawah kakiku.


Aku melihat ke bawah dan ternyata ada bola plastik yang berhenti tepat di dekat kakiku. Aku mengambilnya dan memberikannya pada bocah itu.


“ Terima kasih, Pak!” ujarnya riang. Lalu kembali bermain bersama beberapa anak kecil yang entah sejak kapan sudah ada di sekitar playground.


“ Aku pengen jadi orang sukses, Bur.” Ujar Sanusi di satu hari sore, saat kami pulang sekolah sambil menikmati es lilin yang kami beli dari warung di depan sekolah. Ia mengatakan kalimat itu dengan mata berbinar dan penuh keyakinan. Bahkan sepertinya sesaat ia melupakan es lilin yang ada ditangannya.


“ Yah, San. Kita udah lulus STM dan dapat kerja saja itu sudah hebat. Memang mau sukses kayak apa? Konglomerat? Jadi jutawan??”


Sanusi menggigit es lilinnya dan tersenyum padaku penuh arti. 


“ Aku mau buka usaha sendiri, Bur.”


“ Usaha apa? Memang kamu tau buat dapat modal darimana?”


“ Aku sudah memikirkannya, Bur. Aku akan bekerja di bengkel orang buat belajar memperbaiki motor. Tapi ga cuma itu, aku mau belajar semua tentang usaha bengkel. “


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tak percaya. Kuhabiskan es lilin rasa kacang hijau yang ada di tanganku dan membuang lidinya ke tempat sampah rumah orang. 


“ Kenapa menggeleng-geleng?” tanya Sanusi, dengan agak tersinggung.


“ Habis kamu aneh. Namanya kerja sama orang, ga mungkin bisa langsung punya usaha.”


“ Kenapa ga bisa?”


“ Ya ga bisa aja. Namanya bawahan, pasti akan selalu jadi bawahan. Gimana caranya bisa belajar banyak. Emangnya bos kamu nanti mau bantuin kamu? Ngajarin kamu? Mana mau mereka begitu! ”


Sanusi tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya diam sambil menghabiskan sisa es lilinnya. Sejak itu dia tidak pernah membahas mimpinya lagi.


Aku pun lebih senang begitu. Aku tidak ingin melihat Sanusi kecewa karena mimpinya yang tinggi ternyata sulit di capai. Seperti Bapakku yang selalu bermimpi jadi penulis ternama, tapi sampai meninggal pun dia tidak menulis apa pun. Beliau hanya membicarakan mimpinya tanpa pernah memegang pena. Sampai mati pun Bapak hanya jadi penulis yang bermimpi tanpa memiliki karya.


Hmmm.. Tapi sebenarnya Sanusi berbeda dari Bapak. Walau pun Sanusi tidak pernah membicarakan mimpinya lagi sejak pembicaraan kami itu, toh dia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Ia bekerja di salah satu bengkel besar di pasar dan banyak memperhatikan pekerjaan senior-seniornya di sana. Tidak jarang pula ia meminjam buku-buku tentang mesin dari perpustakan daerah. Lebih parah lagi, dia sering mempreteli motor bekas yang dibelikan emaknya sebagai hadiah kelulusan hanya untuk melihat sperpat dan bagaimana mesin motor bekerja. 


Beda jauh sama aku yang lulus STM malah sibuk pacaran dan pengen cepet-cepet ngawinin Wati, pacarku waktu itu. Tapi ngawanin anak orang memang tidak bisa bermodal dengkul. Orang tua mana yang mau mempercayakan anak gadisnya pada orang yang kerja saja belum pernah. Uang saja mintanya dari orang tua.


“ Memangnya kamu punya apa? Kamu sudah kerja apa?” tanya bapaknya Wati pada satu hari saat aku memberanikan diri mengatakan isi hatiku yang ingin meminang Wati.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Yang terasa hanya panas di hati karena merasa direndahkan. Orang tuaku memang bukan orang kaya, tidak seperti orang tua Wati yang punya rumah berdinding semen dan punya motor 2.


Omongan bapaknya Wati membakar hatiku dan ingin memberikan pembuktian. Tapi mau membuktikan apa? Aku benar-benar tidak punya apa-apa, kerja pun tidak. Di rumah ada sepeda ontel yang biasa digunakan Bapak untuk pergi ke sawah. Tapi kalau saya membawa sepeda itu, pasti akan ditertawakan.


Mungkin itulah awal dari masalah di antara kami berdua.


Entah dapat ide dari mana, aku berpikir untuk meminjam motor dari bengkel dimana Sanusi bekerja. Apalagi di bengkel itu banyak motor-motor keren yang pasti akan menaikan gengsiku. Sanusi sebagai sahabat yang baik pasti akan mengijinkan aku meminjamnya.


“ Ga bisa, Bur. Mana boleh aku membiarkan motor pelanggan dipinjam. Ga bisa!”


Sanusi menolak mentah-mentah permintaanku. Menyulut api amarahku semakin besar. Sebagai seorang teman sudah seharusnya dia membantuku, begitu pikirku dulu. Dia sama sekali tidak mengerti posisiku.


“ Diomongin seperti itu ya kamu cari kerja, bukannya ngebohong dengan pinjam motor orang.” Nasehatnya saat itu waktu kuceritakan bagaimana bapaknya Wati memperlakukanku. Nasehat yang terdengar seperti omelan yang merendahkan bagiku.

Sayangnya, darah mudaku sangat sulit diredam. Akal budiku masih belum mampu menaklukkan harga diriku dan melembutkan hatiku. Kalau Sanusi tidak mau menolongku maka aku mencari-cari cara untuk menolong diriku sendiri.


Aku tidak ingat bagaimana aku bisa memikirkan ide untuk menduplikat kunci bengkel tempat Sanusi bekerja. Bagaimana aku bisa meminjam kunci itu yang tergantung bersama kunci-kunci Sanusi yang lain. Aku meminjamnya dan menduplikatnya. Sanusi tidak curiga sama sekali. Ia sangat percaya padaku.


Pada saat malam tiba, semua orang sudah tertidur dan terlelap. Di saat penjaga bengkel tampak sangat mengantuk dan memutuskan untuk menunggu di ruang dalam mes. Saat itu aku pun masuk ke bengkel dan mengambil motor terbaik yang aku lihat.


Saat itu sepertinya Tuhan mendukung perbuatanku. Aku tidak pernah mencuri, aku juga tidak biasa mengendap-endap, tapi hari itu aku merasa apa yang aku lakukan begitu lancar dan mulus.


Esok paginya, aku muncul di depan rumah Wati dengan ‘motor baruku’. Bapaknya tidak banyak bicara, hanya memicingkan matanya dengan curiga. Wati malah tidak curiga sama sekali. Ia langsung duduk di boncengan dan melambai pada bapaknya dengan bangga.


Dadaku membusung waktu melihat muka bapaknya Wati saat itu. Rasa bangga karena bisa menunjukkan kalau saya ini tidak miskin-miskin amat. Kebanggaan yang berakhir dengan penyesalan.


Drrrtttt…Drrrrttt…


Tiba-tiba hpku yang disilent bergetar. Aku merogohnya dari kantong kemejaku dan melihat ternyata ada sms dari istriku. Aku membuka dan membacanya.


- Bgmn, Pak? Sdh ktmu mas Sanusi? Ap ktnya? –


Istriku pasti gelisah dirumah. Sudah dari pagi aku keluar untuk mencari rumah Sanusi, tapi yang kudapat nihil. Sekarang aku tidak tahu harus mencari dimana.


“Pak Sanusi apa kabar?!”


Aku terdiam mendengar suara di belakangku. Ada dua orang yang saling menyapa dan salah satu namanya membuatku tersentak. Aku menoleh dan melihat 2 orang sedang berbincang-bincang di depan rumah besar itu.


“ Kok, tumben Pak Sanusi yang anter langsung? Anak buahnya mana?” tanya pria paruh baya yang berdiri di samping pria lain sambil mengamati, entah mesin apa, yang ada di atas truk barang.


“ Iya, ada anak buah yang lagi sakit. Ini saya juga mau sekalian pengen ketemu Pak Hardiman.” Jelas pria satu lagi, sambil tersenyum lebar.


Pria itu menoleh ke arah rumah besar dan tampak diam beberapa saat. Terlihat jelas ia sedang mengenang sesuatu yang membuat ia merasa sedih. Entah kenangan apa.


“ Ayo, silahkan masuk, Pak.”


“ Loh, ada satpam baru? Pak Dido kemana?” tanya pria itu saat satpam yang tadi saya tanyakan tentang alamat Sanusi, membuka pagar rumah selebar-lebarnya agar truk barang itu bisa masuk.



“ Pak Dodi pulang kampung. Mau pensiun. Toh, anak-anaknya sudah jadi orang semua.” Jelas pria paruh baya itu pada si pria berkumis.


Pria berkumis itu tertawa dan mengangguk-angguk mengerti.


Kumisnya memang tebal. Ubannya pun sudah hampir menutupi sebagian besar kepalanya, tapi aku tidak mungkin salah mengenal. Itu Sanusi. Mata dan cara dia tersenyum, aku sangat mengenalnya.


“ Sanusi!!” aku memanggil dengan suara parau. Sanusi tidak menoleh. 


“ Sanusi!!” aku memanggil lebih keras dan lebih tegas. Sanusi menoleh. 


Beberapa saat ia mencari-cari orang yang memanggil namanya dan akhirnya ia melihat ke arahku. Senyuman yang tadi ada di wajahnya karena obrolan dengan pria paruh baya itu tiba-tiba menghilang.


Aku berlari mendekatinya dan berdiri di hadapannya.


“ Burman…” Sanusi menyebut namaku pelan. Aku senang ia mengingatku. Ternyata dia tidak melupakanku.


“ Kamu masih ingat aku, Sanusi?” tanyaku dengan gembira. Sanusi tidak langsung menjawab, wajahnya malah tiba-tiba mengeras dan menatap mataku dengan tajam.


“ Bagaimana bisa aku tidak ingat?” 


Lama aku baru menyadari kalau Sanusi menanggapi pertemuan teman lama ini tidak sesenang diriku. Aku bisa melihat rahangnya yang mengeras seperti menahan sesuatu dari mulutnya. Sekilas aku melihat tangannya mengepal. Dia marah.


Apa dia marah atas perbuatanku yang dulu? Bukankah aku sudah mengembalikan motor itu? Aku langsung mengembalikan motor itu padanya dan memberikan kunci duplikatnya pada Sanusi. Aku melakukannya tepat seperti yang ia minta.


“ Sanusi??”


“ Burman…” Sanusi menyebut namaku lagi lalu menelan ludah dengan susah payah.


Satpam dan pria paruh baya yang ada di belakangnya berdiri agak jauh sambil terus tetap mengawasi kami. Aku merasa tidak enak. Sangat tidak enak.


“ Kemana saja kamu setelah mengembalikan motor itu?” tanya Sanusi dengan nada yang aku tahu pasti, ia berusaha mengendalikan suaranya dengan susah payah.


“ Aku pergi ke Jakarta dan tinggal bersama pamanku. Aku mencoba mencari pekerjaan seperti yang kau katakan.” Jelasku, berusaha membuatnya senang. Padahal sebenarnya aku pergi ke Jakarta untuk lari dari amarah Sanusi, Wati dan bapaknya. Aku ketahuan meminjam motor tanpa ijin dahulu. Istilahnya aku ini maling.


“ Kenapa kamu pergi tanpa bilang-bilang? Kenapa pula kamu tidak mengatakan soal kecelakaan itu?” 


“ Kecelakaan?” kali ini aku bingung dengan apa yang dikatakan Sanusi. Kecelakaan apa? Dimana? Kapan?


“ Bukankah dengan motor itu kamu membuat anak orang kecelakaan sampai mati??!” Nada suara Sanusi meninggi. Ia tidak terima dengan ketidak tahuanku.


“ Kamu ini bicara apa??” tanyaku bingung dan aku benar-benar bingung. Aku tidak tahu apa-apa.


“ Kamu memakai motor itu dan membuat anak orang celaka sampai mati. Kamu tinggalkan motor itu di rumahku dan aku jadi tersangka kecelakaan itu. Itu yang aku bicarakan!”


Tiba-tiba saja aku merasa limbung. Jadi, setelah aku pergi ke Jakarta ada kejadian itu?? Tapi aku tidak pernah mengalami kecelakaan.


“ Anak itu terseret di belakang motormu dan kamu tidak peduli. Kamu juga tidak menghentikan motornya. Saat dia terlepas, kamu malah biarkan dia di jalan dan membuat mobil lain menghantamnya. Begitu kan kejadiannya!!”


Kepalaku terasa kosong mendengar kata-kata Sanusi. Aku mundur beberapa langkah dan berusaha mengingat apa yang dikatakan Sanusi. Aku pun mengerti.


Ya, saat aku meminjam motor itu aku mendengar ada kecelakaan di belakangku. Aku menoleh, tapi tidak terlalu peduli. Aku terburu-buru… 


Tali itu…Tali yang tersangkut di motor. Mungkinkah tali itu yang membuat anak itu terseret motor?? Tapi bagaimana bisa aku tidak mendengar ada anak kecil di belakangku? Tidakkah seharusnya anak itu berteriak??


“ Aku.. Aku tidak tahu…” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. 

Sanusi masih menatapku dengan tajam, tangan mengepal dan nafas yang semakin memburu.

“ Kamu memang tidak pernah tahu apa pun. Gara-gara kamu Emak mati! Gara-gara kamu kami kehilangan tanah dan rumah!! Gara-gara kamu, aku harus ada di dalam penjara padahal aku tidak bersalah!”


“ Emak mati??!” Aku tersentak mendengar seruan Sanusi. 


Perutku bergejolak seperti ingin memuntahkan sesuatu, terlalu banyak hal yang membuatku terkejut. Lebih parahnya aku tidak mengerti dengan semuanya.


“ Warga membakar rumah kami. Emak ada di dalam!! Kamu mau taggung jawab apa??!!”


Kakiku lemas dan tanpa sadar aku berlutut di hadapan Sanusi. Wajah Sanusi merah padam, wajahnya basah oleh air mata. Ia seperti meledakkan semua bom yang ia tanam di dalam dirinya bertahun-tahun lalu.


“ Sanusi…Maafkan aku…” bisikku parau. 


Aku mencoba memegang tangannya, tapi ia menepisnya dengan keras. Ia mengusap air matanya dengan cepat dan langsung menghadap ke arah pemilik rumah. Ia berbicara pelan lalu kembali menghadapiku.

“ Tolong, jangan perlihatkan wajahmu lagi.”


“ Sanusi…Maafkan aku Sanusi!!”


Sanusi tidak menerima permohohan maafku. Ia hanya berjalan masuk bersama pemilik rumah. Pemilik rumah masih melihat ke arahku sesekali, tapi Sanusi tidak mau menoleh sama sekali.


“ Sanusi!! Maafkan aku Sanusi!!”


“ Pak, maaf. Permisi, kami harus mengangkat mesin ini ke dalam. Kalau Bapak di situ, bahaya.”


Satpam tadi memintaku untuk minggi dari tengah jalan. Ia dan salah satu anak buah Sanusi mengangkat sebuah mesin berat yang sepertinya mesin cetak.


“ Maaf…”



Dengan lemas aku berdiri dan minggir dari jalan si satpam dan pegawai Sanusi. Aku masih berdiri di tempatku, berharap Sanusi keluar dari rumah besar itu. Aku harus meminta maaf padanya…Aku…



Aku memalukan…Bisa-bisanya. Apa yang telah aku lakukan!? Aku menghancurkan hidup Sanusi dan sekarang aku ingin meminta pertolongannya. Bagaimana bisa? Dia memaafkan aku saja adalah sebuah berkah!!


Sanusi…Maafkan aku..Maafkan aku…


***


Wajah istriku tampak pucat mendengar ceritaku. Ia menutup mulutnya menahan keterkejutannya. Aku menceritakan semuanya yang aku baru tahu dari Sanusi dan ia tampak sangat takut.


“ Dia tidak akan melaporkan Bapak ke polisi kan?!” tanyanya panik.


Aku menggeleng lemah. Aku sangat yakin Sanusi tidak akan melaporkanku. Dia bukan orang yang seperti itu. Kalau tidak, dia sudah melakukannya sejak dulu.


“ Pak, lalu kita bagaimana? Minggu depan Pak Romli akan datang menagih hutang. Kita tidak mungkin menjual semua barang-barang kita kan?!”


Istriku melihat sekeliling rumah. Televisi, dvd player, kulkas, mesin cuci…Ia takut kehilangan itu semua. Begitu pula aku. Kalau semua harta kami diambil, kami benar-benar akan jatuh miskin.


Hutang kami tidak seberapa. Hanya 20 jutaan, tapi kepada siapa kami berhutang yang membuat kami dalam bahaya. Pak Romli adalah lintah darat yang tidak main-main dengan kata-katanya. Kalau dia mengancam akan melapor polisi, pasti akan dia lakukan.


“ Kamu memang tidak pernah tahu apa pun. Gara-gara kamu Emak mati! Gara-gara kamu kami kehilangan tanah dan rumah!! Gara-gara kamu, aku harus ada di dalam penjara padahal aku tidak bersalah!”


Kata-kata Sanusi terngiang-ngiang ditelingaku. Aku gelisah…


TOK! TOK!


Pintu rumah kami tiba-tiba diketok. Aku dan istriku saling pandang. Istriku tampak sangat ketakutan. Ia takut algojo Pak Romli datang lagi. Tapi tidak mungkin, karena mereka baru datang kemaren.


“ Permisi!” Sebuah suara berseru. Suara yang terdengar tidak mengancam. 


Aku memberi tanda pada istriku untuk membukakan pintu dan dengan ragu-ragu ia membukakan pintu. Di depan pintu seorang anak muda yang sepertinya pernah kukenal.


“ Selamat siang, Pak.. Bu..” sapanya sopan dan ramah.


Cepat-cepat aku pergi ke pintu dan menghadapinya. Dengan senyum lebar, ramah, ia menyodorkan sebuah amplop yang isinya cukup tebal.


“ Ini dari Pak Sanusi. Dia menitipkan ini untuk, Bapak.”


Aku menatap anak muda itu, bingung. Ia menggoyangkan amplop yang ada di tangannya, pelan agar aku segera mengambilnya. Aku baru ingat..Anak muda ini adalah pegawai Sanusi yang membantunya mengangkat mesin waktu aku ada di rumah Sanusi yang lama.


“ Oh, iya. Apa ini?” tanyaku bingung.


“ Tidak tahu, Pak. Dibuka saja. Saya hanya ditugaskan untuk menyampaikan pesan ini.”


Aku mengangguk pelan dan menerimanya dengan agak takut. Jangan-jangan Sanusi mengirimkan sesuatu yang akan membuatku menyesal seumur hidup.


“ Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Tuhan memberkati.”


Aku mengangguk pelan dan agak tertegun dengan kata-kata terakhir anak muda itu. Tuhan memberkati? Semoga saja.


“ Pak, apa itu?!” istriku bertanya dengan wajah semakin panik dan ketakutan. Ia meremas-remas dasternya gelisah.


“ Tidak tahu..” 


Perlahan aku membuka bungkusan itu. Aku tidak yakin dengan apa yang aku lihat. Kukeluarkan beberapa lembar dan jantungku terasa copot melihat lembaran uang seratus ribuan ada di tanganku. Aku terduduk lemas dan bingung. 


Apa maksudnya ini?!!


“ Uang! Uang,Pak!”


Istriku menyambar amplop itu dan mengeluarkan semua isinya. Matanya terbelalak tidak percaya. Ia tersenyum sangat puas dan lega.


“ Kita ga perlu dipenjara, Pak!” serunya penuh kebahagiaan dan kelegaan. Sementara aku semakin lemas dan tidak tahu harus berkata apa. 


Beginikah cara Sanusi menghukumku? Membuat aku berhutang lebih banyak padanya??


“ Pak, ada suratnya.” Istriku menyodorkan sebuah amplop putih yang ditutup dengan rapih. Aku langsung menyambar dan membukanya. Tak kupedulikan uang yang menumpuk di atas meja.


“ Surat dari Sanusi…”



Kepada 


Teman Lamaku Burhan

Bur, maafkan aku kemarin. Aku harap kau maklum keadaanku. Aku begitu marah padamu. Apa yang kau lakukan beberapa tahun yang lalu membuatku terluka sangat dalam. Bahkan sampai saat ini pun aku masih belum bisa melihat wajahmu…Maaf…

Tapi aku hanya ingin kamu tahu, Bur. Aku sudah memaafkan dan mengampunimu. Sudah lama aku memutuskannya, tapi ternyata memang tidak mudah. Melihatmu benar-benar ada di depanku, membuatku terkejut dan rasa kecewa dan pahitku muncul lagi. 

Apa yang aku alami memang sangat menyakitkan, Bur..Tapi Tuhan itu baik. Semua hal buruk itu ia jadikan kebaikan. Saat keluar dari penjara, bos dimana aku bekerja malah mengadopsi aku dan membiayai aku agar aku bisa kuliah. Sebagai gantinya aku harus bekerja padanya selama beberapa tahun. Ternyata selama bekerja pun Beliau mengajarkan banyak hal padaku. Sekarang, berkat bantuan Beliau aku bisa membangun usahaku sendiri. Jika bukan semua kesakitan itu, aku tidak akan sampai seperti ini, Bur. Tuhan itu baik, Bur.

Aku mendengar cerita tentangmu dari satpam kolegaku yang kemarin. Aku menyuruhnya menanyakan urusanmu untuk datang dan alamatmu. Aku tidak tahu kalau hidupmu begitu sulit. Ini ada sedikit uang yang bisa kau gunakan untuk melunasi hutang. Anggap saja sebagai hadiahku sebagai tanda pertemuan antara teman lama.

Aku ingin memiliki hubungan yang baik kembali denganmu, Teman. Jika kamu berpikir hal yang sama, tolong temui aku di stasiun kota besok jam 3 sore. 

Tuhan memberkati.



Teman Lamamu


Aku melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop dengan perasaan lega dan haru. Sanusi mengampuni dan memaafkan aku. Bahkan dia memberikan uangnya untuk membantuku. Dia seperti malaikat…

“ Pak…Bapak baik-baik saja?”

Dia malaikat. Tidak seperti aku yang seperti penjahaaattt….

Aku melihat tumpukan uang di atas meja dan dengan kalap kumasukan semuanya ke dalam amplop.

“ Pak, uangnya mau dibawa kemana?” Tanya istriku, panik.

“ Mau dikembalikan.”

“ Gimana bisa!? Ini kan dikasih buat bantu kita bayar hutaaangggg! Pak, jangan dikembalikannn!!”

Istriku panik dan mulai histeris. Wajahnya tampak ngeri melihat apa yang aku rencanakan dan lakukan.

“ Bu, kita berhutang harus bayar juga. Kita harus berani hidup menderita supaya bisa melunasi hutang kita.”


“ Tapi, Pak…Nanti barang-barang kita diambilll!! Kita mau hidup dengan apa??!! Rumah kita bakal kosong melompong!!” teriak istriku panik dan mulai menangis histeris. 

Istriku adalah anak dari seorang pedagang kaya. Ia tidak terbiasa hidup susah. Sekarang ia harus menghadapi hidup yang terancam miskin, sudah pasti ia sangat frustasi.

Aku mendekati istriku dan memeluknya erat sampai ia merasa tenang.

“ Bu, yang penting kan masih ada rumah. Bapak akan cari pekerjaan dan kita beli barang-barang baru. Ya, Bu.”

Istriku tidak menjawab. Ia tertegun dan membiarkan air mata mengalir deras di pipinya. Kekecup keningnya, lembut dan bergegas aku ke pintu.

Istriku mengikutiku dan memandangku dari pintu.

“ Hati-hati, Pak.” Ujarnya lirih. Aku mengangguk, pelan dan bergegas pergi ke alamat yang tertulis di amplop. Perusahaan milik Sanusi.

Sanusi, sudah cukup bagiku membiarkan orang lain ‘mencuci’ kesalahanku. Sekarang waktunya aku menghadapi setiap akibat dari tindakanku sendiri. Maafkan aku Sanusi…Seharusnya aku belajar darimu sejak dulu, teman lamaku.

***

Trakteer cendol untuk Pak Burman, biar tobatnya lancar. 


KAPAL KAWAN | LUKA SHANI

Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen kumpulan puisi liburan movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • Review For Prometheus
    Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
  • [Review] Nano Healthy Family - Pijat Puas Harga Pas
    Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
  • [Review] Makarizo Hair Energy Hair Fragrance Fresh Bouquet
    Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
  • Hadiah Ulang Tahun Tak Terkira
    Dua hari lalu salah satu sahabat terbaik saya tahu-tahu inbox saya di FB. Ngucapin selamat ulang tahun yang sangat telat. Walau pun ga memp...
  • Hati Yang Keras
    Satu bulan kurang tanpa sosial media, saya tersadar... Banyak berita, artikel, status, yang terlihat membesarkan hati sekelompok orang tapi ...

Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Traktir kopi

Traktir kopi
Traktir amsaLFoJe kopi supaya makin semangat nulis.

Art & Design Services

Art & Design Services

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Lasma Works
    Lasma Works
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates