Gelap itu masih nyata
Malah semakin menyesakkan
Timbunan berat,
mematikan rasa
Membekukan jiwa
juga raga
Kemana aku berjalan
Jika kakiku begitu berat
Kemana aku menggapai
Jika tanganku terikat
Kubur
Jadi tempatku
Tak mampu aku meraih keluar
Kubur
Terbenam
Mati perlahan
Walau aku masih ingin keluar
Haruskah aku melawan
Haruskan aku berontak
Aku hanya ingin menjadi aku
Aku ingin kau melihatku sebagai aku
Kubur aku lebih dalam
Dan aku akan lebih memilih mati sekalian
Mati hatiku
Mati ragaku
Kubayangakan
Terasa akan lebih melegakan
Ada hari di mana aku merasa sendirian
Mereka yang tersayang seperti membuang muka
Tak mau memandang
Ngilu hati ini merasakan
Apakah aku ditinggalkan?
Benarkah aku sendirian?
Atau ini hanya sekedar perasaan?
Ah, kenapa aku sibuk bertanya
Perasaan ini tak akan selamanya
Hanya ngilu yang sementara
Akan kembali saatnya
Mereka menoleh juga
Bertatap muka dan mata
Dan aku tahu di situ ada cinta
Pic: pixabay
Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.
Dia bernama Penat
Merayap
Di sisi-sisi sempit roda gigi waktu
Antara detik dan menit
Menit dan jam
Jam dan hari
Hari dan minggu
Minggu dan bulan
Bulan dan tahun. ..
Terkadang ia hanya mengintip
Kadang ia berdiri dengan dada terbusung
Kadang ia muncul dengan wajah bengis siap menerkam
Penat tidak mengenal usia
Ia suka bermain dengan siapa saja
Sayangnya
Tak satupun yang suka padanya
Ia menikmati setiap gerutuan lelah
Ia menikmati setiap geraman amarah
Ia menikmati setiap tangisan putus asa
Ia mencabik dengan perlahan daging sang waktu
Kadang orang tak tahu ia sedang melakukannya
Suatu saat ia mencabik dengan rakus dan lapar
Saat mangsanya semakin lemah dan menyerah
Penat...
Sebenarnya ia hanyalah titik hitam yang bisa dibuang dengan tepisan
Yang entah bagaimana menjadi lubang hitam tanpa dasar
Si hitam kecil
Yang jika diberi makan
Memangsamu dengan lebih ganas
Enyahlah..
Enyahlah Penat
Tak ada yang menginginkanmu
Pergilah...
Kami masih ingin hidup tenang
Pic: Pexels - Pixabay
Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.
Tidak ada
Tidak ada hasil
Tidak ada yang berubah
Semua masih sama
Peluhku jatuh perlahan
Lelahku semakin menyakitkan
Mengapa usahaku tak menghasilkan
Jerih payahku seperti uap
Hilang
Lenyap
Tanpa jejak
Aku mencoba lagi
Mungkin sekali lagi
Akan ada yang kulihat
Aku ingin melihat
Apa yang kuinginkan
Aku mencoba lagi
Mungkin sekali lagi
Akan kutemukan
Apa yang kuharapkan...
Tapi lihat...
Tanganku berdarah..
Punggungku berdarah..
Kakiku berdarah..
Hatiku..
Koyak..
Semakin rusak...
Dan tetap saja..
Tak ada yang terlihat...
Lalu untuk apa aku berusaha...
Untuk apa aku terus mencoba...
Semua hanya sia-sia...
Tidak..
Tidak ada yang sia-sia..
Tidak..
Tidak ada yang percuma..
Usahaku memang sudah payah..
Tak sanggup lagi aku mencoba..
Hanya 1 yang belum kulakukan..
Berhenti menjadi Tuhan....
Berhenti mencoba menguasai segalanya..
Karena memang aku tidak bisa..
Kali ini, inilah yang akan aku lakukan..
Menjadi hamba
Dan berhenti mencoba menjadi Tuhan...
KehendakMu jadilah
Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.
Jika kamu suka berbaik hati pada orang lain
Jangan lupa
Berbaik hatilah pada hatimu juga
Jika kamu mengasihi orang lain
Jangan lupa
Kasihi hidupmu juga
Jika kamu melayani orang lain
Jangan lupa
Layani kebutuhanmu juga
Kamu tidak bisa memberi apa yang tidak kamu miliki
Jika kamu lelah, bagaimana kamu bisa melayani dengan tenaga maksimal?
Jika kamu terluka, bagaimana kamu bisa mengasihi dengan lemah lembut?
Jika kamu kelaparan, bagaimana kamu bisa berbaik hati dengan orang lain?
Memang ada saatnya kamu mau tidak mau berkorban untuk orang lain
Tapi sampai kapan?
Jika terus menerus kamu memberikan energi pada orang lain tanpa kamu mengisi batraimu sendiri....
Pelan-pelan kamu akan mati...
Jangan takut untuk berkata tidak...
Terkadang berkata tidak bisa menjadi hal yang baik.
Gbu.
Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.
Tua..
Renta..
Kebanggaanmu adalah masa lalumu
Ceritamu..
Dan warna warnimu...
Gagahmu tlah pudar
Pesonamu masih tinggal
Namun tak secemerlang 50 tahun di belakang
Tua dan renta
Sakit menjadi temanmu
Pengertian menjadi senjatamu
Kau makin sulit disenangkan
Makin sulit ditenangkan...
Keras hatimu karna tahu semua
Gigih pendirianmu karna kau pikir benar
Lima puluh tahun kau lebih tua..
Renta..
Namun kau tetap mampu menundukkan yang muda
Gagah...
Pengertian adalah hiasanmu
Sakit adalah mahkotamu
Tinggal menunggu habis nyawamu...
Akankah aku sendiri
Di akhir hayatku
Itu tanyamu...
Pengertian hiasanmu
Sakit mahkotamu
Menunggu habis nyawamu...
Semoga kau tak sendiri di akhir hidupmu...
Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.