amsaLFoje -A Long Life Learner-
Jadi teman-teman, saya akhirnya memenangkan sebuah kuis. Ha elaahh... (ga pernah menang soalnya). Dengan segala upaya dan daya mengotak atik blog Echa untuk menemukan jawaban dari kuis give away yang Echa buat. Ga ketemu jawabannya, tapi setelah Echa beri cluenya, tinggal googling dan jawaban saya benar!!

Emangnya dapet apa sampe niat banget buat menang?? Ini diaa!!

Kuisnya di SINI




Aku memandang 2 sosok berpakaian putih dihadapanku sambil tersenyum senang. Akhirnya mereka bisa bersama-sama setelah sekian lama menjalin hubungan.


Mereka bukan malaikat. Mereka Cuma sepasang kekasih yang akhirnya mengikat janji sehidup semati dalam sebuah pernikahan.

Andita dan Tio, mereka berdua tampak seperti putri dan pangeran di negeri dongeng. Senyum mereka menunjukkan betapa bahagianya mereka, akhirnya mereka bisa menikah. Kedua keluarga besar juga menunjukkan hal yang sama. Melihat mereka tersenyum aku ikut tersenyum.

“ Gua curiga mereka menikah tiba-tiba. Padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka bilang masih lama.”

Aku terpaku mendengar pembicaraan 2 gadis yang ada dibelakangku. Topik yang mereka bicarakan membuatku agak terusik.

“ Huss…Jangan berpikir yang tidak-tidak.”


Grace menarik nafas dalam-dalam dan menekan perutnya hingga menciut. Ia memandang ke cermin dan tersenyum puas melihat perutnya yang lebih kecil dari sebelumnya.


Beberapa lama kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan keras karena ia sudah tidak tahan. Perutnya kembali membuncit dan menunjukkan tumpukan lemak yang sangat mengganggu pandangan matanya.

” Kapan ya aku bisa kurus?” tanyanya pada diri sendiri. Ia berbalik dan memandang poster Britney Spears yang menunjukkan perut kotaknya yang seksi. Dalam hatinya ia berharap bisa secantik bintang pujaannya itu.




“ Iya, Dia datang ke kota ini! Orang itu! Sekarang rombongan mereka sedang ada di pinggir kota. Mungkin sebentar lagi akan sampai di pusat kota.”

“ Aku ingin melihat Dia. Mungkin nanti Dia akan membuat mukjizat lagi.”

“ Iya benar! Ayo ke sana !”

Pembicaraan dua pria yang ada di meja belakang mengusik telingaku. Sudah beberapa hari ini orang-orang terus membicarakan ‘Dia’. Mereka bilang Dia tukang kayu, tapi ada juga yang bilang Dia itu nabi. Aku tidak tahu mana yang benar, tapi sama seperti mereka, aku penasaran.



Mataku mengerjap menerima silaunya sinar matahari pagi yang menyombongkan dirinya pada dunia. Langit begitu cerah dan biru. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi kali ini yang kurasakan berbeda.

Tidak. Aku pernah merasakannya. Ah, tidak ini lebih buruk. Ini lebih buruk dari rasa sebelum aku bertemu denganmu, Guru. Rasa ini lebih pahit dan menyesakkan.

Aku menarik napasku dalam dan memandang sahabat-sahabatku yang tertidur lelap. Sudah dua hari ini kami bersembunyi di sini. Kami semua ketakutan dan putus asa. Rasanya kami seperti kelinci yang tidak berdaya. Tersesat dan tak tahu arah.
Tadi nemu lomba ini di Nulis Buku. Waktunya mepet banget, tapi siapa tahu ada yang mau ikutan. Hehehhe... Pengen coba ikutan, tapi ga tau mau nulis tentang siapa. Akan saya pikirkan. Nah, temen-temen bloggers ada yang mau ikutankah??

Bio Vision Writing Competition


Posted Writing Projects Apr 30, 2012



Hi writers!



Buat kamu yang suka menulis dan suka jalan-jalan, ini saatnya ikut ke writing competition by Bio Vision persembahan BIO VISION Eye Vitamin & Nutrition untuk para teacher.

Tema penulisannya > My Vision of Education in Indonesia: Gratitude to My Teacher. Tulis tentang orang yang paling berjasa memberikan pendidikan terbaik pada dirimu.


Hi, guys.


Beberapa hari ini saya berpikir tentang mimpi saya dari sejak saya jaman SD yang pengen jadi penulis novel, entah kenapa saya ingin membangun kembali mimpi tersebut. (mungkin karena bertemu Anita :P).

Belum lagi sekarang ada media yang bisa saya pakai, yaitu nulisbuku.com, dimana saya bisa menerbitkan buku apa saja yang saya mau. Bahkan saya bisa menjadi editor dari buku saya sendiri.

Saya berpikir untuk menerbitkan buku pertama saya dari novel MAAF (bisa liat BAB I dan BAB 2 -nya dulu). Tapi….Saya butuh masukan dari teman-teman untuk novel ini. Saya benar-benar butuh saran, kritik, dan masukan, apakah buku ini layak di baca orang banyak atau tidak.

BAB II
Menikah...



Seharian Wei tidak keluar kamar. Ia membereskan barang-barangnya dan mengingat kenangan-kenangan di masa lalu setiap kali ia menemukan benda-benda kesayangannya.
Menjelang sore Wei baru keluar dari kamarnya dan pergi ke halaman. Beberapa saat ia mencari sosok Henry tetapi menurut pelayan beliau sudah pergi dengan Alian, mamanya, sejak 2 jam yang lalu. Katanya sih ke dokter.
Memangnya dia sakit apa? Keliatan sehat begitu kok dibilang sakit. Palingan sakit dibuat-buat, bisik Wei dalam hati.
Di halaman Wei melihat kalau mawar yang dulu ditanam ibunya sudah tidak ada. Padahal mawar itu, mawar kesayangan ibunya. Sekarang halaman itu malah dipenuhi tanaman bonsai dan kaktus.
“ Akhirnya keluar juga dari kamar. Ngapain aja di kamar? Mikirin masa lalu ya?” tiba-tiba saja suara ngebas Rick membangunkan Wei dari lamunan.
Cowo itu berpenampilan berbeda sekali. Ia tidak memakai kacamatanya. Ia hanya menggunakan kaos kutang dan celana pendek dibawah lutut. Ditangan kirinya ada sikat dan lap mobil. Sedangkan di tangan kanannya sabun colek dan pembersih mobil. Sepertinya dia akan mencuci mobil.

BAB I
KEPUTUSAN

           Pria cebol itu terus memandang Leo dan cewe bawel di dekatnya dengan wajah seolah-olah ia tahu semuanya.
            “ Hei, kau tidak merasa risih dilihat pria tua ini? Jangan-jangan dia mau menculikmu juga.”
            “ Namaku bukan `hei`”
            “ Bawel banget sih. Ok, namaku Leo. Kamu?”
            “ Sharon. Panggil saja Shar.”
            Mereka saling berjabat tangan dan langsung melepaskannya dengan cepat seolah-olah jika terlalu lama mereka bersentuhan akan ada penyakit yang menular.
            “ Aku mau tanya sedikit. Kenapa kau jadi penipu?” tanya Shar dengan halus tanpa mempedulikan pria cebol yang ada di sebrang tempat duduk mereka.
            Leo menatap Shar penuh curiga. Ia memicingkan wajahnya dan menjauhkan posisi duduknya.
            “ Aku rasa itu bukan urusanmu. Kalau aku suka jadi penipu memangnya kenapa?”

Huehehhe...jadi semangat karena punya temen blogger yang punya hobi sama nulis cerita. Nah, kalau ini salah satu novel yang belum selesai, tapi sangat saya suka. Dari jaman kuliah belum kelar-kelar bikinnya. Dengan ketemu Anita semoga saya lebih semangat bikin novel yang lain. Mau liat cerpen bikinan Anita?? Yuk, colek ke sini :D

Dilarang mengcopy tanpa menuliskan pengarang dan melampirkan link sumber. :D.







PROLOG

Sharone membaca iklan yang tertempel di pintu kaca kafe. Dahinya berkerut melihat persyaratan yang tertulis di iklan tersebut. Pemain piano café harus lulus SMU dan berusia 17 tahun ke atas.
Shar menggigit bibirnya berusaha menemukan jalan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Ia sangat menginginkan pekerjaan itu karena hanya pekerjaan itu yang cocok dengan keterampilannya dalam bermain musik.
Ia bisa saja mendapatkannya dengan cara berbohong, dengan mengatakan bahwa usianya 18 tahun. Tapi ia tidak suka berbohong, ia sangat menjunjung tinggi kejujuran. Ia tidak bisa mentoleri jika ia sampai berbohong sekecil apa pun. Karena itu mungkin ada jalan lain.
Ehm, ini adalah salah satu novel buatan saya yang sudah selesai...Agak memalukan sih. Meledak-ledak dan sangat ababil. Seperti asal bikin. Yah, maklum ya amatir. No matter what, walaupun banyak hal yang ga bisa jadi teladan dari novel ini, tapi semoga orang bisa nangkep pesan yang pengen saya sampaikan. Endingnya juga kayak fairy tale dan maksa....Terburu-buru pengen ke ending, tapi terima ajalah ya.. Still love this novel, karena ini 'anak' saya juga. Hehehhe... Jadi, inilah ceritanya...






Aku mengusap air mataku dengan gemetar. Rasanya aku tidak ingin berbalik dan berhadapan dengan Mama yang pasti akan bertanya tentang air mataku ini. Bagaimana aku akan menceritakannya? Aku tidak mau membuat Mama sedih!

“ Dania? Kamu ngga kenapa-napa ‘kan?” Bergegas aku berbalik dan tersenyum memandang Mama setelah aku merasa lebih tenang. Beliau memandangku dan mengerutkan dahinya. Sepertinya mataku membengkak. Aku pasti ketahuan habis menangis.

Ami meremas tangannya dengan gelisah. Suara AC yang mendengung semakin membuatnya gelisah. Bahkan suhu yang dingin karena AC tetap tidak dapat meredakan panas tubuhnya yang tegang. Wanita muda yang masuk ke dalam ruang HRD baru masuk 3 menit yang lalu, tetapi bagi Ami rasanya seperti sudah berjam-jam.

Kriettt..Tiba-tiba pintu terbuka dan wanita muda itu keluar dengan senyum yang ramah. Ia berjalan melewati Ami begitu saja tanpa mengatakan satu patah kata pun. Ami terus memandangnya sampai ia hilang di balik pintu ruang tunggu. Dengan putus asa Ami menarik napas dalam dan menoleh ke arah pintu ruang HRD. Ami terpaku saat melihat seorang pria usia 40-an sudah berdiri di depan pintu sambil memandangnya dengan tidak percaya. Pria itu adalah Handoko.


Dia melambaikan tangannya dengan kuat dari arah ujung jalan. Seperti seorang anak kecil yang mengejar permen ia menghampiriku. Senyumnya yang lebar dengan gingsul menghiasi giginya mengingatkanku pada Martin. Mereka benar-benar mirip.
“ Maaf terlambat. Gua harus nganterin bokap dulu tadi.” Dengan tersengal-sengal ia meraih tasku. Aku tersenyum padanya dan ia balas tersenyum padaku. Ia berdiri di hadapanku dengan mata yang tak lepas manatapku.
“ Lo udah gede ya? Gua kira masih cebol-cebol aja. Hahahaha..” Markus tertawa terbahak mendengar leluconnya sendiri. Aku sendiri tertawa bukan karena mendengar leluconnya tapi karena mendengar suara tawanya yang tidak berubah sama sekali.
“ Gimana kabar Paman?” tanyaku saat kami sudah ada di dalam taksi. Ia duduk disampingku dan nafasnya masih tersengal. Beberapa kali ia menarik napas dalam agar bisa bernapas dengan biasa lagi.
“ Yah, gitu deh. Tambah gemuk aja. Tambah jelek!”
by Lasma Frida Manullang
271211

Tidak mungkin akan berhasil, pikirku. Apa pun yang akan aku lakukan tidak akan berhasil. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku dilahirkan hanya untuk menjadi seorang “loser”…Tidak ada kemenangan dalam kamusku.


“ Kamu pasti bisa, Ra.” Bella menepuk bahuku, pelan. Senyuman hangatnya menghiburku, tapi tidak cukup untuk bisa meyakinkanku kalau aku bisa menyelesaikan apa yang ada di depan mataku.

“ Mari kita sambut, Diara!!” namaku disebut dan aku pun melangkah memasuki panggung. Alunan musik yang berputar memberiku tanda aku harus segera menari.

Aku menggerakkan setiap bagian badanku, menarikan tarian yang telah lama kulatih. Aku terus menari tanpa mau melihat pada wajah para juri. Aku hanya mengikuti musik dan menari sesuai dengan alunan lagu. Sampai akhirnya lagu berakhir, kurasakan jantungku berdegup kencang.

“ Silahkan Diara maju ke depan.”

Aku melengkah ke depan agar lebih dekat dengan juri.

“ Selamat siang, Diara.”

“ Siang” jawabku lirih dengan mike di tanganku.

“ Kamu punya bakat yang sangat bagus. Tapi sayang…”

Ini dia…Ini dia…Dia akan mengatakan aku tidak layak untuk jadi juara.
Postingan Lama Beranda
Blogging Bodycare Bola Mukjizat Buku Curhat Iman Kristen Kesehatan MakeUp MyFatherHasDone MyLoveStory Resep Review Produk Skincare SuratUntukADik Tips artikel cerpen free download friendship ilustrasi keluarga kumpulan cerpen kumpulan puisi liburan movie parenting perempuan pranikah printable psikologi tumbuh kembang anak
  • Review For Prometheus
    Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
  • [Review] Makarizo Hair Energy Hair Fragrance Fresh Bouquet
    Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
  • [Review] Nano Healthy Family - Pijat Puas Harga Pas
    Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
  • Hati Yang Keras
    Satu bulan kurang tanpa sosial media, saya tersadar... Banyak berita, artikel, status, yang terlihat membesarkan hati sekelompok orang tapi ...
  • Hadiah Ulang Tahun Tak Terkira
    Dua hari lalu salah satu sahabat terbaik saya tahu-tahu inbox saya di FB. Ngucapin selamat ulang tahun yang sangat telat. Walau pun ga memp...
  • [Review] Mineral Botanica Acne Care
    Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih.  Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...

Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.

Traktir kopi

Traktir kopi
Traktir amsaLFoJe kopi supaya makin semangat nulis.

Art & Design Services

Art & Design Services

Berlangganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
  • Lasma Works
    Lasma Works
  • Go_Blog
    [ULASAN FILM] STEPHEN CHOW SI RAJA PENGEMIS MISQUEEN

Partisipasi Survey Dibayar $

Partisipasi Survey Dibayar $
Jadi bagian partisipan survey, bukan dibayar pulpen, tapi $. Klik pada gambar

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates