Acung tangan seberapa sering kita ngomong kayak gini ke teman yang sedang bergumul, tapi pas doa, lupa sama sekali buat doain.
Hahahha... Sayyyaaa!! Tunjuk tangan paling tinggi deh saya..
Iya, ngomong "saya dukung doa yaa.." itu guampang buangeettt, tapi ngerjainnya susahhh buangetttt.
Tahun ini jadi tahun resolusi saya dalam berdoa. Berawal dari artikel tentang doa yang dibagikan adik saya, saya semakin sadar kalau ga ada dukungan yang paling kuat selain dukungan doa yang sungguh-sungguh untuk orang-orang yang kita kasihi.
Pas bener hari ini 2 sahabat saya bercerita tentang masalah mereka. Dulu, saya bisa panjang kasih nasehat ini itu. Iya, sekarang juga masih. Tapi sekarang lebih banyak mendorong mereka berdoa sungguh-sungguh. Bukan sekedar omongan, tapi benar-benar mendorong dalam hati.
Saya percaya, untuk memenangkan sebuah masalah, kita harus memenangkannya dahulu di dalam roh. Dulu... Dulu... Saya tahu akan hal ini, tapi ga mengimani sungguh-sungguh. Baru setelah mendapat artikel dari adik saya itu selaput mata saya seperti terbuka.
Berdoa bukan hanya sampai sesuatu terjadi, tapi juga supaya orang2 yang saya kasihi semakin kuat di dalam Tuhan, menemukan maksud Tuhan dalam hidupnya, menjadi lebih kokoh di dalam iman.
Kadang-kadang saya ciut mendengar cerita teman2 saya yang lebih berat dari masalah saya pribadi, omongan dan nasehat saya sepertinya ga akan cukup. Tapi lewat doa, saya tahu saya sedang mendukung mereka dengan lebih kuat dibanding dukungan apa pun.
Jadi, dari akhir tahun kemarin saya sedang mendisiplinkan diri untuk benar-benar membawa dalam doa, setiap orang yang meminta dukungan doa. Ga gampang, tapi patut diperjuangkan.... Saya sendiri pun lebih fokus pada karya Tuhan dalam hidup orang-orang sekeliling saya daripada masalah pribadi saya.
Berdoa dan berjaga-jagalah supaya kamu tidak jatuh dalam pencobaan....
Bicara soal besar, saya bukan bicara ukuran badan loh yaa. Badan saya sudah besar kok hihihi.
Besar yang saya maksud di sini adalah mempunyai nama besar, prestasi besar. Menjadi seseorang yang dihormati, diakui...
Benarkah harus demikian?? Selama ini saya diajarkan demikian. Orang-orang sukses pun mengajarkan demikian... Tapiii...
Hati saya bilang tidak. Tidak harus besar.
Kenapa? Karena kebaikan yang tidak diketahui sebenarnya lebih manis. Prestasi yang tidak diakui terkadang lebih menyenangkan tanpa beban.
Eh, padahal kadang kita pengen diakui, dihargai yaaa. Ada di dalam diri kita ingin menjadi orang besar juga. Ya, itu juga tidak salah. Jadilah orang besar, jika itu memang menjadi panggilan. Mempengaruhi banyak orang lewat tindakan dan kata-kata, karya, serta partisipasi.
Tapi...
Ingin menjadi kecil pun bukan kejahatan. Dari keinginan sederhana membuat orang lain bersukacita atau ingin melihat orang ingin lebih berhikmat atau ingin melihat orang yang lapar menjadi kenyang.
Hanya orang di depan mata, bukan seisi dunia.
Perbuatan yang mungkin orang pikir sebagai kebaikan, padahal kita hanya tergerak ingin melakukan. Kita tidak pernah memandangnya sebagai sebuah kebaikan, apalagi hal besar..
Kita hanya berpikir harus melakukannya. Kalau tidak, kita akan gelisah.
Ah, mungkin akan lebih baik lagi kalau kita adalah orang besar yang memiliki hati orang kecil. Memberi pengaruh baik pada banyak orang tapi tetap memiliki hati yanh sederhana...
Bisa??
Seperti itu pun bisa...
Bukan dosa 😊😊
Seminggu ini para emak-emak makin gelisah dengan berita-berita penculikan anak dan pedhopil. Tidak terkecuali saya.
Gimana ga. Pelaku-pelaku kejahatannya sekarang bukan cuma orang asing, tapi orang-orang yang kita percaya. Bahkan orang-orang tidak kita duga seperti keluarga sendiri.
Buat emak-emak kayak saya, pengen banget kurung anak di rumah. Ga usah main di luar deh. Liat tetangga cowo aja saya jadi mikir macam-macam.
Gelisah dan takut
Itu yang saya rasakan walau tidak terlalu kentara.
Saya juga memilih tidak menyebarkan berita seputar penculikan dan pedhopil karena merasa seperti sedang menularkan dan kegelisahaan saya pada ibu-ibu lain. Makin disebarkan saya makin cemas. Lagian makin disebar bukannya malah bikin orang terinspirasi meniru ya?? (mau gila bayanginnya)
Bagus dong ibu-ibu pada takut, jadi waspada.... Iya ga? Ga buat saya. Hahhaha
Tindakan yang berdasarkan ketakutan biasanya jadi irasional. Ga masuk akal. Bahkan cenderung ga sehat.
Lagipula ada ayat Tuhan bilang, kalau kita sempurna di dalam kasih, kita ga akan takut selain takut sama Tuhan.
Tapi benar kan?? Coba deh kalau mikirin soal kecelakaan dan kejahatan, mau seberapa panjang dan kuat tangan kita melindungi orang-orang yang kita kasihi khususnya anak kita? Sedangkan di rumah aja bisa ada kecelakaan. Di tempat yang kita pikir aman aja ternyata banyak kejahatan.
Terbatas banget. Emak kayak saya benar-benar ga berdaya melindungi anak saya sendiri.
Saya ga berdaya bukan berarti ga berusaha menjaga. Saya juga lebih ketat menemani anak saya main. Tapi, saya ingin sekali saat saya anak main, saya menemani bukan dengan ketakutan yang menghantui.
Solusinya akhirnya cuma 1. Melindunginya dengan doa. Memohon pada Bapa di Surga menjauhkan anak saya dari segala kejahatan, melindungi dia dari segala marabahaya dan mempertemukan dia dengan orang-orang baik. Ga ada yang lebih bisa melindungi Gi selain Bapanya di Surga.
Waktu teringat hal ini saya lebih plong. Menjaga Gi bermain dengan rasa percaya kalau Bapa menjaganya lebih baik dari yang saya lakukan.
Kecelakaan, kejahatan ada di mana-mana, tapi Bapa di Surga adalah tempat perlindungan yang lebig kuat dari itu semua. Kalau bukan Dia yang saya andalkan untuk menjaga Gi, siapa lagi?
😊😊😊😊
Hi jiwaku...
Jangan menunggu orang lain memberi apresiasi, beri apresiasi diri sendiri. Apalagi kalau tahu sekeliling memang lebih suka liat keburukanmu daripada hal2 baik yang sudah kamu lakukan.
Ambil dan pakai apa yang memang pantas kamu gunakan untuk membangkitkan semangatmu. Jangan berlama-lama merasa menjadi korban. Mengapa berbetah-betah mengasihani diri jika tidak mengubah keadaan? Sekalipun kamu memang korban dan orang pun ga perduli.
Mungkin kamu memang terbiasa dikritik, jarang dianggap sebagai pribadi, lebih seperti properti. Jangan berkubang di dalamnya. Kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan dan diciptakan. Bukan jadi kotoran, tapi berlian.
Keluar dari situ dan bersinarlah. Kalau tidak ada yang berdiri di sisimu 100%, bukankah ada Penguasa Alam Semesta yang paling tahu DNAmu?
Jangan biarkan apa yang orang lakukan dan tidak lakukan membuatmu terpuruk, oh yaaa jatuhlah, tapi jatuhlah dalam pelukan Tuhan. Bukan ratapan tanpa ujung yang menghasilkan kebencian pada dunia.
Biarkan orang2 hidup dengan egonya dan kamu ambil bagianmu sepantasnya. Jangan membenci mereka karena nanti kamu seperti mereka. Mengampuni karena Tuhan katakan demikian.
Jangan biarkan luka itu menjeratmu ke tanah..
Kamu lebih kuat dari itu....
Ingatlah juga... Mereka yang menyakitimu adalah produk dari kegagalan manusia juga..
Jangan harapkan mereka jadi Tuhan yang sempurna...
Tapi perlakukan mereka seperti apa kamu ingin diperlakukan....
Untuk mereka dan untuk nama Tuhan dipermuliakan..
Tapi ingatt...jangan lupa mengambil yang menjadi bagianmu. Kamu pantas mendapatkannya dan kamu akan lihat pekerjaan tanganmu menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Waktu tahu salah satu temen mulai olahraga di rumah, saya senang sekali. Kenapa begitu? Karena saya sangat merasakan manfaat dari olahraga.
Olahraga bisa dibilang membantu saya bertahan hidup *halah. Sebelumnya saya tidak sesehat seperti sekarang.
Semua berawal dari saya merasakan kaki kiri saya seperti ada yang salah di bagian pergelangan dan lutut. Sepertinya sih akumulasi dari saat saya masih bekerja harus naik turun tangga 4 lantai setiap hari (hampir 3 tahun). Waktu hamil jadi lebih kewalahan karena semua beban tertumpu di kaki. Di rumah pun tidak sofa (sempit boo), tiap hari duduk berdiri untuk beraktifitas. Makin menjadilah kondisi kaki saya yang ga nyaman.
Pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk rutin berolahraga berharap bisa punya badan yang fit seperti saat masa kuliah, sebelum bekerja. Awalnya sih hanya lari pagi biasa. Merasa segar iya, fresh iya, tapi saya masih ga puas dengan kondisi kaki yang susah diajak jalan lama. Ga enak. Kayak mau patah.
Entah bagaimana, Tuhan kasih hikmat buat saya menirukan gaya pemanasan pemain sepak bola. Mulai dari lari dengan lutut diangkat setingginya sampai menempel di dada, lari mundur, lari menyamping, lari zig zag, lari dengan kaki menendang ke belakang. Puji Tuhan banget!! Sekali itu aja, kaki saya langsung pulih. Amazing!
Dari situ makin sadar diri untuk lebih serius olahraga.
Tahun kemarin saya juga mengalami gangguan mood yang cukup berat. Baca Firman udah, berusaha mikir positif, berusaha ambil Me Time, tapi tetap saja mood ga berubah. Bisa sampai turun ke titik rendah banget sampai ngerasa ga mau hidup lagi. Mau cara apa lagi coba?
Lagi-lagi Tuhan ingetin buat olahraga. Badan yang lelah bisa jadi salah satu penyebab mood buruk. Apalagi salah satu manfaat olahraga mengeluarkan hormon adrenalin dan dopamine kan, bagus buat naikin mood.
Ya udah saya nurut. Ga nyangka, Tuhan emang penasehat ajaib, mood saya benar lebih baik. Pikiran lebih tenang dan ga gampang mendramatisir situasi. Energi yang biasanya dipake buat mikir berlebihan, sekarang dipake buat olahraga.
Itulah kenapa saya selalu mendorong teman-teman saya buat olahraga. Bukan cuma soal manfaat secara fisik, tapi juga mental.
Secara fisik sendiri saya sudah bisa melihat manfaat dan perkembangannya. Sekarang saya bisa memegang jari kaki dengan kaki lurus tanpa masalah. Waktu awal-awal susah banget. Bokong yang dulu sangat dirasakan ada getar-getar lemak setiap berjalan, sudah tidak ada. Lemak perut juga mulai menyusut. Gendut masih, tapi saya merasa lebih fit dan ga cuma sehat.
Oh iya, dengan olahraga ga perlu susah-susah nahan lapar. Nafsu makan saya berkurang sendiri sejak saya olahraga. Biasanya mulut gatel mau ngunyah melulu.
Jadi, siapa pun yang baca tulisan saya ini, saya dorong buat berolahraga. Olahraga apa pun itu. Asal bukan olahraga mulut sama jempol aja. Hahahha.
Namanya mau jadi nenek lincah, ya inilah investasi saya untuk masa tua.
Sudah masuk masa tenang nih Pilkada. Kampanye udah ga ada, tapi pendukung masih seru saling menyerukan jagoannya.
Bahkan kakak saya yang berdomisili di Banten. Dia cerita waktu dia tanya mertuanya mau pilih gubernur yang mana, mertuanya langsung jawab "Ahok dong!" ... Saking panasnya pilgub Jakarta, pilgub daerah lain kayak ga laku (hayooo perhatiin calon pemimpinnya jangan ntar asal milih gara2 kurang mengamati alias salah fokus).
Ini Pilgun rasa Pilpres kata banyak orang. Iya bangettt.
Lagi-lagi saya jadi swingvoter. Awal-awal saya swingvoter sebelum memilih Pak Prabowo. Waktu itu teman-teman saya banyak yang pilih Pak Jokowi. Sayangnya dukungan mereka membabi buta. Maksud saya, kebanyakan posting berita-berita jelek tentang Pak Prabowo yang tak terklarifikasi. Isu HAM dibahas lagi, soal hutangnya yang sebenarnya sudah lunas diungkit lagi.
Lucunya, dengan sok pahlawan saya mengklarifikasi setiap berita mengenai Pak Prabowo. Saya banyak waktu karena sedang hamil. Yang diurus cuma 1 orang. Kurang kerjaan.
Sempet kecewa dengan berita-berita dan status yang dishare teman-teman. Emang statusnya kenapa?? Maaf ya, buat saya merendahkan orang lain yang beda pendapat.
Ga tahu kenapa liat semua itu saya mau "muntah". Kepala berasa "bengkak".
Jeleknya, saya ga bawa itu dalam doa. Akhirnya saya malah kebawa. Apa yang mereka lakukan, saya lakukan.
Apalagi setelah debat Capres. Saya ngeledek soal numpang satelit. Juga setelah pengumuman kemenangan Pak Jokowi yang ada sampah-sampah setelah perayaan.
Kalau ingat ke belakang jadi ngerasa bodoh juga sih. Ngapain capek-capek bantuin lurusin orang, wong sendiri aja belum lurus 😂😂😂. Dulu sih prinsipnya harus kasih tahu kalau itu salah.
Kalau sekarang gimana?? Ga separah Pilpres sih yang isunya jahat-jahat banget. Eh, ga ding... Ada kan Pak SBY dibully abis-abisan. Lagi-lagi ngerasa mual tiap baca status atau komen yang ngeledek beliau. Bukan membenarkan Pak SBY... Cuma mikirin, seandainya itu bapak saya... Suami saya... Saya juga ga mau diperlakukan kayak gitu.
Kata-kata mengalir dengan deras selama Pilgub ini. Ada yang menulis dengan bijak, ada yang menulis apa adanya, ada yang menulis sesuka hatinya.
Semua karna euforia yang dirasakan. Hati ini agak ga tenang saat melihat karena euforia kita suka lupa diri. Lupa memanusiakan orang lain yang punya pikiran dan perasaan. Seolah-olah membully pejabat, orang terkenal, itu hal yang wajar...
Pak SBY
Habieb Rizieq
Pak Agus
Pak Ahok
Pak Jokowi
Dll
Pernah buat kesalahan dan langsung dibombardir dengan meme atau status yang menyudutkan. Merendahkan. Seolah mereka memang objek bully.
Mungkin karena mereka public figur. Wajarlah...
Iya sih wajar, tapi apakah baik dan benar??
Saya ngomong gini sebenarnya pun bukannya ga pernah cemooh orang. Pernahhh bangett. Ga mungkin ga. Saya gigit lidah tiap liat Pak Jokowi bikin salah. Rasanya pengen nyela. Pengen bangeetttt. (jangan paksa saya suka Pak Jokowi ya, entah kenapa ga bisa. Cukuplah sampai pada rasa hormat).
Tapi tahun lalu Tuhan mengingatkan dan menegur. Pemimpin itu pilihan Tuhan. Ga cemooh di depan tapi di belakang apa bedanya?? Tuhan liat!! Jdenggg!!!
Sejak itu bertobat 😂😂😂... Bukan masalah orangnya bisa dihormati atau ga, tapi soal taat sama Tuhan. Praktek Firman Tuhan. Walau pun dia cuma keliatan di tivi dan banyak kurangnya, belajar hormat karena Tuhan yang bilang.
Jujur susah buat hormat sama beliau. Ga tahu kenapa, tapi dengan mengingat Tuhan memilih dia, ngerasa lebih mampu. Menghormati dia berarti menghormati Tuhan juga.
Begitu juga dengan soal perdebatan Pilgub. Bukan soal orangnya bener atau ga, tapi soal memberi rasa hormat karena Tuhan bilang begitu. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan.
Ujung-ujungnya sih soal jaga hati. Jangan sampai mulut kita membawa kita dalam pencobaan, lalu memberi jarak antara kita dengan Tuhan.
Semoga Pilgub tanggal 15 bisa berjalan dengan damai. Siapa pun yang menang bisa saling berlapang dada menerima. Mohon dukungan doanya teman2. Doa syafaat demi persatuan Indonesia 😁😁😁.
Roma 12:9-10 (TB) Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.