Aku memandang 2 sosok berpakaian putih dihadapanku sambil tersenyum senang. Akhirnya mereka bisa bersama-sama setelah sekian lama menjalin hubungan.
Mereka bukan malaikat. Mereka Cuma sepasang kekasih yang akhirnya mengikat janji sehidup semati dalam sebuah pernikahan.
Andita dan Tio, mereka berdua tampak seperti putri dan pangeran di negeri dongeng. Senyum mereka menunjukkan betapa bahagianya mereka, akhirnya mereka bisa menikah. Kedua keluarga besar juga menunjukkan hal yang sama. Melihat mereka tersenyum aku ikut tersenyum.
“ Gua curiga mereka menikah tiba-tiba. Padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka bilang masih lama.”
Aku terpaku mendengar pembicaraan 2 gadis yang ada dibelakangku. Topik yang mereka bicarakan membuatku agak terusik.
“ Huss…Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Mereka bukan malaikat. Mereka Cuma sepasang kekasih yang akhirnya mengikat janji sehidup semati dalam sebuah pernikahan.
Andita dan Tio, mereka berdua tampak seperti putri dan pangeran di negeri dongeng. Senyum mereka menunjukkan betapa bahagianya mereka, akhirnya mereka bisa menikah. Kedua keluarga besar juga menunjukkan hal yang sama. Melihat mereka tersenyum aku ikut tersenyum.
“ Gua curiga mereka menikah tiba-tiba. Padahal baru beberapa bulan yang lalu mereka bilang masih lama.”
Aku terpaku mendengar pembicaraan 2 gadis yang ada dibelakangku. Topik yang mereka bicarakan membuatku agak terusik.
“ Huss…Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Grace menarik nafas dalam-dalam dan menekan perutnya hingga menciut. Ia memandang ke cermin dan tersenyum puas melihat perutnya yang lebih kecil dari sebelumnya.
Beberapa lama kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan keras karena ia sudah tidak tahan. Perutnya kembali membuncit dan menunjukkan tumpukan lemak yang sangat mengganggu pandangan matanya.
” Kapan ya aku bisa kurus?” tanyanya pada diri sendiri. Ia berbalik dan memandang poster Britney Spears yang menunjukkan perut kotaknya yang seksi. Dalam hatinya ia berharap bisa secantik bintang pujaannya itu.
“ Iya, Dia datang ke kota ini! Orang itu! Sekarang rombongan mereka sedang ada di pinggir kota. Mungkin sebentar lagi akan sampai di pusat kota.”
“ Aku ingin melihat Dia. Mungkin nanti Dia akan membuat mukjizat lagi.”
“ Iya benar! Ayo ke sana !”
Pembicaraan dua pria yang ada di meja belakang mengusik telingaku. Sudah beberapa hari ini orang-orang terus membicarakan ‘Dia’. Mereka bilang Dia tukang kayu, tapi ada juga yang bilang Dia itu nabi. Aku tidak tahu mana yang benar, tapi sama seperti mereka, aku penasaran.
Kadang aku mencari Tuhan di tengah-tengah keramaian kota
Atau di langit-langit kamarku
Kadang juga di antara tumpukan pekerjaanku
Aku ingin melihat Tuhan!
Pikirku...
Kalau ada tangga ke langit, akan aku daki
Kalau ada pesawat jet yang bisa membawaku, akan kutumpangi
Aku ingin melihat Tuhan!
Jerit hatiku...
Mataku mengerjap menerima silaunya sinar matahari pagi yang menyombongkan dirinya pada dunia. Langit begitu cerah dan biru. Sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi kali ini yang kurasakan berbeda.
Tidak. Aku pernah merasakannya. Ah, tidak ini lebih buruk. Ini lebih buruk dari rasa sebelum aku bertemu denganmu, Guru. Rasa ini lebih pahit dan menyesakkan.
Aku menarik napasku dalam dan memandang sahabat-sahabatku yang tertidur lelap. Sudah dua hari ini kami bersembunyi di sini. Kami semua ketakutan dan putus asa. Rasanya kami seperti kelinci yang tidak berdaya. Tersesat dan tak tahu arah.
BAB II
Menikah...
Seharian Wei tidak keluar kamar. Ia
membereskan barang-barangnya dan mengingat kenangan-kenangan di masa lalu
setiap kali ia menemukan benda-benda kesayangannya.
Menjelang sore Wei baru keluar dari
kamarnya dan pergi ke halaman. Beberapa saat ia mencari sosok Henry tetapi
menurut pelayan beliau sudah pergi dengan Alian, mamanya, sejak 2 jam yang
lalu. Katanya sih ke dokter.
Memangnya dia sakit apa? Keliatan sehat
begitu kok dibilang sakit. Palingan sakit dibuat-buat, bisik Wei dalam hati.
Di halaman Wei melihat kalau mawar yang
dulu ditanam ibunya sudah tidak ada. Padahal mawar itu, mawar kesayangan
ibunya. Sekarang halaman itu malah dipenuhi tanaman bonsai dan kaktus.
“ Akhirnya keluar juga dari kamar. Ngapain
aja di kamar? Mikirin masa lalu ya?” tiba-tiba saja suara ngebas Rick
membangunkan Wei dari lamunan.
Cowo itu berpenampilan berbeda sekali. Ia
tidak memakai kacamatanya. Ia hanya menggunakan kaos kutang dan celana pendek
dibawah lutut. Ditangan kirinya ada sikat dan lap mobil. Sedangkan di tangan
kanannya sabun colek dan pembersih mobil. Sepertinya dia akan mencuci mobil.
BAB I
KEPUTUSAN
Pria cebol itu terus memandang Leo
dan cewe bawel di dekatnya dengan wajah seolah-olah ia tahu semuanya.
“ Hei, kau tidak merasa risih
dilihat pria tua ini? Jangan-jangan dia mau menculikmu juga.”
“ Namaku bukan `hei`”
“ Bawel banget sih. Ok, namaku Leo.
Kamu?”
“ Sharon. Panggil saja Shar.”
Mereka saling berjabat tangan dan
langsung melepaskannya dengan cepat seolah-olah jika terlalu lama mereka bersentuhan
akan ada penyakit yang menular.
“ Aku mau tanya sedikit. Kenapa kau
jadi penipu?” tanya Shar dengan halus tanpa mempedulikan pria cebol yang ada di
sebrang tempat duduk mereka.
Leo menatap Shar penuh curiga. Ia
memicingkan wajahnya dan menjauhkan posisi duduknya.
“ Aku rasa itu bukan urusanmu. Kalau
aku suka jadi penipu memangnya kenapa?”
Huehehhe...jadi semangat karena punya temen blogger yang punya hobi sama nulis cerita. Nah, kalau ini salah satu novel yang belum selesai, tapi sangat saya suka. Dari jaman kuliah belum kelar-kelar bikinnya. Dengan ketemu Anita semoga saya lebih semangat bikin novel yang lain. Mau liat cerpen bikinan Anita?? Yuk, colek ke sini :D
Dilarang mengcopy tanpa menuliskan pengarang dan melampirkan link sumber. :D.
PROLOG
Sharone
membaca iklan yang tertempel di pintu kaca kafe. Dahinya berkerut melihat
persyaratan yang tertulis di iklan tersebut. Pemain piano café harus lulus SMU
dan berusia 17 tahun ke atas.
Shar
menggigit bibirnya berusaha menemukan jalan untuk mendapatkan pekerjaan
tersebut. Ia sangat menginginkan pekerjaan itu karena hanya pekerjaan itu yang
cocok dengan keterampilannya dalam bermain musik.
Ia
bisa saja mendapatkannya dengan cara berbohong, dengan mengatakan bahwa usianya
18 tahun. Tapi ia tidak suka berbohong, ia sangat menjunjung tinggi kejujuran.
Ia tidak bisa mentoleri jika ia sampai berbohong sekecil apa pun. Karena itu
mungkin ada jalan lain.
Ehm, ini adalah salah satu novel buatan saya yang sudah selesai...Agak memalukan sih. Meledak-ledak dan sangat ababil. Seperti asal bikin. Yah, maklum ya amatir. No matter what, walaupun banyak hal yang ga bisa jadi teladan dari novel ini, tapi semoga orang bisa nangkep pesan yang pengen saya sampaikan. Endingnya juga kayak fairy tale dan maksa....Terburu-buru pengen ke ending, tapi terima ajalah ya.. Still love this novel, karena ini 'anak' saya juga. Hehehhe... Jadi, inilah ceritanya...
Tokoh yang saya buat untuk novel. Tapi novelnya sama sekali belum apa-apa. Hueeeehhh... Asheni gadis dari negeri yang jauh. Bertemu dengan tokoh utama (nama tokoh utamanya aja belum tau :P) di sebuah kapal yang ternyata adalah kapal dari Pulau Jokdian. Penduduk Pulau Jokdian terkenal tidak ramah dan
Blogging
Bodycare
Bola Mukjizat
Buku
Curhat
Iman Kristen
Kesehatan
MakeUp
MyFatherHasDone
MyLoveStory
Resep
Review Produk
Skincare
SuratUntukADik
Tips
artikel
cerpen
free download
friendship
ilustrasi
keluarga
kumpulan cerpen
kumpulan puisi
liburan
movie
parenting
perempuan
pranikah
printable
psikologi
tumbuh kembang anak
-
Tadi baru nonton Promotheus... Pembukaan neh film asli kereeeeeeeeennn bangettt. Saya sampai bengong dan ternganga melihatnya. Sinemato...
-
Hi temans, Minggu ini saya mau review produk perawatan rambut yang termasuk baru di pasaran.. Pengharum rambut.. Hair Fragrance......
-
Sabtu kemarin saya mendapat berkat lagi dari salah satu sahabat saya. Sudah lama dia mau traktir saya pijat refleksi, tapi belum juga ke...
-
Satu bulan kurang tanpa sosial media, saya tersadar... Banyak berita, artikel, status, yang terlihat membesarkan hati sekelompok orang tapi ...
-
Dua hari lalu salah satu sahabat terbaik saya tahu-tahu inbox saya di FB. Ngucapin selamat ulang tahun yang sangat telat. Walau pun ga memp...
-
Sudah beberapa minggu pakai Mineral Botanica Acne Care, udah waktunya review nih. Walaupun saya masih gedeg karena 1 pesanan say...
Selamat datang di amsaLFoJe. Anggap saja di sini kamu sedang melihat sebuah museum yang berisi buah karya Lasma. Mulai dari - cerita keseharian, - opini, - fiksi, - ilustrasi, - printable stuff dll. Jika kamu suka apa yang Lasma bagikan, kamu bisa mendukung Lasma dengan SAWERAN. Selamat menikmati menjelajahi museum amsaLFoJe.





