Friday, December 18, 2015

Apa Kabar Temen-Temen Blogger??

Udah lama ga isi blog. Kebanyakan nulis di FB sama IG. Hahahaha... Buat konsesn nulis panjang butuh waktu khusus yaaa. Ini Gyan juga lagi bobo.

Apa kabar temen-temen blog yang lain?? Aku liat rata-rata juga pada sibuk di socmed yang lain.

Kangen masa-masa bisa duduk tenang di depan komputer dengan hawa yang adem dan bisa nulis beberapa postingan dalam satu hari. Mungkin nanti kalau Gyan udah gedean. Waktu Mamanya sudah bisa punya Me Time lebih dari 15 menit.

Jadi inget postingan yang ditag soal penulis Kristen generasi baru.

Kalau di kita ada Cella ya. Gimana dengan yang lain? Echa udah nulis buku juga loohh. Aku cuka cerpen-cerpen Echa yang ga biasa kayak orangnya.

Proyek yang nulis kolaborasi pun akhirnya ga jadi-jadi. Hanya sebuah wacana. Hahahha.

Jadi pengen nulis dengan iman, disiplin yang aku bangun untuk jalanin Oriflame, semoga dibentuk supaya aku bisa disiplin menulis lagi. Mengejar mimpi bukan besok atau lusa. Tapi dimulai dari hari ini.

Semoga Tuhan beri kelimpahan hikmat. Supaya aku dan yang lainnya bisa terus menulis lagi, lagi dan lagi.

Aminn.

Friday, November 27, 2015

Mengatur Jadwal Karena Bekerja di Rumah

Seminggu ini saya mengatur ulang jadwal saya. Setelah melewati pergumulan yang panjang dan mencoba mencontoh jadwal orang lain, akhirnya Tuhan kasih hikmat untuk saya mengatur jadwal sesuai dengan kondisi fisik dan kebiasaan Gyan.

Jadi, beberapa hari ini mulai terbiasa bangun jam 3 pagi. Dari jam 3 pagi sampai jam 5 nyeterika, jam 5 saat teduh, setengah 6 sampai jam 7 belanja dan masak sarapan dan makan siang, jam 7.30 temenin Aki sarapan, jam 8 nyuci dan beres2 yang lain sampai jam 9. Pokoknya sampai jam 9 itu sudah harus mandi, kasih makan Gyan. Karena jam 9 sudah harus di depan komputer ngerjain Oriflame, terjemahan, dan shoponline. Kerja sampai jam 4, ajak Gyan keluar dan main. Jam 5 sudah harus di rumah beres-beres dan masak makan malam. Kalau rumah sudah beres tinggal duduk manis nyuapin Gyan sambil nonton drama Jepang hohoho sambil nunggu Aki pulang.

Selama ini saya ga sabaran. Ingin membereskannya dalam 1 waktu. Kunci jadwal yang saya buat kerjakan semuanya satu-satu. Jangan biarkan pikiran memikirkan semuanya bersamaan. Energi jadi terkuras di pikiran, bukan saat bekerja. Saya nurut aja dituntun seperti itu. Waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, ya tinggalkan HP. Waktu mengerjakan Oriflame dan yang lain, ya jangan mikirin pekerjaan rumah tangga yang lain.

Puji Tuhan banget dengan hal ini saya sangat tertolong. Yang tadinya pekerjaan kecil-kecil tidak beres-beres juga, akhirnya bisa dibereskan satu per satu. Kerjain pekerjaan rumah jadi lebih terasa ringan, kerjain Oriflame juga lebih fokus.

Saya juga jadi lebih disiplin untuk saat teduh. Walau ngantuk-ngantuk hahahhaha.

Buat orang lain mungkin mikirnya ya emang udah niat saya, tapi buat saya pribadi ini bener-bener pertolongan Tuhan. Tuhan kasih hikmat bagaimana saya seharusnya mengatur waktu saya.

Memang sih harus bergumul dan stress sampai rasanya mau gila dulu. Tapi, justru di situ Tuhan jadi kasih rhema, kalau waktu harus digunakan dengan efektif, bukan semau kita.

Waktu itu seperti uang, kalau tidak digunakan dengan sebaik mungkin malah akan memperbudak kita. Bahayanya lagi, uang bisa dicari, tapi waktu ga bisa. Waktu harus digunakan sebaik mungkin. Bukan cuma tentang momen-momen, tapi juga gimana waktu kita bisa untuk kita bertumbuh juga, memaksimal hidup kita dan juga orang lain.

Semoga Tuhan beri hikmat lebih lagi, supaya saya lebih berdisiplin lagi. Aminnn.

Thursday, November 26, 2015

Tobat ala Yudas atau Petrus?


Jadi hari ini saya baca status seseorang tentang Yudas dan Petrus yang "sama-sama bertobat", tapi dapet perlakuan beda.
Saya sudah tulis komen di status tersebut kenapa Yudas dan Petrus sama-sama berkhianat, tapi dapet perlakuan beda.

 Maksudnya perlakuan beda gimana??
Yudas menjual Yesus, tapi akhirnya menyesal dan mengembalikan uang pada para ahli Taurat dan orang Farisi. Tapi penyesalan Yudas tidak diterima dan akhirnya Yudas bunuh diri.

Petrus menyangkal Yesus, menyesal, bersembunyi, tapi akhirnya malah dipakai Allah dengan dahsyat. Beda ya. Beda banget. Coba dikupas satu-satu.

Saya ga akan membandingkan kesalahan yang paling besar, tapi lebih kepada sikap hati Yudas dan Petrus.

Yudas menyesal bukan bertobat. Ada tertulis kalau Yudas itu sejak semula sebenarnya ga percaya sama Tuhan Yesus. Bukan ga percaya Tuhan Yesus itu baik, tapi Dia ga percaya kalau Tuhan Yesus mampu memberikan pengampunan. Dia setiap hari berada di dekat Yesus, tapi Dia ga menerima kasih itu. Dia ga tersentuh dengan apa yang Tuhan lakukan. Apa buktinya??

Matius 27:4 dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"

Penyesalan Yudas bukan pertobatan hubungan antara manusia dan Tuhan, tapi lebih pada rasa kemanusiaan. Ia merasa bersalah, bukan merasa berdosa. Ia pikir dengan mengembalikan uang tersebut dapat membayar kesalahannya.

Rasa bersalah pada titik tertentu memang dapat mengakibatkan gangguan jiwa. Rasa bersalah yang dialami Yudas iblis pakai untuk mengintimidasi dan merusak jiwanya. Itu mengapa ia bunuh diri.


* Matius 27:5 
Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. 
Kalau sejak semula Yudas percaya pada Kristus, Yudas pasti akan percaya pada pribadi Yesus. Pada perkataan-Nya dan pada kasih-Nya.

Bagaimana dengan Petrus?? Di firman reaksi Petrus setelah sadar bahwa ia telah menyangkal Yesus 3 kali hanya digambarkan menyesal dan menangis. Tapi, dia tidak lari, dia juga tidak berusaha membayar dosanya. Terlebih saat mendapat kabar bahwa Yesus bangkit, dia langsung lari menuju kubur Yesus. Bahkan dia yang duluan masuk ke kubur dari pada murid lain yang ga punya masalah apa-apa. (Yohanes 20:1-10)

Coba kalau dia punya perasaan yang sama dengan Yudas, apakah dia akan dengan segera lari menghampiri kubur dan berharap bertemu dengan Yesus?? Ga. Dia pasti akan memilih menjauh. Mau taruh di mana mukanya??

Tapi justru ini menunjukkan bagaimana Petrus mempercayai pribadi Yesus. Dia percaya Yesus ga akan menolak dia. Dia percaya kasih Yesus sama dia ga akan berkurang. Kenapa?? Petrus sudah bertobat dari sejak awal Yesus mengajaknya.

Kapan?? Waktu dia menyaksikan Yesus membuat perahunya hampir tenggelam oleh ikan. Di situ dia berlutut dan menyatakan diri bahwa dirinya pendosa yang ga layak dekat-dekat dengan Tuhan.

Lukas 5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

Yudas ga benar-benar bertobat. Petrus Ya.

Pertobatan sejati membuat kita remuk hati, rasanya tulang-tulang ini sampai darah-darah ini ga pantes berdiri di hadapan Allah, tapi pertobatan sejati juga menimbulkan iman bahwa Allah mengampuni. Kita tidak peduli lagi apa kata orang tentang masa lalu kita, hidup kita. Kita hanya peduli apa kata Tuhan. Hati kita meluap-lupa dipenuhi kerinduan untuk hidup kudus di hadapan Allah.

Nah, pertobatan versi Yudas mirip-mirip. Merasa bersalah dan merasa berdosa. Tapi kita hanya menganggapnya sepintas lalu. Kita hanya mengukur dosa kita dari segi moralitas. Kita ga melihat ada hubungan yang putus antara kita dan Pencipta karena dosa-dosa kita. Pertobatan versi Yudas bisa bikin hidup kita berubah, tapi bedanya... Kita berpikir perbuatan baik kita dapat membayar dosa kita. Di sana ga ada kasih karunia. Hidup kita dikendalikan rasa bersalah dan ketakutan akan dinilai orang lain, pembalasan dari orang lain dll. Kita mengejar standar moralitas yang tinggi, bukan ketaatan pada Allah.

Pertobatan sejati itu karya kasih karunia Allah. Di sana ga ada ketakutan selain takut akan Allah. Kasih Allah yang melingkupi kita memampukan kita untuk berani mengatasi segala hal akibat dari masa lalu kita. Bahkan masa lalu itu Tuhan putar dan jadikan alat untuk menjadi kesaksian hebat. Itu kalau kita bertobat dengan sungguh-sungguh.

Berhubung pertobatan adalah tindakan setiap hari dan terus menerus karena kita setiap hari berbuat dosa, mungkin kita perlu cek terus menerus juga, pertobatan kita pertobatan ala siapa. Ala Yudas atau Petrus??

Itu yang aku mengerti dan pelajari dari bahan yang aku sedang translate ahhahaha...

Mohon koreksinya kalau ada yang salah.

Thursday, November 19, 2015

Perpuluhan Ga Perlu Karena Bikin Hamba Tuhan Kaya?

Baru baca status seseorang tentang persepuluhan. Ayat tentang persepuluhan memang berasal dari Perjanjian Lama (Maleakhi 3:10) "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap- tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Tapi bukan berarti ga berlaku di jaman ini.
Perpuluhan bukan semata-mata bukan untuk memperkaya hamba Tuhan. Tapi sudah jelas tertulis supaya ada persediaan makanan di rumah Tuhan. Seorang hamba Tuhan apakah karena melayani lalu harus susah makan, tidak punya tempat tinggal dan tidak punya pakaian juga??
Kalau ada hamba Tuhan yang punya mobil, punya rumah, apakah mereka tidak boleh menerima berkat juga? Sekian banyak jemaatnya yang diurus, haruskah dia berjalan kaki dari rumah ke rumah? Iya, kalau lingkupnya masih desa. Nah, kalau dari kota ke kota lain bahkan bisa antar negara??
Ga menutup mata banyak hamba Tuhan yang menjadi komersil juga. Tapi itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan kita hanya memberikan apa yang menjadi hak Allah. Rumah-Nya memerlukan dana untuk melakukan banyak pelayanan. Pelayanan orang sakit, sekolah Minggu, misi, pendidikan, kunjungan orang sakit, pemuda remaja. Bukan hal yang ga mungkin Allah menjatuhkan uang tiba-tiba supaya semuanya berjalan. Tapi Allah kita lebih suka melihat semua dana itu terkumpul karena anak-anak-Nya taat bukan??
‪#‎hanyasharing‬ ‪#‎numpanglemparopini‬

Sombong

Setiap kesombongan yang tidak kita sadari mengeras di dalam hati kita, pasti akan Tuhan remuk redamkan. Kalau kita tidak segera bertobat, ya siap-siap dengan yang lebih ga enak.
Itu tandanya Tuhan sayang.

Tuesday, November 17, 2015

Menginginkan Hidup Orang Lain.

Jangan menjalani hidup ingin seperti orang lain. Kamu tidak akan sanggup menjadi orang lain. Selain karena blue printmu berbeda dari orang lain, Tuhan punya cara sendiri memetakan perjalanan hidupmu.

Hari-hari ini banyak pandangan dan idelalisme yang bersileweran di depan mata kita. Kadang saat kita melihat kita tidak bisa mencapai idealisme tersebut, kita akan merasa tertuduh, berbeda, dan mungkin ada yang salah.

Perjalanan Pulang



Dalam perjalan kita pulang
Ada jalan yang harus kita lewati
 Deretan hutan gelap di kanan kiri
Sulit untuk tidak mengabaikannya,
Aku aku tahu itu tidak akan membahayakanku
Selama aku tidak masuk ke dalamnya

Perjalanan ini begitu jauh
Dari hutan itu sering terdengar suara-suara
Lihatlah jauh ke depan!!
Kau katakan lihatlah setapak demi setapak

Ada lagi suara berkata
Lihatlah ke atas!!
Kau katakan, lihatlah ke bawah
Supaya kakimu tidak terantuk batu

Bagaimana aku mengabaikan hutan di kanan kiriku?
Dari sana ada suara lolongan
Ada derap kaki
Ada bisikan-bisikan yang menusuk punggungku
Aku sulit tidak mengabaikannya

Maukah Kau menolongku??
Berbicaralah lebih keras di telingaku
Katakanlah banyak hal tentang diri-Mu
Supaya perjalananku hanya berpusat pada-Mu
Bukan hutan dan nyanyiannya yang menusuk dagingku

Bicaralah lebih keras
Supaya aku tetap memegang tangan-Mu
Saat kita sudah tiba di Rumah

Thursday, November 12, 2015

Rhema Hari Ini: Apa Kata Orang Bukan Ukuran Perbuatan Kita

Terlalu banyak mikirin apa kata orang, penilaian orang, lama-lama ga berbuat apa-apa. Ga berbuat baik dan akhirnya ga berbuah apa-apa.

Rhema Hari Ini: Apa Pusat Tindakan Kita Hari Ini?

Jika kita berputar-putar dalam rasa jenuh, kuatir, frustasi,
Mungkin itu karena menyenangkan hati Tuhan bukan lagi tujuan utama kita setiap tindakan kita.

Tuesday, November 10, 2015

Kristen Atau Murid Kristus?

Untuk membuat orang menjadi beragama Kristen itu gampang. Todong aja pakai pisau atau pistol, paksa nikah kristen, bikin peraturan semua orang harus beragama Kristen kayak jaman dulu.
Tapi apakah dengan beragama Kristen otomatis jadi pengikut Kristus? Tuhan Yesus ga bilang banyakin orang Kristen di dunia, tapi jadikan semua bangsa murid-Nya.
Murid Kristus bukan tentang kita pakai kalung salib, bukan cuma tentang gereja tiap minggu, bukan cuma tentang baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Murid Kristus itu punya pikiran dan perasaan Kristus. Kristus menerima orang dulu baru diajak bertobat, bukan disuruh bertobat dulu baru diterima.
Jadi, apa motivasi kita hari ini mengabarkan tentang Kristus? Supaya orang jadi Kristen? Atau supaya orang mengalami Kristus?

Apa Kabar Pelayanan??

Hal yang biasa dan wajar buat anak Tuhan punya kerinduan untuk bisa melayani di Rumah Tuhan, terutama bersama saudara seiman. Yang jadi masalah, saat kita mau, tapi kita tidak bisa.

Eh, ternyata banyak ya yang kayak begini. Bukan cuma saya yang ngalamin. Bahkan mereka yang single dan belum menikah.

Nah, yang sudah menikah apa kabar pelayanannya?? Saat sibuk mengurus anak karena mengurus sendiri dan banyak lagi kondisi yang membuat kaki tidak bisa melangkah.

Monday, November 09, 2015

Tuh, Kan! Makanya Jangan Lagi!

Baru-baru ini Gyan bongkar-bongkar laci bajunya. Waktu dia mau tutup ga sadar tangannya ikutan kejepit.

Nah, kebiasaan kita orang tua suka kayak gini. Kalau lihat anak sudah mengalami sesuatu yang buruk, kita akan bilang..

" Tuh, kan dibilangin. Udah jangan lagi."

Setelah itu anak jadi kapok dan ga mau belajar lagi. Yang dipikiran, itu laci berbahaya dan bisa menyakiti.

Padahal, harusnya kita bilang, " Tuh kan. Makanya hati-hati."

Menjauhkan anak-anak dari kegagalan ga membuat anak punya mental pejuang. Yes, biarkan mereka ngerasain sakitnya, lalu ajarkan bagaimana seharusnya mereka menghadapi situasi itu dengan cara lebih baik.

Kalau kita, malah berusaha anak supaya ga merasakan kegagalan. Akhirnya anak-anak ga belajar apa pun, ga ahli dalam hal apa pun, parahnya mental mereka jadi mental tempe dan langsung mundur saat mereka baru gagal sekali.

Ah, ya belajar lagi sebagai orang tua

*pelajaran kemarin.

lasmamanullang.blogspot.com

Thursday, October 22, 2015

Jangan Main-Main Dengan Pengampunan

Allah itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih karena itu, dia mengampuni orang-orang yang dengan rendah hati berbalik pada-Nya serta memberikan hidup kekal pada yang menyerahkan hidupnya dalam iman kepada Kristus.
Tapi, Allah itu juga adil dan Maha Benar, karena itu kita tetap akan menanggung dosa akibat dari perbuatan dosa kita di dunia.
Itulah mengapa Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan, itulah mengapa Daud kehilangan anak pertamanya dari Batsyeba istri Uria.
Allah mengampuni, tapi Allah tidak melupakan. Allah tidak dapat dipermaikan. Takutlah akan Allah dan ingatlah Ia ada di mana pun kita berada bahkan di tempat tergelap di sudut di dunia ini.

Wednesday, October 21, 2015

Hati Yang Menuduh

Sejak jadi ibu-ibu, saya merasa lebih jadi perempuan. Bukan karena sudah punya anak, tapi karena jadi lebih gampang tersinggung dan susah bersyukur.

Entah kenapa kebiasaan-kebiasaan buruk  perempuan yang sering disebut-sebut orang, yang pada masa single jarang saya alami, waktu sudah punya anak jadi keluar semua. Hahahha. Jujur, saya merasa tidak mengenal diri saya kadang.

Tapi sebenarnya ternyata benih kebiasaan buruk itu bukannya saya tidak punya, tapi memang sudah ada lama, hanya saja baru keluar saat mendapat tekanan dan masalah. Jadi, justru kebiasaan-kebiasaan jelek itu adalah diri saya sebenarnya yang saya tidak pernah tahu ... Tapi pasti Tuhan tahu... -_-

Jadi, kebiasaan apa yang paling saya rasakan akkhir-akhir ini? Kebiasaan hati saya yang menuduh dan "sukur-sukurin" (sukur loo!! - kayak gitu maksudnya) kondisi saya. Hati saya menuduh saya dan mengatakan saya pantas mengalami penderitaan karena saya tidak begini atau begitu, membanding-bandingkan keadaan saya dengan orang lain, dan ujungnya mengasihani diri sendiri.

Kalau sudah mengasihani diri, fisik yang udah lelah menjadi semakin terasa lelah. Makin terasa berat menjalani hidup.

Dipikiran selalu bilang, " Lo sih enak ada ART yang bantuin! Gua kerjain semua sendiri!! Ga jarang tidur cuma 2 jam cuma biar semua beres!!"
Lalu hati nurani menjawab, " Itu kan pilihan yang sudah kamu ambil. Kenapa mengeluh? Kamu masih punya mesin cuci. Ada mertua yang sesekali memberikan makanan. Bisa pakai komputer dan internet untuk kerjain bisnis. Anak ga pernah sakit walau pun kadang rewel. Coba lihat Ci Lia anak 3 urus sendiri. Coba lihat Mama Vale, urus anak sendiri dan ga punya mesin cuci."
Lalu saya menjawab, " Iya, Ci Lia kan ga kerjain bisnis dan yang lain. Murni senang menjadi ibu rumah tangga (berarti gua ga senang ya? Hahhahah). Mama Vale kan masih ada kakaknya, kerjain kerjaan rumah ya ganti-gantian. Saya kerjain semuanya sendirian!"

Intinya sih tiap mau bersyukur dengan membandingkan hidup saya dengan orang lain, semuanya patah karena memang kondisi yang saya alami "berasa" sudah paling susah.

Beberapa kali akhirnya saya memutuskan untuk mencari-cari apa yang bisa saya syukuri tanpa membandingkannya dengan hidup orang lain. Ya gimana mau bandingin kalau ujungnya malah jadi makin ga bersyukur hahahha.

Iya, rasa syukur  timbul bukan karena melihat yang di bawah kita, tapi dengan kemungkinan bahwa kita bisa mengalami hal yang lebih buruk. Bandingkanlah dengan keadaan-keadaan buruk yang pernah kita lewati juga.

Saya tidak bisa membandingkan hidup saya dengan orang lain baik dari sisi positif atau pun negatif. Kenapa? Karena kapasitas beda. Kondisi beda. Saya bukan orang lain dan orang lain bukan saya. Seempati-empatinya saya pada orang lain, saya tidak akan pernah bisa mengerti 100% kondisi orang lain.

Akhirnya saya berhasil membungkam mulut hati saya yang menuduh dan mencemooh saya dengan cara bersyukur yang benar. Itu Tuhan kasih hikmat Toeng begitu aja saat saya sedang mengerjakan transletan saya. Rasanya lega, tapi saat menghadapi hari berikutnya, ternyata ga terlalu lega hahahha.

Tuhan sedang mengajarkan saya untuk mendisiplinkan emosi dan hati saya. Kondisi sulit bukan berarti penderitaan berkepanjangan. Semuanya tergantung dari respon yang saya berikan.

Bersikap tenang menghadapi masalah bukan berarti ga punya hati, tapi lebih baik dari pada bertindak gegabah karena terbawa perasaan.

Hati yang menuduh itu memang perlu untuk menjaga hati kita tetap murni, tapi tuduhan yang mematahkan semangat dan meremukkan tulang, pastinya harus dikendalikan.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Semoga besok Lasma bisa jadi pribadi yang lebih dewasa dan mengenal Engkau. Amin.


Tuesday, October 20, 2015

Tuhan Penjaga Hidup

Semangat pagii!! Tadinya mau lanjutin kerjaan terjemahan, tapi tahu-tahu diingatkan tentang bikin daftar ucapan syukur.

Ada apa ya pakai perlu bikin daftar ucapan syukur??

Karena lagi ga bisa bersyukur. Hehehhe..

Tiga bulan ini jadi tiga bulan terberat buat saya. Terasa seperti diberi beban batu banyak sampai berton-ton. Mungkin kaki sudah terbenam di tanah dan sudah tidak bisa jalan.

Intinya sih ya, di masalah keuangan. Saya dan Aki memulai kehidupan rumah tangga dengan keuangan yang kurang OK. Ditambah saya berhenti bekerja dengan cepat, belum benar-benar aman keuangan Gyan udah dihadiahin.

Jadi kami babak belur untuk mengatasi keuangan.

Kerja dari rumah dengan Oriflame dan bisa naik level lalu dapet bonus, itu PUJI TUHAN BANGET. Itu kayak hadiah. Tuhan pelihara kami sebagian dari situ.

Lalu datang tawaran buat jadi translator, PUJI TUHAN LAGI kami dapet berkat lagi. Tuhan memang selalu cukupkan dari hal-hal yang ga kita duga.

Tapi, beberapa bulan ini saya ga bisa menysukuri semua itu. Amarah  menumpuk di hati saya. Saya memang bekerja di rumah, tapi bagaimana pun anak jadi prioritas. Tapi, di situ juga saya jadi stress sendiri dengan jaringan yang tidak terurus, pekerjaan terjemahan yang harus segera diselesaikan. Belum lagi pekerjaan rumah yang tidak habis-habis.

Titik puncak tekanannya, saat saya mulai memikirkan kematian dan ingin menyakiti diri sendiri. Ya, gimana ya. Saking sudah tidak tahan dengan tekanan, saya merasa kesakitan fisik bisa meredakan sesak di dada saya.

Puji Tuhan, Roh Kudus masih jaga. Istilahnya saya masih hitung-hitungan, kalau nanti bunuh diri ketemu Tuhan atau ga. Kalau saya masih menyakiti diri sendiri, akan memberi efek buruk buat Gyan. Pasti.

Akhirnya cari cara buat pulih, berdoa lagi, cerita ke orang, tapi ga lega 100%.

Selama tertekan itu saya menyalahkan Aki. Semua perasaan sesak saya, saya anggap karena Aki begini dan begitu. Tapi, waktu Aki melakukan apa yang saya inginkan, saya tetap tidak senang. Saya masih merasa marah. Bukan lagi sama Aki, tapi pada sesuatu yang saya tidak tahu apa. Rasanya mau membantingkan badan ke tembok karena tidak tahan dengan tekanan di dada.

Saya jadi mudah tersinggung, mudah marah, curigaan, pengennya marah-marah dan memaki. Sudah takut kena mood disorder. Hahahha...

Lalu, hari ini sahabat saya bertanya, apa kabarnya Las??
Pertanyaan yang buat saya sudah malas menjawabnya. Sudah males mendengarnya. Bahkan sudah pada kondisi muak dengan pertanyaan itu.

Entah bagaimana,  akhirnya saya balas juga. Saya tidak mau sahabat saya merasa dicuekin ahhaha..
Saya balas, " Lagi ga bagus, Mar. Lagi susah bersyukur. Sempet empet sama idup."

Dia ga bales banyak, cuma, " ooo iya. Jangan lupa bersyukur yaa."

Sempet keki dibales begitu saja, tapi ga tahu sepertinya dia berdoa buat saya, makanya saya jadi menulis ini.

Iya, saya mau menuliskan ucapan syukur saya.

- Lasma bersyukur hari ini masih bisa makan padahal kemarin-kemarin mikir mau makan apa.
- Lasma bersyukur Gyan masih ketawa, senyum lebar, walau Mamanya marah-marah dan ga bisa ajak main dengan bebas.
- Lasma bersyukur punya suami kayak Aki, yang mau belajar berubah, pengertian, ga penuntut, selalu menghibur... walau pun istrinya ini ga pinter masak dan beres rumah, lebih sering pasang muka mesam
- Lasma bersyukur dapet kerjaan yang bisa nambah penghasilan, walau ga seberapa. Dari situ bisa kasih perpuluhan dan ajak Gyan sekolah Minggu.
- Lasma bersyukur Opa Gyan bisa beli mobil bekas, dapet berkat dari pelanggannya. Gyan jadi bisa sekolah Minggu walau harus bangun pagi-pagi banget dan ga bisa diem waktu di kelas.
- Lasma bersyukur di tengah rasa tertekan dan putus asa, Tuhan masih jagain Lasma. Lasma jarang baca Firman, jarang berdoa, bahkan udah lama ga ibadah, tapi Tuhan jagain Lasma lewat bahan terjemahan. Betapa hanya lewat anugrah dan kasih karunia Tuhan saja Lasma bisa hidup benar, bisa hidup di dalam jalan-jalan-Nya. Cuma karena oleh kasih karunia Tuhan saja Lasma punya kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan, melakukan firman-firman-Nya. Bukan karena kuat dan gagah Lasma. Bukan pula karena hikmat Lasma sendiri. Sampai hari ini saat Lasma masih bilang mengampuni itu susah, bersyukur itu susah, bersukacita itu susah, Lasma ga ngerasa Tuhan ninggalin Lasma. Tuhan masih di situ, nungguin Lasma melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Makasih Tuhan Yesus. Ampuni Lasma, Tuhan. Terima kasih atas kasih setia-Mu.
- Lasma bersyukur bisa mengalami tekanan ini. Berkali-kali Tuhan ingatkan mereka yang mati bunuh diri atau membunuh anaknya karena himpitan ekonomi. Lasma jadi ngerti apa yang mereka rasain. Sakitnya kepala dan hati karena ga tahu harus gimana lagi. Ternyata masih banyak yang butuh Tuhan.
- Lasma bersyukur dengan tekanan ini, empati Lasma lebih kuat. Lasma juga bisa lebih mengasihi diri sendiri. Belajar memilah mana yang masuk telinga, mana yang tidak boleh masuk telinga.
- Lasma bersyukur walau pun sering bergadang, Lasma ga ada sakit. Gyan juga sehat walau lagi susah makan. Aki juga sehat walau sempat pilek.

Rasanya seperti Elia yang ciut karena dikejar-kejar mau dibunuh. Waktu bersyukur begini jadi ngerasa bodoh, tapi juga lega, tapi juga sukacita. Aku punya Allah yang hidup.

Siapa pun yang mendukung doa saya, Terima kasih. Saya tahu hari ini ada seseorang yang berdoa buat saya. Supaya saya ga jadi anak yang durhaka sama Tuhan.

Hari ini saya merasa bebas. Sesak di dada saya hilang. Saya merasa merdeka. Serius dehhh. Bukan promosi.

Mengampuni situasi. Mengampuni kelemahan dan ketidak mampuan saya. Mengampuni ketidaksempurnaan saya.

Sungguh, Tuhan itu baik. Tuhanlah yang menjaga keluar masukku. Dialah penjaga hidupku.

Friday, September 25, 2015

Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan -Repost dari Pak Ery

Repost dari Pak Ery

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

sumber : rhenald kasali

Thursday, September 24, 2015

Sikap Hati Orang Jepang

Saya dan Aki lagi suka banget nonton channel Waku Waku Japan. Channel tv Jepang yang "kayaknya" dipakai buat promosi pariwisata Jepang juga.

Kami suka channel ini sebenarnya juga ya karena channel tv Jepang. Kami lebih banyak suka drama-drama Jepang dibanding drama dari negara lain.

Seperti
Tonbi, drama tentang hubungan ayah dan anak laki-lakinya. Ia berjuang membesarkan anaknya dengan di bantu sahabat-sahabat satu kampungnya. Ceritanya seru dan mengharukan.

Jin, drama tentang dokter yang secara tidak sengaja kembali ke masa lalu, jaman Edo. Di sana ia menyembuhkan banyak orang dan bisa dibilang mengubah sejarah.

Emperor's Cooks, drama berdasarkan kisah  nyata. Seorang anak muda yang bercita-cita menjadi koki kekaisaran. Cita-citanya tercapai dan kesetiaannya pada kaisar diuji pada saat Perang Dunia ke 2 berakhir dan Kaisar dinyatakan penjahat perang.

The Doctor, yang ini sudah pasti drama tentang dokter. Dokter baru yang masuk ke sebuah rumah sakit dengan management yang kacau. Berbekal keinginan menjadi seorang dokter yang baik, Dr. Sagara mengubah keadaan, management, dan budaya rumah sakit di mana dia bekerja.

New Kids War 2, drama keluarga Kawai. Di mana dua keluarga disatukan. Awalnya keadaan sangat kacau. Anak-anak dari suami dan anak dari istri bertengkar dan tidak pernah akur. Ditambah dengan kedatangan Nenek yang ingin tinggal dengan mereka. Nenek yang suka kritik dan cerewet. Tapi, akhirnya ikatan keluarga benar-benar bersatu. Tentu saja karena adanya sikap  peduli terhadap satu sama lain.

Itu baru drama-dramanya, belum acara-acara tentang wisata di Jepang, makananya dan juga sejarah Jepang. Kayaknya bisa seharian ditonton hahahha.

Tapi, yang paling berkesan waktu nonton tentang pastry Jepang. Kebiasaan orang Jepang yang membuat saya berkaca-kaca, mereka belajar cara membuat pastry di Prancis dan saat kembali ke Jepang memodifikasinya menjadi pastry khas Jepang. Akhirnya malah pastry khas Jepang yang lebih populer dan ada di mana-mana bahkan sampai ke luar negeri.




Soal teknologi pun Jepang mengalahkan Amerika. Teknologi dan animasi sekarang banyak yang berkiblat ke Jepang. Teknologi itu bukan ciptaan mereka, tapi mereka bisa memodifikasinya dengan luar biasa dan menjadikan produk mereka diakui dunia.

Yang saya percaya, Jepang bisa maju seperti itu karena sikap hati mereka. Mereka punya rasa cinta pada profesi mereka. Bekerja bukan sekedar bekerj, tapi memberi yang terbaik. Sikap hati yang sungguh-sungguh.

Di mana pun kita berada, kalau ketemu orang yang punya hati yang sungguh-sungguh, hati kita pasti langsung tergugah dan merasa hangat. Itu yang saya rasakan setiap kali melihat atau mendengar tentang Jepang.

Ga ada istilah setengah-setengah.

Bukan berarti ga ada orang yang hidupnya setengah-setengah di sana, tapi dari budayanya, sikap totalitas ini sepertinya sudah menjadi ciri khas. Mungkin itu juga yang membuat banyak orang bunuh diri di sana. Harakiri masih membudaya ya.

Jadi intinya apa Las?? Intinya sih, tiap abis nonton film Jepang itu langsung berasa bersemangat menjalani kegiatan sehari-hari. Tentunya juga makin pengen ke Jepaanggg.

Oh ya 1 lagi. Drama-drama di atas sangat, sangat aku rekomendasi. Jadi, kalau nemu filmnya, tonton yaaa.

Wednesday, September 23, 2015

Earn It

Tadi siang baca kesaksian Ci Fany yang menyentuh hati banget. Tentang orang yang sangat membantu dia di saat-saat sulit.

Sekarang ini banyak orang yang mengejar impian, tapi sedikit sekali yang menjadi fasilitator agar orang mencapai impiannya. Waktu baca cerita tentang Om Gunawan ini, saya langsung ingat kalimat yang sering saya dengar

"Hiduplah sebagaimana kita ingin diingat saat kita sudah meninggal."
"Apa yang ingin dituliskan di batu nisan tentang hidupmu, hiduplah seperti itu."

Sukses itu memang ga akan cukup buat diri sendiri. Orang yang memikirkan orang lainlah yang jalannya banyak dikuatkan dan dimudahkan Tuhan.
Kalau nyerah dikit karena masalah-masalah sepele, jangan-jangan kita sukses hanya untuk kepentingan kita sendiri.
*ngecek diri sendiri juga

Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan. Amsal 22:4

Inilah kesaksian Ci Fany
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika lagi berberes loteng rumah mami ketemu foto 10 tahun lalu dan di foto ini ada sosok yang luar biasa berpengaruh dalam hidup saya yaitu om Gunawan yang paling kanan.
Mungkin Passioners udah banyak yang tahu ya cerita om Gunawan ini dari Fany😄😄
Jadi om Gun ini adalah suami dari teman Papi saya tante Meysian. Ketika dulu ekonomi keluarga saya sedang sangat amat sulit sehingga terancam ga bisa bayar kuliah tiba2 ada telp dari tante Mey Sian kalau tante butuh mentor untuk anaknya kuliah akuntansi dan jadilah saya mentor privat anaknya yang juga junior saya di kampus. Ketika itu saya bisa mendapatkan tambahan uang 700 rb/ bulan hanya dari les privat akuntansi, jumlah yang sangat lumayan untuk mahasiswa semester 6 bahkan selalu dilebihin uang transport serta selalu tersedia kue2 enak setiap kali saya datang. Sehingga saya bisa menutup biaya kuliah dan kadang bisa membeli makanan enak untuk keluarga. Puji Tuhan saya ga jadi berhenti kuliah tapi malah mulai bisa memberi kepada orang tua saya ketika itu.
Saya belajar banyak hal dari keluarga om Gun ini yang ekonominya terbilang amat sangat mapan tapi hidupnya sangat bersahaja dan menghargai mahasiswi miskin seperti saya.
Ketika saya skripsi, Om Gun pula yang membantu mendapatkan akses ke salah satu perusahaan biskuit legendaris di Indonesia bahkan membantu mengantarkan saya ke Pabrik di luar Jakarta dengan mobil dan supir pribadinya serta membantu saya mendapatkan pekerjaan sebagai SPG di even PRJ untuk lebih mengenal produk dan sistem Perusahaannya. Lagi2 uang dari hasil SPGan itu bisa digunakan untuk membantu keluarga.
Om Gun yang mengajarkan saya untuk tidak pernah menyerah dan untuk tetap ulet untuk mencapai kesuksesan. Karena Om Gun pun berangkat ke Jakarta tanpa modal tapi berkat keuletan dan kerja kerasnya dimana siang dia bekerja dan malam berbisnis sampai ga pernah lihat matahari akhirnya bisa sukses dan mapan.
Om Gun ini sangat berwibawa, tegas dan galak tapi sangat dicintai anak buahnya. Di lapangan dia ga segan turun tangan kotor2 cek2 barang di display dan gudang dan menyapa pegawai yang laling rendah sekalipun dengan akrab.
Sampai saat terakhir hidupnya walaupun beliau mengidap kanker pita suara tapi beliau masih terus giat bekerja dengan berkomunikasi via tulisan. Benar2 etos kerja yang luar biasa.
Sekarang beliau telah beristirahat dengan tenang di surga.
Terimakasih Om Gun telah hadir dalam hidup saya dan memberi teladan dalam hidup saya untuk melakukan segala sesuatu dengan PASSION, jangan takut untuk keluar dari zona nyaman dan mengajarkan para generasi muda untuk jangan malas dan tekun mengejar apa yang dicari karena hanya diri sendiri yang mampu merubah nasib diri sendiri dan tetaplah rendah hati dalam segala kesuksesan yang telah dicapai dan selalu mengandalkan Tuhan
Terimakasih Tuhan saya diijinkan mengenal sosok kepemimpinan yang luar biasa dalam diri om Gun
Walaupun beliau sudah tidak ada di dunia ini tapi ajaran dan teladan beliau akan selalu saya ingat dan bagikan pada generasi muda lainnya

Friday, September 18, 2015

Cara Orang Tua Memotivasi Jaman Dulu

Kebiasaan orang tua jaman dulu memotivasi anak dengan merendahkan dan membandingkan. Tanpa mereka sadari mereka sedang mengubur potensi anaknya semakin dalam dan semakin dalam.

Ga sadar mereka menumbuhkan luka pada anak.

Oh saya memang buruk dan ga sehebat dia
Iya, saya memang malas dan bodoh
Aku mah apa atuhh

Jangan lakukan ini pada anakmu GI. Semoga Mama juga tidak melakukannya padamu.

Sunday, September 13, 2015

FOTO PROFILE SAMA PASANGAN

Yak, ini postingan bakal ga penting jadi, maaf-maaf saja kalau nanti merasa terjebak masuk ke sini hahahhaha.

Jadi, ini topik tentang foto profil di FB. Biasa kan ya, kalau kita single, kita akan pasang PP terbaik kita. Tercantik kita. Sudah nikah, ganti dengan foto paling mesra. Punya anak, foto paling mesra sama anak atau bertiga sama suami.

Nah, saya pilih menghindari pasang foto berdua sama anak atau bertiga kalau di PP. Kenapa? Di otak saya terpikir soal ini ... Mudah banget buat kita mencintai anak kita walau pun dia ga nurutnya sampai bisa bikin kepala panas. Tapi, kalau sama suami yang kadang lagi ga asik, kita harus terus komitmen terus menerus supaya ga kemakan rasa keki.

Nah, saya berusaha sebisa mungkin pasang PP berdua sama Aki biar selalu inget kalau kasih saya pada anak ga boleh lebih besar daripada sama suami. Suami harus tetap yang terutama.

Ada sih di path foto sama Gi. Karna pas bagus aja dan males ganti. Hahaha. Sisanya kalau ga foto sendiri, ya berdua.

Itu salah satu apa yang saya pikirin soal masalah sepele yaitu PP. Tiba-tiba pengen posting soal ini aja. Hahahhah.

Ngapain ya gua share doa gua di socmed? Keliatan banget sendirinya. Malah ini ngomong ke blog.

Ga masalah sih ya, gua posting doanya juga setelah berdoa. Ga ada aturan yang larang kita posting doa kita kan.... Hehehhehe

Hai masalah, aku punya Allah yang besar. Hi, iblis, hi pikiran sia-sia, hi kepahitan, hi kekuatiran, hi ketakutan, hi amarah, hi kebencian, hi kesombongan. Kalian tidak berkuasa atas hidupku karena Tuhan sudah membayar semuanya di kayu salib. Enyahlah daripadaku! Roh Kudus kuasailah hati dan pikiranku. Biar pikiran dan perasaan Kristus yang menuntun langkahku, perkataanku, perbuatanku.
Selidiki hatiku dan baharuilah batinku.

Galatia 2:20 (TB)  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Tuesday, September 08, 2015

Ga Perlu Ketemu Orang Buat Cape

Sudah beberapa bulan ini capek luar biasa. Mau banget nyalahin keadaan yang bikin aku susah punya ME TIME. Eh, ujungnya nyalahin diri sendiri karena ga bisa atur waktu HAHAHAHAHA.

Ya, pokoknya capek karena ga punya ME TIME. Di tanya kabar juga udah males cerita.

Aneh kan, padahal ga ketemu orang dan keramaian. Tapi, kerjaan saya berkutat di sosial media. Dari kerja di sosial media, ngurus Gyan lagi, dari ngurus Gyan, ngurus rumah lagi sambil mikirin kerjaan. Tahu-tahu udah sore dan harus ajak Gyan jalan-jalan lalu siapin makan malam dan beresin rumah. Malam, urus suami, lalu boboin Gyan. Kadang malah emaknya duluan yang bobo gara-gara tepar hahahha.

Kadang nyalahin diri sendiri lagi, kok gua ga bisa  bagi waktu dengan baik. Kok gua ga bisa disiplin?? Apa yang salah ya. Waktu mau beresin semua, ok beres. Tahu-tahu besok bangun dengan badan yang lelah dan kesakitan.

Suka bayangin Ci Lia, urus rumah sendiri dengan 3 anak, dan homeschooling. Sampe mikir apa Ci Lia lahirnya bukan di bumi kali ya. Hahahah...

Beberapa kali ada pikiran pengen bilang nyesel milih nikah hahahha, tapi pas mikirin ga ada Aki ga ada Gi, ketelen lagi itu penyeasalan.

Saya orang yang ga pernah bergantung sama orang lain. Lo mau tinggalin gua, gua sedih, tapi ga ambil pusing. Tapi, pas mikirin kalau sampai Aki dan Gi ninggalin saya... Ini pertama kalinya saya merasa takut kehilangan orang yang ada di sisi saya - sekali pun saya tahu kalau pun terjadi saya akan baik-baik saja.

Jadi intinya....

Saya bukan mau nulis postingan di atas hahhahha....

Capeknya saya bukan cuma karena kerjaan rumah dan bisnis, tapi karena harus ketemu orang di socmed. Kalau orannya positif sih gpp ya. Tapi makin ngerasa kesedot dan tertekan tiap lihat foto-foto korban kecelakaan pembunuhan dll yang diposting secara gamblang. Lalu ditulis,sempatkanlah bilang AMIN.

Mau nangis tiap lihat yang kayak gitu. Mau muntah. Muntah bukan karena korban, mau muntah karena apa yang si punya socmed terhadap foto korban.

Belum lagi liat orang yang ngebela pemerintah A atau pemerintah B udah kayak Tuhan. Menghina pemerintah A atau pemerintah B udah kayak setan. Seolah yang satu suci yang banget yang satu dosa banget.

Ngomong gini di otak aja masih ngerasa ditunjuk-tunjuk (emang lo kagak kayak gitu?)

Ya, lucunya ngeluh kayak gini juga ga ngaruh ya. Yang bisa nyaring kan saya sendiri. Kalau ga suka ya unfollow aja. Resiko pekerjaan saya.

Tapi, ga tahu kenapa sulit diabaikan. Ada yang sesak dan luka di hati tiap lihat hal-hal kayak gitu. Kalau saya mengabaikn, seolah saya sedang menumpulkan hati nurnai. Tapi, pas nulis begini, jadi diingatkan... Kalau saya sesak dengan perilaku sesama saya, apakah terhadap saya langsung, atau orang lain ... ya cerita aja ke Bapa. Mengumbarnya di depan orang banyak tidak akan melegakan, tapi mengumbarnya di hadapan Tuhan, akan mendatangkan hikmat dan pengertian.

Masih cape, masih lelah, tapi harus bertahan. Mungkin kapan-kapan ijin sama Aki buat sweet escape sendirian hahahha.


Saturday, September 05, 2015

MENGENANG WAKTU JADI PEMBINA OSIS. HEHEHE

Habis makan rendang ayam, memutuskan menulis. Bukan tentang rendam ayam, tapi tentang pekerjaan saya dulu sebelum saya berprofesi menjadi ibu rumah tangga.

Iye, soal saya sebagai pembina OSIS. Kenapa bahas ini? Tadi lihat foto kegiatan mereka di tahun ajaran ini dan entah kenapa rindu setengah mati hahahha sampai pengen mewek.

Ga nyangka mereka sudah besar-besar. Sudah regenerasi. Bahkan yang tahun ini menjadi ketua atau wakil ketua saat saya resign, baru masuk SMP dan cuma jadi panitia TMIS Cup.

Tapi saya ingat waktu itu saat berbincang-bincang dengannya. Dia bilang mau masuk OSIS. Murid yang kelihatan sempurna. Cantik dan pintar. Hari ini melihat dia di deretan anak OSIS. Dia memegang kata-katanya.

Saat jadi pembina OSIS, saya selalu mengatakan pada anak-anak buat banyak belajar karena nantinya apa yang mereka kerjakan di OSIS akan sangat berguna di luar sana.

Kenyataannya memang demikian. Berorganisasi melatih kepekaan kita terhadap lingkungan, memperhatikan dan menolong kebutuhan orang lain tanpa diminta, belajar berinisiatif,  belajar memberikan effort terbaik, mengatasi konflik, memecahkan masalah, belajar bertoleransi, belajar bertanggung jawab atas kesalahan pribadi atau kelompok, belajar bekerja sama, belajar meletakkan ego demi tujuan bersama dan banyak lagi.

Dalam organisasi benar-benar terjadi yang namanya manusia menajamkan manusia demi mencapai tujuan bersama. Jadi, yang namanya masuk OSIS itu ga akan pernah sia-sia deh.

Ntar kalau sudah pada punya anak, dorong mereka buat terjun ke dunia organisasi ya. Bukan buat cari popularitas, tapi buat nambah pengalaman dan pelajaran.

Selain organisasi rohani, dorong mereka buat bergabung dalam organisasi nonrohani yang di dalamnya ada banyak macam orang. Dari situ mereka bisa belajar menghadapi manusia-manusia yang punya nilai-nilai yang jauh beda.

Saya tidak tahu apakah mereka akhirnya bisa merasakan manfaat berorganisasi. Saya harap iya.

Di sela-sela kegiatan OSIS terutama saat evaluasi, saya sering menanamkan nilai-nilai kerjasama.

Satu untuk semua. Satu orang berhasil, semua berhasil. Satu orang gagal, semua gagal. Makanya pikirkan setiap tindakan apakah akan merugikan teman-teman yang lain atau tidak.

Banyak yang cepat menangkap, tapi ada juga yang sepertinya harus "ditegaskan" baru mengerti.

Jangan menyalahkan anggota timmu di depan orang luar. Selain karena mempermalukan anggotamu, kelihatan tidak profesional. Fokuslah pada solusi dan tegur temanmu empat mata bukan di depan orang banyak.

Jika generasi sebelumnya telah sukses menjalankan tugasnya, ada beban moral di pundak kalian untuk melakukan kesuksesan minimal dengan standar yang sama. Bukan berarti kalian harus seperti mereka. Justru angkatan kalian harus melakukan dan membawa perbedaan yang akan diingat orang.

OSIS berada di bawah naungan sekolah, sudah sepatutnya OSIS mengikuti peraturan dan keputusan sekolah sekali pun OSIS merasa tidak sreg dengan keputusan yang ada.

Akan selalu ada orang-orang yang menjatuhkan semangat kalian dan memandang rendah kegiatan yang kalian rencanakan, jangan marah dan kecewa. Tetaplah antusias karena masih ada mereka yang bersemangat mengikuti kegiatan yang kalian buat. Fokuslah pada mereka dan buat mereka gembira.

Libatkan semua staff sekolah dan hargai apa yang mereka lakukan untuk membantu pelaksanaan kegiatan kalian.

Jangan mengerjakan tanggung jawab timmu sendirian. Libatkan mereka dan belajarlah percaya pada orang lain. Bagikan tugas.

Mana yang lebih penting? OSIS atau tes harian? Ada yang jawab kegiatan OSIS karena mendesak. Saya katakan, tes harian lebih penting. Kamu ke sekolah buat belajar bukan OSIS. Saat ada tes, percayakan tanggung jawabmu pada orang lain untuk sementara sampai tesmu selesai.

Thursday, August 20, 2015

Untuk Para Calon Ibu : Menyusui

Ini sih pelajaran dari pengalaman saya menyusui. Saya sudah belajar dan banyak membaca tentang menyusui dan cukup percaya diri untuk memberikan ASI eksklusif buat Gyan.

Tapi semuanya ga cukup. Kenapa? Saya tetap buta jika tanpa latihan. Saya buta juga karena ga bertanya riwayat menyusui ibu saya yang ternyata menurun pada saya.

Emang emak saya kenapa? ASI-nya kurang ok. Biasanya ASI kan ada dua. Pada saat awal proses menyusui yang keluar foremilk dulu. Foremilk warnanya lebih bening dan lebih encer. Seteleh foremilk di payudara habis, baru keluar hindmilk. Nah, hindmilk ini yang bikin bayi kenyang karena banyak mengandung lemak.

Yang jadi masalah. Emak saya hanya mengeluarkan foremilk dan ternyata kakak saya juga begitu.

Di bulan pertama Gyan menyusu bisa 30 menit lebih. Jauh dari batas normal menyusui. Dari yang saya pelajari, rata-rata bayi menyusui hanya sekitar 20 menit. Gyan ga, bisa lebih dari itu. Makanya di bulan pertama, saya sangat sangat sangat kurang tidur.

Emak saya sudah menyarankan supaya kami memberikan sufor pada Gyan. Saya tetap ngotot memberikan ASI. ASI eksklusif sudah jadi kerinduan saya bahkan dari sebelum hamil.

Suami dan ibu mertua sangat mendukung saya. Tapi, mereka juga keheranan karena ASI saya sangat sedikit. Bahkan payudara sudah bengkak, diperah dua-duanya pun tidak sampai menghasilkan 30 ml. Padahal sudah menyusui Gyan tiap 2 jam sekali.

Orang-orang yang datang dam bertamu pun semakin membuat saya tertekan karena mau tidak mau saya menjawab pertanyaan yang sama lagi dan itu-itu lagi. Diberi saran ini itu. Makan ini, makan itu. Jangan stress, jangan nangis.

Hahhahaha, udah kena baby blues sampai mau ninggalin Gyan sama bapaknya gara-gara tertekan. Nangis hampir tiap malam karena ga bisa bikin Gyan kenyang. Sedangkan katanya ASI lancar kalau ibunya santai dan senang. Nah loohh kan. Keki banget waktu itu.

Tahu dari mana ASI kurang? Selain dari waktu memerah, Gyan juga kuning. Beratnya ga bertambah. Kuningnya malah menjadi.

Dokter sudah wanti-wanti waktu awal datang ke dokter anak. Pemeriksaan setelah sebulan dokter malah mempertanyakan, kenapa beratnya ga naik. Sebelum ketemu dokter, lihat timbangan Gyan saja rasanya mau nangis.

"Anak gua kayak ga keurus. Mana dibilang kisut. Dibilang kecil banget sama orang." - mau kayak gimana lagi saya sebagai ibu? Ga mungkin kan saya kasih MPASI - gile ah.

Akhirnya dokter kasih ACC buat kami kasih sufor. Apalagi payudara kiri saya juga terkena mastitis.

Mastitis adalah infeksi pada payudara. Ciri-ciri payudara bengkak, memerah, dan jika sudah parah bernanah. Mastitis berawal dari peradangan dan bakteri. Ibu yang mengidap mastitis pasti mengalami demam.

Mastitis yang saya alami sudah sampai bernanah. Setiap mencoba menyusui Gi di payudara yang bengkak dan sakit itu, saya langsung demam.

Balik ke masalah Gyan, akhirnnya saya menurunkan sedikit cita-cita saya. Berharap setelah saya sembuh, Gyan bisa ASI eksklusif. Hancur hati waktu kasih sufor ke Gyan. Antara ga rela, tapi kasihan. Ya, demi kesehatan Gyan, saya nyerah (hikss masih sedih). Waktu liat dia tidur nyenyak setelah minum susu dan dia ga pernah senyenyak itu waktu ngASI, antara seneng dan patah hati. Kok, saya ibu ga bisa kasih yang terbaik buat anak.

Ya udah, akhirnya lanjut. Saya masih perah ASI saya. Kasih ke Gyan. Gyan juga masih tetap ngASI. ASI saya bertambah banyak, tapi tetap ga sampai 30 ml dan ga keluar hindmilk (ngenes banget kalau diingat lagi ... Sedih).

Terus deh pakai sufor sampai sekarang dan Gyan menyapih diri sendiri menjelang 6 bulan. Aku ditolakkk...Dia menolakku sambil ketawa-ketawa geli.

Jadi, maksud cerita saya ... Hahaha..

Karena makin banyak calon ibu, mau kasih masukan. Persiapkan proses menyusui sebaik mungkin. Ga ada salahnya belajar pakai boneka buat tahu posisi menyusui yang benar. Karena, kalau salah posisi, bakal sakiittt bangettt. Bahkan bisa mastitis itu.

Banyak nanya sama emak sendiri riwayat menyusui mereka. Kayak saya ini, saya udah pede  aja, tapi ternyata ada riwayat seperti itu yang menurun ke kakak saya juga. Kalau dari awal saya tahu, saya mungkin siap dan akan cari tahu solusinya supaya saya bisa tetap full ASI.

Jangan ambil pusing apa kata orang. Banyak orang akan memberi saran ini itu sampai kepala mau meledak. Bagus sih kalau kita ga masalah soal menyusui, kalau masalah, nah, siap-siapin hati. Semua orang punya niat baik, tapi ga harus kita turutin semua.

Taruh mimpi kita sebagai ibu di bawah kaki Tuhan. Mungkin Tuhan juga ijinin ini supaya saya ga jadi emak-emak yang sombong. Coba kalau saya berhasil ASI eksklusif, mungkin saya akan mengatai anak yang pakai sufor anak sapi. Akan menghakimi ibu mereka kurang usaha, males dll.

Tumpang tangan payudara kita juga salah satu hal yang terpikirkan oleh saya, seandainya ... Mungkin... Punya anak lagi. Mama saya bisa punya riwayat seperti itu ... Tapi, jika Tuhan berkenan ... Mungkin Ia mau berbaik hati pada saya dan mengabulkan kerinduan saya yang tidak tercapai saat menyusui Gyan.

Sudah dari minggu kemarin saya mau bagiin hal ini. Saya hanya tidak mau ada orang yang mengalami seperti saya lagi. Minimal ... Kalau ada yang baca ini dan menghadapi hal yang sama .. Bisa terhibur juga.

Para calon ibu, semangat yaaaa!! Melahirkan itu sakitnya ga seberapa. Mengurus anak sampai besar kesakitan yang paling kuat yang akan kita rasakan. Tapi, rasa sakit itu setimpal dengan semua pertumbuhan yang kita lihat pada anak-anak kita.

Semangatttt!!! Tuhan berkati kehamilannya \^^/

Tuesday, August 11, 2015

Wanita, Menunggulah Dengan Benar

Apa maksudnya judul di atas?

Sehubungan dengan masalah pasangan hidup hahahha. Karena saya sedang menyeterika, saya nulis cepat dan langsung aja dah.

Ada beberapa hal yang membuat wanita rajin menunggu pasangan hidup, tapi tidak siap juga dipertemukan dengan PH.

Hampir semua wanita memimpikan sebuah pernikahan. Kita bisa saja langsung menikah dengan siapa saja yang datang pada kita, tapi tentu saja kita yang mengenal kebenaran tidak melakukan itu. Kita wanita diajarkan untuk menunggu, tapi apakah kita menunggu dengan benar? Apakah kita menunggu hanya sekedar menunggu?

Memangnya kita harus melakukan apa selama menunggu?

1. Membangun diri

Banyak dari kita menunggu dengan baik dan berharap pria pilihan Bapa datang melamar kita, tapi tidak sedikit juga yang menunggu dalam diam. Diam yang seperti apa? Tidak ada usaha untuk membangun karakter-karakter yang dibutuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi. Mungkin kita sudah banyak membaca buku tentang membangun hubungan, tapi apakah kita sudah membaca buku bagaimana menjadi wanita-Nya Allah? Sudah? Apakah sudah dipraktekkan?

Yang perlu kita ketahui, menjadi seorang isteri lebih sulit dari yang kita lihat. Kita harus berani memgkonfrontasi kesalahan suami kita tanpa mengurangi rasa hormat dan tunduk. Kita harus taat pada keputusan suami pada saat keinginan hati kita yang paling dalam harus dikorbankan. Kita harus menjadi isteri yang lemah lembut saat suami bersikap menyebalkan. Kita harus tetap mengutamakan cinta pada pasangan daripada anak, sekali pun suami lupa bersikap mesra.

Susah sekali? Ya, kalau kita tidak pernah membangun karakter-karakter yang kita butuhkan untuk menjadi isteri dan ibu yang ilahi.

Memiliki iman untuk menikah? Bangunlah karakter wanita ilahi. Lebih dari itu, bangunlah karakter itu untuk memuliakan nama Tuhan. Wanita yang mengikat hatinya pada Tuhan akan terus membangun karakter itu sekalipun tidak akan ada yang mengikat dirinya dengan cincin.

2. Perlakukan saudara seiman pria sebagaimana mereka harus diperlakukan

Masih suka memandang rendah teman pria yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik? Merasa mereka ga mungkin mereka menjadi pasanganmu? Sikapmu berbeda pada satu saudara seiman dengan saudara seiman yang lain?

Mari dicek, murnikah hati kita pada mereka? Murni bukan cuma bicara suka-sukaan atau rasa simpati, tapi pandangan rendah dan menghakimi yang sering muncul di dalam hati kita, itu pun tanda ketidak murnian.

Tuhan menegur saya tentang hal ini sebelum saya mulai dekat dengan Aki. Saya sering memandang rendah para pria yang hidup di bawah standar hidup saya. Di pikiran saya, saya berkata, "Mereka ga sepadan dengan saya." Perkataan yang angkuh dan sombong. Secara perilaku mungkin saya tidaj melakukan yang melecehkan, tapi sikap hati saya.. Tuhan tidak berkenan akan hal itu.

Hormati dan pandang sebagai pemimpin siapa pun dan seperti apa pun teman pria kita. Dengan cara ini kita membangun karakter hormat pada suami tanpa syarat.

Buang jauh-jauh pandangan dan filosofi semua pria sama. Mulai memakai kacamata Tuhan.

3. Buatlah standar pasangan hidup, tapi jangan lupa evaluasi diri

Pengen punya pasangan yang rajin doa? Kita rajin doa ga? Pengen punya pasangan yang rajin muji dan nyembah Tuhan? Kita rajin muji dan nyembah Tuhan ga? Pengen punya pasangan yang berani kabartin Injil, kita berani ga?

Jangan sampai waktu sama kita, PH kita bukannya malah maksimal, tapi malah terhambat.

4. Seriuslah berdoa

Gimana Tuhan mau pertemukan kita dengan calon PH kalo kita sendiri tidak menganggap perkara PH sebagai perkara yang serius? Sudahkah kita berdoa untuk kesiapan diri kita? Sudahkah kita berpuasa untuk membangun roh kita?

Sama seperti kerjaan di kantor ya, kalo kita ga serius melakukan bagian kita pada saat training, jabatan yang kita inginkan pasti akan diberikan pada orang lain.

Tidak perlu malu berdoa tentang pasangan hidup. Tuhan sudah tahu isi hati kita, apa yang mau dimaluin lagi?

Jadi, serius ya berdoanya.

5. Bukalah pergaulan seluas mungkin

Saudara seiman ga selalu di gereja yang sama loohh. Bangunlah pergaulan dengan saudara seiman seluas mungkin. Bergabung di forum, group, atau apa pun yang membangun iman dan karkter.

Jauhkan dulu pikiran meluaskan pergaulan supaya dapat jodoh, tapj miliki motivasi dengan banyak bergaul, kita semakin banyak belajar. Semakin mendengar banyak cerita orang. Semakin banyak mengerti cara Tuhan bekerja dalam hidup orang lain.

Jangan batasi diri. Bergaul ga harus banyak bicara, menjadi pendengar yang baik, kita sudah bisa punya banyak teman.

Itu 5 hal yang terlintas di dini hari ini. Dari 5 hal itu paling penting fokus pada membangun diri untuk memuliakan nama Tuhan. Jangan batasi diri dengan pemikiran dan keinginan kita.

Pakai pikiran dan perasaan Kristus, nanti otomatis kita tahu apa yang harus kita lakukan.

Yaaaaa.... Itu ajahhh. Semangatttt!! Tuhan itu baikkk. Sungguhh!

Saturday, August 08, 2015

MENYATAKAN IMAN PADA DIRI SENDIRI

Kadang, bukan menyatakan iman pada orang lain yang susah, tapi menyatakan iman pada diri sendiri.

Terbiasa melihaf apa adanya, apa yang ada di depan mata, menjadi sebuah kerja keras saat harus melihat segala sesuatu melampaui akal. Melihat kapasitas sendiri, rasanya ga mungkin untuk mengalami hal yang lebih dari yang dilihat dan dirasa.

Tapi kan Firman Tuhan bicara lain...
Tapi kan kenyataannya bla bla bla bla...
Tapi kan Tuhan janji ini dan itu
Tapi kan kamu sendiri bla bla bla...

Bukan yang diluar daging kita yang menjadi musuh kita, tapi apa yang ada di dalam kepala dan apa yang ada di dalam dada. Apa yang kita rasa-rasa dan apa yang kita hitung-hitung.

Itu kenapa, sering-seringlah membicarakan Firman atau minimal menuliskannya kalau kita jarang bicara. Kenapa? Supaya suara Roh Kudus lebih keras dari pada suara pikiran manusia kita, perasaan manusiawi kita. Dengan begitu, roh kita juga menjadi kuat untuk mengambil keputusan dan melakukan apa yang benar.

Saturday, July 25, 2015

WANITA, KITA BUKAN PUSAT DUNIA


Berapa banyak dari kita, wanita, sering merasa menjadi korban dari sebuah situasi. Merasa terjebak dalam sebuah keadaan yang sepertinya salah. Pekerjaan yang salah, pasanggan yang salah, keputusan yang salah, lingkungan yang salah, dan situasi yang salah lainnya.

Saya salah satu orang yang bisa menyebutkan berbagai hal yang menyebabkan saya merasa berada di situasi yang salah. Merasa menjadi si pemeran utama yang selalu menjadi korban dan si penerima penderitaan.

Dengan sifat yang melankolis, hal ini bisa menjadi hal yang sangat menyiksa. Dengan segala macam detail kesalahan yang "tidak seharusnya" saya alami, saya merasa seluruh dunia membenci dan memusuhi saya.

Haiii, mungkin saya tidak sendirian. Ada banyak orang lainnya yang merasakan apa yang saya rasakan. Di sini saya hanya ingin mengatakan, benar-benar menyenangkan saat berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita.

Tapi tahukah kamu, dengan berpikir bahwa kita adalah pusat dari sebuah cerita, pusat dari dunia, kita sedang membohongi dan merusak diri sendiri. Kita percaya bahwa cerita dirancang hanya untuk mewarnai hidup kita.

"Lihat aku! Aku sedih! Aku terluka! Seharusnya kalian mengerti!"
" Hari ini aku sangat senang! Tidak seharusnya kalian merusam kesenanganku!"

Tapi, kita harus sedikit keluar dari lingkaran "kenarsisan" kita dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kita melihat apa yang terjadi dalam hidup orang-orang sekeliling kita?

Ya, mereka punya cerita mereka masing-masing. Mereka punya masalah yang mereka bawa sendiri-sendiri. Ada yang terlihat lebih ringan, ada yang lebih berat.

Ada orang yang datang ke hidup orang lain untuk membantu mengangkat beban, padahal ia sendiri sudah membawa bebannya sendiri. Ada yang datang meletakkan bebannya pada orang lain, lalu pergi meninggalkan orang itu sendiri. Ada pula yang memilih mengangkat bebannya sendiri tanpa melibatkan siapa pun dan ia sendiri pun tidak mau dilibatkan dengan beban orang lain.

Anehnya, ada yang mengangkat dan menerim beban dari orang banyak, tetapi senyumnya tetap lebar dan hidup. Ada yang bebannya ringan, tapi membawanya seperti bertontonn.

Mengapa begitu? Karena semuanya bergantung pada siapa pemeran utamanya.

Saat kita menyadari segala reaksi, respon, dan tindakan kita mempengaruhi cerita dari hidup orang lain. Kita akan lebih berhati-hati. Cerita apa yanb ingin kita bangun, cerita bahagia untuk semua orang atau cerita bahagia untuk kita sendiri?

Semuanya terserah kita.

#NyonyaDasterBahagia #amsalfoje

Gambar: answeritsa.wordpress

Sunday, July 05, 2015

Semuanya Terkendali

Ah, akhirnya nulis lagi. Gyan dan Papa Gi udah bobo. Saya sudah ngantuk, tapi mau beresin beberapa urusan Oriflame.

Sejak stress yang bikin mau mati itu, akhirnya semua bisa terkendali. Bukan karena TING tiba-tiba semua masalah beres, tapi karena seperti mendapat kekuatan baru.

Rasanya seperti Tuhan dukung saya untuk apa pun yang saya kerjakan. Tuhan mengajarkan saya untuk tidak berpikir terlalu jauh dari apa yang saya lihat dan dengar. Alias berhenti asumsi. Mulai mengungkapkan keinginan dengan santai dan melakukan 1 pekerjaan tanpa memikirkan pekerjaan lain.

Puji Tuhan, kesibukan sama seperti biasa, tapi hati lebih damai sejahtera, lebih bisa sabar dan sukacita. Tuhan menguatkan tangan saya untuk bekerja memberi yang terbaik. Tidak sempurna, tapi yang terbaik.

Saya selalu ingin menyelesaikan dengan sempurna, tapi tentus saja itu tidak mungkin. Ada situasi-situask yang tidak bisa kendalikan. Fokus pada apa yang bisa kita ubah daripada mengeluhkan hal-hal yang diluar kendali kita.

Mendisiplinkan pikiran dan perasaan memang tidak mudah, tapi hasilnya pasti akan membuat kita bersorak dan bersyukur pada Tuhan.



amsaLFoje via Blogaway

Sunday, June 28, 2015

Jangan Marah Kalau Dibilang Masuk Neraka

Waktu kita memilih hidup yang bertentangan dengan Firman Tuhan
Jangan marah jika kita dihakimi masuk neraka
Karena memang itu yang dikatakan Firman Tuhan

Waktu kita memilih hidup di luar Tuhan
Jangan marah kalau orang menyebut perbuatan dosa kita sebagai DOSA
Karena memang itu kenyataannya

Kita memilih hidup di dalam atau di luar Tuhan
Memilih hidup di dalam dosa atau lepas dari dosa
Kita tahu pasti apa resikonya
Jangan marah jika orang lain mengingatkannya

Berbagai spekulasi dan teori
Menolak surga dan neraka
Semua terasa benar karena hati tak perlu dituduh lagi
Lalu merasa tenang dengan hidup yang bebas

Tapi saat kamu dihadapkan dengan kematian
Kamu kembali berpikir
Apakah hidupku sudah benar?
Apakah keyakinanku benar?
Apakah surga dan neraka benar-benar tidak ada?
Bagaimana kalau ada?

Seribu kebaikan kita lakukan
Tetap tidak membuat kita merasa menjadi orang benar

Kebenaran
Sudahkah kita benar-benar tinggal di dalamnya?

Jangan marah kalau kamu hidup dalam kegelisahaan
Karena kamu sendiri yang memilihnya



amsaLFoje via Blogaway

Tuesday, June 23, 2015

Hati-hati Kalau Milih Topik

Hahahhaha, bukan berarti jangan nulis sama sekali.

Pendek aja saya ceritanya.

Waktu saya memilih topik tentang penderitaan untuk majalah Pearl, ga nyangka benar-benar Tuhan jungkir balikkan. Sampai pengen ngerasa mati. Saya serius waktu bilang mau mati. Walau pun masih mikir kalau beneran mati nanti Tuhan nerima saya ga yaaa... Tapi saat itu benar-benar ngerasain rasanya pengen selesai aja hidup ini.

Jadi ngerti perasaan mereka yang tertekan. Mereka yang terdesak dan ga tahu harus ngapain lagi. Ini saya masih punya Tuhan tempat ngadu dan terus ingetin Firman dan janji-Nya. Gimana dengan mereka yang ga kenal Tuhan? Gimana dengan mereka yang ga punya pegangan. Yang selalu sendiri dan jalanin semuanya benar-benar seperti robot?

Saya masih mikir mau mati aja sepertinya masih kelihatan hidup. Di luar sana banyak yang jalanin hidup hanya sekedar bertahan tanpa pengharapan. Mikir mati juga kayaknya udah ga bisa. Tidak ada motivasi sama sekali.

Puji Tuhan kalau kemarin-kemarin Tuhan kasih pelajaran. Saya jadi bisa ngerasain apa itu penderitaan sampai pada titik terendah. Walau pun masalah saya belum seberapa.

Saya tidak tahu apakah nanti artikel saya bisa menjawab kebutuhan. Ini pun masih diperiksa editor.

Pastinya, saya berdoa supaya setiap orang yang hari ini merasa putus asa dan sendirian, menemukan Yesus supaya mereka bisa datang pada Bapa dan menerima kelegaan. Amin.



Tuhanlah tempat aku berpulang
Tempat di mana selimut hangat melingkupiku di kala malam dingin menusuk tulangku
Tempat di mana aku melegakan dahagaku di kala terik panas siang menyedot kehidupanku

Tempat aku tertidur lelap dalam kasih tanpa syarat
Tempat aku tertawa lepas karena penerimaan yang tiada habis
Tempat aku menangis tanpa perlu kutakut dihakimi

Tuhan,
Adalah yang paling kubutuh
Dialah nafas dari hidupku

Aku mati tanpa-Mu.



amsaLFoje via Blogaway

Saturday, June 20, 2015

Gigi Bikin Galau

Hari ini saya menemukan gigi saya bergeser dan mengalami perubahan. Ada ruang yang lebih lebar di antara gigi bawah karena semasa SMA saya mencabut gigi geraham saya yang bolong. Sekarang baru terlihat efeknya. Gigi bawah saya seolah bergeser untuk mengisi ruang gusi yang kosong.

Lucunya, saya yang sudah ibu-ibu ini merasa gusar dengan perubahan ini. Saya takut menjadi jelek dengan gigi-gigi yang bergeser. Takut menjadi terlihat lebih tua dari usia saya yang sebenarnya.

Sayq mencoba mengabaikannya tanpa berusaha memperbaiki cara berpikir saya yang saya tahu itu tidak benar. Sampai tadi saya membaca training tentang skin care #oriflame, pikiran saya dibukakan lagi.

Saya diingatkan tentang wanita terjelek di dunia. Saya tidak akan menyangkal kalau dia memang sangat jelek secara fisik. Ada rasa ingin tahu bagaimana orang bisa hidup dengan wajah yang seperti itu.

Lizzie mengatakan bahwa siapa diri kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan, kesuksesan kita dll. Bukan oleh apa yang orang katakan.

Tapi saya tidak meyakini itu. Karena saat kita gagal, apakah kita menjadi tidak berharga? Saat kita mengikuti nasehat orang tua, apakah kita tidak menjadi diri sendiri? Saat kita ingin menyenangkan orang yang kita cintai apakah kita sedang menjadi orang lain?

Tidak. Keberhargaan dan siapa diri kita bukan ditentukan apa yang sudah kita lakukan karena jika itu menjadi dasarnya, akhirnya jatuh pad penilaian orang lain lagi. Keberhargaan dan siapa diri kita yang sejati bergantung pada apa yang dikatakan Pencipta kita

Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. Yesaya 43:4

Jika apa yang kita lakukan tidak bisa menjadi penentu keberhargaan kita, apalagi fisik kita.

Keberhargaan kita tidak ditentukan oleh kulit putih tanpa jerawat atau noda jerawat, rambut panjang lurus hitam tanpa uban, hidung mancung ramping sempurna, atau gigi rata putih tanpa lubang dan ompong. Tidak bukan itu.

Sejak Tuhan memikirkan bentuk, rupa, karakter, nama, siapa orang tua kita, kapan kita akan lahir, bagaimana cerita hidup kita... Sejak itulah kita berharga di mata Tuhan. Kita adalah buah hasil pikiran-Nya, kerinduan-Nya, kasih-Nya ....

Jadi, tak apalah gigi ini sedikit bergeser karena saat saya tahu saya berharga, saat itu pula saya tahu saya cantik apa adanya.

Terus, ga perlu pakai kosmetik dong Las?? Tetap perlulahh. Namanya kerja jualan kosmetik. Hahahha. Kalau kita menghargai diri sendiri, kita tahu bagaimana memperlakukan tubuh kita sendiri. Kosmetik perlu atau ga? Silahkan jawab sendiri ;).



amsaLFoje via Blogaway

Sunday, June 07, 2015

Menginginkan Kebebasan

WARNING!!! Tulisan ini mungkin akan membuat orang jadi tidak mau menikah karena ketakutan. Jadi, berdoalah sebelum membaca.


Dua bulan ini, entah kenapa saya jadi lebih banyak mengeluh. Jadi lebih banyak kuatir dan sulit bersyukur. Ya, sebenarnya saya tahu pasti sebabnya.

Saya menginginkan kehidupan orang lain.

Saya ingin bisa mengurus rumah dengan baik, mengurus anak dengan baik, tidak punya masalah keuangan, bisa melayani di gereja dengan bebas, bisa punya pekerjaan dengan gaji yang lumayan, bisa punya kebebasan melakukan hobi saya tanpa diganggu apa pun.

Wowww! Saya benar-benar menginginkan kehidupan yang sempurna. Namanya keinginan sudah pasti belum dimiliki dan hampir setiap hari saya mengeluhkan kondisi kehidupan saya.

Jujur, saya belum pernah semengeluh ini dalam hidup. Saya merasa seperti anak remaja yang labil dan menginginkan kehidupan orang lain.

Saya menginginkan kebebasan saya.

Aneh ya, padahal saya tidak dikekang dan dilarang ini itu. Rasa tanggung jawab dan komitmenlah yang membuat saya harus meletakkan kebebasan saya.

Jadi ibu rumah tangga tidak lagi menjadi sebuah sukacita. Yes, masih ketawa ketiwi, bahagia liat anak dan suami, tapi hasrat saya menginginkan kebebasan di masa lalu saya.

Kenapa saya menginginkan kebebasan masa lalu? Saya katakan ini ya, waktu kita perempuan menjadi istri lalu menjadi ibu, hampir tidak ada ruang di pikiranmu untuk memikirkan dirimu sendiri. Hampir setiap detik kamu memikirkan apa yang harus kamu bereskan dan lakukan, apakah kebutuhan suami sudah oke semua, bagaimana dengan kebutuhan anak? Saat kamu baru mau mengangkat kaki untuk istirahat, anak mulai rewel karena pup. Saat kamu baru membuat segelas teh hangat untuk sedikit menyegarkan pikiran,  anak tiba-tiba sudah bangun dan minta digendong.

Kamu akan sulit menemukan waktu untuk dirimu sendiri. Bahkan saya belum pernah ke salon untuk potong rambut dari sejak saya melahirkan.


Gilaa ya Las. Kok kamu ngeluh terus. Harusnya kamu bersyukur. Punya suami yang baik, punya anak yang sehat.

Sebenarnya, saya harus mengatakan yang tidak manis-manis ini sebelum saya menceritakan kelanjutannya.

Jadi, setelah masak MPASI Gi, saya buka aplikasi  blog saya dan langsung muncul tulisn Fany tentang bagaimana dia bergumul dengan kemalasannya mengurus rumah. Fany bilang dia bersyukur dengan teladan dari Ci Lia, ci Grace, dan Ci Shinta. Ibu-ibu yang sibuk dengan bocah-bocahnyaa, tapj masih bisa maksimal untuk melayani di blog dan homeschool.

Ketamparrrr. Iya, saya ketampar.

Saya GA SENDIRIAN! Di dunia ini banyak wanita-wanita yang menyerahkan potensi terbaiknya, kecantikan masa mudanya, dan kebebasan masa lajangnya demi, mengurus pria yang baru dikenalnya beberapa tahun dan manusia-manusia mungil yang entah muncul  dari mana.

Kenapa ya mereka mau begitu? Ada yang alasannya sama seperti saya, tanggung jawab dan komitmen. Jadi, walau pun sudah berdarah-darah mereka tetap bertahan. Tapiiiii, sama seperti saya sekarang, tidak ada sukacita, tidak ada ucapan syukur, mereka menuntut lebih dari suami, mereka mulai menginginkan suami menjadi seperti suami orang lain, mereka mengharapkan ada ini, itu, ono dan anu, berpikir dengan itu semua hidup mereka lebih bahagia.

Tapi ada juga yang punya alasan lain.
Karena Kristus. Bukan cuma karena sebuah perintah untuk istri mengurus rumah tangganya, tetapi karena ingin menyenangkan hati Tuhan. Suami adalah kepala keluarga dan kepala suamii adalah Kristus. Jadi, menyenangkan suami sama dengan menyenangkan Kristus.

Saya lupa akan hal ini. Saat saya sedang melayani suami, saya sedang melayani Kristus. Saya tidak perlu mencari-cari pelayanan di luar karena melayani suami saya berarti melayani Kristus.

Maluuuu sekali waktu saya membaca lagi beberapa blog lain. Blog Mega, tapi saya lupa yang mana.

Intinya saya diingatkan... Mulut saya mungkin tidak mengeluarkan keluhan. Tapi saat saya menekuk wajah saya dan berkata-kata tidak baik dipikiran saya, saya sama seperti perempuan yang suka mencari perdebatan.

Saya mungkin tidak merendahkan suami dengan kata-kata, tapi saat saya meremehkan dalam pikiran, saya sudah tidak menghormati dia. Tidak menghormati suami sama dengan tidak menghormati Kristus.

Dua bulan ini saya merasa menjadi manusia paling buruk di dunia. Hati saya penuh amarah dan kekuatiran. Sulit mengampuni dan sulit bersyukur.

Ubahkan hatiku Tuhan
Sama seperti saat dulu Kau ubahkan hatiku

Kuatkan kakiku Tuhan
Sama seperti saat dulu Kau menguatkan langkahku

Lembutkan hatiku Tuhan
Sama seperti saat dulu Kau lembutkan hatiku dengan kasihMu

Jangan jauh-jauh dariku Tuhan
Karena hanya Engkau yang jadi peganganku
Tempat penghiburanku
Sumber hikmatku
Dan alasanku untuk hidup

Biarlah orang-orang mencari kebahagiaannya di tempat lain
Tapi aku, Tuhan
Hanya Engkau yanh menyukakan hatiku

Selidiki hatiku Tuhan
Apakah aku sungguh mengasihi Engkau
Apakah hatiku murni mengikut Engkau

Biarlah semua orang mencemooh aku
Tapi jangan Engkau jauh-jauh dariku

Tetap di sisiku, Tuhan
Karena hanya Engkau rumah tempatku pulang



amsaLFoje via Blogaway


Saturday, May 23, 2015

Penderitaan

Akhir-akhir ini saya merasa menderita . Padahal masalahnya sepele. Mungkin saya lelah.

Ada sesuatu yang hilang, ga tahu apa. Mungkin karena udah terlalu sibuk dengan keseharian. Sibuk sama rumah, sibuk sama bisnis.

Kehidupan rohani berantakan, ga punya waktu sendirian. Kangen orang tua, tapi mau ketemu aja susah banget. Masal ah A, B, C...

Jadi gampang marah, jadi sensitif, adga yg ngomong apa dikit, langsung tersinggung. Rasanya kayak memusuhi seluruh isi dunia.

Datang sama Tuhan udah kayak orang gila. Bilang mau mati berkali-kali.  Tapi tiap mikirin lagi masalahnya,  kok ya ga masuk akal mikir sampai mau mati. Pernah ngadepin masalah yang lebih besar,  tapi ga semenderita ini.

Rasanya kebayang banget gimana waktu Elia mau dibunuh Ratu Izebel. Elia bisa datengin petir,  membunuh banyak nabi palsu, tapi gara-gara Ratu Izebel doang dia langsung menyayangkan hari lahirnya.  Dudul kan yaaa..

Susah bersyukurr,

Mau bersyukur kok ya alesannya berasa klise...  Anak sehat,  suami sehat,  bisnis lancar..  Berasa klise.

Sampai puas nangis-nangis mata bengkak,  cuma bisa berbahasa Roh.

Nyadar,  waktu saya dengan Tuhan makin berkurang. Jangankan nyediain waktu buat Tuhan,  buat diri sendiri aja ga ada. 

Akhirnya tadi puas-puasin ngoceh-ngoceh sama Tuhan.  Muntahin segala kekecewaan dan rasa muak.

Iya,  ya.  Bulan ini banyak kecewa sama manusia. Jadi males berharap sama orang.  Emang bener sih jangan berharap sama orang dan jangan memberi harapan palsu pada orang.

Lagi sering merasa dibohongi,  giliran mikirin lagi,  ternyata saya juga kayak mereka.  Dipendem lagi deh kecewanya.  Tapi  lama-lama numpuk juga.

Kadang kalau cerita sama Babe sampai mikir,  Babe bosen ga  ya denger kebodohan-kebodohan saya. Saya ga ada tempat bercerita yang lain yang benar-benar bikin saya lega.

Entah kenapa kalau cerita ke orang ga benar-benar plong,  ujungnya males cerita.  Sedangkan keterbukaan awal dari pemulihan.


Ih,  ribet banget yaaa mikirnya.

Mau diberesin juga bingung kayak gimana.  Tahunya cuma satu,  beresin dulu hubungan sama Tuhan...

No... Noo... Mengampuni.  Kalau sudah mengampuni,  dateng sama Tuhan juga pasti lebih enak...  Walau pun orang-orangnya ga salah,  tapi ada GT saya terhadap mereka tidak terpenuhi.  Ujungnya kecewa,  ya harus ampuni.

Semoga segera berakhir.. Padang gurun? Bukan,  hutan hujan tropis.  Jalannya kagak bisa lempeng.  Banyak hewan-hewan siap menyerang.

Puji Tuhan ga ngerasa ditinggal Tuhan.  Saya tahu Dia terus mengamati saya membereskan benang kusut yg malah makin kusut.  Dia tunggu saya menyerah dan lari pada Dia,  meminta-Nya membantu saya membereskan semuanya.

Iya,  Babe selalu begitu...  Ini juga udah pegangan,  Be T.T



amsaLFoje via Blogaway

Wednesday, May 20, 2015

KERJA DARI RUMAH ENAK??

Kalau mau jujur, kerja dari rumah dengan ngurus anak 9 bulan tanpa ada yang bantuin itu, GA ENAK. Hahahha.

Aku cerita pahit-pahitnya dulu deh. Hihihi...

Kenapa ga enak?? Karena untuk jadi ibu rumah tangga aja (tanpa ART), pekerjaan kita seperti tiada henti. Belum lagi kalau kita tipe yang ingin semua beres. Kalau tidak beres, pusiiinggg kepala Barbie...

Ditambah kerja dari rumah?? Weitsss, baru mau kerjain ini pas si kecil tidur, eh tahu-tahu sudah bangun. Apalagi kalau si kecil main, udah pasti ga mau main sendiri. Di tengah-tengah lagi main, saat iseng cek hp, ternyata ada downline yang butuh bantuan. Ih, pusing lagi kepala Barbie...

Terus, ya udah kerja kantoran aja Lasma. Duit langsung dapet, bisa bayar ART.

Thursday, April 30, 2015

Pemenang Tantangan Berhadiah 1

Yesss!!!

Akhirnya Tantangan Berhadiah 1 berakhir. Ini bukan masalah prestasi yaaa. Tapi tentang memakai apa yang kita punya untuk memuliakan nama Tuhan.

Pemenang yang aku pilih berhasil menyentuh hati aku. Saya bisa merasakan yang si Nona ini rasakan dan jadi lebih bisa bersyukur.

Nah!! Karena pesertanya hanya 3(000), dipilihlah 3 orang,

1. Theresia Hutape alias Echa
Tulisan: http://theresia-hutapea.blogspot.com/2015/04/giveaway-kalau-aku-ga-pernah-kenal-doi.html?m=1

2. Uly Sitorus
Tulisan: http://atikcbulay.blogspot.com/2015/04/seandainya-kristus-gak-ada-di-hidupku.html?m=1

3. Lucia Margareth
Tulisan:
https://m.facebook.com/notes/lucia-margareth/flashback-perjalanan-bersama-dia/10152981229517917/?refid=17

Selamat yaaa!! Tolong kirim nama, alamat, no hp ke inbox FB atau WA 08170878531 atau 7fc0cc37

Saya kasih peer yaaa. Silahkan riview hadiah bukunya di blog atau notes masing-masing.

Jangan berhenti menulis, jangan berhenti bersaksi. Good luckk!!

Wednesday, April 22, 2015

Sok Kudus di SocMed

Lasma ngapain sih sibuk banget nulis-nulis status sok rohani di FB?? Mending ada yang baca. (Tudahan setan dalam pikiran)

Sori yee kalau gua suka sok kotbah & sok suci di medsoc. Hidup juga belum tentu bener.

Tapi, gua punya kerinduan melayani Tuhan. Sayangnya, keadaan gua ga memungkinkan untuk melakukannya di luar rumah. Gua juga udah mewek-mewek sama Tuhan karena rindu pelayanan (rindu Tuhan atau pelayanan sih? -_-)

Terus, kalau gua mewek terus memang bisa ngubah keadaan? Ga. Ya gua fokus sama apa yang bisa gua lakukan buat Tuhan. Gua suka nulis, kata teman-teman tulisan gua lumayan, gua punya socmed, gua punya hp canggih. Ini yang gua punya buat melayani Tuhan. Kalau gua fokus sama apa yang ga gua punya, pengen kejayaan masa single, gua ga akan pernah melayani karena gua fokus sama yang ga gua punya.

Ini cara gua membagi apa yang sudah Tuhan kasih buat gua. Berkat itu bukan buat kita sendiri. Jangan biarkan cawan kita luber dengan anggur. Nanti anggur itu tumpah terbuang sia-sia. Dengan berbagi lewat socmed, gua menjaga cawan gua terus terisi anggur yang baru. Dengan cara itu juga gua melayani Tuhan

Mau dibilang pencitraan atau apa terserah. Pikiran orang tanggung jawab masing-masing, tugasku menjaga hati nuraniku tetap bersih. Dengan dikendalikan rasa takut dinilai, nama Tuhan ga akan dipermuliakan. Ga akan ada kesaksian, ga ada yang dikuatkan, ga ada yang ditegur, ga ada yang diberi tahu jalan yang benar.

Badan gua dibatasi rumah kontrakan kami, tapi kesaksian tentang Kristus ga boleh dihentikan oleh apa pun & siapa pun.

#melawanintimidasiiblis

Jebakan Pernikahan

Jebakan pernikahan yang sering kita pikir benar;

- mentingin anak dari pada pasangan
- mentingin pekerjaan daripada keluarga dengan alasan demi keluarga
- mentingin keluarga sendiri dari pada pasangan
- mentingin diri sendiri daripada pasangan dengan alasan yang penting sudah melakukan kewajiban
- berhenti memaafkan & memberi karena merasa selalu mengalah & yang paling berusaha

Hati-hati buat pasangan baru, apa yang kelihatan benar belum tentu benar. Rumah tangga retak bukan cuma karena ada pria atau wanita idaman lain. Keterpusatan pada diri sendirilah yang pertama kali memberi retakan kecil. Retakan kecil bisa menjadi retakkan besar.

Berpegang pada Firman Tuhan, kunci terbaik untuk berespon dengan BENAR dalam situasi yang SALAH.

- istri tunduk & hormat pada suami karena suami kepala atas istri & kepala suami adalah Kristus
- suami sayangi istri
- perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan
- KASIH
1 Korintus 13:4-8

13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap..

#mengoreksidiri

Wednesday, April 15, 2015

PENERIMA YANG MURAH HATI



Bacaan: Yohanes 4:1-15
NATS: Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? (Yohanes 4:9)

Dalam Yohanes 4:1-15, kita membaca bahwa Yesus lelah, lapar, dan haus. Sebagai Putra Allah, Dia dapat memenuhi semua kebutuhan jasmaninya sendiri. Semestinya Dia mudah mendapatkan makanan dan minuman. Namun Yesus tidak bersikeras untuk memenuhi semua kebutuhan-Nya sendiri.

Waktu itu, murid-murid-Nya pergi ke kota untuk membeli makanan. Sementara itu Dia duduk di pinggir sumur Yakub untuk beristirahat dan menunggu. Kemudian, saat seorang perempuan Samaria yang moralitasnya diragukan datang untuk menimba air, Dia melakukan hal yang mungkin enggan dilakukan oleh sebagian besar dari kita: Dia meminta minum dari perempuan itu.

Selama bertahun-tahun saya melewatkan suatu pelajaran penting tentang kemanusiaan Tuhan, sampai Dia mengajar saya tentang egoisme terselubung karena sikap saya yang tidak mau mengizinkan orang lain menolong saya. Suatu hari seorang teman berusaha berbuat baik kepada saya, tetapi seperti biasanya saya menolak. Dalam kekecewaannya ia berkata, "Kamu tahu nggak? Kamu tuh terlalu pelit untuk menerima!"

Seketika saya sadar! Benar, saya selalu berusaha menjalankan firman, "Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima" (Kisah Para Rasul 20:35). Masalahnya, dalam usaha saya untuk tidak egois, saya selalu merasa harus menjadi Pemberi.

Orang lain juga rindu untuk mengalami berkat dalam memberi. Sayang kita sering kali mengecewakan mereka dengan menolak bantuan mereka. Marilah kita belajar menjadi penerima yang murah hati, seperti Yesus -JEY


BERMURAH HATILAH UNTUK MENERIMA
SAMA SEPERTI KETIKA KITA MEMBERI

Thursday, April 09, 2015

Dream Board Tahun Ini


Ih ga telatlah ya bikin Dream Board bulan ini. Masih ada 8 bulan ke depan untuk mewujudkan. Hehehhe

Ini keinginan-keinginan kecil yang sebenarnya ga terlalu gimana. Tapi sudah bisik-bisik sama Babe mau ini itu. Ga tahu nanti akan dikasih dengan cara apa atau malah ga dikasih. Yang saya tahu minta dulu aja sama Bos Besar.

1. Smartphone dengan kapasitas RAM lebih besar.

Kerjaan saya sebagai marketing independen nuntut saya punya banyak aplikasi massenger. Hp ini yang sekarang ga cukup untuk itu. Sering low memory dan jadi lambat. Belum lagi aplikasi editor foto & social media.

Tuhan tahulah kebutuhan saya ini. Hehehhe. Yang diotak pengen banget I-phone. Tapi balik lagi ke Babe, mau kasih atau ga :D.

2. Buku MODERN MAMA (wake up.fight.repeat)

Baca testimoni Neng Bohay - Maya Septha tentang buku ini & langsung pengen banget baca. Ternyata ga cuma saya yang bergumul dengan keinginan untuk jadi diri sendiri & mengembangkan diri - tapi juga ga mau ninggalin tanggung jawab sebagai istri & ibu.

Sepertinya kalau saya baca buku ini saya akan mendapat lebih banyak inspirasi, motivasi, & bayangan bagaimana caranya tetap menjadi istri & ibu tanpa kehilangan jati diri. Moga-moga bisa beli bulan depan. Aminn.

3. True Perfection Serum

Bukan promosi, tapi aku memang jatuh cinta banget sama serum ini. Bisa dipakai siang & malam. Jatuh lebih hemat kan hahahha.

Karena saya konsultan Oriflame, sudah pasti saya harus pakai produknya juga supaya bisa memberi gambaran pada pelanggan. Bukan berarti semua produk dipakai juga.

Beberapa bulan ini mikirin produk mana yang cocok buat saya. Waktu itu pernah coba satu, tapi ga cocok. Kulit sedang bermasalah juga. Buat cuci muka sih sudah cocok dengan Pure Skin. Ga mau pindah ke lain lagi.

Lalu munculah tester True Perfection ini. Saya pakai serumnya saja & ternyata cocok. Ga berat, langsung menyerap & kulit juga terasa sehat. Jatuh cintaaa & mupeeenggg. Sayangnya harganya belum cocok di kantong saya yg masih manager 12%. Bisa sih pakai bonus yang ada, tapi saya cari duit kan buat keperluan rumah tangga juga hehehhe. Akhirnya nahan diri.

Cuma bisa minta ke Babe & berharap bisa beli bulan ini. Biasa bisa tahan 2 bulan 1 botol. Ga ada yang mustahil. Kalau Babe berkenan, pasti Babe sediakan. Ga tau gimana caranya. Minta aja dulu sambil setia bekerja.


Sisanya... keinginan-keinginan besar tahun ini.

- Level Senior Manager!!
- Tandanya dapet Honda Beat Gratiss
- Jalan-jalan ke Jogja
- Bisa naik kereta - seumur hidup belum pernah naik kereta
- Bisa bayar Asisten Rumah Tangga dari bonus Oriflame buat nyeterika. Punya bayi, nyeterika jadi pekerjaan terberat.

Itu semua keinginan hati saya di tahun ini. Kok ga ada yang berbau rohani?? Ga ada karena hal rohani itu harus & wajib ditingkatkan & diasah setiap hari. Keinginan saya di atas ga terlepas dari hal rohani juga.

Mintalah maka akan diberi. Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Carilah maka akan menemukan.

Kalau meminta hal duniawi masih kita anggap hal fana, ya terserah sih. Yang saya tahu, waktu saya meminta hal duniawi atau pun spiritual - ada hubungan yang baik antara saya & Tuhan. Ada kepercayaan penuh kepada Tuhan. Keinginan saya ga perlu terkabul, tapi minimal saya punya keberanian meminta pada Bapa (dulu saya ga suka minta karena ngerasa ga sepantasnya kita minta-minta sama Tuhan - kasian banget gua dulu).

Okeyyy. Biar kehendak Tuhan yang jadiiii. Semoga Tuhan setuju dengan keinginan hati saya. Aminn. Hahahha.

Tuesday, April 07, 2015

Aku Mau Walau Sakit

Mengampuni itu berat
Mengampuni itu sulit
Mengampuni itu menyesakkan

Bagaimana kalau dia mengulangnya lagi?
Bagaimana kalau dia menyakiti lagi?
Bagaimana kalau aku terluka lagi?
Bagaimana kalau aku direndahkan lagi?

Aku harus tetap mengampuni
Sekali pun aku terluka lagi
Aku harus terus mengampuni
Walau sesak di dadaku berulang kali
Aku tidak boleh berhenti mengampuni
Meski aku merasa bodoh & rendah

Aku harus mengampuni karena aku telah diampuni
Aku ingin mengampuni karena aku ingin mengasihi
Aku memutuskan untuk mengampuni lagi karena aku selalu mendapat pengampunan

Mengampuni itu sakit
Tapi aku mau
Karena aku
Telah diampuni


[ARTIKEL] GA SEMUA ORANG DILAHIRKAN UNTUK SUKSES

Kalau ukuran kita untuk sukses adalah punya uang banyak, menjadi terkenal, punya jabatan tinggi, disegani semua orang... Bayangkan kalau ...